NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INSIDEN DI PERKEBUNAN

Ritual sarapan berlangsung begitu khidmat. Rendi segera menuju mobil istrinya untuk pergi bekerja.

Laela tampak begitu setia menemani suaminya sampai masuk mobil.

"Hati-hati ya sayang. Aku menantimu di rumah. Ingat, hari ini kita mau berbelanja. Pulangnya tepat waktu ya?" Pesan Laela.

Rendi tersenyum dari dalam mobil. "Pasti sayang. Ya sudah, aku berangkat dulu." Laela mengangguk. Lalu mobil pun perlahan di lajukan meninggalkan pekarangan rumah yang luas itu. Fitri dan Fika, menatap Kakanya dengan wajah masam.

"Hidupnya benar-benar di perlakukan seperti raja. Tapi sama sekali tidak ingat dengan adik-adiknya, yang sengsara di perlakukan seperti Babu. Kakak macam apa itu." Keluh Fitri.

Fika menatap adiknya datar. "Dia bukan Kakak kandung kita. Ya mungkin baik nya dia saat kita masih bersama orangtua saja. Setelahnya ya, sudah beda. Sudahlah, jangan ngeluh terus, ayu cepat beresi mejanya."

"Pokoknya aku harus dapat lelaki kaya. Nggak perduli dia sudah tua. Aku lelah jadi babunya si Lela, yang lupa sama teman." Gerutu Fitri lagi. Fika hanya geleng-gelang kepala menanggapinya.

***

Di dalam perjalanan, Rendi tersenyum lebar. "Haha...! Akhirnya, aku akan segera bertemu Wina, sang gadis tercantik dan termanis yang belum pernah aku temui sebelumnya di muka bumi ini. Huh...! Nggak sabar nih, ketemu sama, si Eneng cantik. Neng, tunggu Mas, ya?"

Gumam Rendi dengan suara menggebu-gebu.

Namun, matanya membola kala melihat motor Ayah mertuanya yang sedang membonceng gadis ayu yang sangat ia kenali siapa dia. Dan ialah gadis incarannya saat ini.

"Bangs*t! Tua bangka juga, masih saja kegatelan.

Berani-beraninya dia membonceng gadisku. Awas saja, akan aku tunjukan siap Rendi sebenarnya." Rendi melajukan mobilnya lebih cepat.

Setelah tepat di belakang motor Ayahnya. Rendi segera membunyikan klakson.

TIIINNN....

TIIINNN....

Sontak Rohmat segera menepikan motornya. Wina turun kemudian di susul dengan, Rohmat.

"Wah, nggak nyangka ketemu Bapak, di jalan. Bukannya kebun yang Bapak urus itu lewat jalurnya di sebelah sana ya, Pak?" Ucap Rendi dengan nada di tekankan.

"Eh iya, Ren. Tadi, pas Bapak mau berangkat, Bapak ketemu sama Wina. Kabarnya dia bekerja di kebun kamu. Bapak liat, kasian dia jalan sendirian, jadi Bapak tawarkan tumpangan. Berbuat baik itu kan wajib, Rendi." Rohmat dengan wajah tegang mencoba menjelaskan.

"Oh, begitu. Ya sudah, biar Wina, bareng saya saja, kan satu arah dengan saya. Bapak berangkat saja duluan. Kasian nanti Bapak kesiangan. Yu Wina, masuk ke mobil saya." Rendi tak memperdulikan Rohmat yang terlihat sangat kesal.

"Nggeh! Ya udah, Pakde. Saya bareng Pak Rendi saja. Makasih ya? Sudah bersedia memberi tumpangan." Wina sengaja cepat masuk. Ujung matanya tetap mengawasi lelaki beda generasi itu. Bibirnya tersenyum miring, kala melihat ketegangan di antara mereka.

Rohmat yang kesal tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mamaksakan tersenyum walau hati berkata jangan.

"O, nggeh! Dek Wina. Monggo..., hati-hati ya?" Ucap

Rohmat.

Rendi menatap mertuanya bengis. "Kami berangkat dulu, Pak. Sampean hati-hati naik motornya. Jangan pake emosi." Ucap Rendi sedikit menyindir, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil pun di lajukan.

"O...! Dasar mantu semprul! Nggak bisa lihat mertuanya bahagia sedikit, lagian sama-sama sudah mempunyai pasangan, apa salahnya sih, ngalah sama mertua. Wongedan!" Dengan hati terbakar cemburu,

Rohmat pun dengan enggan kembali melanjutkan perjalanannya.

Rendi tersenyum bahagia. Akhirnya, yang di nanti-nanti terwujud juga. Di liriknya wanita yang duduk di belakangnya.

"Wina, bagaimana tidurnya semalam?" Tanya Rendi, basa-basi.

Seperti biasa, Wina akan menjawab dengan senyuman dan mata genitnya lebih dulu. "Sangat nyenyak, Mas. Mas sendiri gimana?" Lalu Wina tanpa di perintah berpindah duduk di sebelah, Rendi. Dan dengan sengaja menyentuh bahu rendi, yang saat itu Rendi, sedang menatap ke depan.

Rendi terkesiap, namun ia sangat bahagia mendapat sentuhan yang tak terduga itu. "Eh! Iya, semalam juga, tidur Mas, sangat nyenyak. Habis, mimpi ketemu Dek Wina, sih!" Rendi mengedipkan sebelah matanya, di sela kegugupannya.

Wina pura-pura tersipu. "Benarkah Mas...? Ya ampun, aku kira hanya aku. Fix, kita sehati, Mas." Wina pun bersandar di pundak Rendi, tanpa malu-malu.

Terdengar detak jantung Rendi yang semakin cepat.

Dia terlihat gugup dan salah tingkah.

Hatinya berbunga-bunga. Sungguh bak ketiban durian runtuh. Pikirnya.

"Dek, Wina. Mas udah punya istri, apa dek Wina, nggak keberatan?" Tanya Rendi menegaskan.

"Aku nggak perduli dengan istri, Mas. Yang penting, kita sama-sama mencintai. Bila suatu saat aku yang akan terluka, aku pasrah. Yang penting sekarang, aku bisa menikmati kebersamaanku dengan Mas, dan walau dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebenarnya, aku jatuh cinta pada Mas, sejak pandangan pertama." Wina menundukkan kepalanya pura-pura malu.

Karena tidak focus. Rendi pun menepikan mobilnya.

Dia segera meraih pundak Wina. Lalu ia tatap wajah cantik nan imut itu.

"Dek Wina, jngan khawatir. Walau Mas sudah punya istri. Mas berjanji akan mencintai dan menyayangi Dek Wina, sepenuh hati. Dan Mas, akan selalu memperhatikan Dek Wina. Kapan pun Dek Wina butuhkan Mas, Dek Wina segera hubungi Mas, ya?"

Wina mengangguk pura-pura senang.

Dasar bajingan tengik! Memang pantas kalian semua menderita di tanganku. Lihatlah, Sulis. Tidak akan lama lagi, keluargamu akan bercerai berai. Dan di saat itulah, kau akan merasakan betapa pedihnya kehilangan seluruh keluarga. Sepertiku, dan seperti Abangku yang juga telah kau tiadakan.

Wina menatap kosong ke arah luar saat di peluk oleh, Rendi.

"Udah Yu? Berangkat. Nanti anak buah istri Mas, curiga. Dan Mas bakal kena masalah." Wina mengajak Rendi melajukan mobilnya lagi.

Rendi mengangguk. Sepanjang perjalanan, Rendi terus menatap Wina, bergantian dengan jalanan. Membuat Wina sangat muak. Namun ia berusaha tetap tersenyum.

"Dek, Wina. Nanti Mas mau pulang siang. Mau belanja. Dek Wina mau apa? Nanti Mas belikan." Ucap Rendi membuka perbincangan.

"Nggak usah, Mas. Aku kan sudah punya semuanya." Wina menolak.

"Eh, kok gitu. Kan kamu sekarang pacarnya sodagar kaya. Apa pun boleh minta sama, Mas. Mas belikan baju dan emas ya?" Bujuk Rendi.

Wina pun mengangguk.

"Lain hari, jangan mau di antar oleh mertuaku, Dek Wina. Aku melihat gelagat yang nggak baik pada dirinya. Aku takut, dia berbuat macam-macam sama, Dek Win."

Wina menyunggingkan senyum licik. "Iya Mas. Aku patuh sama kamu." Ucap Wina.

Hati Rendi pun berbunga-bunga. Dia makin merasa di atas awan saat ini.

Hingga sampailah ia di perkebunan. Dia pun membukakan pintu untuk Wina.

Sepasang mata nampak memperhatikan mereka berdua. Matanya yang nyalang, menandakan betapa ia kesal dengan apa yang di lihatnya.

"Dasar gadis penggoda. Awas saja kamu, akan aku laporkan perbuatanmu itu sama, Laela." Gumamnya dengan gigi bergeretak menahan amarah membara di dada.

Ia pun kembali ke perkebunan.

Wina mulai mempersiapkan alat-alat untuk metik daun teh. Hingga seseorang menyenggolnya begitu keras.

"Aww!" Pekik Wina, mengelus lengannya yang terasa sakit.

"Baru saja bekerja, udah sok cantik. Mencoba merayu si Bos. Emang kamu siapa? Kamu nggak tau ya? Dia itu sudah punya istri." Gertak wanita muda itu.

"Maaf Embak. Maksudnya apa ya?" Tanya Wina pura-pura bodoh.

"Halah...! Sok polos kamu. Di kira aku nggak lihat saat kamu turun dari mobilnya Pak Bos? Sok imut sok cantik juga. Pake senyum sambil menatap wajah si Bos. Ih! Memuakkan!" Ucap wanita itu dengan nada ketus.

"Embak! Saya tadi hanya kebetulan. Saat di jalan bertemu dengan Pak Rendi. Lalu di nawarin saya untuk berangkat bareng. Ya saya terima, kan enak nggak jalan kaki. Bos kasih kebaikan, masa kita abaikan, Embak. Kata orang tua mah, nggak baik nolak rezeki. Nah tumpangan si Bos kan, termasuk rezeki kan, Embak." Jawab Wina santai.

Si wanita itu makin kebakaran jenggot. "Kamu! Dasar

pelakor! Kamu harusnya tolak lah! Dia kan udah punya istri! Lagian dia juga statusnya Bos kamu! Nggak level sama kamu, yang statusnya Buruh! Dasar nggak punya otak!" Maki Wanita itu.

"Maaf Embak. Saya hanya menerima tawaran, bukan meminta tumpangan sama si Bos. Apa salah? Bila saya terima? Saya tau kok, status saya Buruh." Wina pura-pura menangis saat melihat kelebat Rendi dari sisi sampingnya.

"Dasar wanita tidak tau diri!"

BRUUK!

Wanita itu mendorong Wina lagi hingga ia jatuh terduduk.

"AWWW!!!" Pekik Wina lagi, sengaja suaranya di keraskan.

Rendi yang sedang mengontrol para pekerja nya pun segera berlari ke arah sumber suara.

"WINA!!! Teriaknya lalu segera menolong wina untuk bangkit.

"Emi! Kamu apain teman kamu hah?!"

Si wanita yang bernama Emi, itu pun terlihat panik ketakutan.

"E..., a-anu, Pak! Sa-saya nggak sengaja nyenggol dia." Ucap Emi bingung mau jawab apa.

"Wina, kamu nggak apa-apa?" Tanya Rendi penuh perhatian. Membuat Emi makin kesal.

Wina menggeleng. "Aku nggak apa-apa, Pak."

"Jujur, Emi! Kamu apakan, Wina!" Tegas Rendi dengan suara berat menahan amarah yang membuncah.

Emi kembali tegang. Dia sendiri yang tau tabiat Rendi, teramat ketakutan. "Be-benar, Pak. Sa-saya nggak sengaja nyenggol tadi. Saya nggak tau, ka-kalau Wina ada di sebelah saya."

"BOHONG!!!" Teriak Rendi kesal karena ia sempat melihat Emi, mendorong Wina.

Emi semakin panik. Terlihat wajahnya sudah memucat mendengar teriakan Rendi.

"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Emi. Kamu mendorong Wina, dengan SE-NGA-JA!!! Masih kamu mengelak! HAH!" Teriaknya membuat seisi pekerja yang ada di sana ketakutan.

"Kamu, dan semua yang ada di sini, kemari untuk bekerja! Bukan untuk mencelakai! Wina, dan yang lainnya pekerja saya, Emi! Bila mereka sakit, maka saya juga yang rugi! Ini malah kamu sengaja menjatuhkan salah satu pekerja saya. Apa kamu mau? Bertanggung jawab mengobati pekerja saya? HAH! JAWAB SAYA... EMI!!!" Bentak Rendi lagi.

Emi terdiam menunduk. Semua orang pun dengan tangan gemetar melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka tahu, kalau Rendi sudah marah, pasti akan merembet kepada mereka bila ada kesalahan mereka walau sekecil apa pun.

Wina menatap Emi dengan senyum miring.

"Pak, udah. Emi pasti nggak sengaja. Sudahlah. Nggak baik buat kesehatan Bapak, kalau marah-marah begini." Rendi mulai menurunkan amarahnya mendengar suara lembut yang selalu membuat hatinya bergetar.

"Emi, lain kali hati-hati ya? Maaf karena suaraku hingga membuat kegaduhan." Ucap Wina lagi. Emi masih menunduk. Ia takut kalau mengangkat kepala, Rendi akan marah lagi kepadanya. Dia benar-benar merasa bersalah.

Harusnya ia labrak wanita ini di luar pekerjaan. Pikirnya.

"Kamu memang wanita berhati mulia, Wina." Puji Rendi tulus.

"Dan kamu, Emi. Untung orang yang kamu jatuhkan itu, wanita seperti Wina, yang baik hati. Coba kalau orang lain, kamu pasti sudah di minta di keluarkan dari pekerjaanmu. Lain kali, kerja pakai tenaga dan otak. Biar sempurna, nggak kayak tadi, ngasal saja! Ya sudah! Kerja baik-baik kalian. Aku ke pos dulu." Rendi berbalik sambil melempar kedipan mata ke Wina. Wina pun membalas dengan senyuman. Membuat Rendi hendak pingsan saja mendapat senyuman termanis dari sang pujaan hati.

Wina lalu menatap Emi, dengan tatapan kemenangan.

Tanpa berkata apa pun, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Dasar wanita tak tau diri! Awas saja kamu. Tunggu gilirannya. Kamu pasti akan mampus!" Ancam Emi dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar oleh Wina saja.

Wina memiringkan bibirnya.

"Mari kita lihat, kamu, atau aku." Wina menatap Emi, dengan penuh intimidasi.

Tak di pungkiri, Emi agak takut melihat senyuman aneh tersebut. Namun ia abaikan. Ia pun membalas dengan. Tatapan mencemo'oh, lalu pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!