Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.
Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Saat mentari terbit di pagi hari itu, pukul tujuh, ponsel Melina bergetar. Di layar tertera nama Erick. Ia melihat sejenak, hatinya berdegup kencang. Rasa canggung beberapa hari terakhir masih ada, namun rasa penasarannya lebih besar.
"Halo?" Erick memulai panggilan.
"Melina... maukah kamu keluar hari ini? Kalau kamu mau, aku akan menjemputmu jam 9" ujar Erick
Tepat pada Erick menelpon, Melina baru saja bangun. Ia menguap dan didengar oleh Erick
"Hah? Apa tadi Erick?" tanya Melina
Erick tertawa sedikit
"Kamu baru bangun?" tanya Erick
"Hmm iya. Ada apa?"
"Melina, aku ingin mengajakmu keluar hari ini. Kalau kamu mau, aku akan menjemputmu jam 9." ulang Erick
Melina melihat jam diponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Oh, iya aku bisa." ujarnya
Tak lama, Erick menutup panggilan.
Dua jam kemudian, pada tepat pukul sembilan, Erick sudah berdiri menunggu di jalan belakang apartemennya.
Melina hanya mengenakan pakaian sederhana, kemeja lengan pendek dan rok panjang. Ia tidak terlalu banyak bersolek, hanya menggunakan liptint tipis supaya tidak nampak pucat dan rambut yang diikat setengah.
Mobil sedan hitamnya bersih luar dalam, dan ia berdiri di dekat pintu sambil tersenyum tipis. Saat mata mereka saling bertemu, Melina merasa sedikit lebih tenang.
Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan, sementara Erick menutup pintu dan masuk ke kursi pengemudi.
"Kita mau ke mana?" tanyanya berusaha terdengar santai, meski jantungnya masih berdebar.
"Museum," jawab Erick singkat.
Matanya sesekali melirik ke arah Melina melalui kaca spion. Ada keraguan namun juga rasa lega karena akhirnya bisa mengajak Melina keluar tanpa tekanan atau pengawasan.
Perjalanan berlangsung sekitar dua jam. Jalanan di pagi hari masih sepi, udara segar, dan kota terlihat berbeda dari biasanya. Mereka tidak banyak berbicara, hanya sesekali saling mencuri pandang.
Erick sesekali menyentuh bahu Melina, yang membuatnya tersenyum kecil. Ada kenyamanan yang aneh dalam situasi yang sederhana ini, jauh dari semua tuntutan kuliah dan aktivitas sehari-hari.
"Museumnya jauh ya dari tempat kita?" tanya Melina ditengah keheningan
"Iya." jawab Erick singkat.
...****************...
Saat mereka tiba di museum, suasananya sangat sunyi. Tak seorang pun mahasiswa atau dosen yang mengenali mereka. Hal ini memberi Melina rasa aman dan juga meredakan canggung yang masih tersisa.
Ia melihat sekeliling, mengamati lukisan-lukisan klasik dan pameran modern. Erick menutup pintu mobil untuk Melina, dan tanpa sadar, tangannya menyentuh punggung Melina sejenak.
Melina berbalik dan memberikan senyum tipis. Erick menarik napas dalam-dalam dan menatap lurus ke depan. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi terasa sulit.
"Ayo masuk." ujar Erick sambil memegang tangan Melina
Didalam, suasana tampak tenang. Tidak ada keributan seperti dikampus. Melina melihat sekeliling dan mulai terpesona.
"Aku... minta maaf, Melina," ucap Erick dengan suara pelan.
"Aku terlalu posesif. Ketakutanku akan kehilanganmu berlebihan, dan aku menyadari itu salah. Aku bahkan tidak peduli ketika kau sakit beberapa hari lalu, aku mengabaikanmu. Itu tidak seharusnya terjadi."
Melina menunduk sejenak dan matanya tampak berkaca-kaca.
"Aku... aku tahu, Erick. Aku hanya... terluka, tetapi aku juga takut untuk mengungkapkan apa pun. Aku hanya ingin kamu memahami perasaanku."
Erick dengan lembut menggenggam tangan Melina dan menatap matanya.
"Aku berjanji akan lebih sabar. Aku akan berusaha untuk tidak menekanmu terlalu keras. Aku ingin hubungan kita baik tanpa ada yang terluka."
Melina menelan ludah, jantungnya berdebar cepat.
"Aku... aku juga minta maaf jika aku terlalu pendiam atau membingungkanmu. Aku hanya takut semuanya tidak berjalan seperti yang diharapkan."
Mereka sejenak berhenti di tengah ruangan museum. Suasana tenang, tetapi tidak terasa canggung. Sebaliknya, keheningan itu dipenuhi dengan rasa lega dan pengertian antara mereka.
Dengan pelan, mereka tersenyum, seolah beban di hati mereka telah hilang.
“Bagaimana kalau kita mulai dari awal?” Erick bertanya, sambil menyentuh lengan Melina.
Melina mengangguk sambil tersenyum.
“Memulai dari awal, tetapi aku yakin kita bisa melakukan yang lebih baik.”
Mereka melangkah perlahan, menikmati pameran dan lukisan di sekeliling mereka. Salah satu lukisan memperlihatkan sepasang kekasih yang menari balet. Melina memperhatikan lukisan itu dengan penuh ketertarikan.
“Indah ya, seperti kita? ” ujarnya, setengah bercanda.
Erick tersenyum dan memberi tepukan pelan di bahu Melina.
“Kita pasti bisa lebih baik dari itu,” jawabnya. Melina menghirup napas dalam-dalam, merasakan hangat di dadanya.
Seketika, Melina mengingat kenangannya pernah berfoto dengan Erick tahun lalu. Kalau tidak salah itu foto mereka saat berkencan.
Tepat saat berjalan melihat-lihat lukisan, Melina berhenti pada satu lukisan yang menggambarkan seorang pria melamar sang kekasihnya.
Erick menoleh ke belakang dan melihat Melina tertinggal berdiri dibelakangnya.
"Melina, ada sesuatu yang salah?" tanya Erick sambil mendekati Melina.
"Erick, kamu mau berfoto?" tanyanya.
"Tentu saja," Erick menjawab dengan senyum tipis.
Mereka berdiri berdampingan, saling menatap. Senyum mereka tulus. Kedua pasangan ini berfoto tepat dibelakang lukisan romantis itu. Kilatan kamera menangkap momen pertama mereka setelah berdamai.
Hanya ada senyuman dan tatapan penuh makna, tanpa perlu berbicara banyak. Setelah beberapa foto, mereka duduk di bangku museum.
"Coba lihat foto tadi." ujar Melina
Erick memberikan ponselnya lalu Melina melihat foto mereka yang baru saja.
"Lah, aku belum siap berpose, kok kamu udah cekrek diluan?" Melina mengernyit
Erick tertawa pelan lalu mengelus kepala Melina.
"Tidak masalah, Melina. Kamu tetap cantik." ujarnya
Melina tidak menghapus foto itu, Ia membiarkan aibnya digaleri Erick.
"Kamu sudah pernah ke museum sebelumnya?" tanya Erick membuka pembicaraan
"Udah, aku pergi bersama Bunga. Waktu itu aku kelas 3 SMA. Sekolah kami ada kunjungan ke museum. Yah walaupun museumnya tidak semewah ini." ujarnya
"Bagus. Tidak salah aku mengajakmu kesini." balas Erick.
Suara tawa kecil mereka terdengar, menciptakan suasana hangat. Perlahan, rasa canggung yang sebelumnya ada mulai hilang, tergantikan oleh kenyamanan dan kedamaian.
Mereka menikmati waktu bersama. Setiap lukisan dan sudut museum, menjadi saksi bisu untuk mereka berdua.
Tidak ada dosen, tidak ada mahasiswa, hanya dua hati yang perlahan kembali bersatu.
Sore itu, sebelum meninggalkan area foto, Melina melihat Erick.
"Terima kasih sudah memahamiku, dan maaf jika aku membingungkanmu ”
Erick menatapnya sambil tersenyum, dan sesaat merangkul bahunya.
“Tidak masalah, yang terpenting kita baik-baik saja sekarang. Aku berjanji, aku akan menjaga hubungan ini, tanpa menyakiti satu sama lain.”
Melina memberi senyum kecil, menatap lukisan-lukisan di sekeliling mereka. Hari itu terasa sederhana, tetapi sangat berarti.
Museum tersebut bukan hanya tempat untuk menikmati seni, tetapi juga tempat pertama dari usaha mereka untuk memperbaiki hati yang terluka.
Melina perlahan menyadari, hari-hari mereka akan menjadi lebih baik. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi rasa canggung. Hanya dua hati yang berusaha saling mengerti, memulai dari awal, dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang lama.
kemana bang Erick? lagi nangis di pojokan😭😭
Anak orang kamu bikin nangis🥲
nikahin dulu gih pak😇