“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mustika kelor
“Nyonya Raras Inten?” suara pria itu rendah dan berwibawa.
“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Mohon ikut kami, sekarang.”
Raras membeku, otaknya yang sudah lelah berpacu antara dua kemungkinan, ini adalah orang suruhan Bayu untuk menghabisinya, atau ini adalah keajaiban yang tidak pernah ia harapkan.
Pria itu tidak terlihat mengancam. Setelannya rapi, sikapnya hormat, tetapi matanya waspada seolah sedang menjalankan misi penting. Tidak ada kekasaran dalam nadanya, hanya perintah yang tak bisa ditawar.
“Siapa yang ingin bertemu saya?” tanya Raras, suaranya nyaris tak terdengar di tengah deru lalu lintas Jakarta. Ia memeluk tas kainnya lebih erat, album foto di dalamnya terasa seperti satu-satunya jangkar di tengah badai.
“Beliau yang akan menjelaskannya sendiri,” jawab pria itu dengan tenang.
“Kami tidak punya banyak waktu, Nyonya. Keselamatan Anda adalah prioritas kami.”
Keselamatan. Kata itu bergema aneh di telinga Raras. Setelah diusir dan dihina, setelah dijadikan kambing hitam atas kehancuran sebuah dinasti, kata ‘keselamatan’ terdengar seperti lelucon pahit.
Namun, instingnya, insting yang sama yang menuntunnya ke album foto tua itu, mengatakan untuk percaya. Pilihan apa lagi yang ia punya? Kembali ke rumah orang tuanya hanya akan membahayakan mereka. Bersembunyi di kota sebesar ini tanpa uang dan koneksi adalah bunuh diri.
Dengan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat, Raras melangkah masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup dengan bunyi gedebuk yang solid, meredam suara bising kota menjadi dengungan sayup. Di dalam, interior kulit yang sejuk dan aroma cendana yang samar menyambutnya.
Mobil itu melaju dengan mulus, membelah kemacetan sore seolah jalanan terbuka khusus untuk mereka.
“Kita mau ke mana?” Raras bertanya pada pria yang duduk di kursi depan, di samping sopir.
“Ke tempat yang aman,” hanya itu jawabannya.
"Iya tapi kemana?" tanya Rara lagi.
Sopir dan temannya hanya saling melihat sekilas, dan tidak menjawab pertanyaan Raras. Raras hanya bisa menghela nafas dan memilih diam.
Perjalanan itu memakan waktu lebih dari dua jam. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit perlahan berganti menjadi ruko-ruko pinggiran kota, lalu hamparan sawah yang mulai menguning di bawah cahaya senja. Udara di dalam mobil tetap sejuk, tetapi Raras bisa merasakan perubahan suhu di luar.
Hawa panas perkotaan berganti menjadi kesejukan pedesaan yang lembap. Mobil itu akhirnya berbelok dari jalan utama, memasuki jalan kecil berbatu yang diapit oleh rumpun bambu yang menjulang tinggi, menciptakan terowongan alami yang gelap dan sunyi.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah joglo sederhana yang dikelilingi taman bunga melati dan kenanga. Wanginya begitu pekat, terasa seperti sedang membersihkan polusi yang menempel di paru-parunya. Pria berjas itu membukakan pintu untuknya.
“Silakan, Nyonya. Beliau sudah menunggu di dalam.”
Raras melangkah keluar, kakinya yang gemetar menyentuh tanah yang dingin. Ia berjalan melewati pendopo yang bersih dan terawat, menuju pintu utama yang terbuka.
Di ruang tengah yang remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lampu minyak, duduk bersila seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut putih panjang.
Pakaiannya hanya sarung batik dan kaus putih oblong, tetapi auranya memancarkan ketenangan dan kebijaksanaan yang luar biasa.
“Selamat datang, Nduk,” sapa lelaki tua itu, suaranya lembut namun menggema.
“Aku sudah lama menunggumu.”
Raras tertegun. Ia tidak mengenalinya, tetapi tatapan mata lelaki itu terasa begitu familier, seolah ia pernah melihatnya dalam mimpi.
“*Eyang… sinten, nggih?” tanya Raras dalam bahasa Jawa halus, refleks dari kebiasaannya berbicara dengan Eyang Putra.
(Eyang.. Siapa, ya?)
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Orang-orang memanggilku Eyang Suro. Kakekmu, Ki Anom, adalah sahabat sekaligus murid terbaikku,” tutur pria tua itu.
Napas Raras tercekat. Sahabat kakeknya. Inilah orang yang fotonya pernah ia lihat terselip di buku harian kakeknya. Bagaimana bisa ia menemukannya? Atau lebih tepatnya, bagaimana bisa ia yang ditemukan?
“Eyang tahu saya akan datang?”
“Takdir punya caranya sendiri untuk menuntun jiwa yang tersesat pulang,” jawab Eyang Suro. Ia menunjuk bantal duduk di hadapannya.
“Duduklah. Ceritakan semua bebanmu. Jangan ada yang ditutupi. Waktu kita tidak banyak,” ucapannya tenang tapi penuh tuntutan.
Raras duduk di tempat yang Eyang suro tunjukkan, perlahan ia menunjukkan kepala dengan helaan nafas yang begitu berat.
"Eyang ....."
Suara Raras bergetar mengawali ceritanya. Selama hampir satu jam berikutnya, Raras menumpahkan segalanya. Tentang pernikahan kontrak, tentang hinaan Radya, tentang Ayunda dan peletnya, tentang pengkhianatan Bayu dan dendam keluarganya, hingga puncaknya saat ia diusir dengan tuduhan keji. Ia menunjukkan album foto itu, yang diterima Eyang Suro dengan anggukan penuh pengertian.
Setelah Raras selesai, keheningan menyelimuti ruangan, hanya terganggu oleh suara jangkrik di luar.
“Kamu datang tidak hanya membawa album, Nduk. Kamu membawa beban weton suamimu di pundakmu,” kata Eyang Suro akhirnya membuka suara.
“Energi kotor yang dikirimkan padanya, sebagian besar terserap oleh weton inten-mu. Itulah mengapa kamu tidak ikut gila, tapi kamu merasakan sakitnya. Itulah mengapa suamimu masih punya sisa kewarasan, meski tertutup kabut tebal.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Eyang? Saya sudah diusir. Saya tidak punya apa-apa lagi.”
“Kamu punya segalanya,” sahut Eyang Suro tegas.
“Kamu punya warisan darah kakekmu, dan kamu punya kekuatan wetonmu yang belum sepenuhnya bangkit. Musuhmu menggunakan kekuatan gelap untuk menghancurkan. Maka, kamu harus menggunakan kekuatan cahaya untuk melindungi.”
Eyang suro bangkit, gerakannya ringan untuk orang seusianya.
“Ikut aku.”
Raras mengangguk seraya bangkit. Eyang Suro menuntun Raras ke sebuah ruangan kecil di bagian belakang rumah, sentong tengah, ruang paling sakral dalam sebuah rumah Jawa.
Di dalamnya hanya ada sebuah tikar pandan, bantal, dan sebuah meja rendah tempat sesaji sederhana diletakkan, tujuh rupa kembang, segelas air putih, dan dupa yang belum dinyalakan.
“Energi itu harus ditarik keluar dari jiwanya, dicuci di dalam dirimu, lalu dikembalikan padanya sebagai tameng,” jelas Eyang Suro.
“Proses ini disebut tirakat penolak balak. Kamu akan menyerap semua racun spiritual yang mengikat Radya.”
Raras menelan ludah.
“Apakah… akan sakit?”
Eyang Suro menatapnya lurus.
“Sakitnya akan seperti jiwamu diremas, Nduk. Kamu akan merasakan setiap kebencian, setiap paranoia, setiap ketakutan yang sekarang meracuni suamimu. Kamu akan berhadapan langsung dengan entitas yang dikirim untuknya. Banyak yang gagal dan menjadi gila dalam proses ini.”
Ketakutan menjalari tulang punggung Raras. Tapi kemudian, ia teringat wajah Radya saat mengusirnya. Wajah pria yang tersiksa, yang hilang, yang matanya dipenuhi bayangan. Ia tidak lagi melihat pria arogan yang menghinanya, ia melihat jiwa yang butuh pertolongan.
“Saya siap, Eyang,” ucap Raras dengan suara mantap.
“Saya akan melakukannya,” imbuh Raras penuh tekad.
Eyang Suro mengangguk, senyum bangga terukir di wajah tuanya. Ia menyalakan dupa cendana, dan wanginya yang khas segera memenuhi ruangan.
“Tirakat ini berlangsung tiga hari tiga malam. Tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur. Hanya kau, mantra dari kitab kakekmu, dan kekuatan alam semesta. Aku akan menjagamu dari luar.”
"Duduk di sana Nduk, pusatkan pikiran mu hanya semesta," imbuh Eyang suro sambil menunjuk tikar pandan yang tergelar dilantai.
"Inggih Eyang."
Raras melakukan apa yang Eyang suro katakan, ia duduk bersila di atas tikar, membuka buku harian kakeknya yang selalu ia bawa di dalam tas. Ia membuka halaman yang sudah ditandai, berisi rangkaian mantra perlindungan dan pembersihan.
“Mulailah,” ucap Eyang suro yang nyaris terdengar seperti bisikan angin, Pria penuh wibawa itu tersenyum tipis sebelum menutup pintu, meninggalkan Raras dalam keheningan yang pekat.
Raras menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan mulai merapalkan mantra pertama. Awalnya tidak ada yang terjadi. Hanya sunyi, sunyi yang sangat senyap. Tapi setelah beberapa saat, ruangan itu terasa mendingin. Hawa dingin yang sama seperti yang pernah ia rasakan dari tubuh Radya.
Lalu, serangan itu datang.
Bukan serangan fisik, tapi serangan spiritual. Kilasan-kilasan acak membanjiri benaknya. Raras melihat dari mata Radya, angka-angka di laporan yang menari-nari, wajah direktur yang menyeringai mengejek, dan bayangan hitam di sudut ruangan yang berbisik, “Gagal… gagal… semua karena perempuan itu…”
Rasa amarah yang bukan miliknya meledak di dalam dadanya. Amarah pada Eyang Putra yang memaksanya, amarah pada takdir, dan kebencian yang luar biasa pada seorang perempuan bernama Raras Inten.
“Aaargh!” Raras memekik tertahan, mencengkeram kepalanya yang terasa seperti mau pecah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menggigil hebat meski udara tidak sedingin itu.
Raras terus merapal mantra, suaranya bergetar. Setiap suku kata adalah perisai, setiap kalimat adalah pedang. Ia melawan gelombang kebencian itu dengan segenap kekuatannya.
Malam pertama berlalu seperti di neraka. Ia merasakan paranoia Radya, ketakutannya akan kehilangan kendali, dan rasa jijik yang ditanamkan pelet Ayunda setiap kali nama Raras terlintas.
Hari kedua adalah yang terberat. Ia merasakan sakit fisik. Perutnya mual seolah terisi racun, dan sendi-sendinya ngilu. Ia melihat wujud samar dari energi yang mengikat Radya, sesosok bayangan perempuan dengan seringai jahat yang terus berbisik di telinganya, menyuruhnya menyerah, menyuruhnya membenci Radya seperti Radya membencinya.
“Tidak…” desis Raras di antara giginya yang gemeretak.
“Dia bukan membenciku… dia sedang diracuni…oleh mu”
Raras memfokuskan seluruh sisa tenaganya, bukan untuk melawan, tetapi untuk menerima.
Ia menerima semua energi kotor itu ke dalam dirinya, membayangkannya sebagai lumpur hitam pekat. Lalu, dengan mantra pemurnian dari kakeknya, ia membayangkan cahaya keemasan dari wetonnya. Weton Inten, menyirami lumpur itu, mencucinya, mengubahnya menjadi air jernih.
Proses itu menyakitkan luar biasa, seperti sesuatu yang tersayat perlahan oleh pedang berkarat, tetapi perlahan, ia merasakan perubahan.
Hawa dingin di ruangan mulai menghangat. Bisikan-bisikan jahat itu melemah, berubah menjadi rengekan putus asa sebelum akhirnya lenyap sama sekali.
Pada fajar hari ketiga, Raras merasakan keheningan. Bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang damai dan penuh.
Rasa sakit di tubuhnya berangsur hilang, digantikan oleh perasaan ringan dan hangat yang menjalar dari tulang punggungnya.
Ia merasakan sebuah benang tipis namun kuat terhubung dari pusat jantungnya, melesat jauh menembus ruang dan waktu. Benang itu bergetar lembut, dan ia tahu itu adalah Radya. Ikatan weton mereka kini bersih, murni, dan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Raras membuka matanya perlahan. Ruangan itu terasa terang benderang, padahal hanya ada seberkas cahaya fajar yang masuk dari celah jendela.
Pintu berderit terbuka. Eyang Suro masuk, membawa segelas air putih hangat dan sepotong singkong rebus. Ia tersenyum menatap Raras.
“Sudah selesai, Nduk. Kamu berhasil,” katanya penuh rasa bangga.
Raras menerima air itu dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Ia merasa terlahir kembali. Lelah, tetapi kuat. Sangat kuat.
“Sekarang apa, Eyang?”
“Sekarang, saatnya kembali,” jawab Eyang Suro. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantung beludru hitam kecil, lalu meletakkannya di telapak tangan Raras.
“Di dalam sini ada sebutir mustika kelor. Benda ini tidak memiliki kekuatan untuk menyerang, tapi ia punya satu kemampuan menunjukkan kebohongan.”
Eyang Suro menatap Raras dengan tajam, sorot matanya menyiratkan urgensi yang mencekam.
“Pegang mustika ini saat kau berhadapan dengan musuhmu. Di matamu, setiap kebohongan yang mereka ucapkan akan terlihat seperti asap hitam yang keluar dari mulut mereka. Gunakan itu untuk membalikkan permainan mereka.”
Raras menggenggam kantung itu erat-erat. Sebuah senjata yang tidak terduga, namun sangat ia butuhkan. Ia kini bukan hanya punya bukti fisik, tapi juga senjata spiritual.
“Sudah waktunya,” kata Eyang Suro lagi, nadanya serius.
“Mereka akan melakukan langkah terakhir mereka hari ini. Kau harus menghentikannya, sebelum semuanya terlambat.”
Raras mengangguk, tekad membara di matanya.
"*Kulo pamit Eyang ... Matur sembah nuwun," ucap Raras dengan penuh rasa syukur.
(* Saya pamit Eyang ... Terima kasih banyak)
Eyang suro mengangguk, menepuk pelan bahu Raras.
"Doaku akan menyertaimu, Nduk."
Raras tersenyum, Ia lalu bangkit berdiri, tubuhnya terasa ringan namun kokoh. Ia siap. Ia akan kembali ke Jakarta. Bukan lagi sebagai korban yang terbuang, melainkan sebagai pelindung yang telah ditempa dalam api.
Saat jemarinya yang mantap hendak membuka ikatan kantung beludru itu untuk melihat wujud mustikanya…