Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Bertatap Mata
Vivi terkesiap. Matanya melotot.
Apa? Kenapa dia menahan tanganku? Apa aku sudah ketahuan? Secepat ini?
"Kamu..." Althan menatap Vivi lekat-lekat. Vivi sontak menahan napas, sembari menundukkan kepala.
"..Nggak mau bersihin muka saya dulu?"
Hening. Vivi yang sudah ketakutan dengan pikirannya sendiri mengerjapkan mata beberapa kali, sama sekali tidak menyangka dengan kalimat yang diucapkan Althan.
"Hahha, astaga!" suara tepukan tangan dari sang sutradara mencairkan suasana. "Wajar, Althan.. Dia baru pertama kali di sini, pasti dia grogi karena ada kamu, hahahahha!"
Gelak tawa para staf lain terdengar memenuhi ruangan.
Vivi buru-buru menarik tangannya, dan segera mengambil cairan pembersih muka. Sementara itu, Althan memperhatikan gerak gerik wanita itu dengan mata menyipit.
Kenapa wanita ini? Dia seperti ketakutan melihat ku. Apa benar dia cuma grogi? batin Althan.
Bodoh sekali kamu, Vivi! Kenapa kamu jadi seperti ini di depan dia? Fokus! Fokus! batin Vivi berkecamuk.
"Oke, sambil nunggu Althan selesai di make-up, kita akan nyiapin semuanya dulu. Ayo, semuanya, kembali ke lokasi syuting. Jangan keenakan kalian di sini ngelihatin Althan! ayo, bubar! bubar! kerja! kerja! " Pak Sutradara menepuk tangannya, membuat para staf yang berkumpul disitu, khususnya para wanita berdecak keberatan.
Setelah kepergian sutradara dan para staf, sekarang tinggal tersisa Althan dan Vivi di dalam ruangan itu.
Vivi kemudian berusaha untuk kembali mengatur napasnya.
Tidak, aku harus tenang. Aku tidak boleh ketahuan. Jangan sampai.
Vivi lalu berbalik dengan mempertahankan muka datar di balik masker. Setelah itu, ia mulai membersihkan wajah Althan menggunakan kapas yang sudah dibasahi dengan cairan pembersih wajah.
Vivi melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia bahkan berusaha menahan napasnya selama melakukan hal itu. Di sisi lain, Althan tampak santai sembari membaca script di tabletnya.
Ayo, Vivi, lakukan dengan cepat. Setelah itu kamu bisa pergi dari sini..
"Mbak,"
Panggilan dari Althan itu membuat Vivi terkesiap. Ternyata Althan sudah menatapnya dari tadi.
"Kamu ada dendam apa gimana sih sama aku? Kok make-up nya kasar banget,"
Vivi menelan ludah. Tanpa bersuara, ia buru-buru menundukkan kepala beberapa kali untuk meminta maaf.
Melihat gestur wanita itu, Althan memiringkan kepala heran. "Maaf mbak, kamu nggak bisa ngomong ya?"
Vivi terbelalak. Jadi dia mengira aku bisu? Eh, bukankah itu bagus? Aku jadi nggak perlu bicara, jadi aku nggak bakal ketahuan.
Vivi cepat cepat menganggukkan kepala.
"Oh, pantesan.. Dari tadi diem aja.." Althan mengangguk angguk. "Kamu make-up nya santai aja mbak, nggak usah buru-buru. Nanti kalau dimarahin sutradara, biar aku yang ngomong,"
Vivi lagi lagi mengangguk, mempertahankan konsep bisu yang sudah terlanjur ia lakukan.
Althan kemudian menyandarkan kepalanya ke bantal kursi, lalu mulai memejamkan mata. Vivi menghela napas lega. Setidaknya, ia bisa make-up dengan tenang tanpa harus terintimidasi dengan tatapan curiga pria itu.
Vivi akhirnya kembali merias wajah Althan, kali ini dengan lebih lembut. Ia mengoleskan foundation, lalu menimpanya dengan warna warna lain supaya memberikan efek hantu.
Sembari melakukan pekerjaannya, diam diam Vivi mencuri pandang ke wajah Althan.
Pria itu masih sangat tampan, sama tampannya dengan Althan yang ia ingat lima tahun lalu. Bahkan sekarang fiturnya jauh lebih matang. Hanya saja, Vivi bisa melihat ada lingkaran hitam di sekitar mata, dan kelelahan yang terlihat di sana.
Kenapa kamu jadi kelihatan kurus? batin Vivi. Apa kamu tidak makan dengan baik?
Tiba-tiba air mata Vivi mulai merebak. Rasa bersalah muncul di hatinya. Ia tau, salah satu orang yang membuat Althan menderita dalam hidup adalah dirinya. Wajar, jika pria itu membencinya.
Tanpa sadar, tangan Vivi bergerak, mencoba untuk mengusap wajah Althan. Jujur, sebenarnya ia sangat merindukan pria itu. Selama lima tahun terakhir, ia selalu memimpikannya. Vivi tak pernah berani untuk melihat televisi, karena ia takut saat melihat wajah pria itu di sana, kerinduannya akan semakin dalam.
"Althan!"
Tepat sebelum tangan Vivi menyentuh wajah Althan, pintu ruangan make-up terbuka. Seorang wanita super cantik muncul, dan teriakannya membuat Althan terbangun.
Vivi buru-buru menjauh dari Althan.
Astaga, apa yang kamu lakukan Vivi? Kamu mau menyentuh Althan? Apa kamu sudah gila? Ingat, kamu tidak berhak melakukannya!
"Natasya?" Althan memanggil nama wanita cantik yang baru masuk itu dengan tatapan heran. "Kok kamu di sini? Memangnya kamu ikut di film ini juga?"
Natasya, nama wanita cantik itu, tampak menatap Vivi dengan curiga, lalu saat tatapannya beralih ke Althan, tatapannya berubah lembut dan bibirnya tersenyum lebar.
"Nggak, aku barusan ada syuting iklan di dekat sini! dan kebetulan aku dengar dari Pak sutradara kamu ada disini juga! Jadi sekalian deh aku mampir!"
Natasya mengatakannya dengan nada ceria, sembari menghampiri dan merangkulkan tangannya ke bahu Althan.
"Kamu kok nggak ngabarin aku, sih? Kita kan udah lama nggak ketemu sejak proyek terakhir? Apa kamu nggak kangen aku?"
Ucapan dan tindakan Natasya terhadap Althan membuat Vivi mau tidak mau berpikir yang tidak tidak. Vivi tau siapa Natasya. Ia tak sengaja pernah melihatnya di poster film bersama Althan. Ia juga pernah mendengar gosip dari orang-orang salon kalau Natasya dan Althan dirumorkan pacaran.
Jadi, apa semua itu benar?
Tiba-tiba, Vivi bisa merasakan ada rasa tak nyaman di dadanya.
Apa ini, kenapa kamu sakit hati, Vivi? bukankah kamu yang dulu memilih meninggalkan Althan? Kenapa sekarang kamu sedih? Apa hakmu terhadap dia?
Dengan pikiran berkecamuk, Vivi berusaha mengalihkan perhatian dengan melanjutkan pekerjaannya. Tapi, tanpa sengaja, tangannya menyenggol botol serum yang terbuat dari kaca.
Prangg!
"Astaga!" Natasya berteriak terkejut. Althan juga menatap ke arah Vivi yang tampak shock.
Vivi buru-buru berjongkok, berusaha memungut pecahan kaca yang berserakan.
"Tunggu!" tiba-tiba saja, Althan menahan lengannya. "Jangan diambil, nanti tangan kamu terluka!"
Vivi terkejut, tanpa sadar ia mendongak. Dalam sepersekian detik, matanya bertatapan dengan Althan. Tapi setelah sadar, ia buru-buru menundukkan kepalanya lagi.
"Althan, what are you doing?" Natasya menghampiri dan menarik tangan Althan untuk berdiri. "Bahaya, kalau kamu terluka gimana?"
"I am okey," kata Althan kemudian. "Biar aku cari staf dulu buat bersihin ini,"
"Eh, jangan, kenapa kamu yang cari? Harusnya dia, kan dia yang pecahin, dia yang tanggung jawab!" Kata Natasya sambil menunjuk ke arah Vivi.
Vivi buru-buru bangkit dan menundukkan kepala berkali-kali. Lalu lagi lagi tanpa bicara, ia berlari ke luar untuk mencari alat pembersih.
Sementara itu, Althan masih terus memperhatikan pergerakan Vivi. Begitu intens sampai Natasya menyadarinya.
"Althan, kamu kenapa sih? Kenapa ngeliatin orang itu terus?" ucap Natasya ketus.
Althan tak menjawab. Tapi batinnya bergejolak.
Mata itu, batinnya. Seperti mata orang yang selama ini aku rindukan.
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara