"Jika kamu ingin melihat pelangi, kamu harus belajar melihat hujan."
Pernikahan Mario dan Karina sudah berjalan selama delapan tahun, dikaruniai buah hati tentulah hal yang didambakan oleh Mario dan Karina.
Didalam penantian itu, Mario datang dengan membawa seorang anak perempuan bernama Aluna, yang dia adopsi, Karina yang sudah lama mendambakan buah hati menyayangi Aluna dengan setulus hatinya.
Tapi semua harus berubah, saat Karina menyadari ada sikap berbeda dari Mario ke anak angkat mereka, sampai akhirnya Karina mengetahui bahwa Aluna adalah anak haram Mario dengan wanita lain, akankah pernikahan delapan tahun itu kandas karena hubungan gelap Mario dibelakang Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Tiga
Mario memandangi wajah putrinya sambil tersenyum. Karina melihat dengan perasaan yang entah bagaimana. Dia lalu mendekati suaminya. Memeluknya dan bersandar di dada pria itu.
Karina memandang Mario dengan mata sedih. "Mas, aku harus berbicara denganmu tentang sesuatu."
Mario memandangi istrinya dengan tatapan penasaran. "Apa itu, Sayang?" tanya Mario, suaminya Karina lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepalanya dengan mesra.
"Mas, apa yang akan aku katakan ini mungkin akan membuat kamu sedih. Dan aku melakukan semua ini juga hanya untuk meyakinkan diri ini saja."
"Kamu bicara apa, Sayang? Aku tak mengerti!" seru Mario. Wajahnya mulai tampak tegang.
Karina menarik napas dalam-dalam. "Maaf, Mas. Beberapa saat yang lalu aku melakukan tes DNA atas dirimu dan Aluna. Saat itu aku hanya ingin memastikan jika dia adalah putri kandungmu," ucap Karina.
"Maksudnya ... kamu telah melakukan tes DNA atas diriku dan Aluna. Kapan itu ...?" tanya Mario.
Mario tak begitu marah mengetahui jika Karina telah melakukan tes DNA karena yakin hasilnya, Aluna putri kandungnya. Entah bagaimana perasaannya jika mengetahui kalau sang putri bukan darah dagingnya.
Mario penasaran. "Apa hasilnya, Sayang?" tanya Mario dengan santainya.
Karina berbicara pelan. "Mas, hasilnya Aluna bukan anak kandungmu. Ini surat buktinya. Jika Mas memang tak percaya dengan ucapanku."
Karina tak jadi menitipkan hasil itu pada Dokter. Dia kembali untuk mengambilnya dan mengatakan semuanya sebelum Zoya mempengaruhi Mario.
Mario menatap Karina dengan mata terkejut, wajahnya pucat. "Apa ... apa ini?" tanya Mario dengan suaranya bergetar. Jika awalnya dia tak peduli karena yakin Aluna putri kandungnya, saat mendengar hasilnya berbeda, dia jadi sangat syok.
Karina menatap Mario dengan kasihan, kertas hasil tes DNA masih di tangannya. "Mas, aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku tau kamu sangat menyayangi Aluna. Begitu juga denganku. Aku melakukan ini bukan untuk menjauhkan kamu dengan Aluna. Kita akan tetap jadi Bunda dan papinya."
Mario meraih kertas itu, matanya membesar menatap hasil tes. Kata-kata "Tidak Cocok" dan "Bukan Ayah Biologis" terpampang jelas.
Dia terdiam, dunianya terasa terbalik. Aluna, anak yang selama ini dia cintai dan panggil "anakku", ternyata bukanlah anak kandungnya. Rasanya tak bisa dipercaya.
Mario merasa kehilangan napas, dadanya sesak. Dia tidak percaya. Tidak mungkin! Aluna adalah anaknya, darah dagingnya. Dia ingat saat-saat bahagia bersama Aluna, saat-saat mereka bermain, saat-saat mereka tertawa bersama.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah hasil ini tak salah?" tanya Mario, suaranya hampir tidak terdengar.
"Mas, kamu bisa lakukan tes lagi jika masih meragukan hal ini," ucap Karina. Dia mengerti, pastilah sangat sulit bagi Mario menerima kenyataan ini.
Karina mendekati Mario, memeluknya erat. Dia mengerti bagaimana perasaan suaminya. Dia tahu Mario sangat mencintai Aluna. Pastilah sangat terpukul saat mengetahui kebenaran ini.
Mario merasa terdampar dalam badai emosi. Kesedihan, kekecewaan, dan keraguan menghantui pikirannya.
"Jika bukan aku ayah biologis Aluna, berarti selama ini Zoya telah membohongi diriku. Dia telah hamil saat menikah denganku!" ucap Mario dengan lirih.
Dia teringat saat Zoya datang padanya dan mengatakan jika dirinya sedang hamil. Dia minta pertanggungjawaban pria itu. Selama ini dia telah menjaga dan merawat anak orang lain. Antara marah, kecewa dan sakit hati.
"Aku tak bisa percaya, selama ini aku telah dibohongi Zoya!" ucap Mario dengan amarah
"Mas, kamu bisa melakukan tes ulang jika tak percaya dengan ucapanku," kata Karina lagi. Dia takut Mario menuduh dirinya menukar hasil tes DNA.
"Aku percaya denganmu. Hanya saja aku sedih karena harus merelakan Aluna diasuh Zoya jika benar dia bukan putriku. Aku tak percaya dengannya. Aku menyayangi bocah ini," ucap Mario dengan suara pelan.
"Mas, kita masih bisa terus menyayangi Aluna. Dia tak bersalah atas kebohongan yang dilakukan Zoya. Cuma aku minta kamu jangan mengatakan ini dulu pada wanita itu. Kita ikuti saja permainannya," pinta Karina.
Mario mengangguk tanda setuju. Dia tak tahu apa yang harus dikatakan.
Wajah Mario terlihat pucat, mata terbelalak. Dia merasa terpukul dan seperti di sambar petir. Dia melihat lagi tulisan di kertas yang dia pegang saat ini. Hasil tes DNA yang Karina tunjukkan bagai pisau tajam menusuk hatinya.
"Tidak ... rasanya ini tidak mungkin!" kata Mario dengan suaranya bergetar.
Karina mendekati dan memeluk suaminya itu lagi. "Mas, aku minta maaf. Aku tahu ini sulit bagimu, Mas."
Mario menolak pelukan Karina. Dia bangun dari tidurnya. "Bagaimana bisa Zoya berbohong begitu lama denganku?! Aluna ... dia bukan anakku ...!" suaranya pecah.
Dia berjalan mondar-mandir, kepalanya terasa berputar. Semua kenangan indah bersama Aluna kini terasa palsu.
"Mengapa Zoya melakukannya?!" tanya Mario, menatap langit. Dia menarik rambutnya frustasi. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
'Kau harus bertanggung jawab, Zoya. Selama ini kau telah membohongi'ku!"
Karina berusaha menenangkan. "Kita harus mencari kebenarannya, Mas. Bersama kita hadapi semua ini. Aku akan terus mendampingi kamu, Mas. Tapi seperti yang aku katakan tadi, Mas tak boleh mengatakan ini dulu pada Zoya. Kita akan lihat apa yang dia lakukan. Aku telah mengatakan ini padanya tadi di kantor. Dan dia tak membantah!"
"Jadi ini yang kalian debatkan saat di kantor kemarin?" tanya Mario. Karina menjawab dengan anggukan kepala.
Mario terdiam, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia masih mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
**
Sementara di tempat lain,
Ani menghubungi Zoya dengan suara gemetar. "Zoya, aku minta maaf atas ucapan dan sikapku tadi. Aku tak bermaksud membuat kamu marah dan kecewa denganku!"
Zoya terdiam sejenak. "Apa yang terjadi, Ani?"
Ani berbohong. "Bu Karina telah mengetahui semua tentang hubungan kamu dan Pak Mario. Aku merasa tertekan. Takut dia tau jika aku teman dekatmu dan menjadi mata-mata selama ini."
Zoya tidak percaya. "Terus kenapa kamu ingin berhenti menjadi mata-mata'ku?"
Ani memaksakan diri untuk terdengar meyakinkan. "Aku bersumpah, Zoya. Aku hanya ingin melindungi diri."
Zoya berpikir sejenak. "Baik, Ani. Aku percaya kamu. Kamu harus terus membantu aku dan memberikan informasi tentang Mario dan Karina."
Ani bersemangat. "Aku akan melakukannya, Zoya. Aku akan menjadi mata-mata kamu lagi."
"Baiklah, aku hanya ingin tahu tentang Aluna. Dan juga Karina. Apa sebenarnya rencana wanita itu padaku!" seru Zoya
"Baiklah. Setiap kedatangan Karina akan aku awasi."
"Aku hanya ingin mengingatkan kamu, jangan pernah mengkhianati aku. Kamu pasti telah mengenalku dengan baik. Aku tak suka dicurangi!" ancam Zoya.