sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
..
Langkah kaki Rea terasa berat saat ia memasuki ruang OSIS yang sepi. Begitu pintu tertutup, ia langsung menyandar di balik daun pintu, memegang dadanya yang masih bergemuruh hebat. Bayangan lumatan kasar Axelle di gudang tadi seolah masih tertinggal di bibirnya yang kini berdenyut pelan.
"Re."
Rea tersentak hebat. Ia mendongak dan mendapati ziro sudah berdiri di depan meja besar, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kotak beludru itu masih ada di genggamannya, tapi posisinya tersembunyi di balik saku jas MPK.
"Ziro... sori banget," suara Rea parau, ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas yang sebenarnya sudah rapi. "Tadi ada urusan mendadak soal koordinasi OSIS dengan pihak sekolah. Gue... gue lupa kalau kita ada janji di taman."
ziro melangkah mendekat. Ia berhenti tepat satu meter di depan Rea. Matanya yang tajam di balik kacamata itu menyapu wajah Rea—menangkap semburat merah di pipi, napas yang belum stabil, dan yang paling menyakitkan: bibir Rea yang sedikit bengkak.
Ziro tahu Rea berbohong. Sebagai pemain catur, dia tahu kapan lawan bicaranya sedang melakukan bluffing. Tapi melihat betapa gugupnya Rea, betapa gemetarnya tangan gadis itu saat memegang map, Ziro memilih untuk tidak menyerang.
"Urusan OSIS?" tanya Ziro pelan, suaranya tenang namun ada nada getir yang terselip.
"Iya... soal... soal teknis Pensi," bohong Rea lagi, suaranya makin mengecil. Ia tidak berani menatap mata Ziro.
Ziro terdiam lama. Hening yang menyiksa itu membuat Rea makin merasa bersalah. Ziro perlahan memasukkan tangannya ke saku, meremas kotak cincin yang tadinya ingin ia berikan. Ia tahu, jika ia memberikan cincin itu sekarang, ia hanya akan memaksa Rea untuk berbohong lebih jauh. Dan Ziro tidak ingin merusak martabat Rea.
Ziro mengangguk pelan. "Oke. Gue percaya, Re."
Rea tersentak, ia mendongak menatap Ziro dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa sakit melihat senyum tipis di wajah Ziro—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Gue cuma mau kasih ini," Ziro mengeluarkan sebuah gantungan kunci kristal berbentuk pion catur dari sakunya yang lain bukan kotak cincin itu "Oleh-oleh kecil dari Swiss. Tadinya mau kasih di taman, tapi kayaknya di sini juga nggak apa-apa."
Ziro meletakkan gantungan kunci itu di meja. "Gue balik ke ruang MPK dulu. Jangan terlalu capek, Re. Kadang, 'urusan mendadak' itu bisa bikin kita lupa siapa yang sebenarnya tulus nunggu."
Ziro berbalik, melangkah keluar dengan punggung yang tegak namun terasa sangat kesepian. Begitu pintu tertutup, Rea luruh ke lantai. Air matanya menetes. Dia merasa jahat,
Di Luar Ruang OSIS
Ziro berjalan dengan langkah cepat. Begitu sampai di lorong yang sepi menuju laboratorium, ia berhenti dan mengeluarkan kotak beludru itu. Ia membukanya sekali lagi, menatap kilau cincin emas putih yang ia beli dengan penuh harapan di Swiss.
Pletak.
Ziro menutup kotak itu dengan keras. wajah yang biasanya dingin semakin dingin dan datar tampa ekspresi.
...----------------...
Suasana apartemen terasa mencekam. Axelle sedang duduk di atas meja dapur, memperhatikan Rea yang sejak pulang sekolah hanya diam seribu bahasa. Rea sedang mencuci piring dengan gerakan mekanis, matanya kosong.
"Kenapa? Sedih karena si pecatur itu nggak jadi lamar lo?" tanya Axelle memecah kesunyian. Suaranya terdengar cemburu, tapi juga ada rasa bersalah yang ia tutupi dengan ketengilan.
Rea tidak menjawab. Dia hanya membanting spons cuci piringnya ke dalam wastafel.
"Berhenti, Axelle! Berhenti bahas Ziro!" teriak Rea sambil berbalik, matanya merah. "Gue bohongin temen baik gue sendiri demi nutupin perbuatan gila lo! Lo tau nggak rasanya?!"
Axelle turun dari meja dapur, ia mendekati Rea, mengurung gadis itu di antara wastafel. "Gue lakuin itu biar lo sadar siapa pemilik lo, Xavandra!"
"PEMILIK?!" Rea tertawa sinis. "Kita cuma selembar kertas yang dipaksa, Axelle! Jangan seolah-olah lo beneran cinta sama gue!"
Axelle terdiam. Rahangnya mengeras. "oh ya itu emang bener! tapi mau selembar kertas kek! kenyataan lo itu udah punya gue.. yang harus lo sadari dan lo salahin takdir lo sendiri.. " axelle berlalu begitu saja meninggalkan Rea yang mematung mendengar ucapan datar axelle.
tujuan axelle cuma satu.. tempat tongkrongan nya.
...----------------...
Deru mesin Ninja H2 milik Axelle membelah kesunyian malam di daerah Lembang. Angin dingin Bandung yang menusuk seolah nggak berasa bagi Axelle yang hatinya lagi terbakar. Bayangan wajah Rea yang nangis dan bibir yang dia lumat tadi sore terus berputar, bikin dia makin gila dan narik gas lebih dalem.
Begitu sampai di titik kumpul balapan liar, Ferro, Zayden, Jaxon, Liam, dan Arkan udah nunggu di pinggir jalan bareng puluhan anak motor lainnya.
Malam itu, Axelle bener-bener butuh pelarian. Debat soal Ziro dan insiden "handuk" bikin kepalanya mau meledak. Dengan gaya sok keren, dia nyamperin titik kumpul balapan di jalanan sepi Lembang.
"Wih! Bos Besar turun gunung!" teriak jaxon heboh. "Tumben, Xel? Habis dikasih jatah cuti sama om elgard? " ledek liam
"Bacot lo, pada. Gue cuma mau panasin mesin," jawab Axelle ketus. Padahal dalam hati dia kangen banget sama aspal, secara udah sebulan dia absen balapan demi jaga jarak aman sama Rea di apartemen.
Baru aja mereka mau narik gas, tiba-tiba... DARRR!
Bukannya suara tembakan, tapi suara sirine polisi yang muncul dari balik truk-truk besar yang tadinya dikira parkir biasa. Ternyata itu truk Dalmas!
"Jebakan betmen, woi! Cabut!" teriak Arsen yang tadinya mau sok jagoan langsung melipir pake motor sport nya
Sialnya, polisi kali ini udah sedia jaring kawat dan barikade. Axelle yang biasanya lincah, malah kejebak di tengah kerumunan motor yang saling tabrak karena panik. Ferro jatuh nimpa Zayden, Jaxon nyungsep ke selokan, dan Axelle... dia ketahan karena kakinya kesangkut stang motor Liam.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" bentak polisi yang jumlahnya kayak lagi mau nangkep buronan kelas kakap.
Axelle cuma bisa pasrah. Sebulan nggak balapan, sekalinya mampir cuma mau nengok, eh malah dapet paket lengkap masuk sel. "Apes banget hidup gue, ya Tuhan..." gumam Axelle sambil nutup muka pake helm.
Pukul 01.00 WIB - Kantor Polisi (Ruang Tahanan Sementara)
Suasananya udah kayak reuni akbar SMA Galaksi. Geng Badboy duduk berderet di lantai sel yang dingin.
"Xel, lo sih! Dateng-dateng bawa sial!" protes Ferro yang jidatnya benjol segede bakpao.
"Heh, kutu kupret! Gue yang paling rugi di sini! Gue cuma mau lewat, malah ikut keciduk!" balas Axelle gak terima.
Arsen yang duduk di pojokan malah sibuk nyari sinyal. "Bang, gimana nih? Kalau bokap gue tau, gue beneran disuruh jaga toko material seumur hidup."
"Lo pikir gue nggak? Gue bisa dikirim ke Pluto sama Elgard!" Axelle pusing tujuh keliling.
Polisi jaga masuk, ngetuk jeruji besi pake tongkat. "Satu orang, satu penjamin. Cepat hubungi keluarga masing-masing!"
Satu per satu anak-anak geng dijemput orang tuanya. Suasananya penuh drama; ada yang dijewer, ada yang dimaki-maki pake bahasa daerah. Sekarang hanya tinggal axelle dan arsen di dalam sel tahanan yang dingin itu
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁