Hara, gadis perfeksionis yang lebih mengedepankan logika daripada perasaan itu baru saja mengalami putus cinta dan memutuskan bahwa dirinya tidak akan menjalin hubungan lagi, karena menurutnya itu melelahkan.
Kama, lelaki yang menganggap bahwa komitmen dalam sebuah hubungan hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh, membuatnya selalu menerapkan friendzone dengan banyak gadis. Dan bertekad tidak akan menjalin hubungan yang serius.
Mereka bertemu dan merasa saling cocok hingga memutuskan bersama dalam ikatan (boy)friendzone. Namun semuanya berubah saat Nael, mantan kekasih Hara memintanya kembali bersama.
Apakah Hara akan tetap dalam (boy)friendzone-nya dengan Kama atau memutuskan kembali pada Nael? Akankah Kama merubah prinsip yang selama ini dia pegang dan memutuskan menjalin hubungan yang serius dengan Hara?Bisakah mereka sama-sama menemukan cinta atau malah berakhir jatuh cinta bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizca Yulianah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
No Drama-Drama
Kama mengeluarkan motor Hara dari area rumah kost tersebut sementara Hara menutup gerbangnya.
"Nggak pake helm bae?" Tanya Kama yang melihat Hara malah menaikkan topi hoodienya.
"Deket ini" Hara menunjuk jalanan dengan dagunya.
"Ntar ketilang polisi loh" Goda Kama sembari menyalakan mesin motornya.
"Saya punya kenalan polisi, nanti bisa minta tolong urusin tilangnya" Jawab Hara kemudian naik ke jok belakang.
Kama yang mendengar jawaban Hara langsung tersenyum sumringah. Tak menyangka Hara bisa juga melontarkan gombalan.
"Siapa tuh kenalannya?" Goda Kama lagi mulai melajukan motornya.
"Pak Rio" Jawaban Hara sukses membuat kupu-kupu yang tadi berterbangan di perut Kama langsung mati begitu saja. Menyisakan rasa dongkol di ulu hatinya.
"Shit" Umpat Kama kesal. "Pegangan bae, gue mau ngebut" Lalu tanpa menunggu Hara dia pun menyentakkan gas motornya, membuatnya melaju dengan cepat.
Setelah keluar dari gapura perumahan, Hara menunjuk ke arah kiri, memberitahukan arah.
Tanpa percakapan lagi, mereka berdua hanya diam.
"Tuh di depan nanti ada tukang jual nasi goreng" Tunjuk Hara lagi.
Kama melihat spanduk penjual nasi goreng di pinggir jalan itu, dan kemudian menghentikan motornya tepat di sebelah gerobaknya.
"Neng Hara" Sapa penjual nasi goreng itu sumringah. "Tumben beli jam segini" tanya penjual nasi goreng itu sambil tangannya sibuk mengaduk sewajan besar nasi.
"Iya pak Jali, lagi ada temen" Jawab Hara sembari menunjuk ke arah Kama dengan dagunya.
"Temen apa temen?" Suara wanita dari balik gerobak itu terdengar ikut menggoda.
"Temen bu Is" Hara mengoreksi kembali.
Kama yang mendengar jawaban Hara langsung memberengut kesal dan pergi begitu saja menuju bangku kayu panjang di samping kiri gerobak.
"Yang biasanya nih neng?" Tanya Pak Jali.
"Saya iya pak, kalau temen ntar dulu saya tanyain" Hara kemudian pergi menuju Kama yang sudah duduk di bangku dengan wajah cemberut.
"Mau apa?" Tanyanya pelan. Kama diam saja tak menjawab.
Hara semakin mendekat dan mengulangi lagi "Mau apa? Nasi goreng atau mie goreng?" Tanyanya.
Kama masih yang masih memberengut kesal itu pun tidak menjawab. Hara menghela napas panjang. Dan memutuskan untuk kembali ke pak Jali, "samain aja pak Jali" Putusnya kemudian karena Kama yang tak juga memberi jawaban.
Hara kembali ke bangku Kama, dan ikut mendudukkan diri di sampingnya. Di warung tenda milik pak Rojali itu terdapat empat bangku panjang dan dua meja panjang. Satu meja dengan dua bangku yang saling berhadapan.
Di meja yang lain, ada sepasang muda mudi yang sepertinya baru saja pulang berkencan, sedangkan di sebelah kiri meja agak jauh, terparkir beberapa motor dengan pengendaranya yang memilih untuk duduk menunggu di atasnya selagi pesanan mereka di buat.
"Tadi saya pesenin nasi goreng" Ucap Hara memberitahukan.
"Hmm" Kama masih saja cemberut. Hara tak ingin meladeninya dan lebih memilih diam saja. Sibuk memandangi jalanan yang meskipun sudah malam tetap saja ramai pengendara.
Mereka berdua diam, tak ada yang ingin memulai pembicaraan.
Tak beberapa lama, bu Is istri dari Pak Jali datang mengantarkan pesanan mereka.
"Makasih bu Is" Hara mendorong piring Kama ke hadapannya, dan kemudian mengambilkan sendok garpu yang tempatnya ada di tengah-tengah meja.
"Nih" Hara meletakkan sendok dan garpu di sisi kanan dan kiri piring Kama. Kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
Kama yang sebenarnya masih kesal itu mau tak mau luluh juga melihat sikap baik hati Hara yang telah menyiapkan makanan miliknya.
"Makasih" Ucap Kama malu-malu.
Hara hanya mengangguk sebagai balasan, tanpa tersenyum.
Hara kemudian berdiri, Kama yang bingung cuma bisa melihatnya pergi. Rupanya dia mengambil botol air mineral yang di tata di meja satunya.
"Nih" Hara kembali mengangsurkan sebotol air mineral ke arah Kama. Dan kemudian membuka miliknya sendiri.
Kama benar-benar bingung dengan Hara, wajahnya datar biasa saja, tanpa ekspresi apapun saat menyiapkan makanan untuknya. Tapi sikapnya sanggup membuat hati Kama luluh dan menghangat. Seperti apa sebenarnya Hara ini?
Dengan canggung Kama menyendok nasi goreng dan memakannya. Begitu juga dengan Hara, tanpa bicara apapun dia sudah melahap nasi gorengnya.
"Gue nggak suka sayurannya" Kama menyodorkan piringnya kepada Hara.
Hara yang tadinya akan menyuapkan nasi goreng berhenti dan menoleh ke arah Kama.
"Tadi di tanyain mau apa diem aja" Keluh Hara pelan.
"Ya udah pesen lagi aja yang nggak pake sayuran" Jawab Kama kembali kesal.
"Buang-buang uang ah" Omel Hara dan kemudian meraih nasi goreng milik Kama. Dengan tekun dia memilih sayuran-sayuran yang terselip di antara butiran nasi dan memindahkannya ke piring miliknya.
Tentu saja hal itu membuat Kama syok setengah mati.
What the hell is she doing?
Kama menahan tangan Hara, "Pesen lagi yang baru kenapa sih" Sungutnya kesal.
"Udah selesai juga" Hara menunjuk piring nasi goreng Kama dengan dagunya. "Nggak banyak kok sayurannya"
Hara melepaskan genggaman tangan Kama dan menyodorkan kembali piring nasi goreng miliknya.
"Lo nggak jijik makan bekas gue?" Tanya Kama tak percaya.
Hara menatapnya bingung dan kemudian baru menyadari apa yang di ucapkan Kama "Oh iya iya" Dia mengangguk-angguk namun tetap saja melanjutkan makannya.
"Kacau!" Desis Kama. Seumur hidup baru kali ini dia bertemu cewek seperti Hara, sikapnya, sifatnya, membuat Kama tak henti-hentinya syok dengan hal baru.
Kama memandangi Hara lekat-lekat, Hara terlihat sama sekali tidak terganggu dengan sayuran dari piring Kama, dia memakannya dengan santai.
Oh God!! I want her
"Loh nggak di abisin? Katanya tadi laper?" Tanya Hara demi melihat piring Kama yang masih tersisa separuhnya.
"Kenyang liatin lo makan" Jawab Kama mengerlingkan matanya kepada Hara.
Hara memincingkan matanya, "Mana ada yang begitu" Cibirnya tak termakan gombalan Kama.
Kama tidak berbohong kali ini, rongga perutnya kenyang terisi kupu-kupu yang sekarang sedang menggepakkan sayapnya, bahkan rasa kenyang itu sampai memenuhi rongga dadanya juga.
"Udah berarti ini ya?" Tawar Hara sekali lagi. Dan Kama mengangguk sebagai jawaban. "Ya udah kalau gitu, yuk" Ajak Hara dan kemudian berdiri.
Kama menahan tangan Hara, "Kemana?" Tanyanya linglung.
"Pulang lah" Jawab Hara bingung, memangnya mau kemana lagi mereka malam-malam begini.
"Gue masih pengen disini bae" Kama kembali memasang wajah memelasnya untuk merayu Hara.
"Ngapain disini?" Tanya Hara bingung.
Kama tidak bisa menjawab, yang Kama inginkan saat ini cuma bersama dengan Hara di manapun itu. Kama mengedikkan bahunya, tak tahu harus bagaimana.
Hara kembali duduk di samping Kama, menghela napas panjang dan menatapnya.
"Ini udah malam pak, saya mau tidur" Jelas Hara berusaha menahan emosinya. Dia paling tidak suka jadwalnya berantakan. Dan demi Kama kali ini, dia sudah melanggar banyak sekali jadwal, meskipun ada Edward juga yang turut andil mengacaukan jadwalnya.
"Kan besok masih weekend" Kama menyandarkan dagunya ke pundak Kama.
"No drama, right?" Hara mengucapkan mantra yang dia yakini akan membuat Kama tak bisa mengelak lagi.
"Ck" Kama mendecak sebal. Jika bisa mengulang waktu Kama tidak akan mengucapkan kata-kata itu.
Kata-kata yang sekarang di jadikan Hara senjata untuk melawannya.
"Ya udah sepuluh menit lagi" Decak Kama mengajukan syarat.
"Lima menit atau saya tinggal" Hara menolak dengan tegas.
"Iya iya" Kama semakin memberengut kesal namun tangannya melingkari pinggang Hara dan memeluknya erat.
"Wangi shampoo lo apa sih bae?" Kama memulai obrolan, dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Hara. "Sekalian sabunnya" Lanjutnya kemudian
"Buat apaan?" Tanya Hara curiga.
"Ya buat di pake lah, namanya shampoo sama sabun mau di apain kalau nggak di pake keramas sama mandi" Jawab Kama beralasan, andai Hara tau niatnya yang sebenarnya, sudah pasti Hara tidak akan mau memberitahunya.
Kama ingin mengisi seluruh apartemennya dengan wangi tubuh Hara, agar kemana pun Kama melangkah dia merasa Hara selalu bersamanya. Baik saat terjaga atau terlelap.
"Nanti aja saya kasih tau, harus lihat labelnya dulu" Ucap Hara sembari melihat jam tangannya. "Udah lima menit nih, yuk" Hara melepaskan pelukan tangan Kama dan berdiri.
"Split bill-nya nanti aja atau langsung?" Tanya Hara yang membuat Kama kembali jengah.
Masalah prinsip ini sepertinya akan terus menghantui hubungan mereka.
"Nanti aja" Kama berdiri dengan kesal dan kemudian berjalan menuju bu Is.
"Berapa bu?" Tanyanya sopan.
"Empat puluh rebu nak" Jawab Bu Is yang tengah sibuk membungkus nasi goreng.
Kama mengeluarkan dompetnya, dan mengambil selembar uang lima puluh ribu.
"Nggak usah kembali buk" Ucap Kama sopan.
"Beneran nih?" Pekik Bu Is tidak percaya. "Ya ampun neng Hara pacarnya baik banget" Seru Bu Is kepada Hara yang masih berdiri di tempatnya. "Udah ganteng, baik lagi, saya doain langgeng deh neng Hara" Lanjutnya.
Kama yang tentu saja girang mendapat ucapan begitu langsung berujar "Tapi dia tuh cuek banget buk sama saya"
"Aduh neng jangan cuek-cuek sama orang ganteng begini, ntar di patok ayam loh pacarnya" Seru Bu Is dengan lantang.
"Kalau saya masih muda, udah saya rebut nih pacar neng Hara" Lanjutnya.
Hara hanya bisa tersenyum sopan dan memilih tak menanggapi celotehan Bu Is.
"Sering-sering ke sini neng" Pak Jali ikut menimpali. Hara mengangguk sebagai jawaban.
"Yuk Pak Jali Bu Is, Hara duluan" Pamit Hara menganggukkan kepala dan berjalan menuju motornya. Di susul kemudian Kama yang langsung naik dan menyalakan mesinnya.
"Ati-ati neng Hara" Suara teriakan Pak Jali masih terdengar kala motor yang di kendarai Kama pergi menjauh.
Perjalanan menuju tempat kost Hara tidak memakan waktu yang lama. Hanya lima menit saja, dan itu membuat Kama semakin memberengut kesal.
"Pergi kemana lagi gitu yuk" Ajak Kama saat Hara telah membuka gerbang dan sedikit menyingkir memberi jalan pada Kama agar dia bisa memasukkan motornya.
"Udah malem pak, saya ngantuk beneran" Jawab Hara mulai kesal.
"Baru juga jam sebelas" Cebik Kama.
"Pak Kama" Hara mendekati Kama, memandangnya lekat-lekat dan memasang poker face andalannya. "Saya paling nggak suka jadwal saya berantakan, if you still make a scene, i'm done with you. Keep my word! (Kalau kamu terus berdrama, aku sudah nggak mau tau kamu lagi, percaya deh!)
"Ok ok, i got it (iya iya ngerti)" Kama mencebik kesal. Seharian ini dia semakin sering uring-uringan kalau itu berhubungan dengan Hara.
"Oh ya" Hara sudah terlihat normal lagi. "Nanti bill-nya mau cash atau transfer aja" Tanya Hara santai.
"Kenapa sih..." Baru saja Kama akan mendebat Hara, namun Hara buru-buru memotongnya
"No drama, right?" Ancam Hara lagi.
"Bill-nya gantian lo yang traktir aja besok" Pungkasnya tak ingin kalah.
Hara menghela napas panjang, apanya yang no drama, yang ada seharian ini tenaganya habis untuk berdebat.
"Ok deh, tapi tunggu saya hubungi ya, saya harus ngatur ulang jadwalnya" Jawab Hara menyerah, tak ingin memperpanjang masalah bill dan ingin segera tidur.
"Siap Ndan" Kama melakukan sikap hormat lagi.
"Ya udah saya masukin sendiri aja motornya" Hara berniat akan meraih motornya, namun Kama menepisnya dan langsung melajukan motor Hara masuk.
Setelah terparkir dengan benar, Kama mematikan mesinnya dan mencabut kuncinya.
"Nih bae" Kama mengulurkan kunci motor Hara.
Hara memincingkan matanya, ragu dengan sikap Kama yang tanpa drama kali ini.
"Segitu nggak percayanya sih" Kama meraih tangan Hara dan memberikan kuncinya tanpa embel-embel tapi atau syarat.
"Makasih" Ucap Hara lega. Namun detik berikutnya Kama sudah menariknya ke dalam pelukan.
"Night night bae" Bisik Kama layaknya sedang siaran ASMR.
"Night" Balas Hara pelan.
...****************...
Nathanael, yang di panggil Nael itu sedang duduk sembari menghisap rokok di teras rumahnya.
Ini adalah batang ketiganya sejak dua jam yang lalu. Pikirannya sedang kalut saat ini. Apa lagi kalau bukan memikirkan tentang Hara.
Dia ingat moment pertama kali bertemu dengan Hara, gadis cantik dan cerdas itu langsung membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
Tak butuh waktu lama, Nael pun tau kalau ternyata Hara juga menaruh rasa padanya. Gadis sederhana dan perfeksionis itu benar-benar membuatnya jatuh cinta.
"Cewek lo cantik banget" Begitulah kiranya respon teman-teman kantornya saat melihat foto Hara yang dia jadikan wallpaper di ponselnya.
"Jaman sekarang susah cari cewek yang adem ayem modelan cewek lo" Sudah tak terhitung berapa ungkapan rasa iri dari teman-temannya saat mengetahui bahwa Nael tidak banyak melalui drama-drama percintaan beserta siklusnya, mesra-bertengkar-putus-nyambung-baikan-mesra-bertengkar-putus-nyambung-lalu baikan lagi, seperti lingkaran setan yang tak ada ujungnya.
Ya, Hara adalah pacar terbaiknya selama dua tahun ini, sabar, penuh pengertian, perhatian, tidak neko-neko, sederhana, cantik, cerdas, kalau Nael di suruh menyebutkan semua kelebihan Hara, sudah pasti akan membutuhkan waktu seharian.
Tapi justru itulah masalahnya, Hara terlalu, sangat sangat sangat terlalu sempurna untuknya. Sampai-sampai membuatnya merasa insecure.
Di dorong rasa rendah diri membuat Nael terus merasa tak aman dengan hubungan mereka.
Membuatnya terlalu overthinking yang berujung pada seringnya mereka cekcok karena masalah sepele.
Nael sepenuhnya sadar akan hal itu, bahwa mereka selalu bertengkar karena hal yang sepele, dan Hara selalu saja menjadi pihak yang mengalah dan memahami Nael.
Tapi apa mau di kata, tembok tinggi bernama agama menjadi penghalang yang nyata yang tidak akan bisa di tembus karena masing-masing dari mereka tidak akan mengalah.
"Anjir lah cewek gue, minta anter jemput terus, iya kalau searah, ini lawan arah, mana macet pula" Salah seorang teman kantornya, Dicky, mengeluhkan pacarnya saat makan siang di kantin.
"Lagian sih lo nyari cewek cantik, ya jelas banyak maunya lah" Teman Nael yang lain, Bima, ikut berkomentar.
"Apaan cantik, masih cantikan cewek Nael tuh" Dicky menyangkal opini Bima. "Dan dia nggak banyak maunya"
"Wah parah lo, pacar sendiri di bandingin sama pacar temen" Bima menggebrak meja pelan. "El lo harus hati-hati nih sama modelan cumi begini, baek-baek jagain si Hara, ntar di embat sama dia" Bima menepuk pundak Nael yang sedari tadi hanya senyum-senyum mendengar curhatan temannya.
"Nih bocah malah senyum-senyum" Dicky berpura-pura kesal. "Seneng banget lo lihat temen sendiri menderita. Lo mah enak Hara kayaknya nggak pernah ngerepotin lo"
"Iya lagi" Bima ikut menimpali. "Perasaan tiap gue ajak nongkrong lo selalu gas, kapan ngedate-nya sama Hara?"
"Nah itu dia bro" Dicky menggebrak meja penuh semangat. "Gue nih hari minggu nongkrong di rumah dia main PS, beeeuuuhhh..."
"Apaan?" Kejar Bima antusias.
"Dia kagak ada sama sekali di gangguin Hara. Lah gue, baru juga sampek di rumah dia" Dicky menunjuk ke arah Nael "Nih hape" Kali ini mengangkat ponselnya, "udah masuk kali dua puluh wa dari cewek gue, semua isinya protes katanya gue lebih mentingin game daripada dia. Suek lah, padahal dari tujuh hari kalender tuh, cuma minggu doang gue pengen napas, itu aja masih di recokin" Cerita Dicky panjang lebar, seperti bendungan yang sudah jebol.
Semua kata-kata pujian tentang Hara yang masuk ke telinga Nael seolah menjadi sebuah peringatan, bahwasanya kalau dia tidak cukup baik untuk Hara, maka akan datang orang yang merebut posisinya. Menggantikan semua keberuntungan seumur hidup yang dia dapatkan.
"Kamu tuh minggu-minggu ngapain sih? Kenapa nggak pernah hubungin aku?" Itulah protes pertama Nael kepada Hara.
"Aku sibuk beresin kamar, dan aku juga pengen istirahat, kamu juga harus istirahat kalau lagi libur, biar seminggu ke depan stamina kamu kuat meskipun harus lembur-lembur terus" Jawaban bijak penuh perhatian Hara malah di artikan sebagai alasan yang di buat-buat oleh Hara untuk tidak menemuinya, yang sudah dapat di pastikan ujung-ujungnya mereka akan bertengkar.
Dan sekarang, pertengkaran itu justru sangat di rindukan oleh Nael. Saat dia mengucapkan kata putus, sebenarnya Nael ingin Hara terus mengejarnya dan memohon padanya agar hubungan mereka tidak kandas.
Tapi Hara adalah cewek terlogis yang pernah dia kenal, alih-alih merengek, memohon untuk tidak putus, Hara malah meminta waktu agar dia bisa beradaptasi dengan kondisi putusnya mereka. Dengan cara tetap mengirimkan pesan padanya.
Gengsi yang di miliki oleh laki-laki dengan harga diri yang tinggi seperti dirinya justru membuatnya kehilangan sosok terbaik dalam hidupnya.
Nasi sudah menjadi bubur, Kama tidak bisa mundur lagi. Hara memang selalu menurutinya, seperti sebelum-sebelumnya, dan saat Nael merasa cemburu melihat interaksi antara bosnya dan Hara tadi siang, dia pun menyuruh Hara agar jangan pernah mengiriminya pesan lagi.
Dan disinilah Nael saat ini, menyesali keputusan bodohnya. Kalau saja dia bisa bertahan sebentar lagi, mungkin beberapa hari atau beberapa minggu lagi, mungkin sekarang dia sedang membaca pesan yang di kirimkan Hara di setiap jam sembilan malam, dan setelahnya Nael berencana akan mengajak Hara balikan.
kasih kesempatan sama Kama dong,buat taklukkin Hara😁😁
menjaga pujaan hati jangan sampai di bawa lari cowok lain🤣🤣🤣
Nggak kuat aku lihat Kama tersiksa sama Hara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku bakalan nungguin kamu yang bucin duluan sama Hara😁😁😁
tiba-tiba banget Pak Polici kirim buket bunga pagi' 😁😁😁😁😁
tapi kenapa tiba-tiba Hara telp ya????