Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab lima belas
"Aku heran dengan Jack. Biasanya dia tidak pulang siang. Tiba-tiba dia pulang siang dan anehnya lagi, dia mengajak ku makan siang di luar. Kalau tidak siang malamnya. Dan aku merasa risih," ucap Caroline. Ia mengingat semuanya dan Jack bagaikan hantu yang membuatnya tidak nyaman.
Melani mengerucutkan bibirnya dengan pikiran bergelut. "Aku malah berpikir dia mulai ada rasa dengan mu. Apa dia sudah menyesalinya. Pikirannya tidak eror."
Melani menatap dalam sahabatnya. "Bukannya selama ini kau menginginkannya? Mungkin ada kesalah pahaman yang perlu di perbaiki."
"Tidak ada Melani, tidak akan pernah ada. Aku sudah membencinya. Jujur Melani aku sudah muak dengan semua ini."
"Caroline." Panggil Jack. Dia melihat Maps di ponsel Caroline dan sampailah di tempat Caroline. "Aku mencari mu." Ia kira Caroline kabur, pergi begitu saja meninggalkannya.
Melani menyilangkan kedua tangannya sambil menatap Jack. "Kau mencari Caroline. Apa kau takut Caroline menghilang? Jack, Jack kau tidak ada di hati Caroline. Sebaiknya kau tidak perlu mengganggunya."
Jack kesal dengan ucapan Melani. Masa bodoh dengannya, tapi ia bertekad akan memperbaiki hati Caroline. "Kau tidak perlu ikut campur."
Jack merayu Caroline. "Caroline ayo kita pergi. Kita bisa menikmatinya di tempat lain. Aku sudah memesan vip untuk kita."
Caroline berdiri, dia menunjuk da2 Jack. "Jack kau menjijikkan."
Jack mengejar Caroline yang meninggalkannya. Dia meraih tangan Caroline yang hendak masuk mobil.
"Caroline aku minta maaf pada mu. Tolong berikan aku kesempatan. Caroline buka pintunya."
Jack memukul kaca jendela mobil Caroline. Dia berdecak pinggang karena gagal lagi mendekati Caroline.
"Bagaimana Jack? Sangat enak? Caroline tidak akan pernah memaafkan mu."
Melani tertawa mengejek sambil menuju ke mobilnya. Jack hanya diam dan memandangi mobil Caroline.
Caroline menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia mengingat ucapan Melani. Hatinya menginginkan perceraian. "Sebaiknya aku berbicara dengan kakek dan nenek."
Caroline menghubungi Kakek Jakson. "Kakek, Nenek, ada yang Caroline bicarakan. Apa kita bisa bertemu?"
Kakek Jakson menatap istrinya yang berada di sampingnya. "Bicarakan apa Caroline. Nenek dan Kakek pasti datang. Bagaimana kalau besok Kakek dan Nenek langsung menemui mu?"
"Aku menunggu Kakek, tapi aku ingin pertemuan kita rahasia tanpa Tommy dan Jake tau." Dia tidak ingin Jake mengganggu rencananya. Apa lagi ia sudah sangat yakin pergi darinya.
Kakek Jakson dan Nenek Dista yang meragukan pertemuan itu mengiyakan saja.
"Baiklah kakek akan kesana. Nanti kakek akan urus pertemuan kita."
"Selamat malam Kek."
"Selamat malam Caroline."
Kakek Jakson menaruh ponselnya. "Apa Caroline ingin mengatakan seperti apa yang kita pikirkan tadi?"
Nenek Dista menatap foto anaknya. "Kalau begitu, kita tidak bisa memaksanya. Aku tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi. Caroline tidak menginginkan pernikahannya. Cinta tidak bisa di paksa."
Kakek Jakson menggenggam tangan Nenek Dista. Keduanya terlihat sedih karena harus kehilangan cucu kesayangan mereka.
Sementara itu, Jake kembali menghubungi Caroline namun tidak bisa di hubungi. Dia membanting ponselnya ke lantai. Ia kira Caroline sudah sampai di mansion.
"Caroline kau membuat ku takut," ucap Jake.
"Tuan Jake, Nyonya Caroline sudah pulang."
Jake berjalan dengan langkah lebar. Dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Carol kau sudah pulang." Sapa Jake.
Caroline terdiam, ia mengingat dulu Jake sering memanggilnya dengan nama Carol.
Ia memalingkan wajahnya tanpa ingin melihat atau mengobrol dengan Jake.
"Caroline." Jake mengikuti Caroline menaiki anak tangga. "Kau kemana saja? Aku mengkhawatirkan mu."
Tidak mendapatkan perhatian Caroline. Jake menahan lengan Caroline. "Caroline kau baik-baik saja."
"Hentikan Jack. Kau membuat ku tidak nyaman. Kau mengganggu ku. Kita sudah sepakat untuk tidak saling mengenal. Saling mengganggu."
Sekujur tubuh Caroline merasa panas. Ia sangat membenci perhatian Jake.
"Aku mohon maafkan aku. Berikan aku kesempatan."
Caroline menghempaskan tangan Jake dan mendorongnya. Jake kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dia pun terjatuh berguling dari anak tangga.
Caroline menganga, ia tidak benar-benar melakukannya. Melihat Jake yang bangun dam luka di dahinya. Ia berbalik tidak memperdulikannya.
Jake mengangkat wajahnya, menatap punggung ramping yang meninggalkannya. Dulu, Caroline tidak setega itu padanya. Luka sekecil pun akan di obati. Mungkin karena kekecewaan yang telah ia buat hingga membuat Caroline memilih meninggalkannya.
"Tuan Jake." Sapa seorang pelayan. Semua pelayan memang melihatnya. Tidak ada yang berani mendekati Jake.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengobatinya sendiri. Kejadian hari ini anggap kalian tidak melihatnya. Jika ada yang membocorkan semua kejadian di rumah ini pada siapa pun. Kalian akan tau akibatnya."
Para pelayan pun bubar. Jake kembali menaiki anak tangga. Dia menatap lekat pintu kamar Caroline. Ia pun melewatinya.
Jake mengambil kotak obat. Menuangkan obat ke kapas dan perlahan mengobati luka di dahinya.
Jake duduk di sofa. Dia melihat ponselnya yang ada ribuan pesan masuk dari Aurora. Dia menghubungi seseorang.
"Aku pesan 99 mawar. Setiap harinya kirim ke mansion Willowind."
Jake kembali bertekad. Ia tidak boleh menyerah. Setiap tetesan air mata yang telah ia buat untuk Caroline ia haris menebusnya.
Caroline memilih diam. Ia mencoba melupakan semua kejadian hari ini. Terserah semua orang menganggapnya kejam. Ia muak menjadi wanita penurut.
Drt
Caroline melihat panggilan Aurora. Dia pun mengangkatnya. "Ada apa?" Tanya Caroline.
"Caroline apa yang telah kamu perbuat pada Jake?"
"Tentu saja aku melakukannya. Jake di atas aku di bawah. Kau tau kan maksud ku," ucap Caroline.
"Caroline jangan macam-macam. Kau akan menyesal telah melakukannya. Kau pikir aku tidak bisa berbuat sesuatu pada mu. Jangan sampai menyesal telah melawan ku."
"Kau pikir siapa? Kau pikir kau nenek moyang ku, hah? Heh Aurora aku tidak takut. Aku bukan wanita munfik dan licik seperti mu. Oh iya, apa akhir-akhir ini kau merasa Jake berubah?"
"Caroline!" Teriak Aurora.
Caroline menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Dasar anak iblis."
..
Sinar matahari mulai memasuki jendela kaca. Angin berhembus dengan pelan memasuki fertilasi. Seorang wanita cantik membuka kedua matanya saat mensengarkan ketukan pintu.
Dia mengucek kedua matanya, menyibak selimutnya lalu membuka pintu itu.
Dia menyilangkan kedua tangannya lalu bersandar ke pintu. Senyumannya mengejek pria di hadapannya.
"Carol aku membawakan sarapan mu. Aku membuatnya sendiri. Jus mangga ini aku buat sendiri."
Caroline mengambil jus itu lalu menuangkan ke tempat sampah. Jake menganga, ia kembali mengatupkan bibirnya. Kedua matanya memerah menahan tangis.
"Kau pikir aku menerima semua ini. Kau tidak tau bahwa aku alergi buah mangga? Dulu aku begitu bodohnya meminum buah mangga hanya untuk menyenangkan dirimu. Tapi sekarang tidak. Kau tidak perlu melakukannya Jake karena aku tidak membutuhkan perhatian mu."
"Caroline aku minta maaf. Aku tidak tau. Kau bisa memarahi kebodohan ku. Aku akan membuat jus yang lain."
Brak
Jake mengangguk dengan meyakinkan hatinya. Ia akan membuatkan yang baru untuk Caroline.
Sementara itu, di luar mansion. Aurora telah sampai. Dia melangkah masuk mansion. Saat Jake ingin membawakan sarapan Caroline yang baru.
Jake berpapasan dengan Aurora.
"Jake." Aurora melihat Jake menggunakan celemek dan membawa sarapan di nampan. "Jake kau membuat sarapan? Kau tau aku datang makanya kau ingin membawa sarapan itu ke lantai atas." Aurora memeluk Jake. "Jake kau romantis sekali. Aku sangat senang."
Caroline menghentikan langkahnya. Dia menatap kedua pasangan itu. Jake berusaha melepaskan pelukan Aurora hingga dia melihat Caroline melewatinya.
"Caroline."