Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simulasi
Naya menatap lekat bunga yang sudah dalam pelukannya itu. Kemudian ia tersadar, tidak ada hubungan antara dirinya dan Mahen.
Pandangannya beralih pada Mahen seraya berkata, "apa ini tidak terlalu berlebihan? Maksudnya, kita hanya pura-pura saja menjalin hubungan ini."
"Kenapa? Gak suka?" cetus Mahen.
"Ya suka aja sih, tapi—" belum selesai bicara, Mahen sudah memotong omongan Naya.
"Sudah, tidak apa-apa. Anggap saja ini latihan biar aku gak kaku," ujar Mahen diiringi tawa kecil.
"Agh oke."
"Ternyata aku yang terlalu baper. Santai Naya!" batin Naya.
"Aku gak akan di suruh masuk nih?"
"Oh iya." Naya bergeser memberi ruang untuk Mahen masuk. Kemudian mereka duduk bersama di ruang tamu. Lalu Naya memanggil Rossi untuk mengambilkan minum.
"Ini bu ..." Rossi meletakkan cangkir di atas meja. Tatapannya fokus pada bunga dalam pangkuan bosnya itu dan membuatnya penasaran.
"Rossi ... Gak usah kepo. Sana pergi ke kamarmu!" usir Naya.
"Eh maaf ... Baik saya pergi, bu." Rossi meninggalkan mereka berdua. Akan tetapi rasa penasaran mengganggu pikirannya dan memutuskan untuk menguping dari balik pintu.
"Rossi ... Jangan sembunyi disana. Aku tahu kamu disitu!" teriak Naya seakan mempunyai mata dimana-mana.
"Saya ke kamar kok, bu." Sahut Rossi berlalu dengan kesal mengubur rasa penasarannya.
"Tunggu ... Bunga dan cokelat ini pasti mahal, kan? Kenapa kamu menghambur-hamburkan uangmu seperti ini sih? Sampai bela-belain kerja sampingan," cetus Naya.
Mahen baru sadar kalau apa yang di berikannya kali ini terlalu mencolok. Tidak terpikir untuk memberinya satu tangkai bunga saja seperti sebelum-sebelumnya.
Sekarang ia harus memberi alasan yang logis tanpa membuat Naya curiga.
"Agh itu. Tenang saja itu gak seberapa kok. Lagi pula aku mendapatkan bonus besar dari si bos. Kalau untuk masalah kerja sampingan ini, aku hanya isi waktu kosong saja karena lagi gak ada pemotretan," jawab Mahen.
"Kan bisa uangnya kamu tabung."
"Tenang saja, aku punya tabungan kok."
"Kasihan juga dia. Aghh jadi gak tega bawa dia masuk ke dalam keluargaku yang tukang kritik itu," batin Naya.
"Kamu sewa villa ini?" tanya Mahen mencari tahu.
"Tidak. Saya membelinya karena kasihan pada sales-nya," jawab Naya.
"M–maksudmu?" Mahen penasaran.
"Lagian, ya, Nugo grup itu tega banget sih. Kek masih mempekerjakan orang yang sudah tua. Ya, bagus sih, tapi kasihan juga kalau di marahin sama pembeli gak ada akhlak!" tutur Naya.
Mahen berpikir selama ini bagian pemasaran Nugo grup selain mengutamakan kemampuan, penampilan juga sangat di utamakan. Mana mungkin mempekerjakan orang yang sudah tua.
"Eh makasih buat cokelat dan bunganya. Lain kali tidak perlu seperti ini," ujar Naya.
Mahen mengangguk setuju.
"Sepertinya kamu terlihat lelah. Kalau begitu aku pamit pergi dulu dan kamu istirahatlah." Mahen bangkit dari duduknya pamit untuk pergi.
"Gak mau makan dulu?" Naya menawari.
"Udah makan kok. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja, aku di villa samping kok," ujar Mahen.
Naya mengantar Mahen sampai ke teras dan menatap kepergiannya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya itu kemudian menutup pintu dan berlalu pergi ke kamarnya.
Di depan pintu, Rossi sudah menunggunya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Bu Naya, coba jelaskan pada saya, sejauh mana hubungan bu Naya dengan mas Mahen? Bunga, cokelat ... Aghhh sejauh itu ternyata!" Rossi bertanya sendiri dan di jawab sendiri.
"Aku dan Mahen akan menikah. Puas kau?" ungkap Naya.
"Apa? Menikah? Serius bu? Sama mas Mahen? Masa sih bu? Dari putra keluarga Jaya peminpin perusahaan Jaya ke mas Mahen yang cuman fotografer? Bu, beneran gak salah?" cerocos Rossi.
"Kau ini sudah seperti wartawan saja!"
"Heheee ... Maaf, saya penasaran soalnya ...."
"Memangnya menurutmu apa yang bisa di bandingkan antara Miko dan Mahen? Gak bisa, mereka sangat berbeda. Masalah dia hanya orang biasa, santai saja hartaku tidak akan habis hanya untuk menghidupi satu pria!" tutur Naya.
"Wiiihhh ... Keren ..." Rossi mengangkat jempolnya bangga dengan bosnya yang kaya raya.
"Sudahlah. Katanya besok mau jalan-jalan, cepatlah tidur! Kalau terlambat bangun, aku akan meninggalkanmu!" ancam Naya.
"Ehhh jangan. Iya iya ini mau tidur kok. Selamat malam bu Naya, kalau ada apa-apa panggil saya saja sekeras mungkin." Kemudian Rossi berlalu ke kamarnya.
Naya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan lalu masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan diri di tempat tidur.
"Seperti punya hubungan beneran saja sama Mahen membuatku kepikiran dia. Aghhh Naya, stop mikirin Mahen. Stop!!!" ia bangkit dan pergi membersihkan diri.
Suasana yang tenang dengan udara yang dingin membuat tidur Naya lebih nyenyak. Bangun di pagi hari dengan tenang, tanpa panggilan sang mama yang merusak mimpinya.
"Aghh hari baru yang indah ..." ucapnya seraya menatap keluar jendela. "Aku harus menikmati hari ini. Liburan bahagia tanpa beban ..." gumamnya.
Sebelum sarapan, Naya berjalan-jalan pagi sekitaran Villa untuk tahu suasana sekitarannya. Kicauan burung-burung, bunga-bunga cantik yang bermekaran, benar-benar membuatnya merasa tenang.
Sampai akhirnya ia berada tepat di depan villa yang Mahen tempati. Di depan villa itu terdengar ada ribut-ribut dan Naya seperti mengenali mereka lalu menghampirinya.
"Miko ... Shella ... Kenapa kalian membuat onar disini?"