Semenjak ibunya meninggal, Sasa memilih untuk pergi mencari kakak perempuannya ke kota. Namun sayang, ia terpaksa bekerja di club malam. Itu semua ia lakukan demi bisa bertemu kakaknya.
hingga pada suatu malam, ia bertemu dengan seorang laki-laki dingin dan menakutkan. Yang memaksanya menjadi istri, untuk memenuhi permintaan orang tua laki-laki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afri Deliana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit
Sasa menunjuk perut wili, lelaki itu menatap arah telunjuk sasa. Wili membuang kasar nafasnya.
"aku kira terjadi sesuatu yang besar sehingga kau dengan mudah berteriak seperti monyet di hutan, ternyata hanya karna hal ini saja? aku benar-benar tidak habis pikir dengan dirimu Sasa"
Sasa tetap terpaku diam di hadapan wili. Wili beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"ohh yaa, cepat siap-siap, jangan sampai kau lama yaa!? Wili melenggang memasuki ruangan penuh air itu.
Sasa mengintip dari balik jemarinya. Ia memastikan jika wili sudah menghilang dari hadapannya.
"Huffff, bikin serangan jantung"
sasa mengelus dadanya. Jantungnya bisa-bisa benar-benar tanggal dari tempatnya jika situasi seperti ini sering terjadi.
Sasa beranjak mengganti pakaiannya. Jika ia belum siap saat wili selesai mandi, itu bisa menjadi masalah besar. Pasalnya iblis itu sudah memperigantinya.
Setelah menyelesaikan beberapa keperluan yang akan dibutuhkan di rumah sakit, Wili beranjak turun terlebih dahulu ke arah basemen apartemen. Ia sudah meneriaki Sasa agar segera bergegas dan menyusul nya turun.
Sasa tampak anggun dengan setelan gaun biru yang membalut tubuhnya. Di tangannya sudah ada kotak bekal dan beberapa barang milik Wili. Sasa bergegas menuruni gedung, melangkah masuk dan menghilang di balik pintu lift yang sepersekian detik langsung menutup rapat.
Apartemen ini memang lebih tinggi dari pada perusahaan tempat ia bekerja, jadi setiap menaiki lift Sasa merasa masih ada rasa takut dan tidak nyaman.
Pintu lift terbuka, Sasa milik ke arah layar monitor lift. Lantai 5, sepertinya ada orang lain yang akan menaiki lift ini. Sasa memperbaiki posisi berdirinya.
Saat lift terbuka, mata Sasa terbuka lebar. Seseorang di depannya juga terlihat kaget.
"Sasa" tentu saja suara itu sangat familiar. Rico melangkah masuk ke arah lift sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tentu saja tidak gatal. Hanya mengurangi rasa gugupnya.
Bertemu dengan Sasa diluar jam kerja memang sangat memacu adrenalin.
Sasa membalas dengan senyum. Ia benar-benar kalang kabut. Bagaimana mungkin Rico juga berada di gedung yang sama dengannya. Bagaimana jika Rico melihat dirinya pergi bersama Wiliam.
"ehhh"
"mass"
Mereka berdua sama-sama ingin memulai pembicaraan. Sasa dan Rico menertawakan diri mereka.
"Kamu duluan deh" Rico mempersilahkan Sasa.
"Mas aja yang dulu" Tidak enak dengan Rico, Sasa mencoba untuk mengalah.
"ahh kamu ini Sa, ohh iya, kok bisa yaa kita ketemu di sini? Kamu sedang apa di sini?" Sasa yang mendapatkan pertanyaan itu merasa bingung untuk memberikan jawaban seperti apa. Tidak mungkin kan jika ia mengatakan kalau dia sekarang tinggal bersama dengan pemilik perusahaan.
"ehhhh itu mass, ada teman, iyaa saya ada temen yang tinggal di sini" Bibir wanita itu terlihat gagap. Semoga saya Rico tidak menaruh rasa curiga kepada nya.
"oooh gitu"
"Mas sendiri sedang apa di sini?"
"oooh itu, saya sedang liat unit baru untuk teman saya"
Sasa hanya membalas dengan anggukan.
Lift berhenti tepat di lantai 2, Rico harus menemui seseorang di sana.
"Mas duluan yaa sa, sampai jumpa" Rico tersenyum dan melangkah meninggalkan Sasa di dalam ruangan kecil itu. Rasanya begitu lega saat Rico tidak ikut turun ke basemen.
Saat Sasa sampai di parkiran basemen, Wili sudah terlihat menggerutu karena Sasa datang terlambat. Sebenarnya tidak begitu lama, hanya telat 5 menit dari waktu yang dipatok oleh Wili.
Sasa bergegas masuk ke dalam mobil keluaran perusahaan ternama Jerman itu.
"Lama sekali kau ini, hanya turun dari sana saja seperti menempuh perjalanan panjang saja"
Sasa hanya mengelus dadanya. Kalau menghadapi Wili, memang butuh banyak kesabaran.
Mobil itu melaju menembus kepadatan ibu kota. 30 menit dalam keheningan, kedua anak manusia itu sampai di halaman sebuah rumah sakit terbesar di negara ini. Wili turun, berjalan terlebih dahulu dan tidak menghiraukan Sasa. Nampaknya ia masih sangat kesal dengan keterlambatannya Sasa beberapa saat yang lalu.
Sasa memacu langkahnya agar bisa menyusul Wili. Tertinggal sedikit saja, ia akan susah untuk menemukan ruangan rawat ibu mertuanya.
Saat mendekati ruangan, Sasa terlihat agak kaget karena di depan pintu ruangan itu sudah banyak bodyguard yang menjaganya. Mereka semua memakai jas hitam dan memiliki ukuran tubuh yang besar dan tegap. Sasa menggelitik ngeri.
Pintu dibuka dan terlihat jelas seorang wanita tua yang terbujur lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya penuh dengan alat bantu dan mesin-mesin yang suaranya memenuhi ruangan itu. Sasa perlahan melangkah. Ia berdiri tepat di belakang tubuh Wili.
Wili mendekat dan mengecup kening ibundanya.
"Maa, you must be strong. Aku benar-benar kangen dengan Omelan mama" Wili merasa sangat lemah jika harus berhadapan dengan ibunya.
Wili menarik tangan Sasa hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung kearah depan.
"Beri salam" Perintah Wili dengan nada dingin.
Sasa lekas mendekat dan mengelus dengan lembut pergelangan wanita tua itu.
"Nyonya, cepatlah sembuh, Aku benar-benar sudah muak dengan anak mu nyonya, tolong aku" Sasa berbisik kearah telinga wanita itu. Tidak terdengar oleh Wili. Pria dingin itu sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sibuk menatap layar pipih di tangannya.
Dengan berat hati aku akan Hiatus menulis di sini, ada beberapa hal yang aku rasa kurang untuk penulis seperti aku. Mohon pengertiannya semua, salam hangat dari aku sebagai author