Acara reuni yang seharusnya berjalan dengan menyenangkan, seketika berubah menjadi mencekam dan menegangkan, saat seorang pembunuh berantai muncul membunuh satu persatu para alumni yang mengikuti acara reunian tersebut.
Membuat mereka yang mengikuti acara reunian saling curiga dan saling tak percaya. Pembunuh berantai berada diantara mereka.
Akankah ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Santi terbangun dari tidurnya ketika dia merasakan ingin buang air kecil, sebenarnya dia sangat tidak berani pergi ke kamar mandi sendirian, karena letak kamar mandi sangat jauh dari kamar yang dia tempati, tapi dia juga tidak tega membangunkan Pingkan, Chika, dan Lina.
Santi baru menyadari kalau Helena tidak ada di dalam kamar. "Loh Helena kemana? Apa dia juga sedang ke kamar mandi?"
Santi pun segera berdiri, dia mengira bahwa Helena pun pasti sedang berada di kamar mandi, sehingga dia terburu-buru pergi dari kamar untuk menyusul Helena.
Kamar mandi di vila itu terletak di bagian paling belakang, banyak sekali ruangan kosong yang Santi lewati, membuat jantungnya berdebar-debar tak menentu. Padahal saat ini dia sedang berada di dalam vila, tapi mengapa suasana sangat mencekam sekali. Bahkan mungkin orang-orang yang bertugas berjaga di depan vila pun sepertinya mereka ketiduran, maklum saja mereka sangat kelelahan sekali selama seharian harus menjelajahi hutan.
Santi sama sekali tidak melihat ada Helena di kamar mandi, tapi karena dia sudah kebelet, dia pun mengesampingkan rasa takutnya, dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk buang air kecil.
Setelah selesai dengan urusannya, dia pun keluar dari kamar mandi tersebut.
"Ternyata Helena tidak ada di kamar mandi? Sedang dimana dia? Apakah mungkin dia sedang bersama David?" gumam Santi, dia berpikiran seperti itu karena dia tahu bahwa David dan Helena sebentar lagi akan menikah.
Tanpa sengaja Santi melihat ke arah jendela yang ada dibagian belakang vila itu, dia melihat ada seorang pria yang sedang berjalan sendirian, pria itu tidak menampakkan wajahnya, karena kepalanya memakai kupluk jaket.
"Siapa dia? Apakah mungkin dia psikopat itu?" gumam Santi.
Rasa penasaran lebih besar dibandingkan dengan rasa takutnya, sehingga dia memutuskan diam-diam mengikuti pria berjaket hitam itu.
Tentu saja Santi sama dengan yang lainnya, dia harus bisa menemukan siapa psikopat itu, agar tidak ada lagi korban jiwa.
Santi segera keluar dari vila lewat pintu belakang, dia berjalan dengan pelan mengikuti pria yang memakai jaket berwarna hitam tersebut.
Santi nampak tegang karena pria itu berjalan memasuki hutan. Santi menjadi bimbang apakah dia harus terus mengikutinya atau memilih kembali ke vila. Tapi jika dia kembali ke vila, dia akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui indentitas psikopat tersebut.
Pria itu berjalan dengan santai melewati pepohonan yang menjulang tinggi sambil bersiul, suara siulannya bernada, sama persis dengan suara musik klasik yang sering dia dengarkan.
Sementara Santi berjalan mengendap-endap mengikuti pria itu. Berharap bisa melihat wajahnya atau melihat dia sedang mengeluarkan semua barang yang dia miliki di hutan itu.
Namun, karena suasana begitu gelap gulita, Santi telah kehilangan jejak pria itu, dia nampak kebingungan, pandangannya beredar mencari keberadaanya.
"Lho dia kemana? Kenapa cepat sekali dia menghilang?" Santi tidak tahu harus berjalan ke arah mana sekarang ini, padahal dia ingin sekali tahu siapa pria yang memakai jaket hitam itu. Mungkin saja dia adalah psikopat yang telah membantai keenam alumni yang ikut reunian itu.
Santi merasakan takut, dia pun memutuskan untuk kembali ke vila, mumpung jarak antara dirinya dengan vila tidak begitu jauh. Dia pun membalikkan badannya.
Jantungnya hampir mau copot saat melihat seseorang sedang berdiri dihadapannya, dan orang itu adalah pria berjaket hitam yang dia ikuti tadi, dan tentu saja Santi bisa melihat dengan jelas wajah orang itu.
"Ka-kamu?"