laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan Diri
Zaskia sedang duduk di tepi ranjang ketika layar ponselnya menyala.
Bukan karena bunyi—hanya getaran singkat yang nyaris bisa diabaikan.
Ia menoleh sekilas, lalu kembali merapikan tempat tidurnya. Ada kebiasaan lama dalam dirinya untuk tidak segera merespons apa pun. Seolah memberi jarak kecil sebelum dunia kembali menuntut perhatiannya.
Getaran itu datang lagi.
Zaskia menghela napas pelan, baru kemudian meraih ponsel. Tatapannya berhenti pada satu nama yang sering ia hubungi.
Revan.
Ada sesuatu yang bergeser di dadanya—halus, hampir tak terasa, namun cukup untuk membuat jarinya terdiam di atas layar. Ia tahu, pesan ini tidak akan berisi percakapan biasa.
Ia langsung membalas.
“Mau bicara di mana, Kak Revan?”
Balasan itu datang cepat.
“Di rumah kamu. Tentukan waktu luangmu, dan segera kabari saya.”
Zaskia tidak langsung menjawab. Ia memilih menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Hari libur kerja yang seharusnya dinikmati orang lain justru ia habiskan untuk bersih-bersih. Apalagi Revan akan datang, ke rumahnya yang sederhana. Setidaknya, rumah itu harus terlihat bersih dan rapi.
Setelah semuanya tuntas, Zaskia pergi ke supermarket yang cukup jauh dari rumahnya. Ia ingin membeli sesuatu yang, menurutnya, pantas disuguhkan untuk Revan nanti.
Ia berangkat dengan motor.
Seperempat jam kemudian, Zaskia tiba di tempat tujuan. Saat hendak turun dari motor di area parkir, ia menangkap pemandangan yang tak biasa. Kerumunan orang berdiri rapat, bukan seperti pembeli yang memilih barang, melainkan seperti orang-orang yang sedang berebut sesuatu. Jelas bukan karena diskon.
Namun ada seseorang di tengah kerumunan itu.
“Ada apa sih, itu?” gumam Zaskia pelan.
Ia tidak terlalu memedulikannya. Tujuannya ke sini hanya untuk membeli beberapa camilan dan kebutuhan lainnya.
Saat masuk ke dalam supermarket, Zaskia memilih menyusuri deretan rak—jajanan ringan dan berbagai barang lain. Di sanalah seseorang yang sejak tadi berada di sampingnya mulai membuka obrolan.
“Semua pembeli pada rebutan minta foto dengan model terkenal sama calon suaminya yang datang ke sini. Mbaknya nggak kepengin?” ucap perempuan itu.
Zaskia menoleh sekilas, lalu menggeleng sambil tersenyum.
“Saya ke sini mau belanja kok, Mbak. Bukan mau foto,” katanya sambil kembali memilih barang yang akan dibelinya. Namun perempuan itu masih berdiri di sampingnya.
“Kalau Mbaknya mau minta foto, silakan,” lanjut Zaskia ramah.
“Sudah kok. Aku udah lama ngefans sama dia. Cantik, lho, Mbak, orangnya,” ujar perempuan itu sambil menyodorkan layar ponselnya agar Zaskia melihat.
Zaskia menoleh lagi. Dan apa lagi yang bisa ia lakukan selain membelalak kaget?
Yang terpampang di layar itu adalah Rania. Ya, adiknya sendiri. Dan laki-laki di sebelahnya—laki-laki yang pernah Zaskia lihat di unggahan Rania. Sosok yang membuat Zaskia pertama kali menampar adiknya. Zaskia ingat namanya, Rama.
Ada rasa marah yang menguar, tapi bukan luapan emosi. Lebih seperti perasaan seorang kakak yang nasihatnya tak pernah didengar. Dan itu menyakitkan.
“Permisi, Mbak. Saya ke sana dulu,” ucap Zaskia singkat.
Ia segera melangkah cepat menuju kerumunan yang berada sekitar lima langkah dari depan kasir.
Perempuan itu mendesis pelan.
“Katanya nggak mau foto, tapi ke sana juga.”
Begitu sampai di depan kerumunan, tanpa kata dan tanpa aba-aba, Zaskia menyelusup masuk di tengah mereka. Bukan untuk membuat keributan. Keinginannya hanya satu, berbicara dengan adiknya.
Tanpa ragu, Zaskia menarik tangan Rania, memisahkannya dari kerumunan yang masih berebut foto dengannya.
Sedangkan Rama hanya terpaku di tempat, tetap meladeni para penggemarnya.
Tidak kasar, tidak pula terburu-buru, Zaskia membawa Rania keluar dari keramaian.
“Lepas ih, Kak Kia.” Rania berusaha melepaskan lengannya tepat ketika mereka berhenti di samping supermarket itu. “Kakak mau apa sih? Ngapain tarik dan bawa aku ke sini?” lanjutnya dengan nada kesal.
Mata Zaskia tetap teduh. Ia berdiam sejenak sebelum menjawab, mengatur napas agar tidak ada suara tinggi yang terdengar. Tangannya masih menahan lengan Rania dengan lembut.
“Apa benar Rama itu calon suami kamu?”
Alis Rania bergerak tipis, nyaris tak terlihat. Pandangannya berpaling, tidak lagi ke arah Zaskia.
“Benar,” jawabnya singkat.
“Harus dengan kakak tahu dari mulut orang lain?”
Ucapan Zaskia membuat Rania menatapnya. Ada rasa bersalah di sana, tapi tidak cukup untuk membuatnya menarik kembali ucapannya.
“Karena kakak pasti tidak akan setuju,” jawab Rania tanpa pertimbangan.
Zaskia menghela napas dalam, lalu melepaskan genggaman di lengan Rania dengan lembut.
Ada kebenaran dalam ucapan itu.
“Aku ingin sekali marah, tapi tidak bisa,” ucap Zaskia pelan. “Karena kakak cuma mau kamu bahagia. Kalau memang harus dengan dia...tidak apa.”
“Dari jawaban Kak Kia, memang sudah benar keputusanku tidak memberitahu Kak Kia.”
Mendengar itu, Zaskia tidak tahu harus berkata apa lagi. Orang di hadapannya ini—apakah masih adik kecilnya yang dulu lugu dan lucu itu? Tidak. Ia sudah dewasa. Seseorang yang mampu menentukan hidupnya sendiri. Di hadapannya kini berdiri seorang model terkenal, yang terbiasa menjaga citra dan imagenya.
“Kamu masih marah sama Kak Kia?”
“Tidak...” jawab Zaskia singkat, nadanya tetap tenang, tidak kasar.
Rania melanjutkan, “Aku hanya tidak ingin kakak terlalu mengatur aku.”
Dada Zaskia terasa sesak mendengarnya. Nasihat yang ia berikan tak pernah dimaksudkan sebagai aturan, hanya peringatan dan batasan. Namun Rania melihatnya sebagai sesuatu yang boleh dilanggar kapan saja.
“Kakak hanya ingin menjaga kamu, Ran,” suara Zaskia terdengar berat. “Semoga Rama pilihan yang terbaik buat kamu,” ucapnya, akhirnya pasrah.
“Sayang...” suara itu terdengar dari jarak tiga langkah. Rama sudah berdiri di sana. Mereka berdua menoleh bersamaan.
Rama mendekati mereka, menatap Zaskia sekilas sebelum bertanya, “Siapa dia, sayang?” tangannya menyentuh bahu Rania.
Rania mengulum senyum, lalu mengelus lembut tangan Rama di bahunya.
“Kenalin, Mas. Ini kakak aku. Kak Zaskia.”
Mata Rama dipenuhi tanda tanya. Baru kali ini ia tahu Rania memiliki seorang kakak.
“Sayang, kamu nggak pernah cerita?”
“Bukan nggak, Mas. Tapi belum,” jawab Rania ringan. “Lamaranmu terlalu mendadak waktu itu. Selama kenal, kita juga sibuk kerja. Mana sempat aku cerita banyak hal.”
Zaskia tidak bergerak.
Ia tahu seharusnya mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tidak datang. Dadanya terasa penuh—terlalu penuh, sampai ia tidak tahu harus mengeluarkannya lewat apa. Matanya panas, tapi ia tidak menangis.
Rama kembali menatap Zaskia dan tersenyum ramah. “Salam kenal, Kak. Maaf, saya baru tahu Kakaknya Rania,” ucapnya sambil sedikit menunduk.
Zaskia memaksakan senyum. Hanya agar ia tidak terlihat rapuh, mendengar dan menyaksikan sesuatu yang tak pernah ia inginkan, tapi harus ia terima.
“Tidak apa-apa,” jawabnya pelan. “Kalau begitu, kakak pulang dulu, ya.”
Zaskia menatap Rania dengan kasih sayang, mengelus bahunya, lalu melangkah pergi.
Rama dan Rania membalas dengan anggukan.
“Oh ya, Rama.” Zaskia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh. “Jaga adik saya. Sedikit saja air matanya menetes karena kamu, orang pertama yang berdiri di depannya adalah saya—kakaknya.”
Di tengah langkahnya, Zaskia teringat pesan terakhir dari Revan yang belum sempat ia balas.