bagaimana jika anak kembar di perlakukan berbeda? satu di sayang bagai ratu dan satu lagi di perlakukan layaknya babu.
perjuangan Alana di tengah keluarga yang sama sekali tak pernah menganggap nya ada, ingin pergi namun kakinya terlalu berat untuk melangkah. Alana yang teramat sangat menyayangi ayahnya yang begitu kejam dan tega padanya, mampukah Alana bertahan hingga akhir? akankah Alana mendapat imbalan dari sabar dan tabah dirinya sejauh ini?
cerita ini hanya fiktif belaka ya, kalo ada yang namanya sama atau tempat dan ceritanya itu hanya kebetulan, selamat membaca😊❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alana 33
"saya senang Non Alana mau naik ke mobil ini" ucap Aidan yang sedang menyetir. ini kedua kalinya Alana menaiki mobil hitam mewah itu dan bahkan dengan sukarela tanpa di paksa seperti sebelum nya
"Om tinggal di mana? om pulang ke mana?" tanya Alana, sepedanya sudah Aidan suruh orang lain yang antar
gambaran sepeda Alana (anggap aja warnanya hitam+coklat)
"saya... saya selalu tinggal di samping Non Lana, saya jarang pulang kerumah" jawab Aidan
"jadi maksud Om, untuk istirahat pun Om tinggal di mobil ini? jangan bercanda!! Om gak jadi tunawisma buat terus buntutin Lana kan?" kesal Alana, apa Tuan G itu sekejam itu hingga membuat orang tua seperti Aidan harus rela menderita demi perintahnya?
"bukan berarti saya gak punya rumah, saya juga pasti pulang hanya saja saya lebih suka selalu ada di dekat Non Lana" astaga Aidan sepertinya salah bicara
"gak usah bohong, jawab Lana dengan jujur, berapa yang Tuan G kasih ke Om sampai harus berbuat sejauh ini?" tanya Alana menyelidik
"lumayan, Non Lana jangan berfikir negatif, memang inisiatif saya sendiri untuk ingin tetap berada di dekat Non Lana" jawab Aidan yang kikuk, astaga Nonanya itu benar-benar berfikir dia tertindas sekarang
"kalo gitu Om tinggal sama Lana aja, Lana maafin Om yang udah langgar peraturan untuk tidak buntuti Lana sampai rumah itu, mulai sekarang Om tinggal sama Lana aja toh juga kalaupun gak tinggal sama Lana Om juga bakalan gak jauh dari Lana kan? jadi sekalian aja, tapi Lana gak akan gaji Om ya, Om itu kerjanya sama Tuan G minta upahnya sama Tuan G aja, buat makan Lana gak akan biarin om kelaparan kok" ucap Alana, setelah memikirkannya dengan keras Aidan adalah satu-satunya jalan untuk dia mencari tau siapa Tuan G yang bermain aktor di balik layar
Lana mungkin tidak akan melepaskan Aidan sekarang
"tapi Om izin sama anak dan istri Om dulu takutnya nanti Lana malah di salah sangkai sebagai simpanan kayak gosip kemarin" lanjut Alana
"saya.. tidak punya istri.. " jawab Aidan gugup
"eh? Om belum nikah? kok bisa?" kaget Alana
.
.
Gilang duduk tenang di sofa kamarnya, dia tidak bersama Nata dan Jinan yang menginap di hotel, dia di villa pribadinya. untuk menghindari kecurigaan dua orang itu Gilang berbohong jika Villa itu di sewanya, beruntung Nata dan Jinan tidak tertarik untuk ikut tinggal dengannya meski Gilang tidak akan memungut biaya dari mereka.
Gilang memutar pelan Wine di tangannya, saat ini dia sedang menghubungi seseorang
"apa?"
setelah tersambung, suara dingin malah menyambut Gilang
"eitss, jangan dingin-dingin dong" sahut Gilang
"gue nyuruh lo buat jaga dia kan?" orang yang saat ini Gilang hubungi adalah seorang 'teman lama' nya yang sangat dekat
"aduh duh.. dia aman di tangan gue, lagian juga tiba-tiba banget lo setuju dengan perjodohan nya. dia kayaknya gak suka di paksa deh, apalagi beberapa bulan ini dia berusaha buat terlepas dari sarang serigala gak mungkin dia bakalan rela lompat masuk sarang singa lagi kan?" sahut Gilang menyilangkan kakinya
"lo anggap gue sama dengan mereka?" tanya nya dingin tak suka
"et dah, galak amat sama sepupu sendiri juga" celetuk Gilang
"sekarang gimana? dia udah gak di anggap lagi loh sama Tuan Kunan, yang artinya sekarang dia orang biasa tanpa status sosial yang tinggi" lanjut Gilang
"gue gak mandang statusnya" jawab orang itu
"eh eleh.. iya deh iya.. BTW, Om masih disana kan?" tanya Gilang masih ingin mengobrol panjang, dia tau adik sepupunya itu hampir akan mematikan telepon
"masih, dia ingin cari Lana" jawabnya
"oh, ok. semoga beruntung" Gilang mematikan telponnya,
Gilang tertawa senang pasti saat ini adik sepupunya sedang kesal karena biasanya dia yang mematikan telpon lebih dulu
"ah, gue sampe lupa"
Gilang kembali menelpon, sebelumnya terlalu buru-buru ingin membuat adiknya itu kesal sampai lupa dengan hal penting yang ingin dia katakan
"apa lagi?" tanya Mahesa dengan suara yang kesal
"dih, biasa aja napa, gue lupa mau kenalan sama lo" sahut Gilang
"hm?"
"Gilang Budi Hartono, jangan lupa ya and gak usah kenal sama gue anggap aja kita orang asing kayak biasanya" ucap Gilang tersenyum
"gak ada nama lain yang bagus kah? nama lo norak" sahut Mahesa yang langsung mematikan HP nya
"anjir ni bocah, gak tau aja arti Budi Hartono apa" kesal Gilang setelah sambungan terputus
"Mahesa Mahesa.. untung ada gue kalo gak, terjebak lo sama Luna" lanjutnya meminum Wine yang sejak tadi hanya di goyang kannya
memang, Gilang lah yang memberitahu Mahesa tentang Alana, awalnya Gilang memang tidak tau Alana bagian dari keluarga Ardinata dan bahkan sebagai putri bungsu disana. setelah Gilang tau dia berbagi informasi pada Mahesa yang dia tau sebagai calon tunangan Aluna. Mahesa sendiri hanya tau nama Alana saja dia hanya pernah bertemu sekali dan tidak pernah lupa dengan wajahnya, Gilang sempat mengumpat karena Mahesa merahasiakan masalah keluarga Ardinata padanya.
Mahesa sering mencuri kabar Alana dari Gilang, Mahesa juga tertarik dengan Alana sejak pertemuan pertama yang tak di sengaja itu, mungkin sekitar mereka kelas 2 SMP, saat itu dia datang mengunjungi kediaman Ardinata dengan maksud perjodohan, Aluna menolak dan terus melibatkan Alana, Mahesa sendiri tidak tertarik dengan perjodohan itu, sayangnya Daddy nya jauh lebih keras kepala
flashback..
Mahesa berjalan mencari toilet karena kebelet pipis, tapi dirinya yang baru pertama kali datang kesana itu malah tersesat karena luasnya kediaman itu hingga kakinya berhenti di dapur. matanya melihat seorang gadis seumurannya yang berjinjit di kursi kecil sambil mengaduk sebuah masakan di wajan besar. dia berfikir mungkin anak dari seorang pelayan di rumah itu jadi ingin bertanya di mana toilet
"maaf, toilet di sebelah mana?" tanya Mahesa yang masih berdiri di pintu
Alana berbalik menatap Mahesa yang terlihat menahan sesuatu, Alana mendekatinya dan menunjuk arah toilet tanpa bicara, selesai menunjuk Alana kembali dengan masakannya. Mahesa bahkan lupa dengan hasratnya yang teringin pipis, pertama tertegun karena ada yang lebih parah dari dirinya dari kategori 'dingin', kedua wajah manis dan cantik Alana membuat matanya tak berhenti menatap dan ketiga ada luka lebam di bawah mata, di ujung bibir dan dengan rambut lurus sedikit acak yang membuat Mahesa terdiam seribu bahasa
kembali ke cerita awal..
sejak saat itu, Mahesa tidak pernah melupakan wajah suram yang tak pernah Mahesa tau itu adalah Alana. jika bukan kakak sepupunya yang konyol itu menyinggung tentang masalah Alana yang tiba-tiba dia tau entah dari mana, Mahesa tidak akan melihat tampilan Alana yang sekarang, Gilang cukup rajin mengirim foto atau video Alana yang di ambilnya secara diam-diam
waktu itu, Mahesa juga yang meretas kamera HP Alana, Mahesa dapat mengambil beberapa gambaran Alana yang menggunakan piyama coklatnya saat Alana memegang HP untuk membalas chat Jinan. beruntungnya Seno sadar dan memberi peringatan pada Mahesa
"Tuan, sepertinya ada perubahan" lapor seseorang melalui sambungan telpon
"oh? perubahan apa?" tanya Gilang penasaran
"bodyguard itu ikut pulang kerumah Nona kecil"
btw, sekarang nikmati aja semua nya 🙄🙄🙄