Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Perjalanan dari kedamaian Yogyakarta menuju hiruk-pikuk Jakarta terasa seperti menembus lapisan dimensi yang berbeda. Kereta api eksekutif yang mereka tumpangi melaju membelah hamparan sawah hijau yang perlahan berganti menjadi pemandangan pabrik-pabrik bertembok kusam dan pemukiman padat yang menyesakkan. Arka duduk di dekat jendela, sementara Nirmala menyandarkan kepala di bahunya. Meski raga mereka berada di dalam gerbong yang nyaman, batin mereka sedang berteriak waspada.
Sejak penyatuan mereka semalam, Arka merasakan perubahan yang luar biasa pada indranya. Ia tidak lagi perlu bersusah payah memusatkan fokus untuk melihat "mereka" yang tak kasat mata. Pandangannya kini jauh lebih luas ia bisa merasakan kehadiran energi-energi gelap di setiap stasiun yang mereka lalui, seolah-olah matanya memiliki radar yang tak pernah mati. Namun, yang paling aneh adalah ia kini bisa merasakan denyut jantung Nirmala di dalam nadinya sendiri, sebuah sinkronisasi yang membuat mereka menjadi satu kesatuan yang utuh.
Nirmala sendiri merasakan hal yang sama. Tangan Nirmala yang bersandar di lengan Arka terus-menerus merasakan aliran hangat yang stabil. Ia tidak lagi merasa mual atau pening saat melewati tempat-tempat yang angker. Kekuatan Arka seolah menjadi "penyaring" bagi batinnya yang terlalu peka. Ia kini bisa membedakan dengan jelas mana rasa sakit yang berasal dari manusia biasa, dan mana "penyakit" yang sengaja ditanam oleh kekuatan hitam.
"Mas Arka... kau merasakannya?" bisik Nirmala pelan, matanya tetap terpejam.
Arka mengangguk, tangannya menggenggam jemari Nirmala semakin erat. "Ya. Semakin dekat kita ke Jakarta, udara di sekitar kita semakin terasa berat. Seperti ada kabut tipis yang tidak terlihat, mencoba menghisap sisa-sisa cahaya di langit."
Begitu kereta berhenti di Stasiun Gambir, suasana mencekam yang diceritakan Aki langsung terasa nyata. Jakarta tidak lagi tampak seperti kota metropolitan yang sibuk dengan urusan duniawi saja. Di mata Arka, gedung-gedung tinggi di sekitar Monas seolah-olah sedang dililit oleh benang-benang hitam yang menjalar dari bawah tanah.
Baruna sudah menunggu mereka di parkiran dengan wajah yang jauh lebih kurus dan mata yang merah karena kurang tidur. Pengamen laut itu tidak lagi membawa gitarnya, ia membawa sebuah tas kain besar yang berbau amis garam dan kemenyan.
"Syukurlah kalian cepat datang." ucap Baruna dengan suara parau. Ia menyalami Arka dan Nirmala dengan tangan yang gemetar. "Jakarta sedang sekarat. Saraswati tidak lagi bersembunyi. Dia benar-benar gila."
"Siapa saja yang diculik, Baruna?" tanya Arka saat mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menembus kemacetan.
"Siswa-siswa sekolah yang dulu sering bermain di sekitar Menara Kencana, beberapa satpam yang selamat dari tragedi Hendrawan, dan... Pak Satrio." jawab Baruna. "Mereka semua dibawa ke sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan utara. Saraswati sedang memanen sisa-sisa trauma mereka untuk menyiram benih baru."
Nirmala memejamkan mata, mencoba menjangkau keberadaan mereka lewat batinnya. Namun, ia justru tersentak dan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. "Ada tembok yang sangat dingin menghalangi arah batin pembersihan dariku, Arka. Saraswati sudah memasang pagar gaib di seluruh wilayah utara."
Saat mobil melintasi kawasan Kota Tua, tiba-tiba ban mobil mereka meletus dengan suara yang sangat keras. Mobil itu tergelincir, untungnya Baruna berhasil mengendalikannya hingga berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua peninggalan Belanda yang terbengkalai.
"Turun! Sekarang!" teriak Arka.
Mata Arka menangkap sesuatu yang mengerikan di bawah aspal jalanan. Aspal itu tidak hanya pecah karena kecelakaan, tapi ada akar-akar hitam berlendir yang muncul dari celahnya, mencoba melilit roda mobil mereka. Akar itu bukan berasal dari tumbuhan normal, itu adalah manifestasi dari dendam Sandiwayang yang telah berevolusi menjadi lebih liar.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang bangunan tua, muncul puluhan sosok manusia dengan gerakan yang kaku. Mereka adalah warga biasa pedagang kaki lima, pejalan kaki, tapi mata mereka hitam pekat tanpa putih mata sedikit pun. Mereka sedang dalam pengaruh sirep massal yang dikendalikan oleh Saraswati.
"Jangan sakiti mereka Mas Arka! Mereka hanya diperalat!" seru Nirmala.
Arka segera pasang badan di depan Nirmala. Ia melihat benang-benang hitam yang mengendalikan gerakan orang-orang itu, menjuntai dari atas atap bangunan tua. Di sana, duduk sesosok makhluk menyerupai laba-laba besar dengan wajah manusia, kiriman Saraswati untuk menyambut kedatangan mereka.
Nirmala melangkah maju, tangannya terbuka lebar. Ia tidak memanggil amarah. Ia mengingat kehangatan malam pertamanya dengan Arka, kehangatan yang telah membersihkan jiwanya. Ia menyalurkan energi itu melalui kakinya yang menginjak bumi Jakarta yang kotor.
"Lepaskan mereka..." bisik Nirmala.
Sebuah pendaran cahaya putih jernih keluar dari kaki Nirmala, merambat di atas aspal seperti ombak yang memurnikan. Begitu cahaya itu menyentuh warga yang terpengaruh, mereka jatuh pingsan satu per satu, terlepas dari jerat benang hitam tersebut.
"Sekarang, Arka! Makhluk di atas itu!" teriak Nirmala.
Arka tidak lagi ragu. Ia mengambil segenggam garam dari tas Baruna. Tanpa istilah lama, Arka melompat dengan kecepatan yang tidak manusiawi, sebuah efek samping dari penyatuan energinya dengan Nirmala yang kini memberinya kekuatan fisik yang luar biasa. Ia melemparkan garam itu tepat ke arah "mata" laba-laba tersebut.
Begitu garam itu bersentuhan dengan energi gelap makhluk itu, terjadi ledakan percikan api biru. Makhluk itu melengking kesakitan. Arka mendarat di atas kap mobil, matanya menatap tajam ke arah makhluk yang mulai terbakar dan menghilang menjadi asap hitam busuk.
"Hanya pion kecil." geram Arka. "Saraswati hanya ingin mengetes seberapa kuat kita setelah menikah."
Setelah suasana sedikit tenang, Baruna segera mengganti ban mobil dengan bantuan kekuatan fisik Arka yang luar biasa. Warga yang pingsan mulai sadar dengan wajah yang bingung, namun mereka merasa tubuh mereka jauh lebih segar karena telah "disentuh" oleh cahaya Nirmala.
"Kita tidak bisa membuang waktu lagi." ucap Nirmala sambil menatap ke arah utara di mana langit Jakarta tampak merah kehitaman meski matahari belum sepenuhnya terbenam. "Aku bisa mendengar suara tangis Pak Satrio. Mereka sedang dipaksa menjadi 'pupuk' bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari Hendrawan."
Arka masuk kembali ke dalam mobil, merangkul bahu Nirmala yang sedikit gemetar karena kelelahan setelah melakukan pembersihan massal tadi. "Kita akan sampai di sana, Nir. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan Saraswati kabur lagi."
Perjalanan berlanjut menuju kawasan pelabuhan utara yang sunyi dan mencekam. Di sana, aroma laut beradu dengan bau busuk kayu yang lapuk, menciptakan suasana horor yang sesungguhnya. Mereka tahu, ini bukan lagi sekadar kasus rumah berhantu atau santet tetangga. Ini adalah perang antara mereka yang ingin menjaga keseimbangan hidup, dengan mereka yang ingin menenggelamkan dunia ke dalam kegelapan abadi.
Mobil mereka yang berhenti di depan sebuah gudang tua raksasa yang dikelilingi oleh air laut yang hitam dan diam. Di atas gudang itu, sebuah akar raksasa berwarna merah darah tumbuh menembus atap, melambai-lambai ke arah langit seolah sedang memanggil badai yang akan segera datang.
"Kita sudah sampai." ucap Arka dengan suara yang dingin dan tajam. "Persiapkan dirimu Istriku. Perang yang sesungguhnya ada di balik pintu itu."