“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Omong kosong
Singkirkan dia, Dya. Itu cara satu-satunya.
Gema bisikan Ayunda terasa seperti belati es yang menancap di sisa-sisa kewarasan Radya. Dingin, tajam, dan menawarkan solusi yang brutal tetapi sederhana. Di koridor rumah sakit yang steril ini, di mana setiap sudut berbau kematian dan keputusasaan, kesederhanaan adalah sebuah kemewahan yang memabukkan.
Radya melepaskan pelukan Ayunda perlahan, tetapi tidak melepaskan tangannya. Genggaman itu terasa seperti sauh di tengah badai.
“Singkirkan dia…” ulang Radya, suaranya serak, lebih seperti desisan napas daripada kata-kata.
“Tapi bagaimana? Eyang yang membawanya kemari.”
“Eyang sedang tidak bisa membuat keputusan, Sayang,” jawab Ayunda cepat, matanya yang indah memancarkan simpati yang terkalibrasi dengan sempurna.
“Dan lihat akibat keputusannya. Kamu yang harus mengambil alih sekarang. Demi Eyang, demi keluarga.”
Logikanya yang terlatih untuk membedah data dan proyeksi laba rugi kini berjuang membedah realitas yang absurd ini. Di satu sisi, ada narasi Ayunda.
Raras adalah parasit, pembawa kutukan yang menyamar. Semua bukti, kecelakaan, proyek gagal, Eyang yang kolaps, menunjuk ke arahnya. Sederhana. Jelas.
Di sisi lain, ada sebuah anomali. Sebuah data yang tidak cocok.
Bayangan Rara, si office girl, yang dengan tenang dan efisien memperbaiki laporan keuangan yang hampir menghancurkan rapat dewan.
Wajahnya yang pucat tetapi tegas saat menghadapi todongan ancaman Bayu di rekaman CCTV. Itu bukan wajah seorang penipu. Itu wajah… seorang pejuang yang kelelahan.
“Aku… aku tidak tahu, Yun,” gumam Radya, memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut.
“Ada sesuatu yang tidak pas. Di kantor, dia…”
“Dia apa, Dya?” potong Ayunda, nadanya sedikit menajam sebelum kembali lembut.
“Dia bersikap baik? Tentu saja. Itu topengnya. Orang seperti dia itu pintar memainkan peran sebagai korban agar orang lain merasa iba. Dia tahu kamu CEO, dia tahu kamu punya kuasa. Dia hanya sedang mencari celah.”
Setiap kalimat Ayunda seperti palu godam yang menghantam keraguan Radya, memaksanya kembali ke dalam kotak logika sempit yang telah ia bangun.
Lebih mudah percaya Raras adalah penjahat daripada menerima kemungkinan bahwa ajudan kepercayaannya adalah pengkhianat atau wanita yang ia cintai adalah seorang manipulator. Jauh lebih mudah daripada menerima bahwa dirinya sendiri telah salah menilai.
Tepat saat Radya hendak membalas, sesosok tubuh tegap muncul di ujung koridor. Bayu. Ajudan kepercayaannya itu berjalan dengan langkah cepat tetapi tenang, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
“Mas Radya, Mbak Ayunda,” sapanya dengan suara rendah dan penuh hormat.
“Saya baru saja dari bagian administrasi, mengurus semua keperluan Eyang. Bagaimana kondisi beliau?”
“Masih sama, Bayu. Kritis,” jawab Radya, suaranya berat.
Bayu menghela napas panjang, menunduk sejenak seolah ikut merasakan beban yang sama.
“Saya turut berduka, Mas. Saya sudah menganggap Eyang seperti kakek saya sendiri.” Ia berhenti sejenak, melirik ke kanan dan ke kiri seolah ragu untuk melanjutkan.
“Maaf, Mas. Sebenarnya… ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Tapi saya tidak yakin ini waktu yang tepat.”
Radya menatapnya tajam.
“Sampaikan saja. Tidak ada lagi yang bisa lebih buruk dari ini.”
Bayu tampak ragu-ragu.
“Ini soal… Nyonya Raras.”
Nama itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin. Ayunda menyilangkan tangannya di dada, matanya berkilat penuh antisipasi.
“Kenapa dia?” desak Radya.
“Saya sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan pribadi Mas Radya,” mulai Bayu dengan nada hati-hati, sebuah taktik brilian untuk membuatnya terdengar objektif.
“Tapi saya khawatir. Sudah beberapa malam ini, saya melihat Nyonya Raras keluar dari paviliun belakang lewat tengah malam.”
Radya mengerutkan kening.
“Keluar? Ke mana?”
“Itu dia masalahnya, Mas. Saya tidak tahu pasti,” lanjut Bayu, kini suaranya lebih pelan, seolah sedang berbagi rahasia yang berbahaya.
“Dia menghilang ke arah taman belakang, lalu tembus ke jalan kecil di samping kediaman. Pulangnya selalu menjelang subuh. Awalnya saya pikir saya salah lihat, tapi semalam saya pastikan lagi. Dia pergi sendiri, diam-diam.”
Ayunda menyela dengan nada terkejut yang dibuat-buat.
“Ya Tuhan! Apa yang dia lakukan keluar selarut itu?”
Bayu menatap Radya dengan ekspresi prihatin.
“Mas, saya tidak mau menuduh, tapi… di saat Eyang sedang sakit parah seperti ini, dan kita semua tahu Eyang sangat percaya pada hal-hal spiritual… apa mungkin… Nyonya Raras sedang mencari… bantuan lain?”
Radya membeku. Otaknya langsung menghubungkan titik-titik yang disodorkan Bayu. Raras. Buku klenik. Keluar tengah malam.
“Bantuan lain?” ulang Radya, setiap suku kata terasa seperti pecahan beling di mulutnya.
“Dukun tandingan, mungkin?” bisik Bayu, melepaskan tuduhan pamungkasnya dengan presisi seorang penembak jitu.
“Mungkin dia merasa kekuatannya tidak cukup untuk ‘melindungi’ keluarga ini, jadi dia mencari sumber kekuatan lain. Atau lebih buruk lagi, mungkin dia sedang melakukan ritual untuk memperkuat posisinya di saat Eyang lemah.”
Cukup.
Keraguan terakhir di benak Radya hancur berkeping-keping, dibungkam oleh hasutan yang terdengar begitu logis dan masuk akal. Amarah yang sedari tadi ia tahan kini meledak tanpa kendali. Bukan amarah panas yang membakar, melainkan amarah dingin yang membekukan, yang menuntut sebuah perhitungan.
Semua masuk akal sekarang. Kepanikan Raras saat Eyang jatuh bukan karena khawatir, tapi karena rencananya terganggu. Kehadirannya di paviliun pusaka adalah bagian dari ritualnya. Dan keheningannya adalah topeng dari kelicikannya.
“Di mana dia sekarang?” tanya Radya, suaranya datar dan berbahaya.
“Tadi saya lihat duduk di kursi dekat ruang ICU, Mas,” jawab Bayu.
Tanpa berkata apa-apa lagi pada Ayunda atau Bayu, Radya berbalik dan melangkah dengan cepat. Setiap langkahnya terasa berat, seolah menapaki jalan menuju eksekusi. Ayunda tersenyum tipis di belakangnya, sebuah senyum kemenangan yang dingin.
Benar saja, Raras ada di sana. Duduk sendirian di bawah cahaya lampu neon yang kejam, punggungnya tegak lurus, memancarkan ketenangan yang kini terlihat seperti arogansi di mata Radya. Album foto tua yang tadi ia pegang tergeletak di kursi sebelahnya.
Radya berhenti tepat di hadapannya, bayangannya yang tinggi dan mengancam menelan sosok Raras.
Raras mendongak, matanya yang lelah bertemu dengan tatapan Radya yang membara oleh amarah beku.
“Mas?” sapanya pelan.
“Puas kamu?” desis Radya, tidak peduli jika ada perawat yang lewat dan mendengar.
“Puas melihat semua ini hancur? Melihat kakekku terbaring di antara hidup dan mati?”
Raras mengerjap, tampak bingung dengan serangan tiba-tiba itu.
“Saya tidak mengerti maksud, Mas.”
“Oh, tentu saja kamu tidak mengerti,” cibir Radya, nadanya penuh sarkasme yang menyakitkan.
“Aktris terbaik memang selalu berpura-pura tidak tahu apa-apa. Apa rencanamu selanjutnya, hah? Setelah Eyang tiada, kamu akan menguasai rumah itu? Mengambil semua pusakanya?”
Raras bangkit berdiri, wajahnya memucat, tetapi sorot matanya tetap tenang.
“Mas Radya, tuduhan Anda tidak berdasar.”
“Tidak berdasar?” Radya tertawa, tawa dingin.
“Lalu apa yang kamu lakukan keluyuran setiap tengah malam, Raras? Menemui siapa? Dukun mana lagi yang kamu bayar untuk melancarkan aksimu?”
Tubuh Raras menegang. Jadi Bayu sudah beraksi. Ia tahu, menjelaskan tentang sumpah tujuh turunan atau pengkhianatan Bayu pada pria yang sedang dibutakan amarah dan duka ini adalah hal yang sia-sia. Itu hanya akan membuatnya terdengar lebih gila.
Ia menarik napas dalam-dalam, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Saya tidak menemui dukun mana pun.”
“LALU APA?” bentak Radya, suaranya menggema di koridor sepi itu.
Raras menatap lurus ke mata suaminya, tatapan yang melampaui amarah pria itu, seolah melihat langsung ke dalam jiwanya yang sedang terkoyak. Dengan suara yang nyaris berbisik tetapi terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam, ia menjawab.
“Aku hanya sedang mencari keseimbangan, Mas.”
Jawaban itu. Jawaban yang begitu abstrak, begitu spiritual, begitu… Raras. Bagi Radya, itu adalah puncak dari semua kemunafikan. Di tengah tragedi nyata yang menimpa keluarganya, perempuan ini masih sempat berbicara tentang ‘keseimbangan’ omong kosong.
Frustrasi dan amarah mencapai titik didih. Ia maju selangkah, mencengkeram lengan Raras dengan kasar, memaksa perempuan itu menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Raras bisa merasakan panas amarah yang memancar dari tubuh Radya.
“Keseimbangan?” geramnya, napasnya memburu, matanya menyala-nyala.
“Jangan bicara omong kosong denganku!”