George Zionathan. Pria muda yang berusia 27 tahun itu, di kenal sebagai pemuda lemah, cacat dan tidak berguna.
Namun siapa sangka jika orang yang mereka anggap tidak berguna itu adalah ketua salah satu organisasi terbesar di New York. Black wolf adalah nama klan George, dia menjalani dua peran sekaligus, menjadi ketua klan dan CEO di perusahaan Ayahnya.
George menutup diri dan tidak ingin melakukan kencan buta yang sering kali Arsen siapkan. Alasannya George sudah memiliki gadis yang di cintai.
Hidup dalam penyesalan memanglah tidak mudah, George pernah membuat seseorang gadis masuk ke Rumah Sakit Jiwa hanya untuk memenuhi permintaan Nayara, gadis yang dia cintai.
Nafla Alexandria, 20 tahun. Putri Sah dari keluarga Alexandria. Setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa di paksa menjadi pengganti kakaknya menikah dengan putra sulung Arsen Zionathan.
George tetap menikahi Nafla meskipun tahu wanita itu gila, dia hanya ingin menebus kesalahannya di masalalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 IGTG
“George, bisakah aku tidak ikut?"
George menggelengkan kepalanya. “Kau harus menemaniku, Nafla."
Nafla menghela nafas panjang. “Aku... "
“Bersiaplah, lima belas menit lagi kita akan pergi." George tidak menerima penolakan.
Acara malam ini sangat penting, di hadiri para ketua Mafia dari berbagai negara. Mereka yang memiliki pasangan tentu saja akan membawa istrinya.
Selain itu, ini pertama kalinya George datang dengan wajah aslinya dan tanpa kursi roda. akan ada banyak hal menarik di acara malam ini.
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, Nafla keluar menuruni anak tangga. Mendengar suara heels, George menoleh.
Nafla setiap harinya mampu membuatnya jatuh cinta dan terpana akan kecantikannya. Menggunakan dres panjang tanpa lengan dengan belahan sampai ke paha, rambut yang di biarkan terurai menambah kadar kecantikan dan juga keseksian wanita tersebut.
George menatap dalam-dalam, betapa indahnya wanita di hadapannya, Nafla nyaris sempurna untuk ukuran manusia biasa, namun siapa sangka di balik wajah cantik itu, Nafla memiliki jiwa yang sebelas dua belas dengan Psikopat.
George meraih pinggang ramping istrinya. “Cantik." Tidak lupa membumbui dengan kecupan singkat di ujung bibir mungil Nafla.
“Aku tau, ayo berangkat." Jawab Nafla.
Di luar sana Max sudah siap menunggu kedatangan Tuannya. Dia berdiri dengan tegak, kala melihat George datang bersama Nafla.
Hal yang paling membosankan adalah ketika melihat George yang sengaja memamerkan kemesraannya. sekuat tenaga Max menahan untuk tidak mengumpat.
Roll-Roysce Sweptiel baru saja tiba di depan gedung yang benar-benar terlihat horor, gelap dan penuh penjagaan ketat, para pengawal dengan senjata lengkap berbaris di tempat masing-masing sesuai dengan klan mereka.
Xavier berlari kecil menghampiri mobil mewah yang di tumpangi George juga Nafla, lalu Xavier membukakan pintu untuk Nafla.
“Aku Tuan mu, Xavier." Ucapnya pelan sembari membenarkan jas mahalnya.
Xavier menganggukkan kepalanya. “Tetapi Anda yang meminta saya untuk melayani Nona Nafla." Jawabnya santai. George berdecak pelan memberikan lirikan tajam.
George meraih tangan Nafla untuk di genggam. “Kau sudah siap?"
Nafla tersenyum, dia tau di dalam gedung itu adalah kumpulan pada iblis, tetapi juga bisa memanjakan mata, para ketua Mafia dari negara-negara lain, tentunya tidak akan kalah tampan dan menggoda dari suaminya.
“Ekspresi macam apa yang kau tunjukkan, Nafla?" George menautkan kedua alisnya, melihat sang istri yang senyum-senyum sendiri.
Nafla menggeleng kaku, tentu saja dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya, jika di dalam sana dia akan memanjakan matanya.
Keduanya masuk kedalam gedung, kedatangan keduanya tentu saja menjadi pusat perhatian, terutama Nafla, yang malah ini benar-benar terlihat sangat cantik dan mempesona.
“Sebelah sini, Tuan." Max menunjukkan tempat duduk George dan Nafla di barisan VVIP.
Dan benar sesuai dengan dugaan Nafla, semua terlihat sangat tampan, pahatan rahang yang tegas, mata tajam dengan tatapan yang mengintimidasi lawannya.
“Arah jarum jam 9 dan 6, sesuai perintah Anda, Tuan." Lanjut Max.
George mengalihkan pandangannya keara dua posisi secara bergantian. Mereka tersenyum tipis sebagai sapaan Untuk Tuan nya.
Di beberapa titik sudah tersebar anak buahnya, waspada itu perlu, terlebih di dalam gedung ini terdapat kumpulan iblis berwujud manusia.
“Astaga.. Apakah mereka benar-benar manusia? di Rumah Sakit Jiwa tidak ada yang tampan, kecuali.. "
Nafla menggantung kalimatnya kala melihat seorang pria yang sangat-sangat familiar.
“Jackson?" Gumamnya.
Meskipun sangat pelan, George masih bisa mendengarnya. Dan melihat kearah pria yang kini berjalan kearah mereka sembari tersenyum lebar.
“Kau mengenalnya?" Tanya George
Nafla menggelengkan kepalanya, dia tidak begitu yakin, tetapi wajah itu tidak asing baginya.
George melirik istrinya. “Kondisikan matamu Nafla, sebelum aku mencongkelnya." Nafla hanya memutar bola matanya malas.
Max dan Xavier berdiri tepat di belakang Tuan masing-masing, keduanya sesekali saling melirik, seperti akan terjadi sesuatu setelah acara ini.
“Tuan George?" sapa pria tersebut. Nafla mendongak guna melihat wajah yang tidak kalah tampannya dari sang suami.
Wanita cantik itu mengerutkan kedua alisnya, seakan mengingat-ingat kembali siapa pria yang sangat familiar itu.
“Jackson?" Pria tersebut segera mengangguk cepat.
“Lama tidak bertemu Tuan? Bagaimana pencarian Anda, apakah sudah ada perkembangan.. "
George meraih pinggang istrinya dan menariknya, sehingga tubuh Nafla semakin menempel padanya. Namun tatapan tajam George tertuju pada Jackson.
Pandangan Jackson teralih pada Nafla yang menatapnya. Pria itu salah tingkah dan..
“Kau Jackson?" Nafla menyingkirkan tangan kekar suaminya dari pinggang ramping nya.
Nafla terkekeh pelan. “Kalian berdua saling mengenal?"
Jackson terpaku setelah dia mengamati wajah Nafla dengan begitu jelas. “Naf.. Nafla?" Gumamnya
“Nafla, aku bisa jelaskan setelah kita pulang dari acara ini." Bisik George.
Nafla tertawa sumbang, dia memberikan tatapan kekecewaan pada George, matanya memerah dan mengembun.
“Lama tidak bertemu Jackson, bagaimana kabarmu? ternyata benar kata Felix, kau tidak gila." Ucap Nafla
Jackson menghela nafa panjang. Lalu tersenyum tipis. “Iya, aku sama sepertimu, Nona Nafla." Jawabnya.
Nafla menggeleng pelan. “Kita tidak sama, aku sengaja di masukan ke Rumah Sakit Jiwa, sedangkan kau menjalankan perintah untuk membuatku benar-benar gila."
“Nafla...."
“Kau terus membohongiku George, apakah aku benar-benar tidak layak untuk mendapatkan secuil kebahagiaan saja? apakah aku benar-benar akan kau buat Gila?"
George mengusap wajahnya dengan kasar, dia sendiri tidak menyangka jika akan bertemu dengan Dokter Jackson di acara seperti ini.
“Nafla, patuh lah, kau akan mendapatkan penjelasan setelah kita berada di rumah." George mencoba bersikap biasa saja, lantaran beberapa dari para tamu melihat kearah mejanya. Nafla menghela nafas panjang.
Benar-benar sangat menyakitkan, ketika dirinya mencoba untuk mempercayai George lagi, namun kembali dia menemukan kebenaran.
Pantas saja dia tidak pernah menemukan keberadaan Jackson yang setiap ada kesempatan selalu menyuntikkan cairan yang Nafla sendiri tidak tau apa itu.
Jackson masuk sebagai pasien dan siapa sangka ternyata ada kaitannya dengan suaminya juga.
Sepanjang Acara Nafla hanya diam, beberapa kali menepis tangan George yang hendak menggenggamnya.
Bayangan-bayangan di rumah sakit kembali terbayang, bagaimana Jackson yang menjadi pasien paling berbahaya itu menyakiti Nafla.
Kedua tangan Nafla mengepal erat, wajahnya memerah, tidak dia tidak akan melepaskan siapapun yang sudah menyakitinya.
Detik berikutnya di balik gelang ular berukuran sangat kecil yang melingkar di lengan Nafla, wanita itu perlahan menariknya dan..
“Oh.. Shit!!! Jackson Awas!!"
Srekkkk
Gerakan begitu cepat, bayangan memutar itu menyayat leher Dokter Jackson.
Brugh
Hening untuk beberapa saat sampai terlihat cairan merah mengalir dari leher Dokter Jackson. Sampai akhirnya teriakan histeris para wanita saling bersahutan.
“Ouh...Shit!!.. Nafla."
kau bkn aq kesel ngakak