NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Milik Jendral Vampire

Gadis Cantik Milik Jendral Vampire

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Cinta Terlarang / Identitas Tersembunyi / Dunia Lain / Kutukan / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: bbyys

Saat Sora membuka mata, dia terkejut. Dia terbangun di sebuah hutan rindang dan gelap. Ia berjalan berusaha mencari jalan keluar, tapi dia malah melihat sebuah mata berwarna merah di kegelapan. Sora pun berlari menghindarinya.

Disaat Sora sudah mulai kelelahan, dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. "Tolong aku!" tanpa sadar Sora meminta bantuannya.
Pria itu membalikkan badannya, membuat Sora lebih terkejut. Pria itu juga memiliki mata berwarna merah.

Sora mendorongnya menjauh, tapi Pria itu menarik tangannya membuat Sora tidak bisa kabur.

"Lepaskan aku." Sora terus memberontak, tapi pegangan pria itu sangat erat.

"Kau adalah milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbyys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Tunangan Ashley

Monster itu pun jatuh tersungkur. Para ksatria kembali melayangkan ayunan pedangnya. Menggores dan menusukkan ke berbagai bagian.

"Sekarang kau tembakan ke arah kepalanya tepat di dahinya. Itu adalah titik kelemahannya." Pria itu kembali menarik anak panahnya.

Pria ini sangat pandai memanah. Anak panahnya yang di luncurkannya tidak meleset sama sekali. Akhirnya batu setannya terlepas dari tubuh monster itu. Monster itu pun mati dan berubah menjadi tumpukan pasir.

"Berhasil!" ucap pria itu senang. "Ternyata semua perkataan mu benar. Bagaimana kau tahu semua itu?"

"Sudah kubilang, kan. Kau hanya perlu mengikuti perkataanku."

"Darimana kau tahu semua itu?" tanyanya.

"Kalau kau ingin tahu, datanglah ke camp pemburu monster. Aku akan beritahu."

"Aku selalu ingin pergi ke tempat itu. Kau adalah salah satu anggota pasukan pemburu monster?"

"Kau akan tahu jika ke sana." ujar Sora. "Jika kau ingin ke sana. Kau bisa langsung temui Jendral dan katakan kalau kau yang telah menembakkan anak panah itu."

"Jendral tidak akan percaya." la terlihat tak percaya diri. "Kau harus ikut denganku dan ikut menjelaskannya." Pintanya.

"Aku tidak bisa. Mereka akan lebih tidak percaya." timpal Sora.

Mereka berdua menghela nafas. Sora kembali memutar otaknya berusaha mencari solusi.

Sora kembali melihat ke arah Ashley. Dia terkejut dan langsung menurunkan kepalanya. Tapi, sepertinya pandangan Ashley terus tertuju ke arah mereka.

"Jendral akan percaya denganmu. Ingat jangan beritahu kalau aku yang memberitahumu." Sora berusaha meyakinkannya.

"Tidak bisa. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Jendral nantinya?"

Pria itu terus merasa tak percaya diri. Padahal kemampuannya bagus dan harus di manfaatkan.

"Kau bisa bilang karena membaca buku tentang beruang dan karena bentuknya sama jadi kau berfikir mereka mempunyai kelemahan yang sama." Jelas Sora. "Dan aku mohon rahasiakan kalau aku yang memberitahumu. Kalau kau ke camp, kau akan tahu kenapa aku harus merahasiakan ini."

Pria itu memandangi Sora dengan rasa takut dan ragu. "Siapa namamu?"

"Sora. Siapa namamu?" tanya Sora balik.

"Namaku Aster Marlenta. Aku anak kedua count marlenta." timpalnya.

"Baiklah. Aku akan menurutimu." la mengambil nafas panjang dan menenangkan hati.

"Majulah." Sora mendorongnya hingga membuatnya keluar dari semak-semak. Para ksatria memperhatikan keberadaannya. Dengan ragu-ragu Aster berjalan mendekati Ashley. Sora melihat Ashley berkata sesuatu. Tapi dia tidak bisa mendengarnya karena jaraknya terlalu jauh.

Karena tugasnya sudah selesai, Sora beranjak pergi dan kembali ke tempat perlindungan.

Saat dia masuk kedalam, pandangan orang-orang langsung tertuju kepadanya. Sora tidak nyaman dengan tatapan itu. Dia pun berjalan ke pojokan, duduk bersama pelayan lain.

"Darimana saja kau? Kenapa baru tiba disini?" tanya seorang pelayan.

"Aku tadi tersesat dan baru bisa menemukan tempatnya." sahut Sora.

"Aku tidak menyangka akan bertemu monster di tempat seperti ini." Gemetarnya. "Padahal ini adalah tempat yang sudah di atur tingkat keamanannya, tapi malah menjadi tempat berbahaya."

Sora setuju dengannya. Dia juga tidak menyangka tempat ini akan diserang oleh monster juga. Para penyihir itu tidak memperkuat dindingnya dengan benar.

Sora masih bingung dengan metode yang mereka lakukan. Apa mereka tidak menyadari keanehan pada dinding itu.

"Jendral!"

Para wanita itu berkerumun saat pintu terbuka. Mereka melihat Ashley serta Aldrich muncul.

"Jendral!"

"Pangeran!"

Para wanita bangsawan itu langsung mengerubungi mereka berdua memasang wajah sedih berharap mendapatkan perhatian dari keduanya.

"Aku sangat takut sekali." Mereka berbicara dengan suara yang dilembutkan. Sora merasa geli mendengar suara mereka.

"Jangan khawatir semuanya. Monster itu sudah mati." ujar Aldrich menenangkan. "Keadaan sudah aman."

"Sora!" Tiba-tiba Ashley memanggil saat mata mereka bertemu. Sora mengalihkan pandangannya, berpura-pura tak mendengar panggilannya. Dia tidak ingin membuat para wanita itu menjadi iri dan kesal.

"Sora!" Panggilnya lagi. Tapi Sora tidak menyahutinya dan terus memandang ke arah lain.

"Jangan pura-pura tak mendengarku." Tiba-tiba Ashley sudah ada di depan Sora.

Sora melihat sepatu besarnya, ia sedang berdiri di hadapannya. la berjongkok di depannya membuat pandangan mereka sejajar.

"Kenapa kau mengabaikan panggilanku." ucap Ashley dengan nada kesal.

"Itu karena aku tidak ingin membuat para wanita yang mengagumi jendral kesal kepadaku." ucap Sora pelan.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal remeh seperti itu." Lagi-lagi Ashley bersikap masa bodoh seperti itu.

Tapi yang akan kena imbasnya adalah dirinya. Bagaimana caranya untuk menjelaskan kepadanya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ashley.

"Aku baik-baik saja." sahut Sora dengan suara pelan.

Ashley mengerutkan keningnya tak percaya.

"Akh!" Tiba-tiba saja Ashley menarik tangannya. Rasa sakit terasa di genggaman tangannya padahal ia tidak menggenggam tangannya dengan erat. "Lepaskan!" Pinta Sora.

"Kau bilang kau baik-baik saja. Aku hanya menyentuh sedikit tapi kau sudah meringis. Lukanya pasti besar." Geram Ashley.

Ashley menggulung lengan baju Sora, matanya melebar ia terkejut mendapati banyaknya luka memar disepanjang lengan Sora. Ia membuka sedikit rok, luka memar itu juga tampak di kakinya.

"Kau bilang ini hanya luka kecil. Saat ini pasti seluruh tubuhmu memar." Bentak Ashley. la sangat marah.

Sora hanya terdiam, bentakannya itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan.

"Maaf." ucapnya, ia menghela nafas panjang dan menenangkan dirinya. "Ayo obati lukamu." ajaknya, suaranya kembali melembut.

Sora langsung menolak. "Tidak perlu!"

Saat ini para wanita bangsawan itu menatapnya dengan tatapan tajam. Membuatnya tidak nyaman.

"Siapa sebenarnya gadis itu?"

"Aku tidak pernah melihat Jendral melihat wanita dengan tatapan lembut seperti itu."

Semua orang kembali berbisik, bertanya-tanya tentang hubungannya dengan Ashley.

"Apa mungkin mereka memiliki hubungan?"

"Tidak mungkin. Bukankah Jendral sudah bertunangan."

"Ashley!" Tiba-tiba datang seorang wanita cantik berambut pirang dan bermata biru. Tubuhnya langsing dengan kakinya yang jenjang. Kulitnya yang putih seputih susu serta hidung mancungnya. la terlihat seperti boneka.

Pakaian terlihat sangat mewah seperti terbuat dari sutra serta perhiasan indah. Wanita itu datang menghampiri Ashley dan langsung meraih tangannya.

"Ashley, aku sangat takut ..." ucapnya sambil menangis ketakutan. la memeluk Ashley dengan erat.

Sora melihat wanita itu memeluk Ashley dengan erat. Entah mengapa membuat dadanya terasa sakit, perasaannya tidak nyaman.

"Jangan seperti ini, putri." Ashley menarik tangannya, melepaskan pelukan itu. Wajah wanita itu berubah, wajahnya tampak tak senang.

"Monster itu sudah mati. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi." sahut Ashley acuh tak acuh.

Sora baru menyadarinya, nada bicara Ashley saat berbicara dengan wanita itu terasa dingin. Suaranya seperti saat pertama kali dia bertemu dengannya.

Dingin dan tak berperasaan.

"Ayo, obati lukamu." Ashley kembali kepada Sora, ia mengulurkan tangannya. Sora bisa melihat tatapan kesal wanita itu yang mengarah kepadanya.

Sora tak meraih tangan itu dan bangkit sendiri. "Aku bisa meminta yang lain untuk mengobati lukaku. Tidak perlu merepotkan Jendral."

Ashley lagi-lagi mengerutkan dahinya. "Kau tidak memberiku pilihan."

"Apa yang anda lakukan?" Tiba-tiba Ashley menggendong Sora, menggendong di tempat ramai orang yang melihat mereka. Para wanita bangsawan itu terlihat sangat terkejut.

"Turunkan aku." Sora memberontak.

Tapi Ashley tidak mendengarkan, ia

menggendongnya berjalan keluar meninggalkan ruangan.

la berjalan lurus ke arah barat lalu naik ke lantai atas dan masuk kedalam ruangan yang ada di ujung lorong.

Ruangan besar dengan kasur dan sofa besar. Furniture nya sangat lengkap serta ruangannya yang bersih dan terawat. Sepertinya, kamar ini adalah kamar peristirahatan.

Ashley melepaskan tubuh Sora dengan lembut di atas kasur. "Buka bajumu!"

Mata Sora terbuka lebar mendengar ucapan itu. Bisa-bisanya Ashley mengatakan itu dengan santainya.

"Aku akan obati lukamu." Ashley mengeluarkan salep dari saku celananya.

Ia duduk disamping Sora bersiap untuk mengolesi lukanya.

"Siapa wanita itu?" Sora penasaran dengan wanita cantik yang memeluknya.

"Dia adalah putri kerajaan ini. Namanya Adrena Altair."

"Ia terlihat sangat dekat denganmu."

"Itu karena ia adalah tunanganku." Ashley mengatakan itu dengan wajah datarnya. Seperti tidak ada perasaan saat menyebut namanya.

"Tunangan? Lalu kenapa kau malah meninggalkannya dan membawaku. Bagaimana jika ia salah paham?" Khawatir Sora.

"Aku bertunangan dengannya karena perintah dari raja. Kami tidak menjalaninya karena cinta. Adrena tau itu." jawab Ashley santai.

"Tetap saja. Dihadapan semua orang, kau meninggalkan tunanganmu sendiri dan pergi bersamaku." Sora terus terbayang dengan pandangan wanita itu.

"Sudah. Jangan bicarakan hal itu lagi. Aku akan obati lukamu. Bukalah bajumu!" Perintahnya lagi.

Sora dengan ragu-ragu berbalik, membuka bajunya dan menunjukkan luka di punggungnya.

"Luka separah ini kenapa kau diam saja." ucap Ashley dengan suaranya yang gemetar. Sora tidak tahu separah apa lukanya hingga ia bereaksi seperti itu.

Ashley mengolesi salep miliknya. Rasanya perih dan sakit saat ia menyentuh punggungnya, tapi perlahan menjadi dingin karena salepnya. Perlahan rasa sakitnya mereda. la mengolesi punggungnya dengan lembut.

Tiba-tiba tangannya berhenti. "Apa sudah selesai?" tanya Sora. Tapi tidak ada jawaban. Sora mendengar suara nafasnya yang berat "Ashley!" Panggil Sora.

"Ukh ..." Rintih Ashley. Ia memegang bahu Sora dengan erat, lalu menyandarkan kepalanya, hembusan nafasnya terasa di punggungnya.

Gejalanya sama seperti waktu penyerangan monster di kota, saat ia mengobatinya. Tangannya yang terasa panas serta nafasnya yang berat. Efek dari obat waktu itu sepertinya belum menghilang.

"Ashley, sadarlah." Panggil Sora. Sora memberontak, berusaha melepaskan genggaman tangannya. 'Aku harus menjauh darinya.' Pikir Sora.

"Akh!" Ashley meremas kepalanya, pegangan tangannya terlepas. Sora langsung turun dari kasur dan menjauh darinya.

Mata Ashley berubah menjadi merah. la meraung dengan keras sambil memegangi kepalanya yang sakit.

Sora hanya bisa memandanginya tak tahu harus berbuat apa. "Ashley, sadarlah." Sora berteriak, berharap panggilannya ini bisa menyadarkannya.

Raungannya semakin lama semakin pelan. Lama kelamaan gerakan Ashley terhenti. la tak sadarkan diri.

Sora mendekatinya perlahan, melihat apakah ia benar-benar tak sadarkan diri. Sora menarik selimut, menutupi tubuhnya dan menunggu disamping tempat tidur.

"Sora!" Panggil Ashley suaranya terdengar lemah.

"Kau sudah sadar."

"Maaf sudah membuatmu khawatir." Ashley bangun dari tempat tidur, memandanginya dengan tatapan bersalah.

"Sebenarnya, apa yang terjadi? Apakah racunnya belum hilang?" tanya Sora.

"Aku juga tidak mengerti. Aku sudah minum penawar racunnya. Seharusnya racun itu sudah hilang. Tapi hasrat ini tak kunjung hilang." jelas Ashley. la terlihat putus asa.

1
Aksara_Dee
kalau baru pertama biasanya tangan dan bahu jarem
Aksara_Dee
waah perkebunan apel, inget waktu ke malang
Aksara_Dee
lampu otomatis 😅
Aksara_Dee
Nama pacarku disebut ...
Aksara_Dee
sampai sini dulu ya Thor, nanti lanjut lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!