NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 Mantan Istri

"Buka pintunya, Venus. Aku tahu kau di dalam dan aku tahu Leo baru saja pergi mengantar Sean."

Venus yang sedang membereskan sisa piring di meja makan hampir saja menjatuhkan gelasnya. Suara bariton itu tidak mungkin salah lagi. Ia melirik ke arah interkom dan benar saja, Dante Carson berdiri di sana dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat rapi, nampak kontras dengan suasana lingkungan perumahan kelas menengah itu.

"Pergilah, Dante! Aku harus berangkat kerja!" teriak Venus tanpa niat membukakan pintu.

"Aku tidak akan pergi sampai kau memberiku sarapan. Aku lapar," balas Dante santai, seolah-olah ia sedang berbicara di depan gerbang rumahnya sendiri, bukan di depan rumah mantan istrinya yang sedang menyamar jadi detektif bertopeng.

Venus menggeram frustrasi, akhirnya ia melangkah dan membuka pintu dengan sentakan kasar.

"Apa kau bercanda? Orang sekaya dirimu datang ke sini hanya untuk meminta sarapan? Apa koki di mansionmu sedang mogok kerja atau Bianca lupa memberimu makan karena terlalu sibuk belanja?"

Dante masuk begitu saja tanpa dipersilakan, melewati Venus yang masih memegang gagang pintu dengan wajah melotot. Dante menghirup aroma di udara.

"Aroma telur dadar dan kopi. Jauh lebih baik daripada menu diet hambar yang dipaksakan Bianca padaku setiap pagi."

"Dante! Keluar!" Venus menutup pintu dan berkacak pinggang. "Aku punya kasus yang harus ku selesaikan. Aku tidak punya waktu untuk melayani tuan manja sepertimu."

Dante justru duduk di kursi yang tadi diduduki Leo, menatap piring kosong di depannya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.

"Aku belum makan sejak semalam. Setelah kau mendorongku dan lari dari kamar hotel itu, aku tidak bisa menelan apa pun. Kau harus bertanggung jawab karena membuat suamimu ini kelaparan."

"Mantan suami!" koreksi Venus tajam. Namun, melihat Dante yang nampak sedikit lelah di balik wajah tampannya, hati Venus sedikit melunak. "Hanya telur dan roti. Setelah itu kau harus pergi."

"Apapun yang kau buat, aku akan memakannya," ujar Dante dengan senyum kemenangan yang membuat Venus ingin sekali melemparkan penggorengan ke arahnya.

Venus kembali ke dapur dengan gerutuan yang tak henti-hentinya keluar dari bibirnya. Dante memperhatikannya dari belakang, menatap punggung Venus dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan penuh kerinduan.

Ia sengaja datang sekarang karena ia ingin menikmati momen ini, momen sederhana yang telah dirampas darinya selama tujuh tahun.

"Kau tahu, Venus, aku merindukan ini. Melihatmu di dapur, mendengar suaramu yang marah-marah," ucap Dante memecah keheningan yang diiringi bunyi desis mentega di wajan.

"Jangan mulai, Dante. Makan saja dan diam," potong Venus, ia meletakkan piring berisi telur dadar dan dua tangkup roti panggang di depan Dante dengan kasar.

Dante menyuap sarapannya dengan lahap.

"Enak. Kau tidak kehilangan bakatmu." Ia menatap Venus yang mulai sibuk memakai sepatu botnya. "Kenapa terburu-buru? Pekerjaan detektif mu itu tidak akan lari ke mana-mana."

"Pekerjaanku adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dan kau berhasil mengacaukannya pagi ini." sahut Venus sambil mengikat tali sepatunya.

"Aku hanya ingin melihatmu sebelum menemui Sean nanti sore," ucap Dante santai, yang seketika membuat gerakan Venus terhenti.

Venus mendongak, matanya berkilat waspada. "Apa? Menemui Sean? Tidak, Dante. Belum saatnya."

"Dia anakku, Venus. Aku ingin menemuinya secara gentle, sebagai seorang ayah. Bukan sebagai orang asing yang lewat di depannya," Dante meletakkan garpunya, ekspresinya berubah serius. "Aku sudah cukup kehilangan waktu tujuh tahun. Aku tidak mau dia tumbuh besar tanpa tahu bahwa ayahnya sangat mencintainya."

Venus berjalan mendekati meja, tangannya gemetar.

"Dia membencimu, Dante. Kau tahu itu. Dia tahu kau suaminya Bianca. Jika kau datang tiba-tiba, kau hanya akan menyakitinya."

"Itulah sebabnya aku butuh bantuanmu. Yakinkan dia bahwa semua ini tidak seperti yang dia lihat," Dante meraih tangan Venus, menggenggamnya erat. "Beri aku kesempatan, Sayang. Hanya satu sore."

Venus menarik tangannya kembali.

"Selesaikan dulu urusan ceraimu. Jangan datang ke sekolahnya dengan status sebagai suami Bianca Rodriguez. Itu akan menjadi penghinaan terbesar bagi Sean."

"Aku sedang mengusahakannya secepat mungkin," Dante berdiri, melangkah mendekat hingga Venus terdesak ke meja dapur. "Tapi perutku tidak bisa menunggu, dan hatiku apalagi."

"Dante, kau—"

Kalimat Venus terputus saat Dante tiba-tiba menunduk dan mencuri kecupan singkat di bibirnya. Hanya sekilas, namun cukup untuk membuat kaki Venus terasa lemas.

"Terima kasih sarapannya, Nyonya Carson. Sampai jumpa di kantor. Aku akan mengirimkan berkas kasus baru agar kau punya alasan untuk bertemu denganku hari ini," bisik Dante dengan kerlingan nakal. Ia memakai kacamata hitamnya dan berjalan menuju pintu.

"Dante! Aku tidak mau kasus darimu!" teriak Venus, namun Dante sudah keluar dan menutup pintu dengan tawa rendah yang menggoda.

Venus berdiri mematung di dapur, menyentuh bibirnya dengan jari gemetar.

"Dasar pria gila... bagaimana aku bisa bekerja jika jantungku berdebar sekencang ini?"

Ia melirik jam dinding. Sudah sangat terlambat. Dengan terburu-buru, ia menyambar tasnya dan memakai kembali topeng kulitnya. Namun di balik topeng itu, sebuah senyum kecil yang sulit disembunyikan akhirnya terukir.

Perdebatan pagi ini memang menyebalkan, tapi entah kenapa, ia merasa jauh lebih hidup daripada tujuh tahun terakhir kehidupannya yang dingin dan kelabu.

******

"Paman, aku butuh laptop baru. Yang lama sudah mulai melambat sejak aku mencoba membobol sistem keamanan Golden Lotus semalam," ucap Sean datar saat mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah.

Leo menghentikan siulannya, lalu menoleh dengan alis terangkat.

"Laptop baru? Kau tahu tidak berapa harga spek yang kau minta itu? Bisa untuk membayar cicilan apartemen mewah sebulan!"

Sean tidak bergeming, ia menyandang tas ranselnya dengan tenang.

"Anggap saja itu investasi. Tanpa laptop baru, rencana kita masuk ke brankas keluarga Bianca akan terhambat."

Leo terdiam sejenak, lalu sebuah ide licik melintas di kepalanya.

"Baiklah, aku akan membelikannya. Versi terbaru dengan kartu grafis paling tinggi. Tapi... ada satu syarat."

Sean menyipitkan mata, mulai waspada. "Syarat apa?"

"Kau harus mau ikut makan malam bersama seseorang yang akan menjemputmu nanti sore seusai pulang sekolah," ujar Leo sembari mengetuk-ngetuk kemudi.

"Seseorang?" Sean mengernyitkan dahi. "Siapa? Kenapa bukan Paman atau mama yang menjemput?"

"Rahasia. Pokoknya dia akan datang dengan mobil yang sangat mahal, jauh lebih mahal dari punya Paman. Kau hanya perlu duduk manis, makan enak, dan bersikap sopan. Bagaimana? Deal?"

Sean menimbang-nimbang sejenak. Keinginannya pada laptop baru sangat besar, meski rasa curiganya juga tak kalah tinggi.

"Baiklah, deal. Tapi kalau orang itu mencurigakan, aku akan langsung kabur."

"Beres!" Leo tertawa puas, lalu melambaikan tangan saat Sean turun dari mobil. "Belajar yang rajin, Bocah! Jangan patahkan hidung orang lagi hari ini!"

Sean hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Namun, sepanjang langkahnya menuju kelas, pikirannya terus berputar.

"Seseorang? Siapa yang cukup penting sampai paman Leo menjadikannya syarat untuk sebuah laptop?" pikirnya.

Ia merasa ada yang tidak beres, namun rasa penasaran mulai menggelitik benaknya.

1
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
D
Tapi elooo juga punya istri baru dante,
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!