Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 28 KEGUNDAHAAN RARA
Malam hari pun tiba...
Di dalam kamar, Rara sedang duduk di atas kasur tampaknya ia sangat murung. Percakapan pagi tadi dengan ibunya seolah seperti hantu yang merusak akal sehatnya sendiri.
Ia menghembuskan napas kasar seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah pengangkatan rahimnya karena penyakit kanker itu seolah menjadi sebuah pengingat yang mematikan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjadi seorang ibu selamanya.
Tak terasa air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah.
"Hiks... Hiks... apa aku tidak berhak bahagia." lirih Rara di sela-sela isak tangisnya.
"Apa yang harus aku lakukan, tawaran Mama seolah menjanjikan keinginan yang selama ini aku impikan. Tapi apakah aku bisa menyakiti mereka!" raung Rara tampak frustasi.
Tiba-tiba saja suara pintu kamar terbuka dengan cepat ia mengusap air matanya lalu merebahkan dirinya berpura-pura tertidur.
Bram menglangkah masuk dan mendekat ke arah istrinya, ia tau istrinya hanya berpura-pura tidur melihat sisa jejak air mata di pipi istrinya masih basah. Ia mendengar semua percakapan istrinya dengan mertuanya yang benar-benar sudah kelewatan tapi ia ingin menunggu istrinya apakah akan jujur kepadanya atau memilih mengikuti rencana ibunya.
Bram sedang dilanda antara dua pilihan saat ini. Jika istrinya tidak mau berterus terang dan memilih mengikuti ibunya ia tidak punya pilihan lain selain mengakhiri hubungan mereka, tapi jika istrinya memilih jujur kepadanya dan tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak keluarga ini ia akan tetap berada di sampingnya sampai maut memisahkan mereka.
Ia bersikap seolah tidak tau apa-apa dan langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. "Keputusan ada padamu, Rara. Kamu memilih menghancurkan keluarga ini atau tetap berada di sisiku dengan ada atau tidaknya seorang anak." bisik Bram dalam hati.
Malam itu teras seperti jangkar jarak yang membentang antara Rara dan Bram.
Malam semakin larut. Namun, keduanya masih terjaga dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Bram yang menghadap ke arah lain masih terus menunggu istrinya tapi belum ada tanda-tanda bahwa istrinya akan jujur kepadanya.
Di sisi lain, Rara masih tampak terisak dengan bahu bergetar. Pikirannya masih terasa kacau seperti tidak ada celah untuknya berpikir jernih.
Bram yang merasakan guncangan kecil pada tempat tidurnya, tidak bisa lagi menahan untuk tidak menegur istrinya. Ia membalikkan badannya untuk menghadap sang istri.
"Rara... apa kamu sudah tidur?"
Hening untuk beberapa menit, masih tidak ada tanda-tanda bahwa istrinya akan menjawab panggilannya.
Bram menghembuskan napas kasar tampak sangat kecewa dengan keputusan istrinya. Ia hendak membalikan badannya kembali. Namun, tiba-tiba sebuah tangan kecil melingkar di pinggangnya yang kokoh.
"Hiks... Mas..." isak Rara yang tidak bisa menahan kegelisahan dalam hatinya.
Bram yang mendapati istrinya tampak sangat terluka dengan cepat membalas pelukkan istrinya. Ia mengelus punggung istrinya dengan lembut mencoba menenangkannya.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bram seolah ia tidak tau apa-apa.
Rara masih terisak dalam pelukkan suaminya ia masih enggan dan takut untuk mengatakan semuanya.
"Tenangkan dulu dirimu setelah merasa lebih baikkan baru kamu bisa ceritakan apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara Bram lembut bahkan terdengar nyaris seperti desiran angin yang menenangkan ditengah kekalutan hati Rara.
"Mas... apa kamu tidak akan meninggalkanku meskipun aku tidak bisa memberikanmu seorang anak?"
"Rara lihat aku!" kata Bram sambil merenggangkan pelukkan nya hanya untuk menatap ke dalam kedua manik milik istrinya. "Apa selama ini aku pernah berbohong atau mengingkari janji kepadamu?"
Rara langsung menggelengkan kepalanya.
"Mau kita punya anak atau tidak selama kamu selalu berada di sampingku dan mendahulukan aku lebih dari apapun. Aku dengan setulus hati tidak akan pernah meninggalkanmu selain maut yang memisahkan kita. Ra!"
"Hiks... aku takut Mas! Sebenarnya pagi tadi Mama mengatakan jika aku tidak memiliki posisi di rumah ini, karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk kamu!" Tidak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar takut jika suaminya akan meninggalkannya atau lebih buruk dari itu menikah dengan wanita lain.
"Sayang, dengarkan aku. Posisi kamu masih tetap sama kamu istriku dan wanita satu-satunya yang aku nikahi tidak ada yang lain, untuk apa kamu takut dengan hal yang bahkan kamu sendiri sudah tau jawabannya."
Rara masih saja terisak, perasaannya masih belum tenang meski ia sudah yakin suaminya tidak akan meninggalkannya. Ia ingin mengatakan jika ibunya memintanya untuk membicarakan soal anak yang di kandung Aline tapi mendadak lidahnya kelu, apakah suaminya akan memberikan hal itu.
Di sisi lain, Bram melihat istrinya yang terdiam seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu mencoba menunggu agar wanita itu mengeluarkan segala keresahan dalam hatinya.
"Mas... bagaimana jika kita mengadopsi anak yang ada di kandungan Aline, apa kamu akan setuju?"
DEGH!
Jantung Bram mendadak berhenti berdetak saat itu juga, pertanyaan macam apa itu. Ia menarik napas dalam-dalam mencoba untuk tetap tenang disaat istrinya butuh arahan antara benar dan salah.
"Rara sebelum aku menjawab pertanyaan kamu, aku ingin menanyakan sesuatu lebih dulu." ujar Bram dengan wajah yang lebih serius dari sebelumnya.
Rara mengangguk pelan dengan wajah yang sudah sembab.
"Jika kamu di posisi Aline... lalu dia meminta kamu untuk menyerahkan anak yang sedang kamu kandung, untuk diadopsi olehnya apa kamu akan memberikannya?"
Pertanyaan itu tiba-tiba mengembalikan kesadaran Rara yang sempat hilang entah kemana. Jelas ia tidak akan memberikannya. Percakapan dengan ibunya sudah merusak akal sehatnya sendiri.
Rara menunduk, merasa bersalah dengan apa yang telah ia pikirkan. "Maafkan aku, Mas... aku salah mengatakan hal semacam itu." lirih Rara.
Bram mengangguk mengerti. "Sayang, aku menerima dan menyangi kamu lebih dari apapun, sebaiknya kamu buang pikiran yang bisa membuat Rara kecilku ini bisa berubah hanya karena hasutan seseorang." ucap Bram dengan suara lembut yang menengkan.
Rara mengangguk lalu memeluk suaminya dengan erat. Ia tidak peduli lagi dengan ucapan orang taunya yang paling penting adalah suaminya tidak akan pernah meninggalkannya.
Bram membalas pelukkan istrinya tidak kalah erat. Ia mencium kening Rara dengan penuh perasaan.
Sejenak mereka larut dengan suasana yang penuh emosional, hingga Bram menatap wajah wanita yang dua tahun ini menemaninya disaat dalam keadaan apapun.
Hingga akhirnya sebuah ciuman lembut dan penuh perasaan mendarat dibibir kecil milik Rara. Beberapa menit Bram menikmati momen itu sebelum akhirnya menarik wajahnya kembali, lalu menyatukan kening mereka. Hembusan napas hangat menerpa wajah masing-masing.
"Kita istirahat, ya. Jangan pikirkan apapun yang membuat kamu merasa tertekan. Yang harus kamu percaya aku dan keluargaku sangat menyangi kamu, Rara." kata Bram dengan suara lembutnya lalu mengusap pelan surai panjang milik istrinya.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣