Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Tipu Daya Rumah Judi
"Sialan!! Kau pasti bermain curang! Bagaimana bisa setiap ronde kau bisa menebak dengan tepat angka dadu?!!"
Guo Yin berteriak marah. Ini sudah ronde kelima yang mereka mainkan. Taruhan yang awalnya hanya 1 koin emas berubah menjadi 10 koin emas. Namun setiap ronde, Dazhi dapat dengan tepat menjawab berapa angka dadu. Hal ini membuat Guo Yin frustasi.
Dazhi tetap duduk tenang meskipun Guo Yin terlihat seperti ingin mencabik-cabik dirinya. Padahal Guo Yin yang curang, tapi dia malah memutarbalikkan fakta hanya karena Dazhi mempunyai keberuntungan yang besar.
"Sudahlah! Aku tidak mau bermain lagi!!" Guo Yin berdiri, ia lalu berjalan pergi sembari mengucapkan kata-kata mutiara.
Para penonton melongo saat melihat kepergian Guo Yin. Baru kali ini mereka melihat pria itu rugi banyak oleh seorang pemula. Biasanya pemula-lah yang akan rugi karena dia.
Dazhi terkekeh pelan. Detik selanjutnya, orang-orang disekitarnya mulai memujinya, hal ini membuat Dazhi senyum-senyum sendiri.
"Ya... Benar... Teruslah memujiku." Gumam Dazhi.
"Tuanku ini sepertinya sangat suka dipuji yah, haha." Ucap Sven ketika mendengar gumaman Dazhi.
Ditengah-tengah keributan para penonton, seorang pria mendekati meja Dazhi. Tanpa basa-basi, dia langsung mengajak Dazhi bertaruh bersamanya.
"Kau, ayo bertaruh bersamaku. Aku ingin melihat seberapa hebat orang yang telah membuat Guo Yin sampai marah begitu."
Dazhi mengangkat alisnya, siapa pria ini? Datang tak diundang, tiba-tiba mengajaknya bertaruh. Tetapi tentu saja Dazhi akan dengan senang hati menerima ajakan tersebut.
"Baiklah ayo."
***
Dazhi menatap tumpukan koin emas dihadapannya. Sudah enam orang yang mengajaknya bertaruh, dan tak ada satupun yang berhasil menang satu ronde pun darinya.
Orang-orang yang mengajak Dazhi bertaruh kebanyakan adalah orang yang meremehkannya, namun pada akhirnya mereka malah kalah dari Dazhi.
Dazhi sudah bermain beberapa permainan, seperti lempar pisau pada target, dadu kembar, tebak gambar koin, dan sebagainya. Permainan-permainan ini membutuhkan keberuntungan, jadi tentu saja Dazhi bisa dengan mudah menang dalam setiap permainan.
Kini Dazhi punya masalah, sekarang bagaimana dirinya akan membawa tumpukan koin ini? Setidaknya dihadapannya sudah ada sekitar 100 koin emas, dan tentu saja kantong koinnya tak akan muat.
"Meskipun aku suka koin emas, tapi kalau sebanyak ini, bagaimana aku akan membawanya? Andaikan aku punya cincin ruang..."
"Kenapa tidak beli saja. Uangmu kan banyak, Dazhi."
"Benar juga. Ide bagus Sven!"
Dazhi bangkit dari duduknya. Para penonton sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, mereka sudah bubar setelah tak ada lagi orang yang berani bertaruh dengan Dazhi.
Ketika Dazhi hendak berjalan keluar dari tempat judi itu, salah seorang pelayan rumah judi menghampirinya.
"Maaf... Tetapi ada yang ingin saya bicarakan."
"Ada apa?"
"Begini, anda sudah memenangkan banyak pertaruhan dan mendapatkan keuntungan besar. Saya mau mengajak anda untuk pergi keruang khusus, di sana tingkat taruhannya akan bertambah dan intensitas permainan nya akan lebih menegangkan. Bila berkenan, maukah anda pergi ke sana? Saya akan mengantar anda."
Dazhi memasang pose berpikir, ia memang pernah mendengar kalau beberapa rumah judi mempunyai ruangan khusus untuk orang-orang tertentu.
Namun, apakah dirinya ini benar-benar dapat dikategorikan sebagai orang tertentu sampai-sampai bisa memasuki ruangan khusus tersebut?
"Ayo pulang saja Dazhi. Sudah terlalu larut malam." Sven berbicara kepada Dazhi.
"Hm... Tapi mungkin satu kali ronde tidak apa-apa bukan?" Balas Dazhi.
"Ya baiklah, terserah dirimu saja."
Akhirnya Dazhi menyetujui ajakan untuk pergi keruangan khusus. Mungkin saja di sana dirinya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar seperti apa yang pelayan rumah judi itu katakan.
Dazhi diantarkan ke area belakang rumah judi yang tertutup. Di sana dirinya bisa melihat beberapa orang dari keluarga perjabat dan pemilik dari tempat judi ini duduk pada sebuah meja bundar.
"Wah, jadi ini orang yang berhasil menang banyak taruhan."
"Tak kusangka kalau dia masih semuda ini, Kemarilah nak."
Dazhi mengangguk, dia ikut duduk disalah satu meja yang sepertinya memang sudah disediakan khusus untuknya.
Mereka lalu mulai memperkenalkan diri masing-masing. Walaupun begitu, Dazhi tidak terlalu ingat siapa saja nama mereka, lagipula mereka bukanlah orang yang terlalu penting.
Setelah perkenalan yang singkat itu, seorang pengatur meja mendatangi tempat mereka.
"Karena semua peserta sudah berkumpul, maka permainan akan segera dimulai," ucapnya sambil menatap satu per satu orang yang duduk di meja bundar.
Dia kemudian mengeluarkan beberapa mangkuk keramik yang terbalik. Dazhi mengangkat alisnya, ia belum pernah melakukan permainan ini.
"Permainan malam ini adalah tebak batu berharga dengan taruhan 20 koin emas. Didalam mangkuk ini terdapat giok, emas, perak, tembaga, dan batu biasa. Jika mendapatkan giok, maka peserta menang dan taruhan akan digandakan. Jika emas, maka hanya akan mendapatkan keuntungan berupa setengah dari taruhan. Jika mendapat perak, maka tidak untung dan tidak rugi..."
"Selanjutnya, jika mendapat tembaga, maka rugi setengah dari taruhan. Jika mendapat batu biasa, maka itu artinya peserta kalah taruhan dan uang taruhan akan diambil untuk membayar orang yang menang."
Dazhi mendengarkan dengan seksama. Permainan ini sungguh mengandalkan keberuntungan, jadi akan sangat cocok bagi dirinya yang punya Sven.
Permainan pun dimulai.
Sang pengatur meja mulai mengacak mangkuk, setelah beberapa saat dia berhenti dan menanyai pilihan setiap peserta. Sampai akhirnya, kini giliran Dazhi yang memilih.
"Mangkuk paling kiri." Dazhi memilih dengan santai tanpa perhitungan sama sekali, ia percaya diri akan mendapatkan batu paling langka dengan mudah karena ada pusaka Liontin Keberuntungannya.
Namun, tak seperti apa yang ia pikirkan. Begitu mangkuk dibuka, yang dia dapatkan adalah batu biasa. Hal ini membuat Dazhi kehilangan 20 koin emasnya.
"Tenang saja nak, ini baru awalan. Mungkin selanjutnya kau bisa mendapatkan batu giok." Salah satu pria didalam ruangan khusus menyemangati Dazhi.
Dazhi hanya mengangguk singkat. Permainan kemudian dilanjutkan ke ronde selanjutnya. Kali ini Dazhi memperhatikan pergerakan mangkuk agar bisa memilih yang terdapat batu giok.
"Mangkuk kedua dari kanan." Ucap Dazhi ketika waktu memilih tiba.
Dazhi sudah menggunakan keberuntungan Sven, bukan hanya itu, dia juga memperhatikan pergerakan mangkuk dengan cermat. Jadi seharusnya sekarang dirinya akan memenangkan ronde ini.
Tetapi sama seperti sebelumnya, ketika mangkuk dibuka, yang Dazhi dapatkan adalah batu biasa.
Hal ini terus berlanjut sampai beberapa ronde kedepannya. Dazhi merasakan ada yang aneh, tapi dia tak bisa mengungkapkannya.
"Sven, keberuntungan mu belum habis bukan?"
"Jangan bercanda Dazhi, aku ini pusaka yang bisa memberikan keberuntungan mutlak. Mereka yang bermain curang!! Jangan salahkan aku!!"
Dazhi terdiam mendengar ucapan Sven. Pusaka itu juga tau kalau Dazhi telah dicurangi. Tapi dicurangi dengan cara apa?
Tiba-tiba Dazhi teringat sesuatu, ada sebuah teknik tingkat atas yang kemungkinan digunakan dalam permainan ini. Dazhi kemudian memegangi matanya.
"Teknik tingkat 1, Mata pembaca aliran Qi."
Sesuai dugaannya, seseorang diruangan ini telah menggunakan teknik Ilusi Penukar Wujud kepada batu-batu yang ada pada mangkuk.
Yang membuat Dazhi lebih geram adalah, ternyata Qi yang mereka gunakan adalah Qi hitam. Tidak hanya itu, orang-orang disini juga mengeluarkan aura Qi hitam yang mereka sembunyikan dengan baik sampai-sampai Dazhi dari awal tidak menyadarinya.
Kenyataan ini membuat Dazhi tersenyum pahit. Ya ampun, bisa-bisanya dirinya yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun terkena jebakan seperti ini. Sepertinya kemampuannya patut dipertanyakan.
Dazhi lalu berdiri membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
"Aku selesai bermain."