NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05

“Hai, Rashi.”

Rashi menoleh. “Ya?”

“Nanti kita berangkat bareng yuk ke tempat wisuda,” ajak seorang pria yang cukup tampan namun terkenal sekali playboy di kampus mereka.

Rashi memutar bola matanya. “Aku berangkat sama orang tuaku,” jawabnya ketus.

“Kan jam nya beda. Undangan untuk orang tua kan jam sepuluh. Sementara kita, jam delapan harus udah sampai tempat acara. Aku jemput deh,” ajak pria itu tak menyerah.

“Kenapa nggak ngajak cewek kamu yang lain? Nanti aku dilabrak lagi sama cewek-cewek kamu itu kayak dulu,” ucap Rashi masih mengingat dengan jelas bagaimana dia yang tak tahu apa-apa dilabrak beberapa gadis seusianya karena dianggap telah mendekati sang playboy kampus. Padahal Rashi sama sekali enggan menanggapi pria itu walau pria itu terus mengejar-ngejar dirinya.

“Enggaklah. Sekarang aku jomblo.”

“Iya sekarang jomblo. Tapi mantanmu tuh kesebar di seluruh sudut kampus ini,” ucap Rashi ketus.

“Kan cuma mantan. Ya biar aja.”

“Tapi aku nggak mau. Aku bakal berangkat sendiri,” tolak Rashi lalu melangkah menjauhi pria itu yang hanya bisa terdiam memandangi gadis yang entah kenapa begitu menarik di matanya sejak dia berpacaran dengan Fira, teman satu kelas Rashi.

Pria muda yang mendapat label playboy kampus itu tak lain adalah Vano, adik kandung David Aryana. Jika sang kakak begitu setia pada satu wanita, lain hal dengan Vano yang bisa mengencani satu dua orang gadis dalam waktu bersamaan dan tak pernah merasa bersalah andai para gadisnya sakit hati.

Namun saat melihat Rashi di kelas yang sama dengan pacarnya waktu itu, Vano merasakan ada yang berbeda dari gadis itu. Hal itulah yang membuat Vano sering mendatangi Fira dengan dalih merindukan sang pacar. Padahal Vano curi-curi pandang ke arah Rashi yang tengah mengobrol dengan teman-teman lainnya.

Rashi mengumpat kesal setelah bertemu dengan Vano. Dia bukannya tak tahu kalau Vano menyukainya karena dia bukan gadis bodoh yang tak tahu tanda seorang pria menyukai seorang perempuan. Rashi hanya tak ingin ada yang melabraknya lagi seperti dulu. Apalagi dia juga tahu kalau Vano pacaran dengan teman sekelasnya.

“Vano…”

Vano yang masih asyik melamun di lorong kelas sontak menoleh terkejut.

“Fira.”

“Kamu kok kesini nggak bilang-bilang?” tanya Fira dengan mata berbinar karena melihat Vano di gedung fakultasnya.

Vano tersenyum kaku.”Ehm… itu.. aku mau putus sama kamu, Fir.”

Fira terkejut hingga membelalakkan matanya. “Hah? Maksudnya? Kita putus hubungan?”

Vano mengangguk. “Iya.”

“Siapa lagi perempuan incaran kamu sekarang? Aku pingin tahu dan pingin lihat seperti apa wajahnya,” ucap Fira dengan nada kesal.

Fira juga tahu kalau Vano terkenal playboy yang bisa memutuskan hubungan dengan perempuan kapanpun dia mau. Tapi Fira kalah oleh pesona wajah tampan sang playboy kampus sehingga dia menerima dengan senang hati saat Vano mengajaknya pacaran.

“Nggak ada. Kita udah mau wisuda. Setelah wisuda kita akan bekerja di tenpat yang berbeda. Dan aku nggak bisa menjalani hubungan jarak jauh,” ucap Vano beralasan.

Fira tersenyum sinis. “Siapa perempuan itu, Van?” tanyanya tak percaya dengan alasan Vano.

Vano tertawa. “Kita udah putus. Jadi, siapapun yang akan ku dekati, kamu nggak berhak ikut campur atau menganggunya.”

Tanpa menunggu jawaban dari Fira, Vano melangkah pergi meninggalkan Fira yang hanya bisa diam, menahan air mata kesedihan. Fira akhirnya menjadi perempuan kesekian kalinya yang diputus oleh Vano secara sepihak. Dan dia tak bisa menghalangi keinginan Vano karena Vano tak suka jika ada yang menentang keputusannya.

Prinsipnya adalah tak akan pernah balikan dengan mantan. Itulah yang membuat barisan para mantan Vano sakit hati karena terlanjur baper dengan sikap lembut Vano saat berpacaran dengan mereka.

***

“Aku berangkat ya, Ra. Aku udah transfer uang ke rekening kamu,” ucap Devan setelah sarapan.

Tara mengangguk. “Pulang jam berapa?”

“Mungkin sore udah pulang. Mau nitip sesuatu?”

“Enggak.”

Devan berdiri. Tara mencium punggung tangan Devan. “Hati-hati, Dev.”

Devan mengangguk dan melangkah keluar rumah. Tara mengembuskan napas panjang. Setelah motor Devan melaju, barulah Tara mengambil tas kecilnya dan berlari ke luar rumah. Setelah mengunci pintu, Tara segera menyalakan motornya dan mulai membuntuti Devan.

Ya. Tara ingin tahu siapa Alan, maka dia mengikuti Devan. Tara menjaga jarak aman agar Devan tak sadar jika sedang diikuti. Hingga akhirnya motor Devan berhenti. Tara ikut berhenti dan melihat sekitar. Tara mengernyitkan dahi saat tahu bahwa Devan berhenti di cabang tokonya.

Devan memang mempunyai dua usaha toko ponsel selain profesinya yang menjadi guru. Bagi Devan, menjadi seorang guru adalah tantangan tersendiri karena belum ada yang menjadi guru dalam sejarah keluarga besarnya. Itulah sebabnya sesekali Devan mengunjungi Toko ponselnya. Dulu, Tara yang menjaga toko ponsel tersebut, tapi Devan mulai membatasi ruang gerak Tara di dalam Toko setelah tahu bahwa Tara pernah menjalin hubungan masa lalu dengan David yang merupakan karyawan Tokonya.

Setelah memarkirkan motor, Devan lalu masuk ke dalam. Tara pun memarkirkan motor di area pertokoan kosong sambil terus melihat ke toko Devan. Hingga satu jam menunggu, tak ada tanda-tanda Devan akan keluar dari Toko.

Tara mulai bosan. Dia mengira mungkinkah Alan adalah karyawan Tokonya Devan di cabang ini? Atau mereka ketemuan di sana? Tara bingung. Haruskah dia menunggu lebih lama lagi? Tapi Tara jenuh. Tara tak mungkin masuk ke dalam Toko untuk memastikan Devan sedang apa. Dia sedang menguntit diam-diam bukan terang-terangan.

Menghela napas berkali-kali, Tara benar-benar mulai bosan. Akhirnya dia menyalakan motor dan kembali pulang. Dia tak dapat apa-apa padahal jarak rumah ke toko cabang di tengah kota cukup jauh.

Tak lama setelah Tara pergi, Devan keluar dari Toko. Devan tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Gue kesana sekarang.”

Devan menyalakan motornya dan melajukannya di jalanan kota yang cukup ramai. Devan tahu jika Tara mengikutinya karena tak sengaja melihatnya saat berhenti di lampu merah.

Devan menuju ke sebuah rumah yang tak jauh dari toko cabangnya. Setelah memarkirkan motornya, dia mengetuk pintu. Seorang pria langsung membukanya dan tersenyum.

“Masuk.”

Devan mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Pintu langsung ditutup bahkan dikunci oleh pemilik rumah. Apa yang terjadi di dalam, hanya Devan, pria itu, dan Tuhanlah yang tahu.

Tara kembali ke rumahnya. Dia sama sekali tak tahu kalau Devan sudah mengelabuinya. Melempar tasnya dengan kesal, Tara duduk di sofa ruang tamu. Rencana menguntit sang suami gagal total.

“Ternyata dia ke Toko beneran. Tapi di chat itu, mereka jelas akan ketemuan. Tapi jam berapa dan dimana tempatnya, aku nggak tahu. Ish. Sial!”

Nada dering ponsel Tara berbunyi. Dengan malas, Tara membuka tasnya dan mengambil ponsel.

“Halo, Bang.”

“Dimana, Ra? Abang mau main ke rumah nih.”

“Di rumah. Ya udah sini aja, Bang.”

“Oke.”

Tara meletakkan kembali ponselnya setelah sambungan terputus. Kebetulan sekali Haris mau ke rumahnya. Apa Haris mengetahui tentang Alan? Tara akan coba menanyakannya nanti.

“Sepi amat. Devan belum bangun?” tanya Haris begitu masuk ke dalam rumah Tara dan Devan.

“Udah pergi dia dari tadi,” jawab Tara.

“Ini kan Minggu. Pergi kemana pagi-pagi?”

“Kencan kali,” jawab Tara asal dan kesal.

Haris mengernyitkan dahi. “Kencan?”

Tara melihat kakaknya dengan tatapan menyelidik. “Bang, apa Abang tahu kalau Devan punya pacar?”

Haris menatap Tara terkejut. “Maksudmu Devan selingkuh?”

Tara mengedikkan bahu. “Aku nggak tahu. Tapi feelingku bilang kalau Devan punya pacar. Abang pasti tahu kan maksudku?”

Haris menghela napas. Dia memang sudah mencurigai Devan sejak dulu, namun kali ini Tara pun mencurigainya juga. Apalagi setelah Haris mendapat satu foto Devan bersama seorang pria di lorong sebuah hotel.

“Abang udah curiga dari dulu, Ra. Tapi Abang nggak tahu siapa pacarnya.”

“Bukan Abang kan orangnya?” tanya Tara menatap tajam.

Haris menggeleng jengah. “Apa kamu pikir Abang setega itu sama kamu? Ya nggak lah. Abang aja jarang chattingan sama dia.”

“Terus kenapa Abang curiga juga?”

“Dia mulai lama balas chat atau telpon dari Abang. Padahal kamu tahu sendiri dia kayak gimana sama Abang dulu. Ya bedanya sekarang Abang chat atau telpon dia karena ada urusan hutang piutang. Makanya Abang jadi curiga. Tapi Abang nggak punya bukti apa-apa. Kamu sendiri kenapa tiba-tiba curiga sama Devan?”

“Kemarin ada yang chat dia manggil baby . Sumpah aku geli dengarnya. Sesama pria tapi manggilnya gitu. Nggak banget deh,” ujar Tara bergidig ngeri.

Haris mengernyitkan dahi bingung. “Tahu dari mana kalau yang chat dia seorang pria?”

“Dia aja nggak doyan sama aku, Bang. Namanya juga Alan. Aku yakin Alan itu nama seorang pria.”

“Kalau benar Devan selingkuh, apa yang mau kamu lakukan, Ra?” tanya Haris menatap sendu. Dia sudah bisa mengira kalau cepat atau lambat, Devan akan kembali pada kebiasaannya berpacaran dengan sesama jenis. Ralat. Itu bukan kebiasaan. Itu penyakit. Kelainan.

Tara menatap kosong ke depan. “Cerai.”

Haris menatap terkejut. “Kamu yakin?”

Tara mengangguk. “Aku capek. Tiga tahun tuh waktu yang lama buatku. Jika dia benar selingkuh, maka cukup. Aku nggak akan bertahan lagi. Aku ingin lepas dari ikatan memuakkan ini.”

“Terus kenapa selalu bilang kamu bahagia setiap Abang tanya apa kamu bahagia? Kenapa bohongin Abang?”

“Apa Abang percaya dengan jawabanku itu?”

Haris menggeleng. Tara tersenyum sendu. “Aku rasa Abang tahu jawabannya walau aku nggak jujur.”

“Kenapa harus nunggu Devan selingkuh? Kamu bisa menggugatnya dengan alasan tak mendapat nafkah batin selama tiga tahun ini. Prosesnya akan cepat kalau pakai alasan itu, Ra.”

Tara menggeleng. “Aku nggak mau buka aib suamiku sendiri, Bang. Biarlah itu menjadi rahasia kami. Toh sesuai kesepakatan diantara kita, Devan akan bersedia melepasku jika dia mengingkari janjinya untuk nggak berhubungan sama pria manapun juga.”

“Tapi mau sampai kapan?”

Tara mengedikkan bahu. “Tuhan nggak tidur. Sepandai apapun dia menutupi, aku yakin suatu saat pasti ada celah yang terbuka.”

Bersambung …

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!