Nayla saraswati, gadis jelek hitam dekil yang selalu dikucil kan oleh semua orang memiliki nasib baik dengan menikahi tuan muda arogant yang kaya raya bernama Erlangga raharja.
Tak di sangka, tuan muda itu menikahinya hanya sekedar ingin mengolok² dan menghinanya saja "wanita ini adalah mainan ku" Ujarnya di depan semua orang sembari menunjuk ke arah Nayla.
Mendengar kalimat itu, sontak saja membuat orang² yang tak punya hati nurani tersebut menertawakan Nayla, mereka semua menghina fisiknya karena di anggap menjijikkan.
"Orang tuanya pasti malu punya anak macam dia. Bahkan aku yang melihatnya saja ingin muntah. Dasar burik! ".
Begitu kejam orang² di sekitarnya, mereka semua mencibir Nayla dengan celaan yang menyakitkan hati.
Siapa sangka, saat Nayla melepas topeng buruknya, semua orang tercengang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R qiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari pekerjaan
Sehabis dari rumah sakit, Nayla langsung kembali ke rumahnya. Saat dirinya masuk ke dalam kamar, ia melihat Erlangga yang sedang duduk di atas ranjang dengan mata yang terfokus pada layar laptop.
"Aku haus" ucap Erlangga tiba² tanpa mengalihkan pandangannya dari benda elektronik tersebut.
Seketika itu juga, arah mata Nayla langsung tertuju pada gelas yang berisi air di samping lampu tidur " Tuan, minumannya sudah ada di sebelah anda" ujar Nayla memberi tau.
"Aku haus" Lagi² Erlangga mengucapkan kalimat yang sama.
'Apa sih? minumannya juga sudah ada di sebelahnya. Jangan bilang dia menyuruhku untuk membantunya minum'.
Nayla berjalan menghampiri Erlangga, menyodorkan gelas itu ke arah mulut. Dan benar saja, Erlangga menyeruput air tersebut.
'Hah... Apa²an? dia benar² menyuruhku melakukan ini?. dia lebih menyebalkan kalau sakit'.
"Cepatlah sembuh tuan" ujar Nayla.
"Hemmm... " jawabnya berdehem dengan tangan yang masih sibuk mengetik.
"Kakiku capek".
Nayla tau maksudnya, ia langsung berjalan menuju laci meja rias.
"Heh, mau kemana kau? " Tanya Erlangga.
"Mengambil sarung tangan, tuan" Jawabnya.
"Tidak perlu, kau langsung saja memijat ku. mulai sekarang, kau tidak usah memakai itu lagi" Jelas saja donk Nayla heran, sebab setelah dari Villa, rasanya suaminya itu agak berubah tidak seperti biasanya.
"Eh, kenapa tuan? ".
"Seharusnya kau itu bangga karena bisa menyentuh kakiku secara langsung" Jawab Erlangga sesukanya.
'Bangga? apanya yang harus di banggakan?. Apa memegang kakimu itu termasuk sebuh prestasi? ' Batin Nayla sebal.
" Suatu kehormatan bagi saya bisa memijat kaki anda tuan" ucapnya sembari tersenyum kecut.
Kemudian Nayla mulai menyentuh kaki suaminya, dan menuruti apa yang tadi suaminya minta.
_________
Keesokan harinya, karena merasa tubuhnya sudah membaik. Erlangga akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kantor hari ini. Dia terlalu cinta akan pekerjaannya hingga tak betah jika harus berdiam diri di rumah.
Justru itu membuat Nayla senang karena jika Erlangga pergi, maka dirinya bisa leluasa melakukan apapun yang ia inginkan, seperti pergi ke luar rumah misalnya.
Tanpa diantar oleh sang sopir, dengan gigih Nayla berjalan menyusuri jalanan untuk mencari pekerjaan.
'Hah...kenapa jauh sekali, aduh kakiku rasanya ingin menangis. Padahal jika naik mobil rasanya tidak sejauh ini'.
Ternyata jarak dari mansion hingga pusat kota lumayan jauh.
Tak di sangka ia malah bertemu dengan Selena di tengah jalan.
Selena membuka jendela mobilnya dan bertanya "Mau kemana Nayla? ".
" Sedang mencari pekerjaaan. Oh ya, apa kau punya lowongan kerja untukku? " tanya Nayla berharap bahwa Selena akan memberikannya pekerjaan.
"Sayangnya tidak ada, maaf ya Nayla aku tidak bisa membantumu".
"Iya tidak apa²" Jawab Nayla menyembunyikan kekecewaannya.
"Apa kau butuh tumpangan" Tanya Selena menawari.
"Ah tidak, terimakasih" tolak nya halus.
"Kalau begitu aku duluan, bye-bye" Setelah itu Selena menutup kaca mobilnya kembali dan melaju pergi.
'Bukanlah wanita kampungan itu sudah masuk ke keluarga raharja, jadi untuk apa dia mencari kerja? ' Batin Selena heran.
Dan seketika itu juga, raut wajahnya berubah seraya di barengi dengan seringai aneh di bibirnya.
Sedangkan saat ini Nayla tengah melanjutkan perjalanannya, menyusuri kota besar yang di hiasi oleh gedung² pencakar langit. Setelah melewati jalan yang cukup panjang dan menguras tenaga, akhirnya ia sampai juga.
Nayla mulai mencari pekerjaan, satu persatu toko telah ia masuki, tapi tak ada satupun dari mereka yang mau menerima dirinya.
"Apa? wanita dengan wajah buluk sepertimu mau melamar kerja di sini?. Kau ingin membuat restoran ku bangkrut? mana ada yang mau makan di sini lagi jika pelayannya sepertimu. sudah, pergi dari sini! " kata salah seorang pemilik restoran yang mengusir Nayla mentah².
Dengan penuh kesabaran Nayla mendengar cacian dari mulut orang² tak beradab itu. Bahkan tadi ada yang sempat mendorongnya juga.
'Aku rasa hati nurani mereka sudah hilang' Batinnya berusaha tabah.
Tak dapat di pungkiri bahwa mencari pekerjaaan memanglah tidak mudah. Nayla terus berjalan, mencari seseorang yang mau menerimanya bekerja. Bahkan teriknya sinar matahari tak dapat melunturkan semangatnya yang menggebu. Manik matanya tertuju pada layar besar bergambarkan foto Selena yang sedang mengiklankan sebuah produk kecantikan.
'Andai saja aku bisa seperti dia'.
'Apa aku jadi tukang sapu jalan saja ya? ' ucapnya dalam hati seraya melihat ke arah bapak² berbaju oranye yang sedang menyapu jalanan.
Namun saat Nayla akan menghampiri bapak² tersebut, tiba² ada seseorang yang menepuk bahunya, spontan ia terkejut. "Halo, perkenalkan saya Dimas" ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Nayla" Jawab Nayla seraya membalas uluran tangan tersebut. Ia merasa canggung karena ini adalah kali pertamanya di ajak kenalan oleh orang asing, apalagi itu adalah seorang pria.
"Senang berkenalan dengan anda. Saya fotografer, maaf karena memotret anda diam²" pria tersebut memperlihatkan hasil jepretannya ke Nayla, dan benar saja, foto Nayla tampak estetik di gambar itu.
"Sebenarnya saya sudah memperhatikan Anda dari tadi, kebetulan di perusahaan saya besok menggelar acara fashion show, jika anda berminat, silahkan datang ke kantor saya besok jam 9 pagi. ini kartu nama saya, di sini juga ada alamat perusahaan saya" Dimas memberikan kartu itu kepada Nayla dan kemudian pamit pergi.
"Wah... apa aku tidak sedang bermimpi?. Aku di tawari jadi model?" Nayla melihat kartu nama itu dengan senangnya, ia tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan langka ini, dapat di katakan bahwa sebenarnya cita²nya dari kecil adalah menjadi seorang model terkenal.