Kisah ini adalah perjalanan hidup Mia yang disebut sebagai anak haram. Liku dan kerasnya kehidupan, mampu membawanya menjadi wanita yang kuat. Dua kali menikah, dua kali pula menjadi janda. Status janda yang disandang dalam usia remaja semakin membuatnya dicaci dan dihina.
Kegagalannya dalam pernikahan, membuatnya tak punya mimpi untuk bahagia dalam sebuah ikatan pernikahan. Baginya, menikah itu hanya ajang untuk mengabdikan dirinya pada seorang suami dengan imbalan uang.
Akankah Mia menemukan pria yang benar-benar bisa membuatnya merasakan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan muda mau nebeng?
"Danu, kau pungut dimana wanita kampungan itu?" tanya Tuan Ferdinan.
Danu yang masih berkutat dengan laptopnya tahu siapa yang sedang dibicarakan ayahnya. Tapi Danu tidak tahu kekonyolan apa yang diperbuat oleh Mia.
"Pi, dia wanita cerdas. Hanya butuh waktu sebentar, nanti dia akan mudah beradaptasi. Percaya padaku," ucap Danu.
"Aku pusing dengan tingkahnya. Katakan padanya, jangan pernah membuatku kesal atau dia harus keluar dari kantorku!" ucap Tuan Ferdinan dengan penuh emosi dan pergi meninggalkan Danu yang masih menganga.
Danu segera menutup laptopnya dan segera menemui Mia. Danu terkejut saat Mia tak ada di ruangannya. Kemana wanita itu? Apa mungkin dia kabur karena takut oleh Tuan Ferdinan? Kabur kemana dia?
"Mia, kamu dimana?" ucap Danu sedih.
"Tuan muda?" ucap Mia. "Awww," jerit Mia saat kepalanya terkena sudut meja.
"Mia? Apa yang kau lakukan di kolong meja seperti itu?" tanya Danu dengan sangat bingung.
"Aku takut Tuan Besar. Dia tidak ada di sini?" tanya Mia mebgedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangannya.
Danu tak menjawab. Ia menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Mia.
"Kau ada masalah apa dengan papi?" tanya Danu.
Danu menepuk dahinya saat tahu apa yang sudah terjadi antara Mia dengan ayahnya. Pantas saja Tuan Ferdinan begitu marah pada Mia. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Danu segera mengajarkan Mia cara menghidupkan dan mematikan AC. Danu juga mengajarkan banyak hal yang tidak Mia ketahui di kantor itu. Seperti biasa, karena Mia gadis yang cerdas, hanya butuh sekali saja untuk menjelaskan padanya tentang semua itu. Mia langsung mengerti dan bisa.
"Lain kali kalau ada apa-apa panggil aku ya! Ingat, jangan panggil papi. Hubungi papi melalui telepon ini jika ada pertanyaan mengenai berkas saja. Kau mengerti?" tanya Danu.
Mia mengangguk paham dengan apa yang disampaikan oleh Danu. Setelah Danu keluar dari ruangannya Mia melanjutkan pekerjaannya. Karena sudah bisa cara menggunakan remote AC, Mia mengatur AC itu sesuai dengan kebutuhannya. Selama bekerja, entah sudah berapa kali remote AC itu dipencet oleh Mia.
Jam bekerja sudah selesai. Mia merapikan semua berkas dan laptopnya. Saat keluar dari ruangannya Mia melihat ada Tuan Ferdinan. Dengan wajah takut, Mia langsung masuk lagi ke dalam ruangannya. Di balik pintu, Mia memegang dadanya yang terasa hampir copot. Rasa takutnya begitu besar saat melihat sosok Tuan Besar ada di hadapannya. Sementara Tuan Ferdinan nampak mengerutkan dahinya dengan kelakuan Mia.
"Ada apa lagi dengan anak itu?" gumam Tuan Ferdinan.
Namun karena Tuan Ferdinan sedang ada urusan, maka ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan wanita itu. Rasa penasarannya akan terjawab saat ia bertemu dengan Danu.
Setelah cukup lama, Mia membuka pintu ruangannya sedikit demi sedikit. Mengintip dari celah pintu.
"Aman," ucap Mia saat tidak melihat Tuan Besar.
Mia keluar dengan mengendap-ngendap layaknya seorang maling yang takut ketahuan. Matanya sibuk mengedar ke setiap sudut, jaga-jaga kalau Tuan Ferdinan ada di dekatnya.
"Mia, apa yang kau lakukan?" tanya Danu dengan bingung.
"Ah, Tuan muda. Kau hampir saja membuat jantungku mau copot. Tadi aku bertemu dengan Tuan besar," ucap Mia memegang dadanya.
"Kau takut?" tanya Danu.
"Jelas. Tuan muda tidak tahu bagaimana kumis Tuan Besar bergerak-gerak saat kesal padaku," ucap Mia.
Danu menahan tawanya. Mia baru sekali dan sudah trauma berat. Sedangkan dirinya, hampir tiap hari kena omel. Apalagi saat Tuan Ferdinan meminta Danu untuk segera menikah. Kepalanya terasa pusing setiap melihat kumis ayahnya.
"Ya sudah, nanti juga kau akan terbiasa melihat gerakan lincah dari kumis itu," ucap Danu sambil menahan tawanya.
Mia cemberut karena merasa kesal pada Danu. Danu berpikir kalau Mia akan sering kena omel oleh Tuan Besar. Tapi tidak! Mia akan buktikan pada Danu, kalau Mia tidak akan kena omel lagi. Mia tidak akan melakukan kesalahan lagi. Untuk ke depannya Mia berjanji pada dirinya sendiri agar tidak terlalu berhubungan dengan Tuan Besar.
"Mau pulang bareng?" tanya Danu.
"Tuan muda mau nebeng?" tanya Mia.
"Aku menawarkan jasa. Apa kau mau aku antar?" tanya Danu untuk memperjelas ucapannya.
"Oh, aku pikir mau nebeng. Memangnya Tuan muda bawa truk?" tanya Mia.
Danu mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanya Danu.
"Kalau Tuan muda mau mengantarku, bagaimana dengan motor ibu kost? Kalau bawa truk kan bisa sekalian di bawa juga motor ibu kost," jawab Mia dengan entengnya.
Danu menarik napasnya dalam-dalam. Dadanya mulai sesak dengan ocehan Mia. Kepalanya mulai sakit. Maka Danu memutuskan untuk segera pergi dari sana. Berlama-lama dengan Mia, bisa membuat migrainnya kambuh.
"Terserah, aku pulang duluan." Danu melangkah dengan cepat meninggalkan Mia.
"Tidak jadi pulang bareng, Tuan?" teriak Mia.
"Lain kali saja," ucap Danu dengan sangat malas.
Mia masih mematung melihat Danu yang semakin menjauh.
"Dasar orang kaya. Bisanya cuma basa basi saja," gerutu Mia.
Mia berjalan menuju parkiran. Menjalankan motor milik ibu kost yang sudah disewanya untuk satu bulan ke depan. Karena bulan depan, Mia mau membeli motor sendiri. Ya, mungkin gajinya tidak cukup. Tapi masih ada tabungan dari Haji Hamid. Biar Mia cicil setiap gajian.
Mengingat Haji Hamid, Mia tiba-tiba sedih. Kalau saja Haji Hamid tidak menceraikannya, Mia tidak akan sendirian dalam kerasnya kehidupan ibu kota. Tapi Mia tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Mia lebih ingin bersyukur karena berkat Haji Hamid Mia bisa bekerja di kantor. Sama seperti impiannya dulu. Kini Mia sudah bekerja di kantor. Duduk di depan meja laptop dengan pakaian mahal dan bagus. Ya walaupun bosnya galak. Tak apa! Dari pada harus terus-terusan jadi buruh cuci.
Setelah sampai di kostan, Mia segera mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah segar, Mia memakan nasi bungkus yang dibelinya saat di jalan.
Satu bungkus ludes tak tersisa. Padahal saat di kantor, Mia makan cukup banyak. Mia adalah orang yang makan dengan porsi banyak tapi badannya kecil. Mungkin karena walaupun makan banyak, tapi terlalu banyak beban dalam hidupnya.
Saat sudah merebahkan tubuhnya, Mia mencoba menghubungi Haji Hamid. Tak ada. Nomor Haji Hamid sudah tidak aktif sejak mantan suaminya itu keluar dari rumahnya.
"Pak Haji, Mia salah apa sama Pak Haji? Mia mau kita tetap berhubungan baik meskipun sudah tidak ada ikatan pernikahan lagi. Apa Pak Haji malu ya karena Mia sudah jadi janda? Tapi kan Pak Haji juga sudah jadi duda," gumam Mia.
Matanya mulai sembab. Bu Ningsih? Mia ingin menghubungi ibunya untuk melepas rindu. Tapi melihat jam dinding sudah menunjuk ke arah angka 10, Mia mengurungkan niatnya. Bu Ningsih pasti sudah tidur, Mia tidak mau mengganggu istirahat ibunya. Akhirnya Mia berusaha memejamkan matanya agar segera tidur. Mia tidak mau besok kesiangan. Bahaya! Bisa kena omel Tuan kumis. Mia tersenyum geli sendiri saat mengingat kumis Tuan Ferdinan.
#############
Tap likenya... vote seikhlasnya kakak.
Makasihhh..
Gokil author nya 😂