Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Elzan Di Keroyok
Berry langsung masuk instalasi gawat darurat (IGD) untuk penanganan lebih serius. Lukanya cukup parah sampai hilangnya kesadaran yang membuat Berry kehilangan banyak darah sehingga harus ada tindakan transfusi darah secepatnya.
Beruntung pasokan darah di rumah sakit masih aman, sehingga penanganan kesehatan Berry cepat teratasi.
Pihak keluarga Berry sudah dihubungi polisi untuk segera ke rumah sakit. Gunawan dan istrinya datang dengan tergesa. Mereka tidak menyangka anaknya menjadi korban penusukan preman padahal Berry sudah berjanji untuk tidak lagi berkecimpung di dunia hitam.
Kedua orang tua Berry menghampiri Elzan dan Lukman (Polisi intel) yang sedang berdiri di depan ruang IGD.
"Bagaimana kondisi Berry anak kami, Pak?" Tanya Gunawan pada Lukman yang kini berpenampilan rapi bukan lagi menyamar sebagai pedagang minuman keliling.
"Berry masih ditangani dokter, Pak. Sepertinya Berry butuh penanganan serius karena waktu dibawa ke sini Berry dalam keadaan pingsan. Semoga Berry bisa melewati masa kritisnya. Oiya ini Bapak Elzan seorang pengacara yang akan menangani kasus ini karena ini ada kaitannya dengan kasus yang dialami istrinya." Ujar Lukman sekaligus memperkenalkan Elzan pada orang tua Berry.
"Maaf sebenarnya ada kasus apa? Terus terang sebenarnya Berry beberapa minggu ini terlihat sudah berubah tidak bergaul dengan anak punk lagi apalagi sama preman. Jadi terus terang kami kaget dengan kejadian yang menimpa anak kami." Jelas Gunawan.
"Untuk lebih jelasnya nanti bisa Bapak tanyakan pada polisi yang akan ke sini esok hari. Maaf Bapak Ibu, kami tidak bisa lama di sini, karena Bapak dan Ibu sudah datang, kami mohon izin masih ada keperluan di kantor polisi." Ujar Elzan sopan.
"Oh iya kalau begitu terima kasih Bapak sudah menolong anak kami."
Kata Gunawan berjabat tangan dengan Elzan dan Lukman.
"Sama-sama Bapak Ibu kami permisi, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Elzan dan Lukman mempercepat langkahnya menuju parkiran. Kendaraan roda empat yang mereka tumpangi meluncur ke kantor kepolisian di kota tersebut.
"Semua barang bukti harus diberikan pada polisi setempat malam ini juga. Kamu jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai lengah karena anak buah Baron masih banyak yang berkeliaran." Lukman mengingatkan Elzan yang sudah menceritakan kasus istrinya dalam penculikan keponakan satu-satunya.
Hanya pada Lukman, Elzan memberitahukan kebenaran pernikahan dadakannya dengan Beena walaupun sebenarnya sempat ada ketidakpercayaan pada cerita Elzan yang kesannya dibuat-buat hanya untuk menarik simpatik temannya agar mau menolongnya dalam penangkapan Baron.
"Siap. Semoga aman."
"Aku turun di sini saja." Titah Lukman bersiap untuk turun.
Elzan menghentikan mobilnya dengan pelan. Dia mengangguk begitu Lukman berpamitan dan memberi pesan untuk selalu waspada dan hati-hati.
"Amankan barang bukti di tempat yang sulit ditemui! Banyak mata yang mengintai keberadaanmu. Jadi harus antisipasi." Pesan Lukman sebelum keluar dari mobil.
Elzan beharap tidak ada apa pun dalam perjalanan. Apalagi saat ini ia sedang membawa barang bukti yang tersimpan rapi di dalam jok mobil.
Elzan membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh. Di tengah perjalanan terdapat 3 motor yang menghalangi perjalanannya. Masing-masing berjumlah 2 orang. Penumpang motor tersebut kompak memberi isyarat agar Elzan menghentikan mobilnya.
Elzan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia berharap barang bukti tidak ditemukan oleh mereka. Enam orang preman yang ada di depan matanya adalah orang yang sama saat berkelahi dengan Berry dan Lisa Cs.
Elzan menatap enam orang yang menghalangi mobilnya. Mereka membawa alat pukul seolah akan mengeroyok Elzan.
Elzan berusaha untuk bersikap tenang. Ia masih berada di dalam mobil, berusaha menelpon Lukman untuk dimintai tolong tapi ternyata nihil. Lukman tidak menjawab panggilan teleponnya. Ia pun segera menghubungi polisi.
Dor!
Dor!
Dor!
"Buka pintunya cepat!" Salah satu preman menggedor pintu mobil dengan kasar.
Elzan membukanya secara perlahan namun langsung dibuka paksa oleh preman dan menyeretnya keluar.
Elzan didorong sampai tersungkur di bawah kaki seorang preman. Mereka tertawa terbahak-bahak menyaksikan seorang abdi negara yang tidak mampu melawan anak buah Baron.
"Jadi hanya ini kemampuanmu melawan kita? Ha...ha...ha...ha... kamu sudah berani menyerahkan Baron ke polisi maka kamu akan berurusan denganku!" Seorang preman tertawa sambil menyeringai.
Bugh!
Pukulan benda berhasil membuat Elzan sempoyongan, namun dia berusaha untuk bisa menguasai diri. Suara tawa mereka membahana di kesepian malam.
Suara petir bertalu-talu seolah menyemangati Elzan yang mulai terkapar mencium aspal.
"Kau simpan di mana barang bukti itu bangs*t!" Salah satu preman menarik rambut elzan ke belakang.
"Barang bukti itu sudah diserahkan pada polisi..." Suara Elzan melemah.
"Kenapa kamu menyerahkannya ke polisi, bod*h. Kamu akan tahu akibatnya sudah bermain-main dengan kita. Dasar manusia lemah!"
Suara petir kembali terdengar bergemuruh memberi semangat pada Elzan untuk bangkit melawan enam orang yang menuju motornya masing-masing.
Tanpa diduga, Elzan menarik kerah baju salah satu preman dari belakang sehingga preman tersebut terjengkang.
Elzan dengan kekuatan tidak terduga melawan satu persatu preman yang masih tertawa mengejeknya.
Satu persatu berhasil ia kalahkan walaupun sempat kuwalahan menghadapi mereka namun masih bisa teratasi dengan segenap kekuatan yang ada. Tidak lama kemudian mereka pun akhirnya tumbang.
"Kalian sudah salah menilaiku! Aku tunggu kalian di pengadilan!" Setelah berbicara seperti itu Elzan menghampiri mobilnya dengan langkah gontai.
Ngiung
Ngiung
Ngiung
Polisi berdatangan menghampiri orang-orang yang terkapar di aspal.
"Terima kasih Pak Elzan karena sudah membantu kami! Kami akan secepatnya mengurus kasus ini."
Dengan waktu yang cukup lama akhirnya keenam anak buah Baron berhasil diringkus oleh polisi.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..