Hidup bagai dalam dunia gelap bagi Rendra, Putra bungsu pak Arif. Aktif di malam hari dan Tidur di siang hari. Tidak ada aktivitas lain kecuali bermain main bersama geng Motor. Itulah kehidupan yang ia jalani karena masa lalu yang membuatnya rapuh. Tak ada manusia yang ia dengarkan bahkan ayahnya sendiri. Hingga suatu saat ia bertemu pembantu yang mampu meluluhkan hatinya. Pembantu bercadar bernama Mardiyah menjadi Pembantu Favoritnya di rumah itu.
Simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Karena mu aku luluh
"Jangan Tante, saya lebih baik seperti ini saja, saya tidak ingin memanfaatkan hubungan keluarga demi mengangkat status saya menjadi anggota keluarga ini," itulah jawaban diyah yang sangat menolak untuk berhenti menjadi pembantu.
"Tapi diyah...Tante cuma berusaha untuk menebus kesalahan ayahmu yang telah menelantarkan kamu dan almarhumah ibumu," ucap Tante Sinta bersungguh sungguh membujuk diyah. Tante Sinta tidak tega melihat diyah berlama-lama menjadi pembantu. Padahal seharusnya diyah hidup layak jika ayahnya dulu bertanggung jawab.
"Jangan beri saya apa pun Tante, Tante cukup menjadi orang tua saya aja, itu pun kalau Tante berkenan, saya sudah terlalu bahagia ketika saya tau kalau ternyata saya masih punya keluarga yang dekat, jadi Tante tidak perlu memberikan apa pun, saya sudah bersyukur karena masih punya Tante yang baik seperti Tante Sinta," ucap Diyah sembari tersenyum pada Sinta.
Hati Sinta begitu tersentuh mendengar ucapan tulus dari diyah. Ia memeluk diyah sembari meneteskan air mata haru.
"Ayah mu pasti sangat menyesal telah meninggalkan putrinya yang tumbuh cantik dan berhati baik seperti kamu nak," ucap Tante Sinta memeluk erat tubuh Diyah.
"Tante...aku ingin tau seperti apa ayahku, apa Tante bisa cerita sedikit saja," pinta Diyah di pelukan Sinta.
"Nak...Tante rasa kamu tidak perlu tau itu nak, Tante takut kamu malah membenci ayah mu, jika Tante menceritakannya di masa lalu,"
"Baiklah...jangan ceritakan Tante, biarlah aku tidak mendengarnya agar hatiku tidak lelah merenunginya," tutur Diyah sembari tersenyum menatap Sinta.
*
Malam itu,
Sari sudah bersembunyi di ruang belakang untuk mengantisipasi resiko dari perbuatannya yang menjahili diyah.
Namun saat ia merasa dirinya aman bersembunyi di sana, tiba-tiba saat ia berbalik badan, ia dikejutkan dengan berdirinya Rendra di hadapannya.
"Tu- tuan Rendra, kok tuan ke sini?" tanya Sari cengar-cengir.
Rendra tersenyum sinis melihat Sari yang sadar diri kalau dirinya salah. Rasanya Rendra amat geram ingin memberi pelajaran pada Sari.
"Kenapa kamu ngerjain Mardiyah? kamu mau di pecat?" tanya Rendra dengan ketusnya.
"Saya minta maaf tuan, saya tadi nggak sengaja meninggalkan diyah, saya nggak bermaksud untuk menjebak dia," ucap Sari membela diri
"Bohong! itu cuma alasan kamu aja, saya tau kalau kamu emang nggak suka kan sama diyah?" Rendra semakin melototi Sari.
Sari tak tau harus menjawab apa. Ia amat ketakutan.
"Jawab!" bentak Rendra sambil memecahkan vas bunga kaca di hadapan Sari.
"Nggak tuan..saya tidak seperti itu kok," balas Sari sedang air matanya menetes karena ketakutan dengan amukan Rendra.
Suara pecahan itu telah sampai ke telinga diyah. Ia buru-buru melihat apa yang terjadi di sekitarnya.
Diyah tak sengaja menemukan Rendra yang sedang memarahi Sari di sana.
"Mas Rendra..udah ya, jangan marahi Mba Sari lagi, dia kan nggak sengaja mas Ren," pinta Diyah mencoba menghentikan emosi Rendra pada Sari.
"Sari udah ngerjain kamu diyah...dia harus di beri pelajaran!" tegas Rendra melototi Sari.
"Mas Ren..tolong jangan di perpanjang lagi ya, ini tidak akan mengembalikan kejadian yang sudah terjadi, lagi pula Mba Sari bukan sengaja melakukan itu," tutur Diyah mencoba meluluhkan hati Rendra agar menghentikan niatnya untuk menghukum Sari.
Rendra menoleh ke arah Diyah. Rendra memperhatikan Diyah yang menatapnya dengan tatapan penuh harap agar Rendra mau menghentikan ini. Melihat mata diyah cukup membuatnya paham bahwa diyah sangat takut dengan sikap Rendra yang kadang emosi dan kasar.
"Baik...kali ini kamu aman, tapi lain kali jangan ganggu diyah lagi!" tegas Rendra pada Sari.
"Iya saya janji tuan.. terimakasih tuan.." ucap Sari yang akhirnya lega setelah Rendra memaafkannya.
"Ya udah, sana sana.." ucap Rendra dengan ketus seraya mengusir Sari dari sana. Sari pun pergi.
Diyah lega melihat emosi Rendra akhirnya mereda. Kini Rendra menghadap diyah. Ditatapnya gadis yang sedang menundukkan kepala di hadapannya itu.
"Kamu takut ya?" tanya Rendra dengan nada yang amat pelan layaknya sedang berbicara pada gadis kecil.
"Nggak!" jawab Diyah menegaskan.
"HM...maafin saya ya,"
"Maaf buat?"
"Maaf karena suara saya telah mengganggu istirahat kamu," lanjut Rendra menatap diyah
"Nggak pa pa mas Ren,"
"Ya udah, sana istirahat, kamu pasti capek seharian kerja,"
"Baik mas," jawab Diyah kemudian melangkah pergi. Namun tiba-tiba langkah diyah terhenti ketika ia teringat akan sesuatu. Diyah menoleh ke belakang menatap Rendra yang masih berdiri di sana.
"Mas Ren masih susah tidur?" tanya Diyah menghadap Rendra.
"Ya..begitulah..tapi kamu jangan khawatir, sekarang saya sudah lebih mendingan, meski susah tidur, tapi setelah malam larut saya akan tidur dengan sendirinya,"
"Baguslah...kalau gitu saya permisi mas, Assalamualaikum," ucap Diyah dan kini ia benar-benar kembali ke kamarnya.
"Waalaikumussalam," jawab Rendra sembari tersenyum menatap langkah diyah.
*
Rendra yang sudah berbaring di tempat tidur mencoba untuk tidur lebih awal. Namun bukannya tidur ia hanya terbayang bayang tatapan mata Diyah. Rendra selalu teringat dengan perhatian kecil yang diberikan diyah hingga membuat hatinya luluh.
"Mardiyah memang beda dari gadis lain, sifatnya dan kepribadiannya baik, cantiknya yang luar dalam membuat dia tampak cantik meski tertutup cadarnya," batin Rendra yang tak henti melamun kan diyah.
Tak terasa malam semakin larut. Tanpa sadar Rendra telah tertidur pulas malam ini.
..........
💖
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Mardiyah binti Fulan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai karena Allah.”
Sah...
Ucap hadirin serentak. Lega sudah hati Rendra setelah usai ijab qobul. Kini keduanya saling memasangkan cincin. Tampak kebahagiaan di wajah keduanya.
Diyah mencium tangan Rendra. Rendra tak langsung melepas tangan istrinya itu. Iya malah mencium balik punggung tangan diyah.
"Terimakasih diyah, terimakasih karena sudah percaya bahwa aku bisa menjadi yang terbaik untuk kamu," ucap Rendra menatap sang istri.
Diyah tak berbicara, namun tak henti tersenyum.
Setelah semua acara usai, Rendra perlahan membuka cadar diyah. Perlahan di bukanya penutup wajah cantik istrinya itu.
Matanya terpana melihat indahnya wajah Diyah. "Maasyaa Allah...cantik," ucap Rendra.
Diyah jadi malu di buatnya. Rendra hendak mencium kening istrinya. Namun tiba-tiba...
Hal yang tak terduga terjadi. Rendra terjatuh. Terjatuh dari tempat tidurnya dan tersadar kalau ini hanyalah sebuah mimpi.
Rendra menatap sekitar, benar saja, ia bukan di gedung pernikahan namun masih ada di kamarnya.
"HM..lagi indah indahnya mimpi kok malah bangun sih..sial..padahal hampir aja," ucap Rendra sembari menepuk ranjangnya agak keras.
Usai sudah drama mimpi indah itu. Kini Rendra menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 04.00 pagi. Ia tak akan bisa tidur lagi hingga memutuskan untuk mandi saja.
it is so cute 😭
ta bantu doa
tapi saya suka gayamu Rend 💪