Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
“Tuan, udah. Mama sama papa udah pergi.”Ujar Bintang kepada Damian karna setelah lima menit kepergian Raisa dan Wicakasono Damian sama sekali tidak bergerak dari posisinya dan masih memejamkan matanya.
“Tuan?”Panggil Bintang sekali lagi, kali ini matanya melirik ke arah Damian dan tangannya pun ikut menoel bahu pria itu dengan hati hati.
“Eungh..”Ujarnya pelan, pria itu tak beranjak dari posisinya dan malah semakin mendekat kepada Bintang bahkan tangannya sudah terangkat dan memeluk pinggang gadis itu erat.
“Tuan, anda tidur?”Tanya Bintang sekali lagi, dia berusaha untuk melepaskan pelukan Damian dari pinggangnya karna dia tidak mau memperkeruh suasana jika tiba tiba saja pria itu terbangun dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak tidak. Tapi tidak peduli berapa seringnya Bintang mencoba membangunkan pria itu, dia malah semakin lelap dan semakin mengeratkan pelukannya pada Bintang.
Bintang menghela nafasnya pelan, dia sedang sakit dan sangat lelah jika harus membuang energinya lebih banyak lagi dan setelah memikirkannya cukup lama Bintang akhirnya memilih untuk menyerah dan ikut tidur bersama dengan Damian yang sudah terlelap lengkap dengan dengkuran halus yang perlahan mulai terdengar keluar dari mulutnya.
“Persetan dengan semuanya, aku benar benar lelah.”Ujar Bintang, setelahnya hening langsung menyelimuti hanya terdengar dengkuran halus dan juga suara hembusan nafas di antara mereka.
Ke esokan harinya mentari terlihat sudah mulai tinggi saat Damian perlahan bangun dari tidurnya, suara burung yang cukup berisik dengan cahaya matahari yang nampak ke kuningan menggangu pria itu dan memaksanya untuk membuka mata.
“Hoaam.”Lenguhnya, setelah pernikahan yang melelahkan dia menghabiskan malam pengantinnya di bar hingga pagi dan siangnya dia juga langsung pergi ke rumah orang tuanya. Dia sangat lelah, Damian bahkan tidak ingat bagaimana dia bisa tidur tadi malam.
“Tunggu, sepertinya ada yang aneh.”Gumamnya bingung, dia merasakan lengah sebelah kirinya terasa berat dan hembusan nafas hangat dari seseorang juga mengenai lehernya. Dalam keadaan setengah sadar, Damian terlihat mulai bisa menebak siapa gadis yang saat ini tengah tidur di atas lengannya itu.
“Damn!”Pekiknya lumayan kuat, membuat Bintang yang masih terlelap pun langsung membuka matanya saat mendengar umpatan dari pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
“Apa yang kamu lakukan ke aku?! Kenapa kita tidur di ranjang yang sama?”Tanya Damian dengan nada yang lumayan kuat, mendengar itu Bintang pun spontan langsung menutup bibir pria itu agar tak berbicara lebih banyak lagi.
“Tuan, pelankan suara anda. Mama sama papa bisa masuk kapan saja.”Ujar Bintang mengingatkan, dia ingat dengan jelas beberapa kali kedua orang tua Damian masuk ke dalam kamarnya hanya untuk memastikan jika Bintang baik baik saja atau sekedar memastikan jika keduanya memang terlelap dengan saling mencinta satu sama lainnya.
“Piuh! Lepaskan tangan kamu yang bau itu dari mulutku, berani sekali kamu menyentuhku dan mengambil keuntungan dari ketidak berdayaanku.”Tuduh Damian, kali ini dia mengurangi sedikit suaranya agar kedua orang tuanya tidak bangun mendengar suaranya yang sedikit tinggi itu.
“Saya nggak melakukan apapun, tuan. Nggak ambil kesempatan juga, tadi malam saya sudah bangunkan tuan tapi tuan nggak bangun sama sekali bahkan tuan yang meluk saya duluan.”Bintang mencoba untuk meluruskan segalanya.
“Jangan bohong kamu,nggak mungkin aku begitu.”Damian sama sekali tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Bintang.
“Saya nggak bohong tuan, sumpah.”Bintang bersikeras jika apa yang dia katakan saat itu adalah benar adanya.
“Kamu ya, udah jelek penipu lagi. Nggak usah nuduh yang nggak nggak deh.”Ujar Damian yang masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Bintang.
Bintang memejamkan matanya pelan, jika saja tidak mengenang jasa keluarga Bramono mungkin sudah dia tempeleng kepala pria ini. Dia benar benar sudah muak menjadi gadis penurut dan penakut yang bisa di injak injak, tapi di satu sisi dia harus melakukan itu agar semua rencananya berjalan dengan baik.
“Iya tuan, saya aja yang ngalah. Toh ada pepatah bilang yang waras ngalah.”Ujar Bintang pada akhirnya, dia tersenyum kepada Damian. Untuk pertama kalinya Damian melihat senyum Bintang dan rasanya dia tidak asing dengan hal itu.
“Kamu ya! Berani beraninya kamu ngeledek aku.”Ujar Damian dengan kesal, dia sudah hampir menarik rambut Bintang tapi tiba tiba saja pintu kamarnya di buka dari luar dan menampilkan Raisa dan jugaWicaksono yang nampak berdiri di ambang pintu.
Melihat situasi menjadi genting, Damian tentunya tidak bisa membiarkan ayahnya tahu tentang ketegangan di dalam hubungannya dan juga Bintang. Dia kemudian langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya tepat sebelum pintu itu benar benar terbuka.
“Ada apa ini ribut ribut?”Tanya Wicaksono tak lama setelah dia membuka pintu, melihat pemandangan romantis dari anak dan menantunya membuat keduaya langsung membuang muka.
“Pa, kalian kenapa masuk. Ganggu aja.”Ujar Damian dengan nada tak suka, dia menatap kedua orang tuanya kemudian beralih menatap ke arah Bintang yang nampak sangat terkejut dengan sikap Damian yang tiba tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu yang sangat singkat bahkan tak sampai dua detik.
Tidak di ragukan lagi, pria ini benar benar mahir dalam berakting rupanya.
“Maaf ya, mama sama papa nggak tahu kalo kalian ributnya karna ini. Ayo pa, buruan kita keluar.”Ujar Raisa, dia kemudian mendorong Wicaksono agar mereka keluar dari ruangan itu tanpa membuang waktu bahkan sedetik pun.
Bruk!
Tak lama setelah pintu di tutup Damian pun langsung mendorong Bintang hingga gadis itu tersungkur di sampingnya.
“Berat.”Ujar pria itu dingin, setelah mengatakan itu dia pun langsung bangkit dari posisinya dan berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Nggak usah ke pedean ya, aku pangku kamu karna aku nggak mau Raisa sama papa curiga sama hubungan kita. Sampai kapan pun aku nggak akan suka sama kamu.”Ujar Damian dingin seperti biasanya.
“Iya tuan, saya ngerti.”Ujar Bintang dengan nada pelan.
“Aku mau mandi, keramas. Jadi kamu mandi juga keramas, biar keliatan kalo kita habis ngapa ngapain.”Ujar Damian dengan nada dinginnya, nada khas dari pria yang suka mengatur tentunya.
“Baik tuan.”Balas Bintang patuh, dia sama sekali tidak berniat untuk membantah apapun yang di katakan oleh Damian karna dia jelas akan memakinya jika Bintang berani melakukan itu.
“Sayang banget, padahal kalo tidur dia keliatan kayak orang baik.”Ujar Bintang.
Sebenarnya dia sudah bangun sejak lama, tapi dia terlalu malas untuk bergerak dan takut membangunkan Damian. Oleh sebab itu dia memutuskan untuk tetap berpur pura tidur sambil memandangi mahakarya ciptaan tuhan yang menurutnya sempurna tapi tentu saja tidak dengan perilakunya.