IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Rendang di sini pedesnya pas ya?" tanya Naufal di sela makannya.
Anin mengangguk, "Iya, aku suka banget sama semua menu di restoran ini. Semuanya jempolan." timpal Anin.
"Tapi sayang, aku boleh nanya nggak? Sekarang kan kita pacaran. Terus aku pengen hubungan kita berlanjut dengan serius. Aku mau kita nikah dalam waktu dekat ini kalo bisa. Menurut mu gimana?" tutur Naufal, meski ia tidak menatap tapi dari intonasi suaranya ia benar-benar sedang serius. Hingga membuat Anin tersedak, karna belum siap dengan pertanyaan yang seperti itu.
Naufal lantas menaruh sendoknya, segera membukakan botol air mineral dan ia sodorkan pada Anin. Dengan cepat Anin meraih botol itu, dan segera meneguknya.
"Pelan-pelan ih, sampe kesedak gitu. Orang nggak ada yang ngambil juga." sindir Naufal.
"Sory, tadi aku refleks. Soalnya kamu nanyanya tiba-tiba." timpal Anin.
"Gimana ya, aku udah terlanjur kecintaan nih sama kamu. Dan aku yakin, kamu adalah orang yang tepat buat aku. Jadi ya buat apa di tunda-tunda?" tutur Naufal, dan kembali meraih sendok nya.
Anin terdiam sejenak, ia berfikir mau sekarang ataupun nanti toh Naufal juga bakal tahu siapa dia dan keluarganya. Jadi Anin memilih untuk jujur-jujuran saja.
"Sayang, aku mau kasih tahu kamu tentang aku lebih banyak. Siapa aku, siapa keluarga aku. Karna kalau kita sampai menikah, itu bukan hanya antara kita berdua saja kan? Ini soal keluarga juga." Anin memulai pembahasannya.
"Iya sayang kamu benar, kalau boleh aku bilang ya. Aku juga merasa masih belum tahu kamu. Bahkan aku ngerasa masih nol besar jika di tanya tentang background kamu. Yang aku tahu, pacar aku ini gadis yang kuat, mandiri, dan nggak gampang menyerah. Makanya aku suka. Selebihnya aku nggak tahu, dan aku pengen tahu." ujar Naufal yang kini tengah menambahkan gulai tunjang ke atas piringannya.
Anin tersenyum getir, ia meyakinkan dirinya kuat-kuat untuk menceritakan permasalahan keluarganya. Semoga pilihannya untuk memberi tahu Naufal tentang keluarganya adalah pilihan yang tepat. Makin cepat makin baik–pikirnya.
"Kamu inget nggak pas aku hindarin kamu? Aku sering bilang kalo masalah aku itu banyak, lebih baik kamu jauh-jauh dari aku. Dari pada kena masalah."
Naufal mengangguk, "Iya aku inget, dan bikin aku sedih. Karna ngerasa jadi orang yang nggak berguna. Karna kamu nggak percaya, aku bisa dampingin kamu apapun masalahnya. Dan aku ikhlas kalau ternyata harus terkena masalah pas dekat sama kamu." terangnya.
"Masalahnya semuanya itu terlalu kompleks sayang. Makanya aku butuh waktu buat meyakinkan hati aku. Tapi semakin lama, semakin aku sadar kalo aku nggak bisa nolak kamu." tutur Anin pelan.
"Jadi sekarang udah sadar kalo udah cinta sama aku?"
Anin menggeleng, dan membuat Naufal mengernyitkan dahinya.
"Aku nggak tahu ini cinta atau bukan. Karna dari kecil aku nggak pernah percaya yang namanya cinta."
Naufal semakin tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan Anin. Kalau dia tidak percaya cinta, untuk apa semua hubungan ini di mulai–pikirnya.
"Aku itu lahir dari orang tua yang ngaku cinta tapi aku sendiri nggak ngerasain yang namanya cinta. Bapak aku seringnya selingkuh, tapi bilangnya masih cinta sama Ibu. Terus Ibu aku, sebenarnya pengen pisah sama Bapak tapi karna cinta sama anak-anaknya dan nggak mau kami fatherles jadi memilih bertahan. Padahal aku sebagai anaknya nggak pernah ngerasain dengan apa yang mereka bilang. Jadi aku bingung, cinta itu apa? Apa benar cinta itu ada? Dan aku nggak pernah percaya sama yang namanya cinta." terang Anin panjang lebar.
Naufal terkesiap mendengar itu semua. Ia pun merasa iba dengan apa yang menimpa di kehidupan pacarnya itu. Spontan ia meraih tangan Anin, menggenggamnya erat-erat. Bermaksud sedikit memberinya kekuatan.
Anin memang selalu memendam permasalahannya. Jarang sekali ia bisa mengeluarkan apa saja yang ia rasakan pada orang. Tapi dengan Naufal, ia bisa menceritakannya semua.
"Aku nggak cuma dari keluarga miskin, tapi juga berantakan. Adik aku usianya 23 tahun, tapi dia masih setia sama status penganggurannya. Adik aku yang kedua masih SMA, keadaan keluarga yang kacau bikin dia jadi gampang emosi. Hobinya tawuran, bahkan sekarang jadi ketua Genk yang bergaul dengan preman-preman." Anin mengambil nafas sejenak. Sesak sekali rasanya, ketika menjadi seorang anak perempuan yang harusnya di jaga tapi kini malah dirinya yang di jadikan tulang punggung keluarga.
Naufal semakin iba, lantas dengan sayang ia membelai lembut rambut kekasihnya. Anin pun merasa semakin terenyuh dengan apa yang Naufal lakukan.
"Ke hotel dong, modal dikit kek!"
Naufal dan Anin seketika menoleh ke arah sumber suara yang tengah menyindirinya.
Naufal pun segera mendekati meja perempuan yang dengan terang-terangan menyindirinya. Malihat Naufal berdiri, tentu Anin tidak diam saja. Ia pun ikut berdiri di sisi pacarnya itu.
Karna di datangi oleh orang yang tadi ia sindir, wanita itu malah diam dan ketakutan. Pasalnya tubuh Naufal yang atletis dan tinggi menjulang cukup menakutkan jika sendang mode sangarnya.
"Kenapa diem Mbak? Bukannya tadi bangga banget udah nyindir- nyindir orang?" tegur Naufal.
"Siapa? Siapa yang nyindir." sanggah wanita itu.
"Mbak lah, tadi kan Mbak bilang nyuruh kita ke hotel. Mbak kira kita nggak punya uang? nggak modal? Asal mbak tahu ya, pacar aku ini pemegang American Express. Uangnya unlimited. Jadi jangan sembarangan kalo ngomong." Timpal Anin kesal.
Wanita itu pun terkejut dengan reaksi dua sejoli itu. Dari pada panjang, karna lawannya tidak sepadan lantas ia memilih untuk menghindar. "maaf mas, maaf mbak...saya tadi asal bicara." ucapnya seraya bergegas meninggalkan restoran.
Naufal dan Anin pun membiarkan wanita itu pergi, lantas kembali ke tempat duduknya semula.
"Sembarangan banget sih kalo ngomong. Kebiasaan tuh, senengnya ngomentarin hidup orang. Kurang kerjaan banget." sungut Naufal kesal.
"Kamu baru sekali ini kan di judge begini?"
Naufal pun mengangguk, lahir di keluarga kaya mana pernah ia mendapat komentar yang seperti itu. Tapi lain hal dengan pacarnya kini, hidupnya tidak pernah lepas dari komentar buruk para tetangga. Apa lagi alasannya kalau bukan karna latar belakang keluarga yang miskin dan berantakan.
"Beda banget sama aku, aku terbiasa dengan komentar negatif begitu. Bahkan ada yang lebih buruk dari ini. Makanya aku bilang, nggak usah deket-deket sama aku nanti terkena banyak masalah." Imbuh Anin
Lantas membuat Naufal terdiam.
"Perbedaan kita itu jauh banget Sayang, apa kamu yakin hubungan kita nggak akan di tentang sama keluarga kamu?"
"Qistina aja bisa sama Albie, jadi ya harusnya keluarga aku juga bisa nerima hubungan kita. Karna orang tua aku sama orang tua Albie itu sudut pandangnya sama." sanggah Naufal.
Anin lantas tertawa getir, "Masalahnya itu keluarga Qistina itu Cemara. Orang tuanya rukun, nggak kaya keluarga aku yang berantakan. Dan lagi, Qistina itu nikahnya sama Albie. Yang orangnya tegas dan dewasa. Sedang kamu?"
"Ck, kenapa sih kamu selalu ragu sama aku? Aku juga dewasa tahu. Umur aku aja sama, sama Albie. 32 tahun." terang Naufal sedikit kesal.
"Iya aku tahu usia kalian sama, tapi kamu aja masih butuh Albie buat ngerem kebiasaan buruk kamu kan?"
"Ayo taruhan, gimana kalau aku bisa buat kamu percaya cinta. Asal kamu tahu ya, aku kalo sudah bertekad nggak ada satupun yang bisa menghalangi aku. Aku pastikan kita akan segera menikah, dan membangun keluarga kita dengan cinta. Kamu pegang kata-kata aku." tantang Naufal.
Anin pun mengerjapkan mata, siapa sangka Naufal yang dulunya ia cap sebagai buaya kini justru bertekad membuatnya percaya cinta. Lantas, apa semua akan berjalan sesuai dengan yang Naufal ucapkan?
*
*
*
~ Salam hangat dari Penulis🤍