NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Istri Di Atas Kertas.

Pukul 10.00 - Ruang Tunggu Eksekutif, Ben Holding, di lantai 45.

Junee duduk di sofa kulit hitam, membawa map coklat berisi data anak-anak panti.

Ben memintanya untuk datang setiap hari Selasa dan Jumat. “Rapat koordinasi legalisasi hibah,” katanya.

Padahal Junee tau, itu hanya sebuah alasan agar Junee datang ke gedung pencakar langit itu.

Sekretaris bagian luar, Mbak Rina, sudah baik sama Junee. Tapi begitu wanita itu masuk ke area kantor Ben, suasananya berbeda.

AC lebih dingin. Orang-orangnya lebih mahal. Tatapannya lebih tajam.

“Bu Junee ya? Istri Pak Ben yang baru?”

Suara itu datang dari belakang tubuhnya.

Membuat Junee menoleh ke arah sumber suara. Perempuan umur 27 tahun, bergaya modis dengan pakaian dan tas bermerk.

Vania. Sekretaris pribadi Ben.

“Eh… iya. Saya Junee.” Ucap Junee memperkenalkan diri.

Vania tersenyum. Terlihat Manis, tetapi mengandung duri.

“Senang bertemu, Bu. Saya mendengar, kalau Ibu adalah guru di panti asuhan. Mulia sekali ya. Tidak semua orang mau menikah sama bos hanya karena panti agar tidak digusur.” Ucap wanita itu.

Junee tertegun. Jadi berita pernikahannya sudah tersebar sejauh ini?

Vania tidak berhenti sampai disitu.

“Oh iya, Bu. Tidak apa - apa. Namanya juga kontrak. Lumayan ‘kan 1 tahun, tinggal di penthouse, dapat gelar ‘Nyonya Pratama’. Tetapi sayangnya, pak Ben tidak mau satu kamar dengan ibu.” Imbuhnya.

Jleb.

Junee meremat ujung tas murah yang ia bawa. Dadanya terasa panas.

“Maaf, saya tidak mengerti maksud anda, Mbak.” Ucapnya dengan tenang. Agar suaranya tak terdengar bergetar.

Vania tertawa kecil. Pelan, seperti mengasihani.

“Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya hanya kasihan saja. Jadi istri tetapi sepertinya tidak bisa menyentuh hati Pak Ben.“

Junee ingin menjawab. Tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Karena yang Vania katakan itu memang benar.

Ia tinggal di penthouse, tetapi rasanya seperti tamu.

Junee tidur di kamar tamu. Sedangkan Ben tidur di kamar utama.

Saat malam tiba, hanya 1 jam. Setelah selesai, Junee harus kembali ke kamarnya. Tidak ada obrolan, di ada pelukan. Yang ada hanya sebuah kontrak.

Vania mentepuk bahu Junee pelan.

“Semangat ya, Bu. Semoga 1 tahun cukup untuk membuat Pak Ben jatuh cinta. Kalau tidak… ya sudah. Panti selamat, hati Ibu hancur. Sepadan ‘kan?” Ucap wanita itu.

Vania kemudian pergi meninggalkan Junee yang berdiri kaku di tengah ruang tunggu.

Di meja yang tak jauh, 3 orang sekretaris lain pura-pura bekerja. Tapi Junee tau mereka pasti mendengar semuanya.

Harga diri Junee seprti diinjak.

Dan yang paling sakit, ucapan Vania tidak salah.

---

Junee tidak langsung kembali ke panti asuhan. Wanita itu duduk di sebuah kafe, menatap cangkir kopi yang sudah mulai dingin.

Junee membuka WA grup panti. Foto Dika sedang tersenyum memegang gambar rumah baru.

“Kak Junee, aku sudah punya kamar ya nanti!” Tulis bocah 10 tahun itu.

Junee mengusap layar pelan.

“Sepadan” bisik wanita itu pelan.

“Harga diri 1 tahun. Untuk rumah mereka selamanya.”

Yang anak - anak panti tau, Junee sedang bekerja di gedung Ben Holding untuk mempertahankan rumah mereka.

Junee tidak menangis. Ia janji pada diri sendiri tidak akan menangis lagi sejak tanda tangan itu.

Menjelang sore, Junee pun memutuskan untuk kembali ke penthouse, rasanya sangat hampa.

Penthouse itu luas 400 meter persegi, tetapi sepi. Tidak ada suara. Tidak ada kehidupan.

Cuma ada aroma parfum Ben yang tertinggal di sofa.

---

Malam pun kembali datang.

Junee melihat ke arah jam dinding. 13 menit lagi.

Ia pun membuka laci nakas. Pengaman, tisu basah, dan obat penghilang rasa sakit.

Rutinitas yang sudah mejadi neraka kecil untuk wanita itu.

Pukul 21.00 tepat.

Junee masuk ke kamar utama tanpa mengetuk pintu. Ben sudah ada di atas ranjang, membaca dokumen di tablet pintarnya.

Tidak ada sapaan. Tidak ada tatapan.

Junee melepas kemejanya pelan-pelan. Tangan sedikit gemetar. Bukan karena malu. Tapi karena lelah.

Lelah menjadi boneka pemuas naf-su Ben.

Ben pun melihat ke arah wanita itu.

“Kamu kenapa diam saja hari ini?” Tanya pria itu datar.

Junee tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang.

“Pak Ben… apa saya boleh bertanya?”

“Tentang apa?”

“Kalau saya tidak datang malam ini, apa panti akan tetap aman?” Tanya wanita itu.

Ben tertegun. “Itu pelanggaran kontrak.”

“Saya tau.” Junee tersenyum pahit. “Tapi kalau saya datang, rasanya saya tidak jauh beda dengan omongan Vania.”

Nama itu membuat rahang Ben mengeras.

“Vania? Apa yang dia katakan?”

“Katanya saya cuma istri kontrak yang tidak pernah bisa menyentuh hati Pak Ben.” Ucap Junee pelan.

Ben menutup tablet pintarnya.

“Vania sangat cerewet.”

“Hanya itu?” Junee menahan air mata. “Hanya cerewet?” Tanya wanita itu.

Ben tidak menjawab. Ia menarik Junee pelan agar duduk di sebelahnya.

“Aku tidak meminta kamu untuk mendengar gosip murahan, Junee.”

“Lalu aku harus apa? Berterima kasih, karena sudah dijadikan alat transaksi?”

Ben terdiam, ia tidak bisa menjawab. Karena yang Junee katakan memang benar.

Malam itu berjalan seperti malam sebelumnya, namun ada yang berbeda.

Ben bergerak pelan. Lalu menguusap pipi Junee yang basah karena air mata.

“Maaf.” Ucap pria itu pelan.

Junee tertegun. Untuk pertama kalinya, pria itu mengucapkan kata “maaf.” Bahkan di bukan di malam pertama mereka.

“Maaf untuk apa?” Tanya wanita itu.

Ben menghela nafas berat. “Maaf untuk semua ini. Untuk kamu yang harus ada di sini.”

Junee tidak menjawab. Ia memberanikan diri untuk memeluk Ben lebih dulu.

Pelukan yang tidak ada di kontrak.

Ben kembali menegang. Lalu menggerakkan pinggulnya perlahan. Tidak ada naf-su. Hanya ada rasa bersalah yang ia pendam selama 10 tahun.

Malam itu selesai lebih lama dari biasanya. Hingga Ben menghabiskan 2 bungkus pengaman.

Setelah selesai, Junee pun beranjak dari tempat tidur untuk kembali ke kamarnya.

“Tidur disini saja malam ini.” Ucap Ben sembari menahan lengan wanita itu.

Junee kembali tertegun.

“Kenapa?” Tanyanya pelan.

Ben ingin mengatakan kalau ia ingin menghabiskan malam dengan wanita itu. Namun, bibirnya seakan kelu.

Penolakan 10 tahun itu selalu menghantui. Dan membuat hati Ben kembali beku.

“Ini sudah malam.” Ucapnya kemudian.

Junee mengangguk pelan. Ia memungut dan memakai kembali pakaiannya, kemudian merebahkan diri di pinggir ranjang.

Ben membiarkan saja. Pun tidak berniat untuk memeluk wanita itu.

“Hanya aku yang boleh membuat kamu sakit hati, Junee. Bukan mereka yang di bawah sana.”

---

Keesokan Hari

Junee terbangun karena wangi kopi.

Ben sudah di dapur, memakai kemeja rapi, dan sedang membuat roti bakar.

“Pagi.” Ucap pria itu singkat tanpa menoleh.

Junee duduk di atas kursi meja makan, dengan tatapan bingung.

“Kamu… tidak marah saya tidur di kamar?” Tanya wanita itu kemudian.

“Tidak.” Ben mendorong piring berisi roti bakar ke arah Junee.

“Makan. Rotinya gosong sedikit.” Ucapnya lagi.

Junee terkekeh kecil. Pertama kali sejak tanda tangan kontrak.

“Pak Ben bisa memasak?” Tanya wanita itu sembari mencubit sudut roti.

“Bisa. Telur dan roti.” Jawab Ben singkat.

Junee mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lagi. Mungkin Ben memang tidak ingin berbicara panjang dengannya.

Mereka makan dengan tenang. Hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu di atas piring.

10 menit. Tapi rasanya lebih manusiawi dari malam - malam panas yang mereka lalui.

Ketika Junee hendak kembali ke kamarnya, Ben menahan lengan wanita itu.

“Jangan mendengarkan ucapan Vania lagi. Kalau ada yang berbicara kasar, beritahu aku.” Ucap pria itu.

Junee mengangguk pelan. “Siap, Pak.”

Wanita itu hendak pergi, tapi kembali berhenti.

“Pak Ben… terima kasih untuk tadi malam.” Ucapnya dengan penuh senyum.

Ben hanya mengangguk pelan. Tidak menjawab apapun.

---

1
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
jangan di ingat masa lalu yang penyakit kan,entar timbul masalah baru ben,ingat ben masa depan lebih indah dari pada masa lalu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semoga kedepan nya hubungan mu dengan suami mu lebih baik lagi ya junee
merry yuliana
crazy up ya kak
Author Amatir🍒: Satu bab lagi masih nyangkut kak..
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor seru ceritanya
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!