Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Ketakutan di Balik Kabut Mata
Suasana di dalam goa yang sempit itu seketika hening saat Maura mengerang pelan. Cahaya api unggun yang dibuat Asean menari-nari di dinding goa, memantulkan bayangan yang gelisah. Arazka yang tadi merangkak mendekat, mendadak mematung. Jantungnya berdegup kencang, antara lega dan ketakutan yang luar biasa.
🥀 Trauma yang Nyata
"Maura? Maur, ini gue..." suara Arazka bergetar, ia mencoba meraih tangan Maura yang pucat.
Namun, reaksi Maura di luar dugaan. Begitu tangan Arazka menyentuh kulitnya, Maura tersentak hebat. Tubuhnya gemetar, dan ia menarik tangannya dengan gerakan refleks yang penuh ketakutan. Matanya yang sayu menatap Arazka seolah melihat sosok asing yang mengancam.
"Jangan... jangan bentak gue lagi..." bisik Maura lirih, air matanya mulai mengalir tanpa isak tangis.
Dunia Arazka serasa runtuh. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada pukulan fisik mana pun. Maura tidak mengingat pelukan hangatnya, dia justru mengingat amukan Arazka di lembah kabut tadi.
Danis yang melihat itu segera maju. "Zka, mundur. Loe bikin dia makin syok."
Arazka ingin membantah, tapi melihat Maura yang semakin meringkuk menjauh darinya, ia hanya bisa mundur perlahan dengan hati yang hancur berkeping-keping. Danis duduk di samping Maura, memberikan selimut tambahan. "Tenang, Maur. Loe aman. Gue di sini."
Maura tidak menolak saat Danis merangkul bahunya untuk menstabilkan posisinya. Pemandangan itu membuat Arazka memalingkan wajah, ia merasa dirinya benar-benar telah menjadi monster bagi gadis yang paling ia cintai.
🛡️ Pertahanan dari Teman-Teman
Yasmin segera memeriksa denyut nadi Maura. "Suhu tubuhnya mulai stabil, tapi dia masih trauma berat. Tolong, jangan ada yang berisik dulu."
Fanila menatap Arazka dengan pandangan yang sulit diartikan—antara kasihan dan marah. Sementara Keysha berdiri di mulut goa, berjaga-jaga dengan wajah dingin. Keysha kemudian menghampiri Arazka yang menyendiri di sudut gelap.
"Zka, loe liat kan?" bisik Keysha. "Loe nggak bisa maksa perasaan dia sekarang. Ego loe hampir ngebunuh dia. Sekarang, biar Danis yang jagain dia dulu demi kebaikan Maura."
Asean menepuk bahu Arazka pelan. "Sabar, Bos. Kasih dia waktu."
Miko, yang biasanya paling berisik, hanya bisa menghela napas panjang sambil mengaduk-aduk api unggun. "Gue nggak pernah liat Bos Arazka sehancur ini. Tapi Maura juga... dia keliatan takut banget."
🌑 Permainan Halus Rangga
Di luar goa, hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis. Rangga berdiri menyendiri, memperhatikan dinamika di dalam goa dari kejauhan. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan pendek ke grup rahasianya:
"Target utama (Arazka) secara mental sudah lumpuh. Target sekunder (Danis) mulai mengambil peran pelindung. Fase isolasi sukses."
Rangga kemudian masuk ke dalam goa dengan wajah "prihatin" yang sangat meyakinkan. Ia mendekati Arazka. "Zka, gue minta maaf. Gue harusnya nggak cerita soal kecurigaan gue semalem kalau tau akhirnya bakal kayak begini. Ini salah gue juga."
Arazka mendongak, matanya kosong.
"Enggak, Rang. Loe cuma ngasih tau apa yang loe liat. Gue yang nggak bisa kontrol diri. Gue emang pantes dibenci sama dia."
Rangga tersenyum dalam hati. Arazka sudah sepenuhnya menyalahkan dirinya sendiri, persis seperti yang direncanakan.
🌌 Malam yang Panjang
Malam itu di dalam goa terasa sangat panjang. Maura akhirnya tertidur karena kelelahan, namun ia tetap menggenggam ujung jaket Danis dalam tidurnya. Arazka tidak tidur sedetik pun. Ia hanya menatap Maura dari kegelapan, menjaga jarak sejauh mungkin agar kehadirannya tidak membuat Maura merasa terancam.
Setiap kali Maura mengigau ketakutan, Arazka merasakan dadanya sesak. Ia menyadari satu hal: cintanya yang obsesif dan penuh cemburu telah melukai Maura lebih dalam daripada jurang mana pun.
"Gue bakal pergi, Maur," bisik Arazka dalam hati. "Kalau emang kehadiran gue cuma bikin loe takut, gue bakal hilang dari hidup loe... setelah kita keluar dari hutan ini."
Namun, di sudut lain, Danis juga terjaga. Ia menatap Maura dengan perasaan yang semakin dalam. Ia berjanji, ia tidak akan membiarkan Arazka menyakiti Maura lagi, meskipun itu artinya ia harus melawan sahabatnya sendiri.
TO BE CONTINUED