NovelToon NovelToon
Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Kaya Raya / Beda Usia / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

"Istri? Apa maksud kamu?!" teriak Ibu Hayu dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Matanya melotot menatap Rizal dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Sejak kapan Hayu punya suami sekaya kamu? Jangan-jangan kamu cuma mau melindungi dia karena dia simpanan kamu, ya?!"

Wajah Rizal seketika berubah menjadi sangat gelap. Hinaan itu adalah batas terakhir kesabarannya.

"Jaga mulut Anda!" bentak Rizal dengan suara yang menggelegar hingga membuat Ibu Hayu terlonjak mundur.

"Hayu adalah istri sah saya. Dan jika Anda berani menginjakkan kaki di tanah ini lagi, atau bahkan hanya menyebut namanya dengan nada menghina, saya tidak akan segan-segan menyeret Anda ke jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan."

Rizal mendekat satu langkah, memberikan tekanan yang sangat mengintimidasi.

"Saya punya pengacara terbaik dan kekuasaan untuk memastikan Anda menghabiskan waktu yang lama di balik jeruji besi. Sekarang, PERGI!"

Ibu Hayu yang tadinya beringas, seketika menciut melihat kemarahan pria di depannya.

Dengan langkah seribu dan wajah pucat pasi, ia segera lari menjauh dari gerbang rumah mewah itu.

Setelah wanita itu menghilang dari pandangan, Rizal berbalik menatap petugas keamanan dan beberapa pelayan yang sempat menyaksikan kejadian tersebut. Ia mengatur napasnya agar kembali tenang.

"Rahasiakan ini," ucap Rizal ke semua yang ada di sana dengan nada yang sangat serius.

"Jangan sampai ada satu kata pun tentang kejadian pagi ini yang sampai ke telinga istri saya. Dia sedang hamil dan butuh ketenangan total. Jika ada yang melanggar, kalian tahu konsekuensinya."

Semua staf di sana mengangguk serempak dengan wajah tegang.

Rizal kemudian berjalan kembali ke dalam rumah, merapikan setelannya, dan berusaha mengembalikan senyum di wajahnya sebelum ia kembali masuk ke kamar untuk menemui Hayu yang mungkin saja sudah terbangun.

Rizal mengatur napasnya sejenak di depan pintu kamar, memastikan sisa-sisa kemarahan di wajahnya telah hilang sepenuhnya.

Ia tidak ingin Hayu menangkap kegelisahan sedikit pun dari raut mukanya.

Rizal masuk ke kamar dan mendapati Hayu ternyata sudah bangun namun tidak mendengar keributan tadi.

Hayu sedang duduk bersandar di tumpukan bantal empuknya sambil mengusap matanya yang masih sedikit mengantuk.

"Sayang, sudah bangun?" tanya Rizal dengan nada suara yang seketika berubah menjadi sangat lembut dan penuh kasih.

Hayu menganggukkan kepalanya perlahan, memberikan senyum manis yang membuat perasaan Rizal jauh lebih tenang setelah menghadapi ibunya tadi.

"Mas dari mana?" tanya Hayu lembut.

Ia menyadari suaminya tidak ada di sampingnya saat ia membuka mata tadi.

"Dari dapur," jawab Rizal berbohong demi kebaikan istrinya.

"Aku tadi memastikan pelayan menyiapkan air hangat dan sarapan yang enak untukmu. Aku ingin saat kamu bangun, semuanya sudah siap."

Rizal berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Hayu.

Ia merasa lega karena posisi kamar di lantai bawah yang kedap suara membuat teriakan ibu mertuanya di gerbang tadi sama sekali tidak mengusik istirahat istrinya.

"Kamu merasa mual lagi pagi ini? Atau sudah merasa lebih baik?" tanya Rizal sambil mengelus pipi Hayu, mencoba mengalihkan perhatian sepenuhnya agar Hayu tidak menanyakan hal lain.

Tak lama setelah mereka berbincang kecil, terdengar ketukan lembut di pintu.

Pelayan mengetuk pintu dan mengatakan kalau makanan sudah siap di meja makan.

Aroma masakan pagi yang segar mulai tercium samar hingga ke dalam kamar.

Rizal tidak ingin Hayu terlalu banyak menguras energi, meskipun itu hanya untuk berjalan ke ruang makan.

Dengan penuh perlindungan, Rizal kembali membopong tubuh istrinya dan membawanya ke ruang makan.

"Mas, aku bisa jalan sendiri pelan-pelan," protes Hayu sambil mengalungkan tangannya di leher Rizal.

"Tidak ada bantahan, Sayang. Dokter bilang harus bedrest, jadi selama aku ada di sini, kamu tidak boleh menginjakkan kaki di lantai terlalu sering," jawab Rizal dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.

Setibanya di ruang makan, Rizal mendudukkan Hayu dengan sangat hati-hati di kursi yang sudah diberi alas bantal empuk.

Di atas meja sudah tersedia menu sarapan yang sehat: bubur gandum dengan buah-buahan segar, telur rebus, dan segelas susu khusus ibu hamil yang masih hangat.

Rizal duduk di sampingnya, memastikan semua yang dibutuhkan Hayu berada dalam jangkauan tangannya.

Ia bersyukur suasana rumah kembali tenang, seolah keributan di gerbang tadi pagi tidak pernah terjadi.

Ia akan melakukan apa pun untuk menjaga senyum di wajah istrinya tetap seperti itu.

Setelah sarapan selesai dan piring-piring telah dirapikan oleh pelayan, suasana di ruang makan terasa sangat tenang dan intim.

Rizal kemudian merogoh saku jas rumahnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita beludru biru tua.

Ini adalah momen setelah makan di mana Rizal memberikan hadiah kecil untuk menghibur Hayu selama masa pemulihan.

Ia meletakkan kotak itu dengan lembut di hadapan istrinya.

"Mas, apa ini?" tanya Hayu dengan mata berbinar penasaran.

Ia menatap kotak cantik itu, lalu menatap suaminya dengan penuh tanya.

"Kamu buka, Sayang," jawab Rizal sambil tersenyum misterius.

Ia ingin melihat ekspresi bahagia di wajah istrinya setelah semua ketegangan yang mereka lalui.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru, Hayu menarik pita biru itu dan membuka kotaknya.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas putih yang sangat elegan, dengan liontin kecil berbentuk kaki bayi yang mungil dan dihiasi berlian kecil yang berkilau.

"Ini agar kamu selalu ingat bahwa ada kehidupan kecil yang sedang kita perjuangkan bersama di dalam sana," bisik Rizal sambil mengambil gelang itu dan memakaikannya di pergelangan tangan Hayu.

"Dan ini hadiah karena kamu sudah sangat kuat menghadapi semuanya."

Hayu tidak bisa menahan air mata bahagianya. Ia merasa sangat dimanja dan dilindungi.

Hadiah kecil ini benar-benar berhasil menghibur hatinya dan memberinya semangat baru untuk menjalani masa pemulihan.

Hayu sangat terharu dan memeluk Rizal dengan erat setelah melihat gelang cantik itu.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, merasa begitu beruntung memiliki pelindung sehebat Rizal.

Rasa haru itu seolah menghapus sisa-sisa trauma yang ia rasakan.

"Terima kasih, Mas. Ini indah sekali," bisik Hayu lembut.

Untuk menghirup udara segar agar kondisi Hayu semakin membaik, lalu mereka menghabiskan waktu bersama di taman belakang.

Rizal membimbing Hayu duduk di kursi taman yang nyaman di bawah pohon rindang, dikelilingi bunga-bunga yang sedang bermekaran.

Namun, di tengah suasana damai itu, tiba-tiba Rizal mengendus udara seolah mencari sesuatu. Sensasi aneh itu datang lagi, keinginan makan yang sangat spesifik dan tak tertahankan.

Rizal ngidam sate Padang.

Pikirannya mendadak dipenuhi oleh bayangan daging sapi yang dibakar harum, disiram kuah kental berwarna kuning kecokelatan yang kaya akan rempah, pedas, dan gurih, ditambah taburan bawang goreng yang banyak serta ketupat yang lembut.

Rizal menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Hayu dengan wajah sedikit malu karena lagi-lagi ia yang merasa mengidam.

"Sayang, sepertinya anak kita minta sate Padang pagi-pagi begini," ucap Rizal sambil terkekeh pelan.

"Aromanya seolah-olah sudah ada di depan hidungku sekarang."

Hayu tertawa renyah melihat tingkah suaminya.

"Mas ini benar-benar ya, sepertinya semua 'ngidam' aku pindah ke Mas semua. Baru saja makan bubur ayam dan cumi, sekarang sudah sate Padang."

Rizal hanya bisa nyengir dan segera merogoh ponselnya, siap melakukan "panggilan darurat" ke Riska untuk mencarikan sate Padang terbaik di kota yang sudah buka di jam sepagi ini.

1
Yul Kin
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!