Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Kepingan Mimpi
Lebih dari tiga ratus kilometer jauhnya dari Jakarta, aroma minyak kayu putih yang menyengat memaksa Luna menarik napas dalam-dalam. Ia terbatuk, merasakan tenggorokannya sekering gurun pasir.
"Syukurlah, Gusti Pangeran! Neng, Neng Luna udah sadar?"
Luna membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur, namun ia bisa melihat langit-langit berbahan anyaman bambu dan sebuah lampu bohlam kuning yang bergoyang tertiup angin. Ia tidak lagi berada di reruntuhan pabrik Karang Mayit. Ia berbaring di atas dipan bambu yang dilapisi tikar tipis.
Di sampingnya, Tarjo sedang duduk di dingklik kayu, wajah kerasnya memancarkan kelegaan yang luar biasa. Pria paruh baya itu memegang sebotol kecil minyak kayu putih.
"Pak... Tarjo?" panggil Luna lirih. Tubuhnya terasa remuk redam. Lengan kirinya berdenyut nyeri, namun ia menyadari goresan cakar iblis itu telah dibalut dengan kain bersih dan ramuan daun-daunan yang berbau herbal menyengat.
"Iya, Neng. Ini saya. Kita ada di pondok jaga Perhutani, sekitar sepuluh kilometer dari Pos Mati. Sudah keluar dari hutan," jawab Tarjo, menyodorkan segelas air putih hangat yang langsung diteguk habis oleh Luna.
"Bagaimana... bagaimana saya bisa ada di sini?" Luna berusaha duduk, namun Tarjo menahan bahunya pelan.
"Setelah saya ninggalin Neng di Pos Mati, hati saya nggak tenang," Tarjo bercerita, matanya menerawang ke luar jendela pondok. "Saya ingat istri saya. Saya nggak mau ada orang lain yang hilang ditelan hutan jahanam itu. Jadi saya putar balik, parkir agak jauh, lalu jalan kaki menyusul Neng lewat rel lori."
Tarjo menelan ludah, ekspresinya berubah ngeri. "Sekitar setengah jam jalan, tiba-tiba ada suara ledakan keras banget dari arah Karang Mayit. Bukan ledakan bom, tapi ledakan angin panas yang bikin semua burung di hutan terbang panik. Kabut hitam yang biasanya menutupi daerah utara tiba-tiba hilang ditiup angin putih. Saat itulah saya lari ke arah pabrik... dan nemuin Neng pingsan di depan altar batu. Di sebelah mayat kering Mbah Suro."
Luna menyentuh kepalanya yang masih pening. Ingatan tentang ledakan cahaya suci dari Keris Pangruwat kembali membanjiri benaknya. Kutukan itu berhasil dihancurkan. Mbah Suro telah tewas oleh serangan balik ilmu hitamnya sendiri.
Tiba-tiba, mata Luna membelalak lebar. Ia meraba-raba sisinya dengan panik. "Ransel saya! Mana ransel saya?!"
"Ada, ada di bawah dipan," Tarjo buru-buru mengambil ransel usang yang sudah kotor oleh lumpur dan debu itu, lalu meletakkannya di atas pangkuan Luna. "Nggak ada yang saya buka, Neng. Saya tahu barang-barang di dalamnya bukan barang sembarangan."
Dengan tangan gemetar, Luna membuka ritsleting ransel tersebut. Map kulit hitam berisi bukti kejahatan Bara masih aman di sana. Keris Pangruwat juga ada di sana, besinya kini tidak lagi terasa dingin menusuk, melainkan netral layaknya besi tua biasa. Bungkusan buhul santet telah hancur sepenuhnya menjadi abu halus di dasar tas.
Namun, yang dicari Luna bukanlah barang-barang itu. Ia mengaduk-aduk bagian bawah tas, meraba setiap sudut kain kanvas yang sobek.
Kosong.
Tidak ada bola cahaya biru sebesar kepalan tangan. Tidak ada pendar citrus. Tidak ada hawa dingin yang selalu menenangkan detak jantungnya.
Nando benar-benar telah pergi.
Rasa lega yang luar biasa bercampur dengan kesedihan yang mencekik mengalir bersamaan di dada Luna. Air mata menetes jatuh membasahi ranselnya. Pria sombong yang selalu mengeluhkan fasilitas ekonomi itu akhirnya kembali ke singgasananya yang megah. Jiwa yang menemaninya melewati teror malam Jakarta hingga neraka Alas Roban telah kembali ke raganya.
"Neng... nangis karena lukanya sakit?" tanya Tarjo ragu-ragu, tidak biasa menghadapi perempuan menangis.
Luna menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum pahit di sela isakannya. "Nggak, Pak. Saya nangis karena... misi saya berhasil. Semuanya sudah selesai."
"Neng ini sebenarnya habis ngapain di sana?" Tarjo menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Menghancurkan dukun terkuat di Pantura sendirian? Neng bukan manusia biasa."
"Saya cuma menepati janji, Pak," jawab Luna pelan, menutup ranselnya kembali. "Janji pada orang tua saya, dan janji pada seorang... teman sekamar."
Luna memejamkan mata, membiarkan obat herbal di lengannya bekerja. Tubuhnya butuh pemulihan, namun pikirannya sudah berlari mendahului waktu. Pekerjaannya belum selesai. Menghancurkan Mbah Suro adalah bagian dari dunia metafisika, tapi dalang utamanya—Bara—masih duduk manis di kursi empuk Direktur Keuangannya di Jakarta.
Luna harus menyeret Bara ke penjara menggunakan bukti-bukti fisik yang ia curi dari lantai empat puluh lima. Ia juga harus mengembalikan Keris Pangruwat kepada Ki Ardi di Bogor. Dan jauh di lubuk hatinya yang paling rahasia, ia harus memastikan satu hal lagi: apakah Nando benar-benar terbangun? Dan jika pria itu bangun, apakah ia mengingat gadis minimarket yang selalu memarahinya?
Dua hari kemudian.
Setelah beristirahat di rumah kerabat Tarjo di Pekalongan dan memulihkan sedikit tenaganya, Luna bersiap untuk kembali ke Jakarta. Tarjo menolak menerima tambahan bayaran, pria itu malah bersyukur karena Luna secara tidak langsung telah membalaskan dendamnya pada Karang Mayit.
Luna menaiki kereta ekonomi siang tujuan Stasiun Pasar Senen. Berbeda dengan perjalanannya saat berangkat, kali ini kursi di sebelahnya benar-benar kosong. Tidak ada hawa dingin protektif yang melindunginya dari tatapan aneh penumpang lain. Tidak ada komentar sarkas tentang mahalnya harga sepotong roti di gerbong restorasi.
Luna menyandarkan kepalanya ke kaca jendela kereta yang bergetar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat lebih tirus, matanya menyimpan kelelahan yang dalam, namun ada ketegaran baru yang terpancar di sana. Ia tidak lagi menunduk. Bayangan-bayangan hitam yang biasanya ia hindari di stasiun, kini seolah enggan mendekatinya, mungkin karena sisa-sisa energi suci dari keris masih menempel pada auranya, atau mungkin karena jiwanya telah berevolusi menjadi jauh lebih kuat.
Ponselnya yang retak bergetar di saku jaketnya. Ada puluhan pesan masuk dari Kala sejak ia mendapat sinyal di Pekalongan.
Kala: Lun! Kamu di mana?! Balas pesanku atau aku benar-benar lapor polisi!
Kala: Kamu udah masuk kerja besok, kan? Bos udah mulai marah nih.
Kala: LUN! KABAR GEMPAR! Ingat bos NaturaGlow yang skincarenya sering aku ceritain? CEO ganteng yang koma kecelakaan itu? Dia bangun! Beritanya masuk TV nasional hari ini!
Membaca pesan terakhir dari Kala, napas Luna tercekat. Jemarinya kaku di atas layar.
Dia bangun. Dia benar-benar bangun.
Luna buru-buru membuka aplikasi pencarian berita di ponselnya dengan tangan gemetar. Dan di sana, di halaman utama portal berita nasional, terpampang foto terbaru Nando. Pria itu mengenakan kemeja rumah sakit bermotif kotak-kotak biru, duduk di atas ranjang dengan perban putih di kepalanya. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya yang tajam dan rahang tegasnya tak berubah sedikit pun. Judul beritanya tertulis tebal: Keajaiban Medis: Nando Pratama, CEO NaturaGlow, Sadar dari Koma Panjang Setelah Kritis Dua Minggu.
Air mata bahagia kembali menetes di pipi Luna. Ia mengusap layar ponselnya tepat di wajah Nando. Pria itu tampak nyata sekarang. Bukan lagi sekadar pendar biru tembus pandang yang hanya bisa ia rasakan. Ia hidup, bernapas, dan nyata di dunia yang sama dengan Luna.
Namun, kegembiraan itu segera disusul oleh realita yang menghujam.
Nando adalah seorang miliuner. Seorang CEO yang dihormati dan ditakuti. Dunianya dipenuhi oleh sorotan kamera, penthouse mewah, dan dewan direksi. Sementara Luna hanyalah gadis kasir minimarket yang tinggal di kosan berjamur empat kali empat meter.
Apakah janji di dimensi astral berlaku di dunia nyata? Ataukah ingatan pria itu tentang dirinya benar-benar hanyalah kepingan mimpi buruk yang akan segera ia lupakan?
Luna mematikan layar ponselnya. Ia menarik napas panjang, memasang kembali maskernya.
"Tidak masalah jika kau lupa, Nando," bisik Luna pada dirinya sendiri, sebuah senyum tegar terbentuk di balik maskernya. "Aku yang akan mengingatkanmu. Dan aku akan memastikan pengkhianat di sampingmu membusuk di penjara."
Kereta api melaju membelah hamparan sawah hijau, membawa Luna kembali ke ibu kota yang kejam. Namun kali ini, Luna tidak datang untuk bersembunyi. Ia datang untuk memutarbalikkan keadaan. Permainan yang sesungguhnya di dunia manusia baru saja akan dimulai. Bara akan membayar semuanya, dengan atau tanpa ingatan Nando.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣