NovelToon NovelToon
Love, On Pause

Love, On Pause

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Nisa Amara

Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.

update setiap hari (kalo gak ada halangan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Orang yang berdiri di depannya ternyata seorang wanita asing, Jovita bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya.

“Buah kita kayaknya ketuker. Punya saya dua kilo,” katanya ramah.

Jovita menoleh ke troli, menatap apel yang teronggok di sana. “Ah, iya. Maaf, saya salah ambil,” ujarnya cepat. Mereka pun saling menukar kantong apel itu.

Setelah itu, Jovita kembali mendorong trolinya, menyusuri rak demi rak. Dan seperti refleks, ia kembali menoleh. Masih berharap Devan muncul.

Tapi hingga ia selesai berbelanja, tak ada tanda-tanda Devan. Tidak ada bayangan tubuhnya, tidak ada suara khasnya, tidak ada tatapannya.

Jovita menghela napas panjang. “Kenapa aku menunggunya? Dia gak bakal dateng…” gumamnya lirih, seperti menegur dirinya sendiri.

Begitu keluar supermarket, langit sudah gelap. Jovita berdiri di lobi, menunggu taksi. Atau… mungkin sebenarnya masih menunggu Devan.

Beberapa taksi berhenti dan menurunkan penumpang tepat di depan matanya, tapi Jovita tetap tidak bergerak. Setiap ada mobil lain masuk ke area parkir, ia menoleh cepat, sekilas penuh harapan. Namun begitu melihat plat nomornya yang asing, bahunya kembali merosot, kecewa merayap perlahan.

Akhirnya, ketika taksi berikutnya berhenti dan penumpangnya turun, Jovita menyadari ia tak bisa menunggu lebih lama. Ia masuk ke mobil itu, menutup pintu, dan menyerah pada kenyataan bahwa Devan memang tidak akan datang.

Begitu tiba di apartemen, Jovita langsung masuk dengan tergesa. Devan tidak terlihat di ruang tamu.

"Dia pergi?" pikirnya.

Ada sedikit rasa lega atau mungkin berharap, bahwa Devan keluar untuk menjemputnya.

Namun pintu kamar Devan tiba-tiba terbuka. Jovita menoleh… dan kecewa seketika. Devan ada di sana. Tidak pergi ke mana-mana.

“Aku beli makan. Ayo makan,” katanya pelan sambil mengangkat kantong belanjaan.

“Aku udah makan,” jawab Devan singkat. Ia berjalan tanpa menatapnya, lalu mengisi mangkuk makan Brownie.

Jovita hanya berdiri mematung, perutnya mendadak terasa kosong meski tadi ia lapar. Ia menuju dapur, mengeluarkan satu per satu belanjaan dari kantong. Ruangan yang biasanya hangat terasa berbeda, dingin, sunyi, penuh jarak.

Sesekali matanya melirik Devan yang duduk di ruang tamu, menatap laptopnya tanpa ekspresi. Atau… pura-pura fokus agar tidak harus bicara dengannya.

Jovita mencuci apel yang tadi dibelinya. “Kamu mau apel? Aku beli karena lagi ada…”

“Gak usah,” potong Devan cepat, nadanya datar, dingin.

Jovita langsung terdiam. Senyum tipis terbit di bibirnya, meski terasa lebih seperti menahan luka. Ia menaruh apel itu kembali dan memasukkannya ke kulkas.

Setelah selesai merapikan semuanya, ia menuju kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat menatap Devan, menunggu… siapa tahu pria itu berbicara, atau sekadar menoleh. Tapi Devan tetap menatap layar, seperti tak sadar Jovita ada di sana.

Jovita masuk kamar, melempar tas ke kasur, lalu duduk dengan kesal. “Ada apa dengannya? Bibirnya sariawan? Sampe gak bisa ngomong?” gerutunya, frustasi.

Di luar, Devan menyandarkan tubuhnya di sofa, menghela napas panjang. Mendiamkan Jovita seharian ternyata lebih melelahkan dari yang ia kira. Tapi rasa cemburu itu membuat dadanya masih panas setiap kali ia teringat kejadian pagi tadi.

Ia bangkit, berjalan ke dapur sekadar mengambil minum. Pandangannya jatuh pada plastik belanjaan Jovita, makanan yang belum disentuh.

“Dia gak makan? Kenapa cuma beli…” gumamnya lirih. Ada nada kesal, tapi juga terselip kekhawatiran.

Namun ia tetap diam. Tidak menghampiri. Hanya berdiri sebentar, lalu kembali ke ruang tamu, membiarkan jarak itu tetap ada di antara mereka.

Jovita terbaring gelisah di atas kasurnya. Ia sudah memejamkan mata berkali-kali, memutar posisi tidur ke kanan dan kiri, tapi tetap saja rasa kantuk tak kunjung datang.

Dengan frustrasi ia bangkit duduk, menatap pintu kamar yang gelap. “Apa dia beneran marah gara-gara itu?” tanyanya dalam hati.

Ia sempat turun dari kasur, ingin langsung menanyakannya. Namun baru satu langkah, kakinya terhenti.

“Hhh… kenapa dia marah? Apa haknya marah?” gumamnya pelan, bingung sendiri. Setelah beberapa detik mematung, ia menyerah dan kembali naik ke kasur.

“Terserah. Buat apa aku peduli,” katanya, meski nadanya tidak meyakinkan. Lampu kamar ia matikan.

Tengah malam, Jovita terbangun lagi. Dadanya terasa berat oleh rasa tidak tenang yang sejak tadi ia tahan. Ia akhirnya bangun, menarik napas panjang, lalu membuka pintu kamar.

Devan masih duduk di ruang tengah. Matanya terlihat lelah, tapi tangannya tetap bekerja. Ketika mendengar pintu terbuka, ia hanya menoleh sekilas ke arah Jovita sebelum kembali fokus pada layar.

“Aku mau ambil minum,” ucap Jovita lirih. Ia berdiri di tempat, seolah menunggu Devan mengeluarkan satu saja komentar. Namun pria itu tetap diam. Dengan langkah pelan, ia menuju dapur.

Beberapa saat kemudian ia kembali, berdiri canggung tidak jauh dari sofa Devan.

“Kamu mau aku temani? Kita bisa nonton film lagi…,” tawarnya pelan.

Devan tidak menghentikan ketikannya. “Aku lagi kerja. Gak liat?” jawabnya datar, dingin, tanpa sekali pun menatap Jovita.

Jovita menatap tumpukan kertas di meja Devan. Kata-kata barusan adalah yang paling menusuk hatinya hari itu. Ia berbalik, berniat kembali ke kamar. Namun sesuatu dalam dirinya menahan langkah itu. Ia putar badan lagi, napasnya berat, dan matanya menatap Devan dengan tajam.

“Devan,” panggilnya, suara tinggi dan tegas.

Devan sedikit tersentak, spontan menoleh.

“Ada apa denganmu? Kenapa kamu mendiamiku seharian?” tanya Jovita. Suaranya bergetar. “Gara-gara kamu suasananya jadi canggung. Aku benci itu.”

Devan memandangnya, seperti tidak percaya ia mendengar kalimat itu. Napasnya terhempas kasar.

“Kamu beneran gak tau?”

“Hm.” Jovita menegakkan bahu. “Aku gak tau salahku. Jadi bilang aja. Jangan mendiamkan aku kayak gini.” Matanya mulai memerah, tapi ia menahan keras-keras agar airnya tidak jatuh.

Devan menatapnya beberapa detik, tatapan yang rumit, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Lalu ia mengalihkan pandangan.

“Gak ada yang salah sama kamu,” ucapnya lirih, seperti sudah terlalu lelah untuk berdebat.

Jovita tertawa pendek, getir. Ia menarik napas, menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya tajam, tapi suaranya pelan.

“Kalau kamu gak mau ngomong, mendingan kita gak usah ngomong lagi sekalian.”

Tanpa menunggu respon, Jovita masuk ke kamar dan menutup pintu itu dengan sedikit hentakan.

Devan mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba kepalanya berdenyut. Entah itu rasa bersalah, kesal, atau campuran semuanya. Dadanya terasa panas. Ia melempar kertas yang tadi ia pegang ke meja, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan, seolah mencoba menetralkan pikiran yang berantakan.

Selama dua hari berturut-turut, suasana antara mereka makin canggung. Jovita tidak lagi bicara pada Devan, bahkan satu kalimat pun tidak keluar. Devan juga memilih diam. Sebenarnya hatinya sudah lebih tenang, ia hanya menunggu Jovita yang masih terlihat marah sejak malam itu.

Pagi ini Devan sedang menyalakan kompor untuk membuat sarapan ketika Jovita keluar dari kamarnya, sudah rapi dan siap pergi bekerja. Ia hanya melirik Devan sekilas, lalu meletakkan gelas di dispenser.

“Dispensernya gak bisa. Harus masak air pakai kompor,” ucap Devan pelan, tanpa menoleh.

Jovita mendecak kecil. Dengan gerakan kesal, ia mengambil panci, mengisinya dengan air, lalu menyalakan kompor lain. Devan memperhatikannya dari samping, melihat jelas betapa emosi masih menguasainya.

Setelah air mendidih, Jovita mematikan kompor dan langsung meraih gagang panci. Namun gagangnya tidak tahan panas. Ia menarik tangannya spontan, dan panci itu terlepas.

Air panas tumpah ke lantai, menyiprat ke kaki Jovita.

“Jovita!” Devan panik. Ia segera menarik Jovita menjauh dari genangan air panas.

Jovita meringis, menahan perih yang menjalar dari kaki sampai jari-jarinya.

Akhirnya hari itu mereka tidak pergi bekerja. Pergelangan kaki Jovita sedikit melepuh, sedangkan seluruh jarinya melepuh parah.

Devan mengompres kakinya dengan air dingin, sementara Jovita merendam kedua tangannya ke dalam air es.

“Pergi kerja aja. Aku bisa sendiri,” ucap Jovita lirih.

“Tanganmu melepuh semua. Gimana mau ngapa-ngapain sendiri?” jawab Devan, nadanya datar, tapi jelas khawatir.

Begitu panasnya mulai mereda, Devan mengambil salep dan mulai mengoleskannya perlahan pada kaki dan tangan Jovita. Ia melakukannya sangat hati-hati, terutama di jari-jarinya, kondisinya benar-benar parah.

Jovita beberapa kali meringis, tapi kemudian ia memandangi Devan yang begitu lembut merawatnya.

“Devan,” panggilnya pelan.

Devan tidak menjawab, hanya terus fokus mengoleskan salep.

“Kamu menyesal menikah sama aku?” tanya Jovita tiba-tiba, suaranya dalam.

Devan terhenti. Ia menatap Jovita perlahan.

Belum sempat ia menjawab, Jovita melanjutkan, “Aku selalu bikin repot. Aku marah, aku teriak… dan sekarang kamu gak kerja karena aku. Aku cuma nambahin bebanmu, kan?”

Devan menarik napas panjang, lalu kembali mengoleskan salep ke kulit Jovita.

“Aku gak mikir gitu,” jawabnya lirih.

Jovita menunduk sebentar, lalu berkata lebih pelan, “Kenapa kamu melakukan semua ini? Aku gak bisa ngasih kamu apa-apa. Kita juga… menikah tanpa perasaan.”

Devan berhenti lagi, kali ini menatapnya lebih serius.

“Jovita,” panggilnya tegas. Ia menatap mata Jovita dalam-dalam. Namun setelah beberapa detik, ia hanya menghela napas. “Jangan pakai tanganmu dulu. Biarkan sembuh.”

Ia langsung berdiri dan mulai membereskan salep serta perlengkapan lainnya.

Jovita hanya terdiam. “Jangan pakai tangan?” batinnya. Ia menatap jari-jarinya yang melepuh. “Terus… gimana aku bisa hidup tanpa ini?”

To be continued

1
Muhammad Isha
iklan buatmu dek
knovitriana
iklan buatmu
Kisaragi Chika
bagus sih
Ayleen Moonscale
si arum pahit ini jangan lupaaaaa
Ayleen Moonscale
kesel banget👹
Nindi
Hmm jadi penasaran, itu foto siapa Devan
Fairuz
semangat kak jangan lupa mampir yaa
Blueberry Solenne
🔥🔥🔥
Blueberry Solenne
next Thor!
Blueberry Solenne
Tulisannya rapi Thor, lanjut Thor! o iya aku juga baru join di NT udah up sampe 15 Bab mampir yuk kak, aku juga udah follow kamu ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!