Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 30. Laporan Sang Asisten Rumah Tangga
Taxi online yang ditumpangi oleh Dinda dan sang mama berhenti di depan gerbang. Setelah waktunya habis bermalam di hotel, kini wanita itu kembali ke rumah. Dinda turun terlebih dahulu bermaksud memanggil Maryati yang sepertinya sedang sibuk membersihkan rumah.
"Mbok Mar... Mbok Mar.. Mbok Mar!!!" teriak Dinda dari depan pintu pagar. Butuh waktu yang sedikit lama ia menunggu sang asisten rumah tangga membukakan pintu pagar.
"Loh, kok sudah pulang Bu? Saya kira tidak pernah kemari lagi," seloroh Maryati menyambut kedatangan Dinda sembari membukakan pintu pagar.
"Hei Mbok, yang sopan kamu! Dinda ini majikan kamu loh!" timpal Rika sembari menurunkan barang-barang belanjaan dari bagasi.
"Haaahh aku tidak mau ribut sama kamu ya Mbok. Lebih baik mbok Mar bawa semua barang-barang belanjaanku ini!" titah Dinda.
Tanpa banyak basa-basi Dinda mulai melenggang masuk ke dalam rumah diikuti oleh Rika yang berada di belakang Dinda. Sedangkan Maryati hanya mendengus kesal membawa barang belanjaan sang majikan yang terlampau banyak ini.
"Oh iya.. Paket kiriman untukku yang datang kemarin kamu taruh mana Mbok?" tanya Dinda seraya mendaratkan bokongnya di sofa.
"Itu, ada di sana!" jawab Maryati sembari menunjuk ke arah nakas kecil yang berada di ruang tengah. "Oh iya semua barang-barang ini Anda sendiri saja ya Bu yang naikin ke kamar. Saya sudah tua, tidak kuat untuk membawa barang-barang bawaan ini ke lantai atas."
Tanpa menunggu persetujuan dari sang majikan, Maryati langsung melenggang meninggalkan Dinda dan juga Rika beserta barang-barang bawaannya. Ibu dan anak itu hanya saling bertatap netra sembari berdecak.
"Sshhhhh... Pembantu kamu kok seperti tidak punya sopan santun Din? Masa membiarkan majikannya sendiri yang membawa naik barang-barang ini?" protes Rika.
"Hahh... Akupun juga tidak mengerti Ma. Tapi biarkan sajalah. Mending sekarang kita lihat kamar yang baru saja rampung di renovasi."
Dinda menghampiri nakas yang ditunjukkan oleh Maryati. Ia meraih paket yang ia pesan dan ia buka dengan perlahan. Senyum manis terbit di bibir wanita itu.
"Akhirnya datang juga yang aku nanti-nanti. Aku sudah sangat tidak sabar untuk menukar vitamin yang diminum mbak Ganis dengan obat ini."
Rika menyapu pandangannya ke sekeliling. Ia khawatir jika sampai ada yang tahu apa yang menjadi rencananya ini.
"Din, hati-hati. Jangan sampai apa yang akan kita lakukan ini terbongkar."
"Hmmmm.. Tenang saja Ma. Aku yakin tidak akan ada yang tahu rencana kita." Dinda kembali menatap lekat obat yang ada di tangannya. "Jadi kapan kita akan menukar obat ini Ma?"
Rika nampak berpikir. "Pastinya nunggu Ganis pulang terlebih dahulu kan Din? Mama yakin vitamin yang biasa diminum oleh Ganis dibawa liburan."
"Hmmmm.. Betul juga ya Ma. Baiklah, kita tunggu sampai mbak Ganis pulang."
Dinda mengayunkan tungkai kaki. Satu persatu telapak kaki wanita yang tengah hamil itu mulai menapaki anak tangga. Diikuti oleh Rika yang dengan terpaksa membawa semua belanjaan yang kemarin di belinya dari mall. Meski rasanya teramat lelah, namun Rika tetap bersabar karena setelah ini pasti akan ada kebaikan yang abadi setelah sang anak berhasil mendapatkan warisan.
"Ya ampun, ini bagus sekali!"
Kedua bola mata Dinda terbelalak sempurna kala memasuki kamar pribadinya. Wanita itu nampak begitu takjub dengan apa yang nampak di depan mata. Kamar yang sebelumnya terasa begitu biasa saja, kini seakan disulap menjadi kamar yang begitu memanjakan mata. Tak salah, selera sang mama mertua memang selera orang kaya.
"Ini sih benar-benar kamar permaisuri Din, bukan lagi kamar untuk selir. Pasti mertuamu menghabiskan banyak uang untuk renovasi kamarmu ini."
Dinda tergelak. Dalam hati, ia membenarkan perkataan sang mama. "Selir yang bisa ngasih keturunan. Sedangkan permaisurinya mandul tidak bisa ngasih anak. Jadi saat ini aku sudah menang telak."
"Pokoknya kamu harus gunakan kesempatan ini sebaik mungkin Din. Kamu harus bisa menguasai harta Krisna, baik itu rumah, tanah, bahkan sampai perusahaan ekspedisinya. Jangan sampai Ganis ikut menikmati. Bagaimanapun juga anak yang ada di dalam kandunganmu harus menjadi pewaris tunggal."
"Tenang saja Ma, itu semua bisa di atur. Pokoknya bertahap satu persatu."
"Pokoknya setelah rumah yang ada di Magelang sah menjadi milikmu, Mama akan mengundang tetangga-tetangga kita di kampung untuk ke sana. Biar mereka semua tahu bahwa sekarang, Rika adalah orang kaya."
"Kalau untuk hal itu silakan Mama atur sendiri."
Ibu dan anak itu tertawa lepas sembari membayangkan mereka hidup dalam gelimang harta. Harta dunia yang membuat silau dan membuat siapapun pasti ingin mengecapnya. Tanpa mereka sadari jika di depan pintu kamar ada Maryati yang dengan seksama mendengar pembicaraan mereka dari awal sampai akhir.
"Gawat, ternyata istri kedua pak Krisna tidak sebaik itu. Kalau seperti ini aku harus laporan ke bu Ganis. Kasihan bu Ganis kalau harus tersingkirkan dengan cara seperti itu."
***
"Sudah puas liburannya?"
Ganis yang tengah berjalan memasuki area dalam rumah, di buat terkejut dengan sambutan yang diberikan oleh Dinda. Sepasang suami-istri yang tengah berjalan dengan bergandengan tangan sembari tertawa-tawa itu terpaksa harus mengakhiri kemesraan yang mereka rajut setelah Dinda menghadang keduanya di balik pintu. Dinda berdiri tegak sembari berkacak pinggang seakan menantang sepasang suami-istri itu.
"Din... Kamu kenapa berkacak pinggang seperti itu? Tidak sopan. Bagaimanapun juga Ganis ini adalah kakak madumu," ujar Krisna memperingatkan.
"Apa Mas? Kamu panggil aku apa?" tanya Dinda dengan berteriak lantang. "Bahkan setelah kamu pergi liburan bersama mbak Ganis, kamu tidak lagi memanggilku Honey. Kamu dipelet sama mbak Ganis, Mas?"
Dinda bertambah kesal dan uring-uringan sendiri setelah tak lagi ia dengar Krisna memanggilnya dengan panggilan kesayangan. Bahkan saat ini di mata Dinda sang suami sedikit berubah, tak lagi hangat seperti dulu.
"Din, bukan begitu maksudku. Aku..."
"Hiks.. Hiks.. Hiks... Nak, lihatlah! Papamu sudah tidak lagi sayang sama Mama. Pasti saat ini Papamu juga sudah melupakan keberadaanmu!"
Dinda menimpali ucapan Krisna dengan mengajak bicara anak yang masih ada di dalam perutnya. Wanita itu meneteskan air matanya sembari mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit itu. Ia berujar dengan kata-kata yang seakan saat ini ia berada dalam posisi menjadi istri yang tertindas.
Ganis menatap jengah akting yang sedang dimainkan oleh madunya ini. Ia sama sekali tidak merasa iba tapi justru semakin muak dengan drama yang dimainkan oleh Dinda. Ia melepaskan tangannya dari rengkuhan tangan Krisna dan bermaksud untuk meninggalkan sang suami dengan madunya ini.
"Silakan urus istri keduamu ini Mas. Aku mau ke belakang dulu."
Tak lagi mempedulikan Krisna dan juga Dinda, Ganis melenggang pergi meninggalkan dua orang itu. Ia menuju dapur untuk mengaliri kerongkongannya dengan air dingin setelah rasa haus itu terasa menyiksa diri.
"Bu Ganis!" sapa Maryati setelah menjemur pakaian di halaman belakang.
"Ya Bu, ada apa?"
Maryati mengambil sesuatu dari kabinet atas kitchen set. Sesuatu yang ia simpan rapat-rapat agar tidak ketahuan siapapun.
"Ini Bu!" ucap Maryati seraya menyerahkan sesuatu yang ia bawa.
Ganis menatap dengan seksama apa yang diberikan oleh Maryati. Dahinya mengernyit, pertanda tak mengerti. "Ini apa Bu?"
"Ini adalah obat pelancar haid yang akan ditukar ke vitamin yang diminum bu Ganis untuk menggagalkan promil Bu Ganis. Obat ini dibeli oleh nyonya Dinda dan ibunya."
Kedua bola mata Dinda membulat sempurna. "Hah, bu Maryati serius?"
Maryati menganggukkan kepala. "Betul Bu. Mulai sekarang bu Ganis harus lebih hati-hati sama mereka. Tapi tenang saja, untuk perkara obat ini sudah aman."
"Sudah aman? Maksudnya bagaimana Bu?"
"Obat yang dikira obat pelancar haid yang dibeli oleh nyonya Dinda dan ibunya sudah saya ganti dengan asam folat, Bu. Jadi nanti ketika vitamin bu Ganis ditukar oleh mereka, bu Ganis tenang saja karena itu isinya asam folat."
Ganis semakin terperangah. Namun tak selang lama senyum penuh kelegaan terbit di bibir Ganis. Ternyata Allah mengirimkan orang-orang baik yang berada di sekelilingnya.
"Terima kasih banyak Bu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Bu Mar tidak memberitahu kabar ini."
"Sama-sama Bu. Tapi mulai saat ini ada hal lain yang jauh lebih penting untuk Bu Ganis pikirkan," ucap Maryati memberi saran.
"Hal lain yang lebih penting? Maksudnya apa Bu?"
"Harta gono-gini Bu. Saya harap Bu Ganis segera mengurus harta gono-gini dengan pak Krisna. Takutnya nanti dirampas semua oleh Bu Dinda."
Ucapan Maryati terdengar sedikit sulit untuk dicerna tapi sudah cukup membuat Ganis tersadar. Semakin dicerna maka semakin ucapan Maryati ini banyak benarnya.
Jika Dinda sanggup menghancurkan mimpiku untuk memiliki keturunan, tidak menutup kemungkinan ia juga mau menghancurkan hidupku dari segala sisi. Ckckckck... Terlampau berani wanita itu. Tapi kamu salah Din, jika menantangku. Meski aku diam, tapi aku akan melakukan sesuatu yang pastinya akan membuatmu takjub karena kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun selain raga mas Krisna.
.
.
.
.
.
.