Freya tidak pernah menduga ia harus melepaskan sang kekasih, menyakiti perasaan pria yang ia cintai dan juga mengubur dalam perasaannya demi menikah dengan seorang Billionaire yang tidak ia kenal sama sekali.
Takdir seperti apa yang akan Freya jalani dan apa alasan dibalik ia bersedia menikah dengan pria asing tersebut? Lalu bagaimana jadinya jika ternyata pria yang sudah menjadi suaminya ternyata memiliki seorang istri yang artinya Freya hanya dijadikan sebagai istri kedua. Akankah Freya mempertahankan pernikahannya atau justru mengakhirinya dan kembali kepada kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Buruk Freya
Freya menatap kedua pria di hadapannya, menatapnya dengan garang dengan kedua tangan yang dilipat di dada. Daniel, menatapnya datar tanpa ekspresi, sedangkan Will, dari tadi ia sedang berusaha menahan tawanya. Menurutnya ini kejadian terlucu dalam hidupnya, bagaimana tidak lucu dalam sekejap mata Freya mampu membuat perusahaan Daniel rugi jutaan dollar. Tender besar yang sedang berusaha mereka dapatkan, sudah melayang akibat sikap Freya, yang membentak wanita si bokong bulat, sedangkan Daniel, kerja sama yang sudah setengah berjalan, diputus secara sepihak oleh rekan bisnisnya.
"Jadi bisa kalian jelaskan?"
"Bagian mana yang harus kami jelaskan, Freya?" tanya Daniel tenang, tidak terlihat kekesalan sama sekali di wajahnya. Ia menyilangkan kedua kakinya, lalu bersedekap, menatap Freya dengan lembut, membuat Will bersorak dalam hati. Katakanlah Will brengsek, karena mendukung sahabatnya itu bersama Freya dibanding istri pertama sahabatnya itu, tapi percayalah Will juga tidak bisa menjelaskan kenapa ia menyukai wanita itu sejak pertama kali melihatnya.
"Bagaimana pertemuanmu dengan mantan kekasihmu?"
Freya berdecak, melihat sikap tenang pria itu malah membuatnya semakin emosi. "Apa menurutmu itu perlu dibahas sekarang?"
"Aku hanya penasaran bagaimana hasilnya sehingga kau kembali mendarat ke klub dan melihat Will bercumbu dengan wanita lain." kekehnya masih dengan tenangnya. "Wajahmu memerah, apa pria brengsek itu melakukan sesuatu pada wajahmu?"
Freya mendengus, ia kembali mengingat tamparan Anna di wajahnya.
Will, bersiul mantap, ia lebih lama bersama wanita itu, tapi tidak menyadari memar di wajah Freya. Bukankah Daniel sangat perhatian.
"Freya, sepertinya suamimu sangat teramat menyayangimu, sehingga ia lebih penasaran dengan kisahmu dibanding nasib perusahaannya," sindiran Will tepat sasaran, tapi sepasang suami isrti itu terlihat enggan untuk menanggapinya. Mereka malah kompak mendengus.
"Jadi katakan, apa selama ini aku salah menduga?" kembali Freya bertanya, menatap Daniel dan Will secara bergantian, Will hanya mengidikkan bahunya tidak acuh, sementara Daniel, ya masih terlihat tenang.
"Jawab aku, sialan!!"
Daniel menarik napas dalam, ya sepertinya sudah waktunya ia tidak membiarkan Freya semakin larut dalam kesalah fahamannya yang menggelikan.
"Ya, Freya. Aku normal!"
Freya menarik napas kasar, matanya tertuju pada gelas berisi air yang ada di depannya. Menimang, apakah ia harus menyiram wajah pria yang ada di hadapannya itu.
Daniel yang tidak melepas tatapannya pada Freya, mengikuti arah tatapan Freya dan begitu ia melihat Freya mengulurkan tangannya mengambil gelas di hadapannya, Daniel dengan sigap menarik Will, hingga Will melindungi tubuh Daniel. Will yang malang, air itu mengenai wajahnya.
"Shit!"
Will berdiri dari tempatnya, mengusap kasar wajahnya dari siraman air di wajahnya.
"Apa kesalahanku?" erangnya.
"Kesalahanmu karena sudah berani melihat tubuh suciku, sialan!" Freya melotot tajam ke arahnya. Will tersedak seketika, ingatannya terputar kembali di waktu ia mengeringkan rambut Freya.
"Ya, aku suka aromamu" kekehnya sembari mengerling jenaka.
"Tutup mulutmu, sialan!" Daniel mendorong tubuh Will hingga kembali terduduk kembali di sofa.
"Argghhh, semua pria memang brengsek!!" Freya berdiri dari tempatnya, ia kembali mengambil gelas yang ada di hadapan Daniel, lalu menyiramkannya kepada pria itu. Will terbahak puas. Setidaknya ia tidak menderita sendiri.
"Ada apa dengan hidupku, kenapa selalu dikelilingi oleh para manusia yang memilih hobby untuk menipu." Freya menghenttakkan kakinya lalu pergi meninggalkan ruangan Daniel, dan tentu saja dengan bantingan kuat di pintu yang membuat Daniel dan Will menghela napas dalam.
"Sekarang apa rencanamu?"
"Aku tidak tahu."
"Freya sudah mengetahui ketulenanmu, apa sebelumnya kau pernah menyentuhnya?"
"Aku menciumnya."
Will seketika tertawa, "Wuah, aku bangga padamu, Dude." Will menepuk pundak Daniel, yang segera di tepis oleh Daniel dengan segera.
"Dan itu terjadi karena ulahmu, keparat! kenapa kau meninggalkanku malam itu dan justru memanggil Freya," Daniel beranjak dati tempatnya dan meningalkan Will yang sedang tertawa puas. Sekarang ia hanya perlu menunggu kecanggungan antara sepasang suami istri itu. Ouh, Will terlihat sangat menanti hal baik yang beriringan dengan hal buruk tersebut.
💐💐
Freya baru saja memarkirkan mobilnya di halaman mansion rumah Daniel, Freya memilih pulang, dan memutuskan untuk berendam selama mungkin guna mendinginkan otaknya yang memanas. Dengan mendinginkan otaknya ia baru bisa berfikir dengan jernih, mau dibawa ke mana pernikahan mereka ini.
Freya kembali menarik napas berat, begitu melihat Erick baru saja keluar dari pintu utama. Mungkin dia sedang mencari Liora, yang saat ini sedang bersama Anna.
"Hai, Baby" Erick tersenyum nakal. "Aku mendengar kau mendapat tamparan dari saudari tirimu, apakah sangat sakit?" Erick menelisik wajah Freya, tangannya terulur mengusap lembut wajah yang menyisakan sedikit memar tersebut.
Freya menepis tangannya, "Cepat sekali beritanya sampai ke telingamu, aku menjamin kekasihmu itu pasti tertawa saat bergosip denganmu." Freya melangkah masuk, mengabaikan Erick yang kembali mengekorinya masuk ke dalam.
"Sudah kukatakan, lupakan Sean dan terimalah aku," kekehnya.
"Aku wanita bersuami, Erick."
"Aku tahu kau tidak menyukai suamimu."
"Pergilah, moodku sedang tidak bagus."
"Aku bisa mengembalikan moodmu, baby." Erick menarik tangan Freya ke belakang hingga tubuh Freya membentur dadanya. "Aku menyukaimu, dan aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik." Tangannya kini sudah menjamah wajah mulus Freya, Freya berdecak seraya memalingkan wajahnya.
"Menjauh dariku, sebelum aku menendang pegangan hidupmu." ancam Freya. Erick terkekeh, ia pun menjauhkan tangannya dari wajah Freya.
"Kau terlihat semakin cantik, saat kau mendelikkan matamu seperti itu, dan bibiu semakin seksi saat kau mencibikkannya, aku ingin mencicipinya, baby." Erich menundukkan tubuhnya mensejajarkan wajah mereka.
"Cobalah jika kau berani," Freya menaikkan kedua alisnya, menantang keberanian pria itu.
Erick pun tersenyum, tapi itu tidak lantas membuatnya langsung menyerang bibir wanita yang sangat disukainya itu, ia sangat mengenal watak wanita yang ada di hadapannya itu.
"Maka lidahmu akan putus," lanjut Freya yang kembali membuat Erick tergelak.
"Dasar wanita penggoda!!"
Freya menarik napas panjang, begitu mendengar suara Liora. Erich menegapkan tubuhnya, kemudian berbalik menghadap Liora.
"Hai, sayang," sapanya dengan wajah tanpa dosa. Liora mengabaikannya dan Plak! Satu tamparan kembali mendarat di wajah Freya, di tempat yang sama di mana Anna menamparnya, dan percayalah air mata Freya hampir jatuh karena menahan perihnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" sentak Erich seraya menarik kasar tangan Liora.
"Kau tidak melihat, aku sedang menampar wanita jala*ng itu, ia sedang berusaha menggodamu." ucapnya berapi-api.
"Bukan dia yang menggodaku tapi aku yang menggodanya," aku Erich jujur.
Freya yang berada di belakang Erick masih berusaha meredam emosinya, sekalipun ia tidak terima saat di katakan jala*ng.
"Cih, sekali jala*ng tetap saja jala*ng, begitulah jika terlahir dari rahim wanita jala*ng. Dan kau tahu beberapa yang lalu ia baru saja menggoda Sean, kekasih Anna."
"Apa yang kau katakan tadi?" Freya menarik tangan Erick agar mundur dari hadapannya. Suara datar Freya sangat kontras dengan wajahnya yang mendadak digin. "Coba kau ulangi apa yang kau katakan tadi, Liora Rodriquez?"
"Kenapa? Apa kau marah karena aku menyebutmu jala*ng atau tidak terima saat aku menyebut kau terlahir dari rahim wanita ja_"
Plak!
Satu tamparan keras melayang di wajah Liora, sebelum ia selesai mengucapkan kalimatnya. Tamparan yang diberikan oleh Freya tidak main-main, sudut bibir Liora bahkan sudah mengeluarkan darah. Beberapa para pelayan juga sudah berada di antara mereka.
"Hei, Baby, kendalikan dirimu." Erich menyentuh lengan Freya yang langsung ditepis oleh Freya.
"Beraninya kau_" Liora kembali mengangkat tangannya hendak melayangkannya kembali di wajah Freya, tapi dengan sigap ia mencekal tangan Liora hingga wanita itu terpekik kesakitan, Freya pun melepaskan tangan Liora dengan kasar, lalu...
Plak
Kembali Freya melayangkan satu tamparan lagi bertepatan dengan Daniel dan Clara yang baru masuk.
"Hei, apa yang kau lakukan!" sentak Clara seraya menarik Liora menjauh dari hadapan Freya.
"Memberi pelajaran pada mulut busuknya!" tangkasnya santai.
"Kenapa kau menamparnya, Freya?" Daniel mendekat. Sedikit terkejut melihat luka di bibir Liora.
"Kau tuli, bukankah aku sudah menjawabnya tadi. Kenapa? Kau keberatan? Atau ingin menamparku, sialan keparat!!" Freya malah menginjakkan kakinya ke kaki Daniel, hingga pria itu menggeram menahan sakit.
Sungguh Freya merasa ini hari terburuknya, ia harus berhadapan dengan manusia-manusia munafik. Seakan tidak puas dengan menampar Liora dua kali dan menginjak kaki Daniel, Freya mendorong tubuh Erick hingga pria itu terjungkal ke lantai.
"Dasar manusia-manusi bedebah!!" makinya sebelum akhirnya berlari menuju ke kamarnya.