Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 CEPAT
Ruangan itu senyap beberapa detik sampai Alisha tersenyum tipis, senyum yang menandakan ia baru saja menemukan ide untuk melancarkan rencananya.
"Bagaimana kalau kita buat Seyna sendiri yang tidak mau menikah?" katanya pelan, tetapi penuh arti.
Reni dan Dirga langsung menoleh hampir bersamaan. Ada secercah harapan di mata mereka.
"Itu… bisa saja," gumam Dirga sambil mengangguk.
"Tapi bagaimana? dengan anak polos dan lugu. Dikasih permen saja dia bisa lupa semuanya."
Reni juga berpikir keras, gelisah mencoba memeluk dirinya sendiri.
"Kita harus punya cara yang bisa membuat dia menolak pernikahan itu. Kalau Seyna sendiri yang tidak mau, Kakek Adikara tidak bisa memaksakan kehendaknya dan kita bisa tetap menjadi penguasa harta keluarga Darma."
Alisha mendekat, mencondongkan tubuh dan berbisik seolah sedang membagikan rahasia besar.
'Besok aku dapat undangan ulang tahun ibunda Amar dan pasti ada keluarga Adikara di sana. Kalau Seyna datang ke sana dan dia dimarahi, dipermalukan, diremehkan dia pasti tidak akan mau masuk keluarga Adikara. Dia pasti akan takut untuk menikah dengan Kael."
Dirga menatap Alisha dengan terkesima, seolah tidak percaya putrinya bisa berpikir sejauh itu.
"Alisha… kamu pintar sekali. Itu ide yang sangat bagus," ucapnya dengan kebanggaan yang sulit disembunyikan.
Reni langsung memeluk Alisha erat-erat, suaranya bergetar oleh rasa lega.
"Kamu penyelamat keluarga ini, nak. Kalau cara ini berhasil, Seyna tetap tinggal di rumah ini… dan kita yang mengatur semua."
Alisha tersenyum puas bukan karena Seyna akan terselamatkan, tapi karena rencana liciknya mulai terbentuk.
"Aku yang akan menjemput Seyna besok. Kita pura-pura baik saja dia pasti mau ikut."
Dirga berdiri, menepuk pundak putrinya dengan bangga.
"Bagus… besok kita lihat apakah Seyna masih bisa jadi calon istri Kael atau justru menangis ketakutan dan tidak mau menikah selamanya."
Reni mengangguk, napasnya lega tapi matanya penuh ambisi. Mereka bertiga saling berpandangan, dan untuk pertama kalinya malam itu, masing-masing tersenyum bukan karena kebahagiaan, tapi karena rencana busuk baru saja dimulai.
"Seperti rencana nona sudah mulai berhasil," ucap Risa lalu ikut duduk di sebelah Seyna.
Seyna segera menoleh dan menatap ke arah Risa dan tersenyum tipis.
"Aku tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi," ucap Seyna.
"Jadi selanjutnya apa yang akan kamu lakukan nona?"tanya Risa.
"Aku akan melawan keluarga Darma yang pasti akan melarangku untuk menikah dengan Kael," ucap Seyna.
"Saya tahu pasti paman dan bibi nona, tidak akan membiarkan anda menikah dan membawa surat wasiat kakek yang dapat membuat paman dan bibi nona tidak dapat masuk ke dunia bisnis lagi."
Seyna hanya tersenyum lalu memeluk Risa dengan lembut. Dalam pelukan itu, Seyna berbisik sangat pelan hanya bisa didengar oleh telinga Risa.
"Terima kasih… untuk semuanya. Jika aku sudah menikah nanti tolong jaga adikku. Jaga dia sampai aku kembali. Aku akan berusaha membawanya pergi dari rumah ini saat Kael sudah benar benar menjadi milikku."
Mata Risa melebar sedikit. Kata-kata itu bukan sekadar rencana itu seperti sumpah yang diucapkan oleh Seyna.
Seyna melanjutkan dengan suara lirih tapi tegas,
"Selama ini aku bertahan hanya karena adikku. Aku akan membebaskan kalian berdua. Dan aku tidak akan berhenti sampai semua orang yang menghancurkan ayah dan ibuku merasakan balasan."
Risa merasakan pelukan itu mengeras sejenak, seolah Seyna menahan ledakan emosi di dalam dirinya.Risa mengangguk pelan lalu membalas pelukan itu.
"Baik nona… saya mengerti. Saya tahu nona akan melakukan apa saja demi adik nona dan demi membalaskan dendam keluarga."
Seyna melepaskan pelukannya perlahan, tetapi senyum kecil masih tertinggal di wajahnya senyum yang tidak polos, melainkan senyum seseorang yang sudah memilih jalannya.
"Semua akan dimulai sebentar lagi, Risa," ucap Seyna, matanya berkilat dingin.
"Mereka tidak akan pernah mengira… bahwa anak bodoh yang mereka hina adalah ancaman terbesar bagi mereka."
Risa hanya menunduk hormat, sepenuhnya mengakui Seyna bukan gadis lemah yang selama ini terlihat.
"Aku akan selalu mendukungmu nona," gumam Risa.
"Seyna…" panggil Alisha dari lantai bawah.
Seyna segera turun dengan langkah kecil, gaun putih sederhananya tampak kontras dengan hotel berbintang yang akan mereka datangi. Tangannya menggenggam erat boneka beruang coklat seolah itu adalah sahabatnya.
"Aku sudah siap, Alisha," ucap Seyna ceria, seperti anak kecil yang hendak pergi jalan-jalan.
Alisha mendengus, wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal. Ia menarik boneka itu dari tangan Seyna dan menatapnya tajam.
"Kau tidak perlu membawa ini ke pesta. Kau mau dipandang aneh?" ketusnya.
Seyna cemberut, bibirnya menggelung ke bawah, matanya membesar seperti anak kecil siap menangis. Tatapan polos dan kecewa itu justru membuat Alisha makin jengkel dan cemas. Ia tidak boleh sampai Seyna ribut atau kembali ke rumah.
"Ya… ya sudah! Bawa saja!" gerutu Alisha sambil memberikan kembali boneka itu.
Detik itu juga, raut Seyna langsung berubah cerah. Senyum polos melebar di wajahnya.
"Terima kasih, Alisha!" ucapnya riang, lalu mengikuti Alisha ke luar rumah dengan langkah kecil penuh semangat.
Mereka masuk ke dalam mobil. Alisha duduk dengan tangan menyilang, jelas gelisah tentang bagaimana malam ini akan berjalan. Sedangkan Seyna memeluk bonekanya sambil menatap keluar jendela tampak seperti gadis yang tidak mengerti apa-apa, padahal pikirannya bekerja tajam merencanakan langkah demi langkah.
Sesampainya di hotel mewah tempat acara ulang tahun ibunda Amar berlangsung, lampu kristal dan hamparan karpet merah menyambut para tamu. Semua wanita tampil dengan gaun elegan, perhiasan berkilauan, dan raut percaya diri.
Alisha segera turun dari mobil dan tanpa menunggu, ia menarik tangan Seyna keras-keras agar cepat masuk ke dalam.
"Ayo! Jangan lambat!" desisnya.
Seyna mengikuti, langkahnya kecil dan bingung, matanya berkeliling menatap seisi lobi hotel seolah baru pertama kali melihat tempat seindah itu. Ia tampak seperti anak kecil yang kewalahan dan itu membuat orang-orang memandangnya dengan heran. Namun di balik sorot matanya yang lugu, Seyna memperhatikan dengan cermat satu hal yaitu Kael belum terlihat.
Ia tidak peduli pesta, tamu undangan, dekorasi, atau bahkan Amar. Ia ke sini untuk mengeksekusi langkah selanjutnya mempercepat pertunangannya dengan Kael dan menjatuhkan keluarga Darma. Alisha semakin mempererat genggaman tangannya di pergelangan Seyna, memastikan Seyna tidak kabur atau membuat tindakan di luar skenarionya sendiri.
"Dengar ya," bisik Alisha dengan senyum palsu di wajah saat mereka memasuki hall utama.
"Setelah ini kau jangan banyak bicara. Ikuti saja aku mengerti?"
Seyna hanya mengangguk polos sambil memeluk boneka, namun matanya mengamati seluruh ruangan layaknya seekor predator yang mengukur siapa yang harus dijatuhkan lebih dulu. Keluarga Adikara, dan Kael baru saja masuk dari pintu samping. Mata Seyna langsung terkunci padanya. Senyuman kecil muncul senyum yang tidak cocok dengan ekspresi anak kecil yang ia tunjukkan.
"Akhirnya dia datang," gumam Seyna.
....
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!