NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Keberadaan yang Mengganggu”

Malam itu, suasana rumah terasa lebih tenang.

Arkan sudah tertidur lebih dulu, sementara Nayla duduk di sudut sofa ruang keluarga. Ponselnya berada di genggaman, layar menyala redup.

Satu nama kembali muncul di layar.

Pesan baru.

Nayla hanya menatapnya sebentar.

Tanpa membuka, tanpa membaca.

Lalu—layar itu ia matikan perlahan.

Seolah tidak ada apa-apa.

Namun beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali menyala.

Nama yang sama.

Pesan yang sama.

Masih belum dibuka.

Nayla menghela napas pelan, lalu meletakkan ponselnya di samping.

Matanya menerawang.

Seminggu lagi... batinnya.

Pertemuan keluarga itu sudah ditentukan sejak lama.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia tidak bisa terus menghindar.

Namun entah kenapa—

Kali ini terasa berbeda.

Langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Nayla menoleh.

Ayah Arkan berdiri beberapa meter darinya, tatapannya sekilas jatuh pada ponsel di samping Nayla.

Lalu pada wajah Nayla.

“Belum tidur?” tanyanya singkat.

“Belum,” jawab Nayla pelan.

Hening sejenak.

Pria itu tidak bertanya lebih jauh.

Namun entah kenapa, pandangannya sempat kembali pada ponsel itu.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia mengalihkan pandangan.

“Jangan tidur terlalu malam,” ucapnya datar, sebelum berbalik.

Nayla hanya mengangguk pelan.

Setelah pria itu pergi, ia kembali melirik ponselnya.

Layar masih gelap.

Pesan itu masih ada.

Belum tersentuh.

Nayla menarik napas dalam.

Lalu berbisik pelan—

“Nanti saja...”

Seolah meyakinkan dirinya sendiri.

**

Ini adalah hari kedua Nayla tinggal di rumah itu.

Semalam, Nayla sudah memberi tahu keluarganya tentang pekerjaan ini. Awalnya mereka keberatan. Namun setelah mengetahui gajinya—yang hampir sepuluh kali lipat dari pekerjaannya sebelumnya—mereka akhirnya setuju.

Dengan satu syarat.

Nayla harus mau mencoba membuka hati pada seseorang yang akan ditemuinya lima hari lagi.

Keluarganya tidak memaksanya. Mereka hanya ingin Nayla mencoba membuka diri. Setelah perkenalan nanti, jika memang tidak cocok, tidak apa-apa.

Pagi itu, lagi-lagi Arkan membangunkannya dengan kecupan di pipi.

Nayla masih menemani Arkan tidur. Bahkan semalam, saat ia sedang berbicara dengan keluarganya, Arkan sempat terbangun dan mencarinya.

Ia memang tidak menangis seperti hari pertama.

Namun matanya yang berkaca-kaca, menatap ke sana kemari mencari keberadaan Nayla, sudah cukup membuat hatinya terenyuh.

Nayla menghela napas pelan.

Akhir pekan ini, ia harus pulang kampung untuk menemui keluarganya.

Entah bagaimana nanti reaksi Arkan saat ia pergi.

Nayla hanya bisa berharap… Arkan bisa diberi pengertian.

Rutinitas pagi itu berjalan seperti biasa.

Nayla memandikan Arkan, lalu mengajarinya merapikan tempat tidur dan berpakaian sendiri. Meski masih terbata-bata, Arkan terlihat berusaha dengan sungguh-sungguh.

Saat mencoba memasukkan kakinya ke celana, tubuh kecilnya sempat oleng hingga terjatuh.

Namun ia tidak menyerah.

Ia kembali bangkit dan mencoba lagi, lebih hati-hati.

Napasnya naik turun, wajahnya serius, seolah sedang melakukan sesuatu yang sangat penting.

Nayla menahan tawa.

Lucu sekali... batinnya. Padahal cuma pakai celana dalam, masih dibantu sedikit juga, tapi sampai berkeringat begitu.

“Sekarang baju,” ucap Nayla sambil menyodorkan kaus kecil pada Arkan.

Arkan langsung memperhatikan dengan saksama.

“Kamu lihat dulu posisinya, mana depan, mana belakang.”

Arkan mengangguk kecil, lalu mulai mencoba.

Ia memasukkan satu tangannya ke lubang lengan. Sedikit meleset, lalu mencoba lagi.

Berhasil.

“Tangan satunya lagi,” arah Nayla lembut.

Arkan mengikuti, lalu mendengus kecil karena bangga.

“Oke, pintarnya... tampannya Kakak,” puji Nayla.

Arkan cengengesan lebar.

“Sekarang atur bajunya... nah, baru kepala dimasukkan ke sini.”

Beberapa detik kemudian—

Berhasil.

“Good job! Arkan hebat banget!” seru Nayla sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Arkan tersenyum lebar, wajahnya bersinar bangga. Seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat besar.

Tak lama setelah itu, mereka pun keluar menuju taman.

Udara pagi terasa sejuk. Rumput masih basah oleh embun, dan cahaya matahari baru saja menyentuh ujung-ujung daun.

Nayla dan Arkan berlarian di taman.

Nayla menenteng tas yang cukup besar di tangannya. Meski terlihat penuh, entah kenapa tas itu tidak terasa berat baginya.

Setelah menemukan tempat yang dirasa pas, Nayla berhenti.

Ia langsung membuka tasnya dan mengeluarkan tikar kecil dari dalamnya.

Arkan yang sejak tadi berlarian sambil cekikikan, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Begitu melihat Nayla hendak menggelar tikar, ia langsung bergegas mendekat.

“Yeeey!” serunya girang.

Ia ikut membantu, meski lebih banyak mengacak daripada merapikan.

Nayla tersenyum, lalu membenarkan posisi tikar itu hingga rapi.

Selain tikar, Nayla juga membawa bantal kecil dan sebuah kamera mungil untuk berfoto.

Tak lama, mereka sudah duduk santai di atas tikar.

Arkan berguling-guling kecil di atasnya, sementara Nayla mulai mengambil foto dengan pose-pose aneh yang sengaja dibuat berlebihan.

Wajahnya dimiringkan, bibirnya dimonyongkan, bahkan sesekali ia menjulurkan lidah.

Arkan langsung tergelak.

“Hahahaha!”

“Kakak aneh banget!”

Namun tak lama kemudian, ia justru ikut meniru.

Ia mencoba memiringkan wajahnya dengan cara yang sama—bahkan lebih berlebihan.

Nayla tak kuasa menahan tawa.

Tawa mereka pecah bersamaan, ringan dan lepas.

Tanpa mereka sadari—

Dari kejauhan, seseorang berdiri memperhatikan.

Ayah Arkan.

Ia berdiri tidak jauh, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tertuju pada dua sosok di atas tikar itu.

Diam.

Tanpa suara.

Arkan yang biasanya sulit diatur, kini tertawa lepas.

Dan Nayla...

Begitu mudah masuk ke dunianya.

Tatapannya bertahan lebih lama dari seharusnya.

Ada sesuatu yang terasa berbeda—namun ia tidak mencoba memahaminya.

Hanya memperhatikan.

Beberapa detik berlalu.

Lalu, seperti tersadar, ia mengalihkan pandangan.

Namun kali ini—

Langkahnya tidak langsung pergi.

Tawa mereka masih terdengar ringan di udara.

Arkan yang sedang menirukan pose aneh Nayla tiba-tiba berhenti.

Matanya menangkap sesuatu di kejauhan.

Sosok yang berdiri diam, memperhatikan tanpa suara.

“Papah...” gumamnya pelan.

Nayla yang masih tersenyum, mengikuti arah pandang Arkan.

Ia menoleh.

Dan di sanalah Ayah Arkan berdiri.

Ck. Kok dia ada di sini sih. Batin Nayla

Beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Hanya tatapan yang saling bertemu—singkat, lalu terlepas.

Arkan tiba-tiba berdiri.

“Papah!” serunya lebih keras kali ini.

Tanpa menunggu, ia langsung berlari kecil menghampiri.

Nayla tetap di tempatnya, duduk di atas tikar.

Tangannya perlahan menurunkan kamera.

Tatapannya mengikuti Arkan.

Sementara di sana—

Ayah Arkan sedikit menunduk saat Arkan mendekat, menerima pelukan kecil itu tanpa banyak reaksi.

Namun tangannya tetap terangkat, menepuk pelan punggung Arkan.

Singkat.

Seperlunya.

Arkan langsung bercerita dengan semangat, menunjuk ke arah Nayla dan tikar.

Seolah ingin menunjukkan sesuatu yang membanggakan.

Dari kejauhan, Nayla hanya memperhatikan.

Tawa Arkan masih terdengar riang.

Namun Nayla mulai menyadari sesuatu.

Tatapannya kembali terarah ke sosok pria yang berdiri tidak jauh dari sana.

Alisnya sedikit mengernyit.

Bukannya... hari ini dia sudah berangkat ke luar kota? batinnya.

Ia mengingat jelas.

Semalam, Bibi Rani sempat mengatakan bahwa pagi ini Ayah Arkan seharusnya sudah pergi.

Lalu kenapa...

Dia masih di sini?

Nayla menghela napas pelan, menahan rasa tidak nyaman yang perlahan muncul.

Ck...

Kenapa dia belum pergi sih...

Pandangan Nayla sempat bertahan beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengalihkan wajahnya.

Ia kembali duduk santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun perasaannya tidak benar-benar tenang.

Sejujurnya, Nayla masih belum terbiasa berada di dekat pria itu.

Bukan takut.

Hanya saja...

Selalu terasa canggung.

Terlalu diam.

Dan Nayla tidak pernah tahu harus bersikap seperti apa.

Akhirnya, seperti biasa—

Ia memilih cara paling mudah.

Menganggap pria itu seperti angin yang lewat.

Ada... tapi tidak perlu dipedulikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!