"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kandidat Terakhir
Lantai 45 Menara Bagaskara terasa sedingin ruang jenazah, meskipun termostat AC digital di dinding menunjukkan suhu 20 derajat Celcius yang nyaman. Bagi William Bagaskara, dingin ini bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari isolasi yang ia bangun sendiri.
Pria itu berdiri menghadap dinding kaca raksasa, menatap nanar kemacetan Jakarta di bawah sana yang tampak seperti aliran sungai lampu merah dan kuning. Di tangannya, segelas whisky single malt yang harganya lebih mahal dari gaji setahun buruh pabrik baru saja tandas setengahnya.
"Kandidat nomor tujuh belas baru saja pulang dengan hidung berdarah, Pak," suara Pak Harto, kepala keamanan kepercayaannya, memecah keheningan. "Dia tersandung kakinya sendiri saat simulasi penyerangan."
William mendengus kasar, berbalik badan. Wajahnya yang terpahat sempurna—rahang tegas, hidung mancung, dan mata setajam elang—tampak lelah. "Kau menyebut mereka profesional, Harto? Mereka lebih mirip badut sirkus yang memakai jas. Terlalu besar, terlalu lambat, dan terlalu mencolok."
William berjalan menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni hitam. Ia melempar berkas lamaran ke atas tumpukan kertas lain.
"Saya sudah bilang berkali-kali," lanjut William, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Saya tidak butuh orang yang terlihat seperti bodyguard. Musuh saya bukan preman pasar yang takut melihat otot. Musuh saya adalah orang-orang yang tersenyum sambil menyodorkan racun di pesta koktail. Saya butuh asisten yang bisa membaur, tapi bisa mematahkan leher orang jika diperlukan."
Harto menghela napas panjang. Pria paruh baya itu tampak stres. Menjaga nyawa William Bagaskara adalah pekerjaan paling berat di Indonesia. Minggu lalu, rem mobil William disabotase. Dua hari yang lalu, ada paket berisi bangkai tikus di meja resepsionis.
"Masih ada satu lagi, Pak. Kandidat terakhir hari ini," kata Harto ragu-ragu. "Tapi... dia agak berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Bapak lihat saja sendiri." Harto menekan tombol interkom. "Suruh masuk kandidat terakhir."
Pintu kayu jati yang berat itu terbuka.
William sudah bersiap untuk melihat pria berotot lain dengan setelan jas sempit yang hampir meledak karena bicep mereka. Namun, yang melangkah masuk justru membuat alisnya terangkat sebelah.
Seorang wanita.
Dia masih muda, mungkin awal dua puluhan. Tubuhnya ramping, tidak terlihat berotot besar, namun posturnya tegak sempurna. Ia mengenakan kemeja putih polos yang sedikit kusam di bagian kerah—tanda pakaian lama yang sering dicuci—dan celana bahan hitam serta sepatu pantofel datar yang solnya sudah menipis.
Tidak ada perhiasan. Rambut hitamnya diikat satu ke belakang dengan karet gelang biasa, memperlihatkan leher jenjang dan wajah tanpa makeup. Cantik, tapi jenis kecantikan yang keras dan dingin.
"Selamat sore, Pak William. Pak Harto," sapanya. Suaranya tenang, datar, dan tanpa basa-basi.
William duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan angkuh. Ia tidak membalas sapaan itu, malah mengambil CV yang diletakkan wanita itu di meja.
"Adinda Elizabeth," baca William dengan nada mencemooh. "Umur 23 tahun. Pendidikan terakhir SMA. Pengalaman kerja... pelayan restoran 24 jam, kuli panggul di pasar induk, staf kebersihan gym..."
William melempar kertas itu kembali ke meja. Ia menatap Adinda dengan tatapan tajam yang biasanya membuat stafnya gemetar ketakutan.
"Nona Adinda, ini perusahaan teknologi pertahanan multinasional, bukan yayasan sosial. Saya mencari Personal Assistant merangkap Private Security. Apakah kamu tersesat?"
Adinda tidak bergeming. Matanya balas menatap William, tidak ada ketakutan sedikitpun di sana.
"Saya tidak tersesat, Pak. Saya butuh pekerjaan, dan Bapak butuh seseorang yang tidak akan dicurigai musuh Bapak sebagai ancaman," jawab Adinda lugas.
William tertawa kecil, tawa yang kering tanpa humor. "Jadi, strategi keamananmu adalah dengan terlihat lemah?"
"Strategi saya adalah menjadi elemen kejutan," koreksi Adinda. "Dan saya tidak lemah."
"Oh ya?" William mencondongkan tubuh ke depan. "Di CV ini tidak ada sertifikat pelatihan militer, tidak ada sabuk hitam dari dojo ternama. Hanya pengalaman kerja kasar."
"Jalanan tidak mengeluarkan sertifikat, Pak," jawab Adinda cepat. "Saya yatim piatu sejak umur sepuluh. Saya tumbuh di lingkungan di mana jika Anda lengah satu detik, Anda kehilangan dompet. Lengah dua detik, Anda kehilangan nyawa. Saya belajar bela diri bukan untuk medali, tapi untuk bertahan hidup."
Ruangan hening sejenak. Harto tampak tegang, khawatir bosnya akan meledak marah karena didebat oleh pelamar kerja antah berantah.
William menatap gadis itu lekat-lekat. Ada api di mata Adinda. Api kelaparan—bukan hanya lapar akan makanan, tapi lapar akan kesempatan hidup. William mengenali tatapan itu, karena ia sering melihatnya di cermin saat ia masih muda dan berusaha merebut kembali perusahaan ayahnya dari para serigala korporat.
"Harto," panggil William tanpa mengalihkan pandangan dari Adinda. "Uji dia."
"Tapi Pak, dia wanita..."
"Uji. Dia." Perintah William mutlak.
Harto memberi isyarat pada Bima, salah satu pengawal elit William yang berdiri di sudut ruangan seperti patung batu. Bima tingginya hampir dua meter, beratnya di atas 100 kilogram.
"Maaf ya, Neng," gumam Bima sambil melangkah maju, meremehkan lawan mungilnya. Ia mengulurkan tangan besar untuk mencengkeram bahu Adinda, gerakan lambat yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti.
Detik berikutnya terjadi begitu cepat hingga mata William hampir tidak bisa menangkapnya.
Saat tangan Bima hampir menyentuh bahunya, Adinda tidak mundur. Ia justru maju. Tangan kirinya menangkis lengan Bima, sementara tangan kanannya menyambar pergelangan tangan pria besar itu. Dengan memanfaatkan momentum Bima sendiri, Adinda memutar tubuh, menekuk sendi siku Bima ke arah yang tidak wajar, dan menendang lipatan lutut pria itu dengan tumitnya.
Brak!
Tubuh raksasa Bima menghantam karpet tebal kantor. Sebelum Bima bisa bereaksi, Adinda sudah berada di belakangnya, mengunci leher Bima dengan lengan rampingnya yang ternyata sekeras baja.
Bima menepuk lantai dua kali tanda menyerah, wajahnya merah padam karena malu dan sesak napas.
Adinda melepaskan kunciannya, berdiri, dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Napasnya teratur. Ia kembali menatap William seolah baru saja selesai menyeduh teh, bukan membanting raksasa.
"Apakah itu cukup, Pak?" tanya Adinda datar.
William terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa kagum yang jarang ia rasakan. Ia melihat potensi yang luar biasa. Gadis ini bukan hanya kuat, dia efisien. Tidak ada gerakan buang-buang tenaga. Mematikan.
Perlahan, senyum tipis terukir di bibir William.
"Kamu mulai bekerja besok jam 7 pagi," kata William sambil berdiri. "Jangan terlambat. Saya benci orang yang tidak disiplin."
Adinda mengangguk kecil, menyembunyikan rasa lega yang luar biasa di dadanya. "Baik, Pak. Apa tugas pertama saya?"
William berjalan menuju pintu, mengambil jas mahalnya dari gantungan. Ia berhenti tepat di samping Adinda, menunduk sedikit untuk membisikkan sesuatu.
"Tugas pertamamu... buang sepatu jelek itu. Asisten William Bagaskara tidak boleh terlihat seperti gembel."
William keluar ruangan, meninggalkan Adinda yang terpaku. Meskipun kata-katanya pedas, Adinda tahu satu hal: malam ini, untuk pertama kalinya dalam setahun, dia tidak perlu tidur dengan perut lapar.
Bersambung...
terimakasih