"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Apartemen Mewah Senopati, Pukul 19.00 WIB.
Amel membanting pintu apartemennya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangisnya pecah seketika saat ia melihat pantulan dirinya di cermin besar ruang tamu. Rambutnya berantakan, lututnya memar keunguan, dan gaun merah mahalnya kini hancur tak berbentuk. Ia merasa seperti sampah yang baru saja dibuang dari puncak menara Mega Kuningan.
"Sialan! Miranda sialan! Disa juga sialan!" teriaknya sambil melempar tas pemberian Rini ke sudut ruangan.
Dengan tangan gemetar, Amel mulai menarik koper besarnya dari dalam lemari. Ia teringat ancaman Miranda tadi: kosongkan apartemen atau barang-barangmu dibakar. Ketakutan mulai mengalahkan ego. Ia mulai memasukkan baju-baju bermerk, sepatu-sepatu hak tinggi, dan beberapa kotak perhiasan yang ia dapat dari Tio. Pikirannya kacau. Ia tidak bisa membayangkan harus kembali ke rumah Abdi atau rumah Rini dengan status sebagai "asisten yang dipecat secara tidak hormat".
Baru saja ia hendak menutup koper pertama, suara pintu apartemen yang terbuka dengan kunci cadangan membuatnya tersentak.
Tio melangkah masuk dengan santai, seolah tidak terjadi badai besar beberapa jam yang lalu. Ia masih mengenakan kemeja yang sama, hanya saja dasinya sudah dilepas.
"Mas Tio?!" Amel berdiri, matanya melotot penuh amarah. "Berani banget Mas datang ke sini?! Setelah Mas biarin aku dihina, disuruh ngepel lantai kayak babu, dan Mas cuma diam nontonin aku?! Mas itu pengecut!"
Tio menghela napas, berjalan menuju bar mini dan menuangkan air mineral. "Tenang dulu, Amel. Kamu nggak tahu posisiku tadi sesulit apa."
"Sulit? Sulit karena Mas ternyata pembohong?!" Amel maju, menunjuk wajah Tio dengan telunjuk yang gemetar. "Mas nggak pernah bilang kalau Mas sudah punya istri! Mas bilang Mas CEO hebat, tapi nyatanya? Mas cuma pajangan di depan istri Mas! Mas itu CEO abal-abal yang nggak punya kuasa apa-apa di depan Miranda!"
Wajah Tio mendadak mengeras. Kata-kata "CEO abal-abal" nampaknya menusuk harga dirinya yang paling dalam titik lemah yang sama dengan Abdi.
"Jaga mulutmu, Amel!" bentak Tio, melangkah maju hingga Amel terdesak ke dinding. "Apa kamu pernah tanya status saya sebelumnya? Nggak, kan? Kamu cuma tanya soal mobil, soal apartemen, dan soal berapa banyak uang yang bisa saya kasih ke kamu. Jadi jangan berlagak jadi korban moral di sini."
Amel terdiam, nafasnya memburu. Amarahnya memuncak tapi ia juga merasa terintimidasi oleh postur tubuh Tio yang mengurungnya.
Namun, perlahan ekspresi Tio berubah. Kemarahannya mereda, berganti dengan tatapan lapar yang biasa ia tunjukkan pada Amel. Ia mengulurkan tangan, membelai pipi Amel yang masih menyisakan bekas air mata.
"Kamu tahu kenapa saya nggak bela kamu tadi?" bisik Tio, suaranya melunak, berubah menjadi rayuan yang sangat manipulatif. "Karena kalau saya melawan Miranda di depan umum, dia akan menutup semua akses keuangan saya detik itu juga. Dan kalau itu terjadi, saya nggak akan bisa kasih kamu apa-apa lagi. Saya diam justru untuk melindungi masa depan kita, Amel."
Amel membuang muka. "Masa depan apa? Mas itu takut sama istri sendiri!"
"Miranda itu wanita robot," lanjut Tio, tangannya kini beralih mengelus rambut Amel. "Dia independen, dia dingin, dia nggak pernah manja. Ngobrol sama dia itu lebih membosankan daripada baca laporan audit. Dia nggak kayak kamu, Amel. Kamu itu manis, kamu manja, kamu butuh saya. Dan jujur saja... saya lebih suka menghabiskan waktu dengan asisten saya yang cantik ini daripada dengan bos yang jadi istri saya."
Amel mulai goyah. Penyakit "mata duitan"-nya mulai kambuh saat Tio merogoh saku jasnya. Tio mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Saat dibuka, sebuah kalung berlian dengan mata zamrud berkilau di bawah lampu kristal apartemen.
"Ini untuk ganti rasa sakit di lututmu tadi," bisik Tio. "Besok, saya akan urus apartemen lain atas nama orang kepercayaan saya supaya Miranda nggak bisa lacak. Mobil BMW itu? Biarkan saja diambil. Saya akan belikan yang lebih baru, tapi atas namamu langsung. Saya janji, Amel. Kamu akan dapet segalanya yang Miranda punya, asalkan kamu tetap di samping saya."
Amel menatap kalung itu. Logika sehatnya seharusnya berteriak untuk lari, tapi bayangan kemewahan dan dendamnya pada Disa membuatnya buta. Ia ingin membuktikan pada Disa dan keluarga Abdi bahwa ia tidak jatuh. Ia ingin tetap jadi "ratu" meski harus jadi simpanan.
"Mas janji?" tanya Amel lirih, suaranya mulai manja kembali.
"Janji, sayang," Tio tersenyum menang. Ia mengecup dahi Amel, lalu membimbingnya menuju kamar utama.
Malam itu, di dalam apartemen yang Amel pikir adalah zona amannya, ia menyerahkan segalanya pada Tio. Ia merasa sudah menang lagi. Ia merasa Miranda hanyalah hambatan kecil yang bisa ia lewati dengan rayuan Tio.
Di Sebuah Ruang Kendali Pribadi, Pukul 22.00 WIB.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi monitor canggih, Miranda Abimanyu duduk dengan kaki menyilang anggun. Ia memegang segelas red wine, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman live dari kamera tersembunyi yang terpasang di langit-langit apartemen Senopati.
Ia melihat semuanya. Ia mendengar setiap kata rayuan suaminya yang menjijikkan, dan ia melihat bagaimana Amel begitu mudahnya "dibeli" kembali hanya dengan seuntai kalung.
"Dasar laki-laki sampah," gumam Miranda dingin. "Dan gadis itu... dia benar-benar menggali kuburannya sendiri dengan sangat antusias."
Asisten pribadinya masuk memberikan laporan. "Ibu, semua data percakapan mereka sudah terekam dan tersimpan di server awan. Ini akan jadi bukti kuat untuk acara kejutan di pesta pernikahan anda nantinya."
Miranda tersenyum puas. Ia mengambil ponsel pribadinya dan mencari satu nama di daftar kontak: Disa.
Apartemen Disa, Pukul 22.15 WIB.
Disa baru saja selesai mengerjakan pekerjaan kantornya langsung mengambil ponselnya saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang kini sudah ia simpan namanya.
Miranda Abimanyu:
"Disa, maaf mengganggu malam-malam. Saya baru saja mendapatkan pertunjukan komedi yang sangat menarik dari adik ipar Anda dan suami saya. Besok Anda libur, bukan? Saya ingin kita bertemu di kafe biasa pukul 10 pagi. Ada rencana yang harus kita matangkan agar minggu depan tidak ada lagi sisa-sisa parasit di hidup kita."
Disa membaca pesan itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tahu, kerja samanya dengan Miranda adalah tiket emas untuk menghancurkan Abdi dan keluarganya sampai ke akar-akarnya. Miranda tidak butuh uang, dia butuh harga diri dan kekuasaan. Disa butuh keadilan untuk Fikri. Tujuan mereka sama yaitu pembersihan total.
"Baik, Bu Miranda. Sampai bertemu besok," balas Disa singkat.
Disa berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar. Ia tahu bahwa di salah satu gedung mewah di Senopati sana, Amel mungkin sedang merayakan "kemenangan palsunya".
"Nikmatilah hari-hari terakhirmu di atas awan, Amel," bisik Disa. "Karena besok pagi, ibu Miranda dan aku akan memastikan kamu jatuh tepat di tengah kubangan yang kamu buat sendiri."
Kegelapan malam itu seolah menjadi saksi bisu aliansi dua wanita tersakiti yang kini siap berubah menjadi badai paling mematikan bagi Tio, Abdi, dan seluruh kesombongan keluarga mereka.
udh dpt lmpu hjau dr clon mrtua tu disa,jd kl arlanda ngjak srius trima aja...
s bpk gercep bgt buat pdkt sm disa....udh bkin heboh krna smp rela jmput pjaan hti,d ajk kncan jg.....
skluarga jd piaraan smua..yg laki piaraan tante girang,yg wnita piaraan om hdung belang.....ccckkkk......
Dr yg songong'nya amit2,skrng jualn tisu buat mkn...ada lg yg lbh lwak,mntan suami yg ngrim chat cma buat mnta uang.....y aampuuunnn.....
ga ush mkrin mreka yg udh bkin km mndrta,biar aja mreka jd gmbel....yg pnting km sm kluargamu baik2 aja,apa lg skrng bestie sm holang kaya....
eehhh....spa lg tu yg bkln nysul jd gmbel???brani bgt ngusik disa yg udh d lndungi sm sing galak.....
disa emng kerennn...dlu d abaikn suami,d hina mrtua plus ipar yg sma2 gila....smp hrus mnhan lpar dmi bakti...skrng....dia mmetik buah dr ksbaran'nya....smnggttt...