Aira memergoki suaminya selingkuh dengan alasan yang membuat Aira sesak.
Irwan, suaminya selingkuh hanya karena bosan dan tidak mau mempunyai istri gendut sepertinya.
akankah Aira bertahan bersama Irwan atau bangkit dan membalas semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazilla Shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Ingin Bodoh Lagi Karena Cinta
Syifa meronta untuk turun. Badannya pun lebih berisi daripada biasanya, mungkin karena Syifa mendapatkan cinta yang tulus dari Bu Melati dan juga Pak Dani.
"Oma, aku punya kue," ucap Syifa sambil menghampiri Bu Melati.
"Wah, sepertinya lezat sekali. Apa Oma boleh mencobanya?" tanya Bu Melati.
"Tentu boleh dong, Oma. Kita bisa makan sama-sama," jawab Syifa dengan senang.
"Terimakasih anak manis. Kamu bawa ke dalam sana, tunjukan pada Opa. Opa juga pasti mau," ucap Bu Melati pada Syifa.
"Baik, Oma."
Syifa berjalan ke dalam rumah lebih dulu untuk menunjukkan mainannya dan juga kue yang dia bawa pada Pak Dani.
"Assalamualaikum Ma," ucap Aira sambil mencium tangan Bu Melati.
"Walaikumsalam, Sayang. Mama seneng banget melihat kamu yang semakin cantik dan fresh begini. Udah bagus banget kamu nggak terlalu lama terjebak dalam kesedihan," ucap Bu Melati.
"Iya Ma, aku merasa makin bodoh kalau terus aja terjebak dalam kesedihan. Aku harus bisa bangkit dan juga bahagia demi Syifa. Oh iya ini aku bawain kue buat Mama," jawab Aira sambil memberikan kue khusus pada Bu Melati.
"Repot-repot banget sih kamu ini. Tapi makasih banyak lho, Aira. Ayo masuk!" ajak Bu Melati.
Aira dan juga Bu Melati melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Setelah sampai dirumah, ternyata Syifa dan juga Pak Dani sudah mencoba kuenya lebih dulu di ruang keluarga.
"Kamu udah sarapan, Aira? Kalau belum, ayo kita ke meja makan," ajak Bu Melati.
"Udah kok Ma. Kata Miss Zilla, aku harus bisa menahan lapar, jadi makan nasinya dibatasi. Sarapannya makan buah aja," jawab Aira.
"Oh ya? Mama juga baru tau lho. Terus gimana kamu tiap hari kerja? Apa nggak lapar?" tanya Bu Melati sedikit kaget.
"Aku enjoy aja sih, Ma. Awalnya sih emang lemes banget, tapi aku juga punya tekad yang kuat buat kurus kan. Akhirnya jadi terbiasa deh," jawab Aira dengan tersenyum.
Aira benar-benar merasa memiliki keluarga saat mengobrol dengan Bu Melati. Ia sangat bersyukur banget bisa bertemu dengan orang sebaik mereka.
"Pagi Paman," sapa Aira pada Pak Dani.
"Pagi juga, Aira. Ini tadi Syifa maksa Paman buat langsung cobain kue buatan kamu. Enak banget kuenya, kayaknya kamu bakat kalau bikin toko kue," ucap Pak Dani.
"Paman bisa aja. Justru karena hobi masak, jadinya badanku melar begini. Oh ya Syifa, Bunda juga bawain mainan," ucap Aira sambil memberikan paper bag berisi mainan untuk Syifa.
Gajinya dan bonus yang diberikan oleh Damian lumayan dalam menjalankan misi selama seminggu.
"Wah, makasih Bunda," ucap Syifa dengan bahagia sambil menghampiri Aira.
Syifa membuka paper bag itu, dan langsung berbinar melihat mainan baru yang dibelikan oleh Bundanya.
Hati Aira merasa tercubit karena selama ini terlalu meremehkan kebahagiaan Syifa. Beli mainan saja hanya beberapa kali saja dengan alesan hemat.
Syifa mulai sibuk dengan mainannya. Ia melupakan kuenya yang ada di atas sofa saking senangnya mendapatkan mainan baru yang jarang sekali ia dapatkan.
"Makasih banyak ya Paman. Ini semua berkat Paman dan juga Mama," ucap Aira pada Pak Dani dan juga Bu Melati.
Aira tidak akan melihat senyum ceria terbit diwajah anaknya jika bukan karena bantuan dari Pak Dani.
"Sama-sama Aira, kita juga tulus membantumu. Jangan terlalu sungkan begitu, bagaimana pekerjaan kamu di Darma Group? Apa semuanya lancar?" tanya Pak Dani.
Aira mengangguk sambil tersenyum. Ia mulai menceritakan mengenai pekerjaannya dan juga kesehariannya pada Pak Dani dan juga Bu Melati.
"Kamu sangat pekerja keras. Jangan lupa minum vitamin agar kamu tetap sehat," jawab Bu Melati.
"Iya, Ma. Aku pasti akan selalu menjaga kesehatan, agar aku tidak akan mudah tumbang. Oh iya, kenapa Paman bilang Mas Irwan mencariku? Apa ada masalah Paman? Kayaknya dia nggak mungkin menyesal kan?" tanya Aira dengan penasaran.
"Paman kesal dengan tingkah Irwan. Paman sebenarnya ingin minta maaf lebih dulu karena mengambil keputusan tanpa adanya pertimbangan dari kamu lebih dulu, Aira. Jadi Paman sengaja menghubungi beberapa investor disana untuk mendesak Irwan yang sudah membuat perusahaan hampir bangkrut dan kerjasama dengan mereka untuk mencopot Irwan sebagai CEO di Alexander Group," jelas Pak Dani.
"Apa bisa Paman? Mas Irwan cukup licik. Kayaknya nggak mudah buat mereka bisa melengserkan Mas Irwan kan?" tanya Aira penasaran.
Pak Dani memutar rekaman saat meeting. "Irwan hanya diberikan waktu seminggu dan tepat hari selasa, Irwan akan langsung di copot dari kursi CEO."
"Makasih banyak Paman, aku nggak pernah berpikir sejauh itu. Ini benar-benar rencana yang keren, karena Paman bisa menyelamatkan uang perusahaan lebih cepat tanpa aku perlu terjun langsung ke kantor," ucap Aira dengan senang.
"Iya Aira, Paman melakukan ini karena kamu dan juga Syifa. Tapi menurut kamu, siapa yang pantas menjadi CEO disana? Sedangkan kamu sendiri belum siap untuk terjun langsung. Dalam meeting nanti, harus ada yang mereka tunjuk untuk menjadi CEO agar membuat Irwan semakin malu dan tidak bisa mengelak lagi kalau dirinya sudah resmi di pecat," ucap Pak Dani.
"Aku hanya memiliki Om Jon sebagai orang kepercayaanku, Paman. Selain itu, aku nggak pernah tau teman Papa yang bisa di percaya," jawab Aira.
"Biar Paman yang akan menghubungi Jon nanti, kalau kamu setuju, selama beberapa bulan ini Jon yang akan menghandle. Dan kamu harus benar-benar siap terjun ke perusahaan," ucap Pak Dani dengan serius.
Aira menganggukan kepalanya. "Aku nggak ingin mempercayai siapapun lagi, Paman. Aku udah trauma dengan sikap Mas Irwan yang seperti ini. Jadi aku rasa, keputusan ini udah sangat tepat."
"Baiklah kalau emang kamu setuju. Oh iya mengenai rumah, apa kamu tau kalau Irwan dan juga selingkuhannya itu sekarang tinggal dirumah kamu? Sepertinya di meeting kemarin, selingkuhannya itu sedang mual. Mungkin aja dia sedang hamil kan?" tanya Pak Dani.
Pak Dani melihat wajah Aira karena takut jika Aira akan sakit hati atau malah sedih mendengar fakta ini.
"Aku udah tau kalau mereka tinggal disana Paman, dan aku juga tau kalau mereka berdua udah menikah," jawab Aira.
"Apa? Menikah?" tanya Bu Melati kaget.
Aira mengangguk dan tersenyum getir. "Iya, Ma. Mereka menikah dirumah di saat ada mertuaku juga. Sepertinya ibunya Mas Irwan juga mendukung anaknya selingkuh dengan wanita itu."
"Buah emang jatuhnya nggak jauh dari pohonnya. Sialan mereka!" marah Pak Dani.
"Aku sengaja mengantongi bukti agar bisa dijadikan bukti saat aku mengajukan cerai nanti Paman," ucap Aira berusaha tersenyum.
"Kamu luas hati banget sih Aira. Kalau Mama ada diposisi kamu, udah Mama labrak kerumahnya. Terus Mama jambak itu rambutnya biar rontok sekalian," ucap Bu Melati dengan geram.
Aira malah terkekeh mendengar ucapan Bu Melati. "Jadinya malah perang dong, Ma. Aku udah ikhlas malah kalau Mas Irwan sama wanita itu. Daripada aku bersamanya hanya makan hati aja, Ma. Udah cukup kayaknya selama ini aku bodoh karena cinta."
"Hem, bener juga sih. Laki-laki yang baik masih banyak diluaran sana, Mama yakin seratus persen kalau si Irwan nanti pasti bakalan nyesel banget kalau tau kamu udah cantik dan mentereng sebagai CEO," ucap Bu Melati.
"Aira, apa kamu mau mengusir mereka berdua dari rumahmu?" tanya Pak Dani.
Pak Dani sejak tadi tidak ikut nimbrung karena sedang berpikir cara membuat Irwan dan selingkuhannya itu pergi dari rumah Aira.
"Gimana emangnya Pa?" tanya Bu Melati penasaran.
"Papa punya rencana untuk menyewa orang dan membuat surat kuasa palsu kalau rumah kamu udah di jual. Dan pemilik barunya itu nanti akan mengusir mereka semua," ucap Pak Dani mengatakan rencananya.
"Wah, setuju banget Mama, Pa. Tapi sebaiknya surat rumahnya di palsukan juga Pa. Biar yang asli tetap Aira simpan," jawab Bu Melati setuju dengan rencana suaminya.
Bu Melati tidak ingin Aira berpikir kalau dirinya dan suaminya juga ikut mau memanfaatkannya karena ia dan suami membantunya karena tulus.
"Bener. Masalah itu mudah lah untuk di atur nanti," jawab Pak Dani.
"Aku ikut aja deh. Yang penting kedua orang itu nggak tinggal di rumah lagi Paman," sahut Aira.
"Kita lakukan rencana setelah Irwan di pecat. Agar selingkuhannya itu kesal dan murka pada Irwan," ucap Pak Dani.
"Usil banget sih, tapi Mama suka cara Papa. Bagus banget kalau Irwan dan selingkuhannya itu tau dan akhirnya mereka jatuh miskin," ucap Bu Melati sambil terkekeh.
"Ya udah Papa mau keluar dulu, mau mengurus hal lain. Kamu menginaplah disini Aira, agar bisa bermain dengan Syifa. Paman tau, kalau sebenarnya Syifa sangat merindukan kamu," ucap Pak Dani sebelum pergi.
"Iya, Paman. Terimakasih banyak ya Paman atas pengertiannya," jawab Aira.
"Sama-sama, Nak. Paman pasti akan selalu mengusahakan kalian bahagia. Karena paman merasa memiliki tanggung jawab pada Papamu," ucap Pak Dani.
Pak Dani segera menghampiri Syifa, rupanya ia pamit pada Syifa yang sudah dianggapnya sebagai cucunya. Lalu pergi keluar.
mo ngomong apa itu c lisa