NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Dua Sukukata di Bawah Rindang Mahoni

Denting bel tanda usainya kegiatan belajar mengajar mengalun nyaring, memecah kesunyian yang sejak pagi menyelimuti ruang-ruang kelas. Para siswa berhamburan keluar bagaikan lebah yang meninggalkan sarangnya, memenuhi lorong-lorong dengan gelak tawa dan obrolan sore. Matahari mulai mencondongkan sinarnya ke arah barat, menggoreskan bayang-bayang panjang pepohonan mahoni di pelataran SMA Bangsa.

Jenawa merapikan isi tasnya dengan gerakan lambat. Sesuai kesepakatannya pagi tadi dengan Seno, sore ini ia harus menepati janji untuk mentraktir kawan-kawannya segelas kopi di kedai belakang sekolah. Itu adalah harga yang harus ia bayar demi meredam gejolak di dalam barisan kelompoknya. Namun, sebelum langkah kakinya membawanya menuju kedai, pandangan Jenawa tak henti menyapu area sekolah, mencari-cari presensi seorang gadis yang kini selalu berhasil menyita separuh jalan pikirannya.

Ia menemukannya di bangku taman di bawah pohon mahoni tertua sekolah.

Sinaca Tina duduk dengan tenang, menunggu hingga gelombang siswa yang berdesakan di gerbang utama mulai surut. Gadis itu tidak membuang waktunya dengan sia-sia; sepasang matanya kembali tertuju pada deretan aksara di dalam buku tebal bersampul klasik. Rambutnya yang diikat rapi sedikit bergoyang dipermainkan angin sore.

Tanpa ragu, Jenawa mengarahkan langkahnya ke sana. Ia tidak memedulikan tatapan beberapa siswi yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya. Fokusnya hanya satu.

Mendengar derap langkah sepatu yang mendekat dan berhenti tepat di hadapannya, Sinaca mengangkat wajah. Ia menutup bukunya perlahan, menatap pemuda bertubuh tegap yang kini berdiri menghalangi sinar matahari sore dari wajahnya.

"Sore yang cerah untuk membaca, Nona Sinaca," sapa Jenawa membuka percakapan. Ia meletakkan sebelah tangannya di sandaran bangku kayu, sedikit menunduk agar bisa menatap wajah gadis itu lebih lekat.

Sinaca menghela napas pendek, meski tak ada raut terganggu di wajahnya. "Sore yang cerah pula untuk Anda. Bukankah kawan-kawan Anda sudah menunggu di kedai untuk menagih janji?"

Jenawa terkekeh pelan. "Rupanya telingamu cukup tajam saat berada di balkon pagi tadi. Ya, mereka memang sedang menungguku. Sebenarnya, kakiku sudah gatal ingin mengantarmu pulang melewati gang sempit itu lagi, namun sebagai seorang laki-laki, pantang bagiku untuk mengingkari janji yang telah terucap."

"Saya pun tidak meminta Anda untuk mengantar saya," balas Sinaca dengan nada datar dan lugas. "Jalanan hari ini cukup aman. Tidak ada indikasi bahwa akan terjadi pertengkaran konyol di simpang tiga seperti kemarin petang."

"Syukurlah kalau begitu," ujar Jenawa seraya menegakkan tubuhnya. Ia menatap Sinaca lekat-lekat, menyunggingkan senyum simpul yang memancarkan pesona khasnya. "Namun, aku kemari bukan hanya untuk memastikan jalanan aman untukmu. Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku sejak kita berpisah di bawah pohon tanjung."

Sinaca mengerutkan kening. "Sesuatu yang mengganjal?"

"Kau belum memenuhi permintaanku," ucap Jenawa dengan nada sedikit menuntut, namun matanya memancarkan kelembutan. "Panggil namaku, Sinaca. Tanpa embel-embel kesopanan yang membuat kita terasa berjarak ribuan mil."

Sinaca terdiam. Ia membalas tatapan Jenawa, mencoba mencari celah keraguan di mata pemuda itu, namun yang ia temukan hanyalah sebuah ketulusan yang keras kepala. Angin sore kembali berembus, menggugurkan sehelai daun mahoni yang jatuh tepat di pangkuan Sinaca. Gadis itu mengambil daun tersebut, lalu menatap Jenawa dengan raut wajah yang kembali tenang.

"Apakah memanggil nama Anda tanpa gelar penghormatan akan membuat ego Anda sebagai penguasa jalanan ini merasa lebih puas?" tanya Sinaca, kalimat bakunya meluncur tajam seperti biasa.

"Tidak ada hubungannya dengan jalanan atau egoku," jawab Jenawa tak kalah mantap. "Ini tentang aku, dan kau. Hanya kita berdua."

Keheningan melingkupi mereka berdua sejenak, mengisolasi bangku taman itu dari keriuhan siswa yang masih tersisa di pelataran. Sinaca menundukkan pandangannya sesaat, mengusap pelan sampul bukunya, sebelum akhirnya kembali menatap sepasang netra kelam milik pemuda di hadapannya. Pertahanannya selalu terasa goyah jika berhadapan dengan persistensi seorang Jenawa.

"Baiklah," ucap Sinaca, suaranya kini terdengar lebih halus, menanggalkan ketajaman yang biasa ia jadikan tameng. "Jika itu yang Anda... maksud saya, jika itu yang kau inginkan."

Gadis itu mengambil jeda sebentar, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan dua sukukata yang mendadak terasa begitu berat di lidahnya.

"Selamat sore, Jenawa. Pergilah temui kawan-kawanmu, sebelum mereka kembali mempertanyakan kesetiaanmu."

Dua sukukata itu. Je-na-wa.

Mendengarnya meluncur dari bibir Sinaca tanpa ada batasan formalitas, terasa seperti sebuah kemenangan mutlak di dada pemuda itu. Mengalahkan puluhan anak SMA Pelita pun tak pernah memberikan sensasi sedahsyat ini. Senyum di wajah Jenawa mengembang sempurna, mencapai kedua sudut matanya.

"Selamat sore, Sinaca," balas Jenawa dengan nada suara yang sedikit merendah dan sarat akan makna. "Hati-hati di jalan. Besok, aku pastikan tidak ada janji ngopi yang menghalangiku untuk berjalan di sisimu."

Tanpa menunggu balasan dari gadis itu—yang kini terlihat sedikit memalingkan wajah, menyembunyikan rona tipis di pipinya—Jenawa membalikkan badan. Ia melangkah menuju gerbang belakang sekolah dengan dada yang terasa penuh. Sore itu, kopi pahit di kedai bersama Seno niscaya akan terasa jauh lebih manis daripada biasanya.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!