NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pagi itu, suasana kelas belum terlalu ramai saat Aluna duduk di bangkunya dengan lemas. Jemarinya gemetar saat menggulir layar ponsel. Ia berharap apa yang dilihatnya semalam hanyalah mimpi buruk, namun kenyataan di layar kaca itu tetap sama bahkan lebih buruk.

Saat Bara masuk ke kelas dan menghampirinya, Aluna langsung menunjukkan layar ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Bar, lihat deh, Brian ganti username Instagram nya dan semua foto kita bertiga dihapus," ucap Aluna dengan suara yang nyaris hilang.

Bara tertegun. Ia segera merogoh saku celananya dan memeriksa ponselnya sendiri. Wajahnya yang semula tenang mendadak berubah menjadi tegang. Ia mencoba menekan tombol panggil pada kontak Brian, namun hanya suara operator yang menyahut dingin.

"Gue juga baru sadar, kontak gue diblokir sama dia semalam," sahut Bara sambil menghela napas berat. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja Aluna, merasa seolah seluruh energinya terkuras habis.

Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan kecil mulai terdengar. "Kenapa harus begini sih, Bar? Aku nggak sanggup kalau harus musuhan kayak begini."

Bara hanya diam. Ia menatap ke arah pintu kelas, menunggu sosok Brian muncul, namun ia tahu segalanya tidak akan sama lagi.

Tepat saat Bara ingin menenangkan Aluna, pintu kelas terbuka. Brian melangkah masuk dengan gaya yang sangat berbeda. Tidak ada lagi wajah mendung atau sorot mata terluka seperti kemarin. Sebaliknya, ia berjalan masuk sambil menunduk menatap layar ponselnya, ibu jarinya bergerak lincah mengetik sesuatu.

Yang membuat hati Aluna semakin mencelos adalah senyum tipis yang tersungging di bibir Brian. Brian tampak sangat asyik, sesekali ia tertawa kecil melihat balasan pesan di ponselnya, seolah-olah ia sedang mengobrol dengan seseorang yang baru dan sangat menyenangkan.

"Bar, lihat..." bisik Aluna pedih. "Dia bisa ketawa seolah kita nggak pernah ada di sini."

Brian melewati meja mereka tanpa menoleh sedikit pun. Ia langsung duduk di kursinya yang baru, meletakkan tas, dan kembali fokus pada ponselnya. Dunianya kini terkunci di dalam benda pipih itu, dan Bara serta Aluna sama sekali tidak memiliki akses untuk masuk ke sana lagi.

Bara memberanikan diri mendekat, mencoba memecah keasyikan Brian.

"Bri, asyik banget, chat sama siapa?" tanya Bara, mencoba basa-basi agar suasana tidak terlalu kaku.

Brian menghentikan ketikannya sebentar, namun matanya tetap menempel pada layar. "Bukan urusan lo," jawabnya singkat, tanpa nada marah, namun sangat dingin.

"Kita cuma mau tanya soal tugas yang tadi malam, Bri. Kenapa nomor kita diblokir?" timpal Aluna yang akhirnya ikut mendekat dengan suara gemetar.

Brian mengembuskan napas panjang, lalu mendongak menatap mereka berdua dengan tatapan yang sangat asing. "HP gue, hak gue mau blokir siapa aja. Lagian, gue rasa udah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan lewat HP atau apa pun."

Setelah mengatakan itu, Brian kembali tertawa melihat layar ponselnya, seolah ada pesan masuk yang jauh lebih penting daripada keberadaan dua orang di depannya.

Ia benar-benar menganggap Bara dan Aluna seperti udara kosong—ada, tapi tidak terlihat.

Aluna mundur perlahan, hatinya terasa sangat perih. Melihat Brian bisa tertawa dengan "orang baru" di ponselnya jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya marah-marah.

Rasa penasaran yang bercampur dengan kecemburuan membuat Aluna tak bisa melepaskan pandangannya dari Brian. Ia ingin tahu, siapa yang bisa mengembalikan tawa Brian dalam waktu sesingkat itu, sementara ia dan Bara masih berdarah-darah karena rasa bersalah.

Tak lama kemudian, seorang siswi dari kelas sebelah, Clarissa, berjalan melewati jendela kelas dan melambaikan tangan ke arah Brian. Brian membalas lambaian itu dengan senyum lebar—senyum tulus yang dulu hanya ia berikan pada Aluna.

"Oh, jadi Clarissa yang bikin kamu ketawa semalam?" gumam Aluna tanpa sadar, suaranya mengandung getir yang tak tertahankan.

Brian melirik Aluna sekilas, lalu kembali menatap ponselnya. "Dia asyik, nggak banyak drama, dan yang jelas... dia jujur," sindir Brian tajam. Kalimat itu jelas-jelas ditujukan untuk menusuk Aluna dan Bara tepat di ulu hati.

Bara mengepalkan tangannya. "Bri, jangan pelampiasan kayak gini. Kita punya masalah, selesain sama kita, jangan bawa orang lain buat manas-manasin situasi."

Brian bangkit dari kursinya, memasukkan ponsel ke saku dengan gerakan tenang namun penuh intimidasi. "Siapa yang pelampiasan? Gue cuma lagi cari suasana baru yang nggak menyesakkan. Lagian, bukannya Lo berdua juga udah punya dunia sendiri? Kenapa masih repot ngurusin gue?"

Pertanyaan itu membuat Bara dan Aluna bungkam seribu bahasa.

*********

Hari-hari berikutnya menjadi pembuktian bahwa Brian tidak sedang menggertak. Ia benar-benar memutus akses. Di kantin, di parkiran, bahkan di koridor sekolah, Brian mulai sering menghabiskan waktu dengan Clarissa. Mereka terlihat sering mengobrol di bangku taman saat jam istirahat, sesuatu yang dulu selalu dilakukan Brian bersama Bara dan Aluna.

Bara dan Aluna seringkali tak sengaja berpapasan dengan mereka. Namun, setiap kali mata mereka bertemu, Brian akan langsung mengalihkan pandangannya seolah-olah yang berdiri di depannya hanyalah orang asing atau tembok tak bernyawa. Ia benar-benar menganggap Bara serta Aluna tidak ada.

"Bri..." sapa Aluna pelan saat mereka berpapasan di depan perpustakaan.

Brian tidak berhenti. Ia terus berjalan sambil tertawa mendengarkan cerita Clarissa, bahkan tidak ada kerutan di dahinya yang menunjukkan bahwa ia mendengar suara Aluna. Ia melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Aluna yang mematung dengan kata-kata yang tertahan di tenggorokan.

Kesabaran Aluna akhirnya habis. Rasa sakit karena diabaikan berhari-hari memuncak menjadi sebuah ledakan emosi yang tak terbendung. Saat melihat Brian berjalan di koridor sekolah, Aluna berlari, mengejar langkah cowok yang kini terasa sangat jauh itu.

"Brian kamu jahat banget sama aku!" seru Aluna dengan suara bergetar, menahan tangis yang sudah di ujung mata.

Tapi Brian tidak menjawab. Ia bahkan tidak berhenti untuk sekadar menoleh. Ekspresinya tetap datar, seolah-olah suara Aluna hanyalah angin yang lewat begitu saja. Dengan sikap yang sangat dingin, Brian justru menoleh ke arah Clarissa yang berjalan di sampingnya.

"Sa kok seperti ada yang ngomong tapi kok gak ada orang nya ya, serem banget," ucap Brian kepada Clarissa dengan nada menyindir yang sangat tajam.

Clarissa tertawa renyah, seolah menikmati sandiwara kejam itu. "Hahaha iya ya bri, ih takut pergi yuk," sahutnya sambil bergidik pura-pura.

"Ayok," jawab Brian singkat.

Tanpa memedulikan Aluna yang berdiri terpaku dengan hati yang hancur, Brian pun menggandeng tangan Clarissa tepat didepan matanya.

Bersambung........

Jangan lupa like dan beri rating lima ya kakak 😌 🙏

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!