Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
"Bera..." Dion tidak melanjutkan perkataannya. Mulutnya langsung tertutup saat melihat wajah orang yang datang ke apartemennya.
"Mama! Ngapain Mama ke sini?" tanya Dion, karena ternyata yang datang adalah mamanya.
"Dasar anak durhaka! Mamanya dateng malah di tanya alasan ke sini." Omel Maya pada putranya, dia juga langsung masuk ke apartemen putranya tanpa menunggu untuk di persilahkan. "Dimana menantu Mama?"
"Dia sedang mencuci piring di dapur," jawab Dion. Dia mengikuti langkah mamanya yang berjalan ke arah dapur.
"Kamu ini benar-benar keterlaluan, masa menantu mama di suruh nyuci piring sih?" omel Maya pada putranya.
"Kalau bukan dia yang nyuci piring, lalu siapa? Masa Dion?" jawab Dion. Dia duduk di kursi yang ada di dapur tersebut.
"Makanya carikan pembantu untuk dia!" suruh Maya.
"Tidak apa-apa kok Ma, lagian aku juga sudah biasa mengerjakan ini," jawab Mikha sopan. "Mama, mau minum kopi, susu atau teh?" tanya Mikha pada mertuanya.
"Tidak usah, Mama cuma mampir sebentar," jawab Maya. "Mama cuma mau nyuruh kalian datang ke rumah malam ini."
"Memang ada acara apa, Ma?" tanya Dion.
"Masa ngundang anak dan menantu ke rumah harus ada acara dulu."
"Bukan begitu, Ma. Tapi hari ini Dion ada meeting dan mungkin pulangnya agak larut. Di tambah hari ini Mikha juga kuliah, dia gak bisa pergi ke rumah mama sendiri," terang Dion.
"Yahh...Padahal Mama kan juga pengen seperti ibu-ibu yang lain, yang bisa akrab dengan menantunya," Maya menghela napasnya karena kecewa.
Mikha menatap ke arah Dion, dia merasa tidak enak karena telah membuat mertuanya itu merasa kecewa.
"Mikha bisa kok ke rumah Mama, tapi setelah Mikha pulang kuliah ya?" timpal Mikha, dia merasa tidak ingin membuat mertuanya itu kecewa.
"Bukankah kamu tidak bisa datang sendiri ke rumah mama?" tanya Maya kepada menantunya.
"Akukan bisa naik taksi," jawab Mikha. Mendengar menantunya bersedia datang Maya merasa begitu senang.
"Tidak!" Suara Dion membuat Maya dan Mikha menatap ke arah laki-laki itu.
"Kamu tidak boleh naik taksi, biar aku yang akan menjemputmu nanti," titah Dion.
"Bukannya kamu ada meeting sampai larut malam?"
"Aku akan menunda meetingku dan melanjutkannya setelah mengantarmu ke rumah Mama!" jawab Dion.
"Baiklah," jawab Mikha.
Akhirnya Maya merasa bahagia karena malam ini dia bisa makan malam bersama menantunya.
"Ya sudah, Mama pulang sekarang. Mama ke sini cuma ingin mengundang kalian ke rumah." Maya bangun dari tempatnya duduk,
"Ingat ya, Mama tunggu di rumah!" sekali lagi Maya mengingatkan kepada anak dan menantunya.
"Iya, Ma. Pulang kuliah nanti, aku pasti kesana," jawab Mikha.
Setelah mendengar jawaban dari menantunya, Maya segera meninggalkan apartemen milik putranya tersebut.
Dion kembali mengunci pintu apartemennya, dia kembali mendekati istrinya yang masih sibuk dengan aktifitasnya mencuci piring.
"Sekarang Mama sudah pergi, bisakah kamu menunjukkan kemampuanmu sekarang!" bisiknya di telinga Mikha.
"Aku selesaikan ini dulu, baru aku akan menunjukkan kemampuanku padamu," ujar Mikha.
Dion yang memang sudah tidak sabar ingin menjajal kemampuan istrinya itupun segera membantu menyelesaikan pekerjaan istrinya. Dan akhirnya dalam waktu 5 menit pekerjaan cuci piring itupun selesai.
"Sekarang semuanya sudah selesai, jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk menghindar," Dion kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Tenang saja, aku tidak akan pernah menghindar," jawab Mikha. Dia berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan kegugupannya kepada Dion.
"Jadi kamu sudah siap untuk menunjukan kemampuanmu padaku?" tanya Dion sekali lagi.
"Tentu saja aku siap, karena aku yakin kamu pasti tidak akan mampu mengimbangi kemampuanku," jawab Mikha dengan narsisnya.
"Baiklah, kalau begitu lakukan sekarang!"
"Tutup matamu dulu! Aku malu kalau harus melakukannya saat kamu menatapku," jawab Mikha dengan wajah yang di buat malu-malu.
Dion semakin gemas melihat istrinya yang bersikap malu-malu. Dia semakin tidak sabar ingin mencicipi bibir mungil Sang istri.
"Baiklah, aku akan menutup mataku." Dion melepaskan pelukannya, kemudian dia mulai menutup kedua matanya.
Pada saat itulah Mikha mengambil kesempatan untuk lari dari suaminya, dia bahkan melangkahkan kakinya dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Sudah belum?" tanya Dion dengan mata yang masih tertutup. "Kalau sudah siap, cepat lakukan sekarang!"
Dion menunggu agar istrinya mau memulai untuk menciumnya. Satu detik, dia masih berfikir istrinya mungkin masih malu-malu. Dua detik, Dion sudah mulai merasa gelisah hingga 3 detik kemudian, akhirnya Dion merasa tidak sabar dan membuka matanya.
Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat menyadari bahwa istrinya telah kembali mengerjai dirinya.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini di permainkan sama tu Cewek resek?" Lagi-lagi Dion menggelengkan kepalanya. "Awas saja! Malam ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Akhirnya kali ini pun Dion harus kembali pasrah untuk melepaskan istrinya.
Napas Mikha terengah-engah setelah berhasil lari dari apartemen suaminya. Dia segera mencegat taksi untuk mengantarkannya ke kampus. Mikha begitu merasa puas saat bisa kembali mengerjai suaminya.
"Rasain tuh! Emang enak aku kerjain lagi," batin Mikha. Dia terus tersenyum saat membayangkan wajah Dion yang kesal karena ulahnya. Bahkan saking bahagianya Mikha sampai senyum-senyum sendiri saat berada di dalam taksi.
"Neng, Neng tidak sedang gilakan?" pertanyaan sopir taksi tersebut langsung membuat Mikha berhenti tersenyum.
"Bisa-bisanya nih Sopir taksi ngatain aku gila," batin Mikha.
"Tentu saja, Pak. Aku ini masih waras," jawab Mikha kemudian.
"Biasanya nih ya, orang waras gak akan ngaku dirinya waras lho Neng."
Mata Mikha langsung melotot ke arah sopir taksi yang secara tidak langsung mengatai dirinya tidak waras.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan Sopir taksi itu, karena tidak akan ada orang gila yang mangatakan kalau dirimya sendiri tidak waras.
"Kalau aku tidak waras, kenapa Bapak masih mau mengijinkan aku naik ke taksi Bapak?"
"Terpaksa, Neng. Soalnya saya belum dapet penumpang dari pagi," jawab Sopir itu santai. "Siapa tahu Nengnya lupa sama nilai uang, terus bayar taksinya pakai lembaran uang seratus ribuan sebanyak 5 lembar. Kan lumayan Neng, bisa buat nyicil SPP anak Saya."
Mikha hanya memutar bola matanya mendengar jawaban nyeleneh dari Sang Sopir taksi.
"Terus kalau ternyata aku gak punya uang buat bayar taksi, bagaimana?" kini giliran Mikha yang memberikan pertanyaan kepada Sang Sopir taksi.
"Itu namanya Saya apes, Neng," jawab Sang Sopir taksi itu lagi.
"Stop, Pak!" perintah Mikha saat taksi itu sudah sampai di depan kampusnya.
"Berapa, Pak?" tanya Mikha sebelum turun.
"Lima puluh ribu, Neng," jawab Sang Sopir taksi.
Mikha mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak 5 lembar dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Sang Sopir taksi.
"Neng, tadi saya cuma bercanda," kata Sang Sopir taksi.
"Anggap saja, kalau saya beneran tidak waras dan hilang ingatan, jadi gak bisa ngebedain uang sepuluh ribuan dengan uang seratus ribuan," jawab Mikha santai.
"Beneran ini buat saya, Neng?" tanya Sang Sopir taksi yang masih tidak percaya.
"Iya, Pak. anggap juga itu rejeki buat anak Bapak, permisi!" Mikha segera turun dari dalam taksi.
"Terimakasih ya Neng, terimakasih banyak," ucap Sopir taksi tersebut.
Mikha berjalan memasuki kawasan kampusnya. Wajahnya masih terlihat sumringah membayangkan kejadian dibapartemen tadi. Mikha mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya saat ada notif pesan dari dalam sana.
Dia membuka layar kunci ponselnya, setelah layar ponselnya terbuka Mikha mulai membaca isi pesan tersebut.
Gleg!
Mikha menelan ludahnya dengan bersusah payah setelah membaca pesan dari ponselnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
👉 Selalu tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
👉 Author juga mau promo nih, karya temen Author LISKA OKTAVIANI yang pasti seru dan bikin baper:
TERIMAKASIH🤗🤗