Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Hari ini, adalah hari dimana Raka akan resmi menjadi dokter muda. Ratusan mahasiswa datang dan memenuhi aula. Acara demi acara berjalan dengan lancar. Tangis haru memenuhi ruangan karena pada akhirnya mereka semua menjadi seorang dokter. Akan tetapi, Raka masih termenung di tempatnya. Raganya berada disini, namun pikirannya berada jauh mempertanyakan keadaan seorang gadis yang sampai saat ini belum ada kabar. Di antara suara riuh tepuk tangan, pikirannya masih terbang ke tempat yang sama: sebuah langit jauh di Turki, di mana pesawat itu seharusnya mendarat dengan selamat. Sudah beberapa hari, tak ada kabar tentang Rissa. Hatinya mulai mengeras oleh kenyataan, tapi masih ada sebersit doa yang menolak padam.
Hingga akhirnya, namanya disebutkan sebagai mahasiswa termuda dengan nilai terbaik untuk maju kearah podium. Seluruh aula bertepuk tangan. Suara riuh seolah mengguncang dinding ruangan, tapi bagi Raka, semua itu terdengar jauh dan samar. Ia berdiri pelan, melangkah menuju podium. Tatapan orang-orang terasa seperti gelombang besar yang mendorongnya maju, tapi jantungnya berdetak tak menentu. Setiap langkah terasa berat. Setiap detik, wajah Rissa terlintas.
Berbagai macam ucapan selamat menemaninya di perjalanan menuju podium. Ia menyampaikan kesan dan pesan selama menjalani kuliah serta beribu ucapan terimakasih untuk kedua orang tuanya dan orang-orang yang selalu memberinya semangat. Dan di tengah cahaya sorot lampu yang menyorot panggung, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Seseorang berdiri di dekat pintu aula. Rambut hitam panjang, postur ramping, senyum hangat yang terlalu familiar untuk dilupakan.
Rissa.
Waktu seolah berhenti. Nafasnya tercekat. Dunia di sekitarnya memudar, hanya menyisakan satu titik cahaya — senyum itu. Ia mengerjap, takut kalau pandangannya salah. Tapi sosok itu masih di sana. Rissa menatapnya lembut, tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan, seolah berkata: “Aku di sini.”
Raka terpaku. Sampai suara MC membuyarkan lamunannya.
Tepuk tangan menyusul kemudian, bergemuruh tapi terasa jauh bagi Raka.
Ia menutup pidatonya dengan senyum tipis, lalu langsung turun dari podium setelah menutup sambutan. Langkahnya langsung mengarah ke tempat dimana sosok tadi berada, namun langkah itu terhenti sebab teman seangkatannya menyeretnya untuk ikut berfoto. Seusai berfoto, matanya langsung mencari arah pintu tempat sosok tadi berdiri. Namun kursi di sana kosong. Hanya tersisa mahasiswa lain yang berjalan keluar.
Kemudian, ia menemui orang tuanya dan berkata bahwa ia baru saja melihat sosok Rissa disini.
“Kamu beneran? Bukan cuma imajinasimu kan?” tanya Bu Ningsih
memastikan.
“Beneran ma, aku tadi beneran lihat di di depan pintu aula,” belum sempat ia meyakinkan orang tuanya, bahunya di tepuk dari arah belakang, sehingga membuatnya balik badan.
“Hai, selamat ya,” ujar seorang gadis yang selama ini dirindukannya. Raka membeku. Suara itu — lembut, ringan, tapi menembus sampai ke dalam tulang rusuknya. Ia berbalik perlahan. Dan di sana, berdiri Rissa.
Nyata. Mengenakan blus biru muda dan celana putih, rambut tergerai alami, kulitnya masih seindah terakhir kali ia lihat. Matanya hangat, bibirnya melengkung ke senyum yang begitu ia rindukan. Otak Raka seakan berhenti sejenak memastikan bahwa semua ini bukan mimpi.
“K-kamu?”
“Iya, ini aku. Selamat ya Pak Dokter…” ujarnya sembari tersenyum begitu manis memperlihatkan lesung pipinya. Nada suaranya lembut, tapi cukup untuk menghancurkan tembok dingin yang Raka bangun beberapa hari terakhir. Tanpa aba-aba, Raka langsung memeluk gadis itu dalam dekapannya. Setetes air mata jatuh membasahi pipi, namun ia segera mengusapnya sebelum ada yang melihat.
“Kamu baik-baik aja kan?” Raka melepas pelukannya lalu memegang bahu gadis di depannya dengan rasa tidak percaya. Rissa yang melihat tingkah Raka hanya tersenyum mengerti dan mengangguk.
“Aku baik-baik aja kok’”
“Kamu baik-baik aja kan?” kali ini Bu Ningsih yang bertanya. Sebab ia juga sama terkejutnya dengan kedatangan Rissa.
“Sehat kok tante,” Rissa menyalami tangan Bu Ningsih dan Pak Pratama bergantian.
Selesai mengabadikan momen wisuda, orang tua Raka memilih untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan ia dan Rissa beranjak ke salah satu tempat makan dan mulai berbincang.
...****************...
Raka dan Rissa berjalan pelan keluar dari aula, menyusuri koridor yang kini mulai sepi. Suasana sore di luar kampus begitu damai. Langit berwarna jingga, matahari condong perlahan, dan angin membawa aroma bunga dari taman depan fakultas.
Mereka memutuskan untuk pergi makan bersama di sebuah kafe kecil di dekat universitas — tempat yang dulu sering mereka datangi sebelum terpisah oleh jarak yang membentang. Tempat itu masih sama. Kursi kayu di pojok kanan, meja bundar kecil, dan jendela besar yang menghadap ke taman.
Mereka duduk berhadapan. Tak ada kata-kata yang keluar untuk beberapa menit. Hanya saling menatap — dengan tatapan yang bercerita lebih banyak dari
seribu kalimat.
Akhirnya, Raka yang memecah keheningan.
“Jadi… kamu kemana aja selama ini?”
Rissa tertawa kecil dan menjelaskan alasan keterlambatannya ke bandara.
“Sebenernya waktu itu aku ketinggalan pesawat gara-gara ada sedikit masalah di perjalanan ke bandara. Pasporku ketinggalan di asrama padahal waktu itu udah mepet jadwal keberangkatan. Jadinya ya gitu deh, aku ketinggalan pesawat. Tapi untung aja aku terlambat, kalo nggak mungkin sekarang aku udah nggak ada disini.”
“Jadi kamu beli tiket lagi?”
“Awalnya aku takut udah nggak ada yang tersisa, tapi ternyata masih ada. Aku juga kaget waktu ada berita kecelakaan pesawat yang mau aku naikin itu. Bersyukur banget masih diberi kesempatan untuk pulang ke rumah dan nepatin janji aku buat ke acara pelantikanmu.” Sebuah senyuman terbit di antara keduanya. Raka menggenggam tangan Rissa dan mengecupnya.
“Sayang… aku kangen banget sama kamu,” ujarnya sembari menatap manik mata Rissa dengan penuh kasih.
“Aku juga kangen banget… sama kamu,”
Hening kembali turun, tapi kini bukan hening yang menyakitkan, melainkan hening yang menenangkan. Di luar, langit berubah keemasan. Cahaya senja masuk melalui jendela, menimpa wajah mereka berdua. Dan di antara cahaya senja yang lembut itu, dua jiwa yang sempat terpisah akhirnya benar-benar kembali bertemu — bukan karena kebetulan, tapi karena doa yang tak pernah berhenti mengetuk langit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...