NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 : Batasan yang harus dipertahankan.

‎Setelah makan malam selesai, seluruh keluarga pindah ke ruang santai kecuali Bima yang kembali ke kamarnya. Clara duduk berdampingan dengan Saskia, sementara Farel mengambil tempat di samping Viona. Arsen memilih kursi tunggal di sudut ruangan, namun pandangannya sering menyelinap ke arah Viona.

‎‎"Terima kasih, Kak Saskia." Dia menyendok sedikit kue itu dan mengarahkannya ke mulutnya. "Hem, rasanya sangat enak, teksturnya lembut dan rasanya tidak terlalu manis."

‎‎Saskia tersenyum bangga dengan pujian yang diterimanya. "Kakak membuatnya sendiri. Kalau kamu mau, Kakak bisa mengajari kamu cara membuatnya,"

‎‎Clara mengangguk dengan kagum, matanya melirik ke arah Arsen yang sedang duduk dengan wajah tenang. "Tentu saja, Kak, aku ingin belajar memasak dan membuat kue sendiri agar setelah menikah nanti suamiku betah makan dirumah," ujarnya dengan nada yang sedikit menonjol, seolah sengaja ingin terdengar oleh Arsen.

‎‎Saskia tertawa renyah dan menepuk punggung tangan Clara. "Betul sekali. Wanita yang bisa memasak memang lebih berharga, apalagi untuk keluarga. Kakak yakin kamu pasti akan menjadi istri yang baik, Clara."

‎‎Kata-kata itu membuat dada Viona sedikit sesak. Dia menunduk melihat tangannya yang digenggam Farel. Sementara itu, Arsen yang sejak tadi tampak tidak peduli akhirnya mengangkat pandangannya, matanya menatap sebentar ke arah Clara sebelum tertuju pada Viona yang sedang menunduk.

‎‎"Memasak memang penting, tapi itu bukan satu-satunya hal yang membuat seseorang betah di rumah," ujar Arsen dengan suara yang cukup jelas hingga membuat semua orang di ruangan itu menyimak.

‎‎"Kalau begitu, menurutmu apa yang membuat seseorang betah tinggal bersama pasangannya?" tanya Clara dengan tatapan penuh harapan.

‎‎Arsen mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan sebelum menjawab. "Kejujuran, rasa hormat, dan hubungan yang saling mengerti. Tanpa itu, makanan terbaik sekalipun tidak akan membuat rumah terasa seperti tempat yang nyaman."

‎‎Clara tersenyum puas mendengar jawaban Arsen, dia semakin mengagumi pria itu dan tidak ingin menyembunyikan ketertarikannya. Tidak peduli Arsen sudah memiliki seorang kekasih atau belum, yang pasti dia ingin mengenal pria itu lebih dalam.

‎‎Obrolan terus berlanjut dengan Tuan Danu, Saskia dan Clara yang lebih mendominasi obrolan. Setelah sekitar satu jam berlalu, Clara melihat pada jam di dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.

‎‎"Sudah sangat larut, aku harus pulang sekarang," ujar Clara sambil berdiri perlahan, senyum ramah terpampang di wajahnya meskipun ada rasa kecewa karena belum bisa mengobrol lebih banyak dengan Arsen.

‎‎Tuan Danu juga bangkit dari tempat duduknya. "Kalau begitu biarkan Arsen saja yang mengantarmu pulang, tidak bagus wanita berkendara malam-malam sendirian. Mobilmu biar diantar oleh sopir saja besok pagi ke rumah."

‎‎Arsen yang masih duduk dengan tenang pun mengangkat pandangannya ke arah ayahnya, ekspresi wajahnya sedikit berubah dari biasanya. "Aku masih ada beberapa berkas penting yang harus diselesaikan. Biar sopir saja yang mengantarnya,"

‎‎"Tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan tamu kita, Arsen," tegas Tuan Danu, kata-katanya tidak bisa ditentang. "Berkas itu bisa kamu selesaikan nanti setelah mengantar Clara pulang."

‎‎"Tidak perlu repot begitu, Paman. Aku bisa pulang sendiri dengan mobilku," ucap Clara, meskipun begitu matanya terpaku pada Arsen yang sudah mulai berdiri.

‎‎"Tidak apa-apa, Clara. Biarkan Arsen yang mengantarkanmu, biar lebih aman," ujar Saskia sambil menepuk bahu Clara. "Selain itu kalian juga bisa ngobrol lebih banyak dalam perjalanan pulang nanti."

Arsen menghela napas, kemudian menoleh ke arah Viona yang sedang berdiri menatapnya. Rasa tidak senang terpancar dengan jelas diwajah gadis itu.

‎‎"Mari kita pergi sekarang, sebelum jalanan semakin sepi," ujar Arsen dengan nada yang datar, kemudian berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut.

‎‎Setelah berpamitan pada semua orang yang ada disana, Clara mengejar langkah Arsen yang sudah melangkah cepat menuju halaman depan. Clara langsung masuk kedalam mobil dimana Arsen sudah menunggunya.

‎‎Selama perjalanan, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara mesin yang berjalan tenang dan sedikit desisan angin di luar kaca yang terdengar.

‎‎Clara menoleh ke arah Arsen yang terlihat begitu fokus menyetir. Cahaya lampu jalan menerangi wajah Arsen yang tegas, menyorot garis rahangnya yang kuat dan alis yang sedikit mengerut seolah dia sedang memikirkan sesuatu yang berat.

‎‎"Jadi siapa wanita itu?" tanya Clara, suaranya cukup keras untuk terdengar di tengah kesunyian mobil. "Keluargamu terlihat begitu menyukaiku dan berharap kita bisa dekat. Memangnya kamu belum pernah mengenalkan wanita itu pada mereka?"

‎‎"Aku rasa tidak penting untuk menceritakan tentangnya padamu," tegas Arsen tanpa menoleh pada Clara. "Tidak perlu memakai cara mendekati keluargaku hanya untuk bisa dekat denganku, karena itu akan tetap sia-sia."

‎‎Clara tersenyum lebar, kata-kata itu justru membuatnya semakin tertantang. Matanya kembali bersinar dengan semangat. "Hentikan mobilnya didepan, Arsen."

‎‎Arsen mengerutkan keningnya, sedikit terkejut dengan permintaan Clara yang tiba-tiba. Tanpa banyak bicara dia menginjak pedal rem perlahan dan memarkirkan mobil di pinggir jalan yang cukup sepi. Dia menoleh sebentar ke arah Clara.

‎‎"Ada apa?" tanya Arsen dengan nada yang tetap datar.

‎‎Clara melepaskan sabuk pengamannya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Arsen, matanya penuh dengan tekad. Dia bangkit dari joknya dan dengan gerakan cepat berpindah duduk di atas pangkuan Arsen.

‎‎Arsen langsung menjauhkan tubuhnya sedikit ke belakang, tangannya dengan cepat menopang bahu Clara untuk menjaga jarak. Ekspresi wajahnya yang tadinya tegas kini berubah menjadi tidak nyaman.

‎‎"Clara, apa yang kamu lakukan?!" ujarnya dengan suara yang lebih keras "Cepat turunlah sekarang!"

‎‎Clara menyunggingkan senyum menggoda, menurunkan bagian dress atasnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menahan dada Arsen.

‎‎"Aku ingin buktikan padamu jika aku juga bisa lebih segalanya dari wanita itu, Arsen."

‎Arsen dengan cepat menahan bahu Clara dengan kedua tangannya, mencegahnya untuk bergerak lebih dekat. Dia kemudian membuka pintu mobil dengan satu tangan sambil tetap menjaga jarak.

‎‎"Clara, ini sudah terlalu jauh!" ujarnya dengan suara yang tegas namun tetap terkendali. "Turunlah sekarang dari mobilku!"

‎‎Tanpa menunggu tanggapan dari Clara, Arsen mendorong tubuh Clara kembali ke jok samping dengan gerakan sedikit kasar. Dia segera bergegas keluar dan mengangkat tangan untuk menyetop taksi yang sedang melintas. Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depan mobilnya.

‎‎"Pak, tolong antarkan wanita itu pulang kerumahnya," ujar Arsen kepada sopir taksi sambil membuka pintu jok belakang. Dia kemudian mendekati Clara yang masih duduk diam di dalam mobilnya dan sudah membenarkan pakaiannya kembali. Arsen membuka pintu mobilnya dengan sedikit kasar.

‎‎"Cepat turun dan masuklah kedalam taksi," ujarnya dengan nada tegas.

‎‎Clara mengangkat kepalanya perlahan, matanya merah karena mencoba menahan air mata. Dia tidak membantah, hanya menggeser tubuhnya dengan hati-hati dan keluar dari mobil Arsen. Saat akan masuk ke taksi, dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Arsen.

‎‎"Arsen, aku tidak akan berhenti sampai kamu mau tunduk padaku."

‎‎Setelah mengatakan itu, Clara bergegas masuk kedalam taksi. Kemarahan dan frustrasi terlihat jelas di wajah Arsen saat dia menatap taksi yang melaju semakin jauh. Dia menjambak rambutnya dengan kuat kebelakang, lalu menendang jok mobilnya.

"Sial!" umpatnya ditengah kesunyian malam, dia yang biasanya tenang kini benar-benar hilang kendali.

‎‎Setelah menenangkan diri sebentar, Arsen masuk ke dalam mobil dan mengemudi pulang dengan pikiran yang berantakan. Dia harus segera menemui Viona begitu sampai nanti, sebelum gadis itu berfikir macam-macam dan mengira telah terjadi sesuatu antara dirinya dengan Clara saat dia mengantar wanita itu pulang.

‎‎Setelah mobilnya memasuki gerbang rumah, Arsen langsung memarkirkannya dengan tergesa-gesa dan bergegas masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdebar kencang, khawatir akan apa yang mungkin terpikirkan oleh Viona selama dia pergi.

"Arsen, bisa kita bicara sebentar?"

‎Arsen menghentikan langkahnya tepat saat kakinya menginjak anak tangga pertama, membalikkan tubuhnya dan melihat Bima sudah berdiri tidak jauh dibelakangnya dengan wajah yang serius.

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
baru tunangan aja kok.. lagian, mendiang bapak Viona jga gak bakal rela lah kalo putrinya nikah ma orang yg udah ngerusak orang lain/Slight/
Zuri
aduhh🤣🤣🤣 siapkan jantungmu aja lah yaa
Zuri
yg ada tubuhnya yg bicara, bukan mulut/Hammer/
Zuri
mo kasian,,, tapi emang farel layak??/Slight//Slight/
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!