Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHKOTA DARI KACA
Suara derit ban mobil sport Porsche putih itu membelah kebisingan area parkir Universitas Nusantara. Saat pintunya terbuka, suasana seketika berubah. Semua mata tertuju pada satu titik.
Clarissa Mahendra turun dengan keanggunan yang mengintimidasi. Rok mini kulit hitam, atasan crop yang memamerkan pinggang rampingnya, dan stiletto merah yang tingginya mencapai sepuluh sentimeter. Rambut hitam panjangnya sengaja dibuat bergelombang, jatuh sempurna di bahu. Ia memakai kacamata hitam besar, seolah dunia di sekitarnya tidak cukup layak untuk ia tatap langsung.
Di belakangnya, empat gadis yang dikenal sebagai The Diamonds keluar dari mobil masing-masing, membentuk barisan yang membuat mahasiswa lain refleks menepi, memberi jalan layaknya membelah Laut Merah.
"Clar, lihat jam satu," bisik Vanya sambil mengunyah permen karet. Matanya yang tajam menunjuk ke arah bangku taman di dekat gedung fakultas hukum.
Clarissa melepas kacamatanya perlahan. Matanya yang indah, namun tajam seperti sembilu, menangkap pemandangan yang seketika membakar amarahnya. Adrian, kapten tim basket yang selama dua semester ini ia klaim sebagai miliknya, sedang tertawa. Dan ia tidak tertawa sendirian. Di sampingnya duduk seorang mahasiswi baru yang tampak polos dengan buku tebal di pangkuannya.
"Siapa dia?" suara Clarissa rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.
"Namanya Maya, anak beasiswa dari jurusan Sastra. Kudengar dia sering minta diajarin statistik sama Adrian," jawab Bianca sambil mengecek kuku-kuku manicure-nya.
Clarissa tersenyum miring. Senyum yang oleh orang kampus disebut sebagai "Ciuman Kematian". Ia melangkah menuju bangku itu, diikuti oleh anggota gengnya.
"Wah, wah... rajin sekali ya," Clarissa berdiri tepat di depan Maya, membelakangi sinar matahari sehingga bayangannya jatuh menutupi gadis malang itu. "Belajar statistik atau belajar cara menggoda cowok orang, manis?"
Maya mendongak, wajahnya pucat seketika. "A—aku cuma tanya soal tugas, Clarissa."
"Clarissa?" Bianca tertawa mengejek. "Lo panggil dia Clarissa? Panggil dia Kak Clarissa, Kutu Buku!"
Adrian menghela napas panjang, ia berdiri dan menatap Clarissa dengan bosan. "Clar, berhenti. Dia cuma teman. Jangan mulai lagi."
Clarissa justru semakin mendekat pada Adrian, jemari lenturnya membelai kerah kemeja Adrian dengan gerakan centil yang dibuat-buat. "Kenapa kamu bela dia, Sayang? Kamu tahu kan aku nggak suka berbagi?"
Tanpa aba-aba, Clarissa menyambar botol minuman mineral di meja, membukanya, dan menyiramkannya tepat di atas buku tebal yang sedang dipelajari Maya. Air membasahi kertas-kertas itu, tinta pulpen meluber merusak catatan di dalamnya.
"Ups. Maaf ya, tanganku licin," Clarissa tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat ceria bagi siapa pun yang tidak mengenalnya.
"Clarissa! Lo keterlaluan!" bentak Adrian. Ia meraih tangan Maya untuk menjauh, namun itu justru membuat Clarissa semakin murka.
"Kalau besok gue lihat lo dekat-dekat dia lagi, bukan cuma buku lo yang basah, tapi nama lo yang bakal hilang dari daftar mahasiswa kampus ini. Paham?!" teriak Clarissa pada Maya yang sudah mulai terisak.
Clarissa membalikkan badan, berjalan pergi dengan tawa kemenangan bersama The Diamonds. Semua orang yang melihat kejadian itu berbisik, mengutuk betapa kejamnya sang ratu kampus. Clarissa tidak peduli. Ia menyukai kebencian itu. Baginya, dibenci lebih baik daripada diabaikan.
Begitu sampai di toilet gedung ekonomi yang sepi, tawa Clarissa hilang seketika. Ia mengunci pintu bilik paling ujung. Tubuhnya mendadak lemas, ia bersandar pada dinding keramik yang dingin.
Dunia seolah berputar. Ia merasakan denyut aneh di tulang-tulangnya, sebuah rasa sakit yang tumpul namun konsisten. Clarissa merogoh tas *branded*-nya, mengeluarkan sebuah cermin kecil. Di bawah lampu toilet yang terang, ia bisa melihat bahwa riasannya yang tebal mulai retak karena keringat dingin.
Ia menyeka keringat di dahinya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat di bawah hidungnya. Merah.
Darah segar menetes ke wastafel putih bersih itu. Clarissa tertegun. Ia segera mengambil tisu dan menekannya ke hidung. Ini adalah kali kelima dalam minggu ini ia mimisan tanpa sebab.
"Nggak apa-apa... cuma kecapekan," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.
Namun, ia teringat pada amplop rumah sakit yang ia sembunyikan di laci kamarnya. Leukemia Stadium 3. Kalimat itu seperti vonis mati yang terus berdengung di telinganya. Ia baru berusia 20 tahun. Ia baru saja membeli gaun baru untuk pesta ulang tahunnya bulan depan. Ia punya segalanya, tapi di saat yang sama, ia tidak punya apa-apa.
Ia membasuh wajahnya, menimpa kembali bagian yang pucat dengan bedak padat dan memoles ulang lipstik merahnya. Ia harus terlihat kuat. Ia harus terlihat jahat. Karena jika ia terlihat lemah, dunia akan mengasihaninya, dan Clarissa benci dikasihani.
Malam harinya, rumah mewah keluarga Mahendra terasa lebih seperti museum daripada tempat tinggal. Sunyi, luas, dan dingin.
Clarissa duduk di meja makan saat ayahnya, Pak Gunawan, sedang sibuk dengan ponselnya. Di seberangnya, duduk Bastian. Saudara kembarnya itu sedang asyik dengan dunianya sendiri, menggunakan headphone seolah Clarissa tidak ada di sana.
"Pa," panggil Clarissa pelan.
"Kalau soal tambahan uang jajan, minta ke sekretaris Papa. Papa besok harus ke Singapura," sahut Pak Gunawan tanpa menoleh sedikit pun.
"Bukan soal uang, Pa. Clarissa cuma mau bilang... Clarissa sering merasa sakit akhir-akhir ini."
Bastian tiba-tiba melepas headphone -nya. Ia tertawa sinis. "Sakit apa? Sakit karena kebanyakan dandan? Atau sakit karena nggak ada yang perhatikan aksi lo yang memalukan di kampus tadi siang? Gue dengar lo nyiram orang lagi."
Clarissa menatap kakaknya. Tatapan yang biasanya tajam, kini sedikit bergetar. "Bas, gue serius. Gue nggak enak badan."
"Bagus kalau gitu," Bastian menatapnya dengan mata penuh kebencian. "Mungkin itu cara Tuhan buat ingatin lo, kalau setiap napas yang lo hirup itu dibayar dengan nyawa Mama. Seharusnya lo yang nggak ada di sini, bukan Mama."
Kalimat itu bukan pertama kalinya Clarissa dengar, tapi entah kenapa malam ini rasanya jauh lebih menusuk. Bastian selalu menyalahkannya. Sang Ayah tidak pernah membelanya. Bagi mereka, Clarissa adalah pembunuh yang lahir ke dunia membawa maut bagi wanita yang paling mereka cintai.
"Maaf kalau aku lahir, Bas," gumam Clarissa lirih.
Ia berdiri, meninggalkan makan malamnya yang bahkan belum disentuh. Ia berlari ke kamarnya, mengunci pintu, dan menangis di balik bantal agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun.
Di dalam kegelapan kamarnya, Clarissa memeluk dirinya sendiri. Tulang-tulangnya terasa ngilu, kepalanya berat, dan ia sangat ketakutan. Di usianya yang ke-20, saat orang lain memulai kehidupan, Clarissa sedang menunggu malam terakhirnya.
Ia mengambil ponsel, melihat foto Adrian. Ia ingin menelepon cowok itu, ingin mengadu bahwa ia takut mati. Namun ia teringat kejadian tadi siang. Adrian membencinya. Semua orang membencinya.
Clarissa tersenyum pahit di tengah air matanya.
"Bagus," bisiknya. "Teruslah benci gue. Biar nanti kalau gue nggak ada, nggak akan ada satu pun air mata yang terbuang buat gue."
Malam itu, di bawah cahaya lampu tidur yang redup, sang Ratu Bully tertidur dengan sisa darah yang mengering di ujung hidungnya dan hati yang hancur berkeping-keping.