NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Langit sudah berubah menjadi gelap pekat. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang basah oleh embun malam. Waktu menunjukkan pukul tujuh tepat ketika mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan di jalanan kota yang mulai lengang.

Di kursi belakang, Kirana tertidur pulas di pangkuan Erlan. Wajah kecilnya terlihat damai, napasnya teratur, sesekali bibirnya bergerak seperti sedang bermimpi. Tangannya masih menggenggam ujung baju Erlan, seolah takut kehilangan sandaran.

Erlan menunduk sedikit, memperhatikan putrinya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tangannya menopang tubuh kecil itu dengan hati-hati, seakan takut sedikit saja gerakan akan membangunkannya.

Linda yang duduk di sampingnya tampak ragu.

“Kirana belum dimandikan…” ucapnya pelan, suaranya penuh kekhawatiran.

Erlan mengalihkan pandangan, lalu berkata dengan tenang, “Tidak apa-apa. Bersihkan saja pakai tisu basah. Dia sudah terlalu lelah.”

Nada suaranya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda. Lebih lembut. Lebih... manusiawi.

Di kursi depan, Adi yang menyetir melirik melalui kaca spion.

“Pak, di apartemen tidak ada tisu basah, kan?” katanya.

Erlan mengangguk singkat.

“Kalau begitu kita mampir swalayan dulu saja,” lanjut Adi.

Erlan tidak langsung menjawab. Ia menatap Kirana lagi, lalu akhirnya berkata, “Baik.”

Beberapa detik hening, sebelum Erlan menambahkan, “Sekalian beli camilan untuk Kirana.”

Linda langsung menoleh.

“Camilan lagi?” tanyanya, menahan napas.

Erlan mengerutkan sedikit keningnya. “Kenapa?”

Linda menghela napas panjang. “Siang tadi sudah banyak sekali permen yang dibeli…”

Erlan tampak berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada serius yang hampir terdengar logis, “Besok dia pasti senang kalau punya banyak pilihan.”

Linda memejamkan mata sesaat, berusaha menahan sesuatu yang sulit dijelaskan antara kesal dan tidak percaya.

“Tidak semua yang disukai anak itu baik,” ucapnya akhirnya. “Kirana tetap harus makan yang sehat.”

Erlan tidak langsung membalas. Ia hanya diam, lalu perlahan mengangguk.

“Baik.”

Sederhana. Tanpa bantahan.

Mobil pun berhenti di depan sebuah swalayan yang cukup besar. Lampu terang dari dalam toko memantul di kaca mobil.

Adi mematikan mesin.

Erlan dengan hati-hati menggeser posisi Kirana agar tetap nyaman, lalu mengeluarkan dompetnya dari saku. Ia mengambil kartu kredit tanpa mengalihkan pandangan dari wajah kecil di pangkuannya.

“Aku tetap di mobil,” katanya. “Kirana jangan sampai terbangun.”

Ia menyerahkan kartu itu pada Linda.

“Kamu beli yang diperlukan saja.”

Linda menerima kartu itu, masih sedikit canggung.

“Iya…”

Adi segera keluar dari mobil. “Saya bantu, Bu.”

Linda hanya mengangguk kecil sebelum ikut turun.

Begitu masuk ke dalam swalayan, suasana langsung berubah. Lampu terang, rak-rak penuh barang, dan suara musik pelan mengisi ruang. Linda berjalan perlahan, matanya menyapu setiap rak.

Ia berhenti di bagian makanan bayi.

Tangannya mulai mengambil beberapa produk, membaca label dengan teliti. Susu formula, makanan siap saji untuk anak, dan beberapa camilan sehat masuk ke dalam keranjang.

Adi mengikuti di belakang, mendorong troli sambil sesekali memperhatikan Linda.

“Bu Linda…” panggilnya akhirnya, ragu.

Linda menoleh. “Ya?”

Adi tampak sedikit canggung, tapi rasa penasarannya jelas lebih besar.

“Sebenarnya… hubungan Ibu dengan Pak Erlan itu apa?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Linda terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Dia mantan kekasih saya.”

Adi berhenti mendorong troli.

“Hah?”

Linda melanjutkan memilih barang seolah itu bukan hal besar.

Adi mengusap tengkuknya, mencoba mencerna.

“Berarti… dari dulu Pak Erlan memang seperti itu?”

Linda tertawa kecil.

“Iya. Dari dulu memang begitu.”

Ia berhenti sejenak di depan rak, matanya terlihat menerawang.

“Pertama kali saya bertemu dia… dia senior di kampus. Semua orang tahu dia dingin, cuek, dan sulit didekati.”

Adi mengangguk pelan. “Masuk akal…”

“Tidak ada yang berani dekat-dekat,” lanjut Linda. “Tapi entah kenapa, saya justru terlibat dengan dia.”

Adi menaikkan alis.

Linda tersenyum kecil, sedikit pahit.

“Awalnya hanya perjanjian.”

“Perjanjian?”

“Saya tidak punya uang untuk bayar kost waktu itu,” jelas Linda. “Dia menawarkan sesuatu yang… cukup aneh.”

Adi mulai terlihat semakin tertarik.

“Apa itu?”

“Kalau saya mau membersihkan dan merawat apartemennya… saya boleh tinggal gratis di sana.”

Adi terdiam beberapa detik.

“Jadi… Ibu dulu…?”

Linda mengangguk santai. “Asisten rumah tangga-nya.”

Adi langsung menutup mulutnya, menahan reaksi.

“Ini… plot twist sekali…”

Linda tertawa kecil.

“Tapi itu hanya beberapa bulan,” lanjutnya. “Lama-lama kami jadi dekat. Saling mengenal. Dan akhirnya… berpacaran.”

Ia mengambil sekotak nugget dan memasukkannya ke troli.

“Dia mulai membantu saya. Biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari… semuanya.”

Adi menatap Linda dengan ekspresi campur aduk.

“Terus… kenapa putus?”

Langkah Linda melambat.

Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Kami bertengkar.”

“Karena apa?”

Linda menggeleng pelan.

“Sampai sekarang saya tidak tahu pasti,” katanya pelan. “Mungkin saya yang bodoh… atau dia yang tidak pandai menyampaikan apa yang sebenarnya dia inginkan.”

Adi memperhatikan wajah Linda yang berubah lebih serius.

“Salah paham?” tanyanya.

“Iya,” jawab Linda singkat.

Ia menarik napas dalam.

“Ada banyak hal yang tidak kami bicarakan dengan jujur.”

Adi menunggu, merasa ada sesuatu yang lebih besar.

Dan benar saja.

Linda melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

“Saya hamil waktu itu.”

Adi langsung terdiam.

“Tapi saya tidak memberitahunya dengan benar,” lanjut Linda. “Saya malah… menuduh dia bosan dengan saya.”

Suasana di antara mereka menjadi sunyi.

“Saya pergi… tanpa memberi kesempatan dia menjelaskan.”

Adi menghembuskan napas pelan.

“Pak Erlan… tidak pernah cerita soal itu,” katanya.

Linda tersenyum tipis.

“Dia memang seperti itu.”

Adi mengangguk.

“Dia selalu tertutup soal masa lalu,” katanya. “Bahkan ke saya.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan,

“Tapi sejak bertemu Ibu lagi… dia berubah.”

Linda menoleh.

“Berubah?”

Adi mengangguk serius.

“Waktu di rusun itu… setelah dia melihat Ibu dan Kirana… dia langsung memberi saya tugas aneh.”

Linda mengerutkan kening.

“Tugas?”

“Cari tahu semua tentang Ibu dan anak itu,” jawab Adi. “Tanpa penjelasan apa pun.”

Linda terdiam.

“Dan sejak itu… dia berbeda,” lanjut Adi. “Memang masih dingin… tapi tidak seperti biasanya.”

Ia tersenyum kecil.

“Hanya Ibu dan Kirana yang bisa membuat dia seperti itu.”

Kata-kata itu membuat Linda terdiam lebih lama.

Ia kembali mendorong troli perlahan, pikirannya melayang jauh.

Apakah benar… masih ada sesuatu di antara mereka?

Apakah semua ini hanya kebetulan?

Atau memang… belum benar-benar berakhir?

Ia mengingat kembali masa lalu mereka.

Cara Erlan yang kaku tapi perhatian.

Cara dia membantu tanpa banyak bicara.

Cara dia selalu ada… meskipun tidak pernah mengatakannya.

Dan sekarang…

Pria itu kembali.

Bukan hanya sebagai masa lalu.

Tapi sebagai ayah dari anaknya.

Linda menatap ke depan, matanya sedikit berkabut.

“Apa… masih ada kesempatan?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Adi tidak menjawab.

Dan mungkin memang tidak perlu.

Karena jawabannya… bukan milik orang lain.

Belanjaan mereka akhirnya selesai. Troli sudah penuh dengan berbagai kebutuhan Kirana.

Linda menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya sebelum kembali ke mobil.

Di luar, Erlan masih duduk diam.

Kirana masih tertidur di pelukannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

Linda merasa bahwa mungkin, hanya mungkin…

Cerita mereka belum benar-benar selesai.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!