Perjuangan seorang Nayra Kalista yang menghadapi begitu kerasnya dunia ini, dunia yang tak adil untuk dirinya hidup. Dari kecil menjadi seorang yatim-piatu, hidup di panti asuhan, rela putus sekolah demi menjadi tulang punggung bagi saudaranya di panti asuhan. Sampai akhirnya harta satu-satunya yang dijaga selama ini direnggut oleh pria asing yang Nayra sama sekali tak kenal.
Hidupnya hancur bertubi-tubi. Apakah ia bisa menjalani hidup nya kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Apakah Nayra bisa bahagia dengan cobaan yang begitu berat ini?
yuk mampir biar tau perjalanan hidup Nayra!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cacil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 21
HAPPY READING 🍁
"Hm..." jawab Nayra masih menikmati sarapannya.
"Aku lihat-lihat kita sarapan seperti ini, kita seperti keluarga kecil yang bahagia."
"Maksud kamu?"
"Apakah kamu nggak mau menikah denganku?"
Tiba-tiba Nayra langsung terbatuk dengan perkataan Baim barusan. Apa lagi ketika Baim mengatakan itu masih ada makanan di mulutnya.
Dengan cepat Baim memberikan Nayra air putih untuk di minum.
"Ini minum."
"Terima kasih."
"Maaf tadi tentang perkataan ku tadi, aku hanya mengungkapkan perasaanku ke kamu. Tapi kalau kamu tak mau juga tidak pa-pa!"
"Maaf, tapi untuk saat ini aku belum siap untuk menikah. Aku hanya ingin fokus bekerja dan mengurus Alden."
"Apa salahnya kita menikah? Toh aku juga tak akan melarang mu bekerja dan aku akan siap mengurus Alden 24 jam."
"Selama ini aku hanya menganggap mu sebagai saudara laki-laki ku jadi aku tak mau dengan kita menikah membuat hubungan ini menjadi renggang."
"Aku janji tak akan menyakitimu, kamu juga bisa mengagapaku sebagai saudara mu setelah kita menikah nanti," Baim memegang kedua tangan Nayra untuk memohon. Tapi Nayra malam melepaskan tangannya dari pegangan Baim.
"Maaf sekali lagi, tapi untuk saat ini aku belum ingin menikah."
Nayra lalu pergi dari sana menuju kamarnya. Ia meninggalkan Baim beserta Alden di luar. Nayra belum siap untuk saat ini menikah, ia juga tak tau kenapa Nayra berharap ada seseorang mengajaknya menikah tapi itu bukan lah Baim. Karena Nayra tak ada rasa untuk Baim hanya sekedar sayang sebagai seorang sahabat tidak lebih.
"Kenapa hati ini sudah untuk mencintai seseorang? Padahal Baim sangatlah baik tapi kenapa aku sama sekali tak jatuh cinta padanya," gumam Nayra dalam hati.
Tok... tok... tok...
"Siapa?" tanya Nayra mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.
"Mah! Ini Alden."
"Ada apa Sayang?"
"Boleh Alden masuk?"
"Iya Sayang, buka aja! Mama nggak tutup kok pintunya."
Alden menghampiri mamanya sedang duduk di samping tempat tidur.
"Mah, tadi Om Baim bilang kalau dia minta maaf ke Mama."
"Lalu Om Baim ke mana?" Nayra melirik ke arah luar tapi ia tak melihat Baim ada di sana.
"Om Baim pergi tadi."
"Apakah Baim marah dengan jawaban ku tadi? Apakah dia kecewa karena aku menolaknya?" batin Nayra risau karena hanya Baim lah orang yang Nayra kenal di sini.
Baim begitu banyak jasanya. Dulu awal sampai di sini Baim lah yang mencarikan Nayra kontrakan dan pekerjaan. Lalu ketika melahirkan Baim yang membiayai persalinan Nayra sampai selesai, Baim juga yang sering merawat Alden bila Nayra sakit atau bekerja. Itulah membuat Nayra takut bila Baim kecewa padanya.
***
"Mama janji kan untuk membawa Alden pergi bermain?" Alden menagih janji karena Nayra sudah berjanji untuk mengajak Alden untuk jalan-jalan.
"Maafkan Mama, Mama lupa kalau Mama sudah janji untuk mengajak Alden pergi jalan-jalan."
"Kalau gitu ayok kita pergi!"
"Sekarang?"
"Iya..."
"Tapi ini udah sore, besok aja ya Minggu depan kita perginya."
"Nggak mau! Alden maunya sekarang."
"Baiklah! Mama siap-siap dulu, Alden tunggu saja di depan."
Tak lama kemudian Nayra sudah selesai bersiap-siap. Mereka berdua pun pergi ke salah satu Mall di kota itu
Nayra juga membawa Alden pergi bermain di area bermain di Mall itu.
Sudah beberapa wahana permainan yang Alden mainkan di sana, sampai akhirnya Alden menyudahi permainannya lalu meminta Nayra membelikannya es cream.
"Mama, Alden mau dibeliin es cream."
"Nggak bosan setiap hari makan es cream mulu?" Nayra heran dengan anaknya yang meminta es cream setiap hari dan di manapun mereka berada, ia saja memakan es cream satu sudah merasa gilu tapi kenapa anaknya betah sekali dengan makanan dingin itu."
"Huwaaa... Alden mau es cream..." Alden merengek di depan banyak orang agar Nayra mau membelikannya, dan rencananya itupun berhasil membuat Nayra mau membelikannya karena malu melihat Alden menangis di depan banyak orang.
"Yasudah ayok Mama belikan es cream."
Dengan semangatnya Alden berlari menuju ke arah tempat es cream itu terjual. Tanpa sengaja Alden menabrak seseorang laki-laki yang kemarin ia tabrak ketika ada di supermarket tempo hari itu."
"Aduh..." rengek Alden terjatuh di depan laki-laki itu.
"Astaga! Ayok bangun jagoan," ujar laki-laki itu membangunkan Alden.
"Bukannya kamu anak kecil di supermarket itu?"
Belum saja Alden menjawab terlebih dahulu Nayra sampai di sana setelah mengejar anaknya yang begitu cepat larinya.
"Alden! Kamu tidak pa-pa Sayang?" Nayra langsung melihat Alden berdiri di depan laki-laki itu.
"Nayra/Pak Andrian?"
Keduanya saling tunjuk ketika melihat satu sama lain. Laki-laki yang selalu ditabrak oleh Alden adalah Andrian.
"Mama..." Alden langsung menghampiri Nayra lalu memeluk mamanya.
"Mama?" Andrian terkejut mendengar anak kecil itu memanggil Nayra dengan sebutan Mama. Padahal setahunya Nayra belum menikah apalagi mempunyai anak.
"Kenapa anak kecil ini menyebut kamu Mama?" tanya lagi Andrian.
"Astaga! Apa yang harus aku katakan? Kenapa takdir harus mempertemukan aku dengan laki-laki beregsek ini? Dan kenapa juga Alden harus bertemu laki-laki ini secara kebetulan,"gerutu Nayra dalam hati.
"Kenapa kamu belum menjawab pertanyaan ku?"
"I-itu..."
Belum sempat Nayra menjawab pertanyaan dari Andrian. Terlebih dulu suara seseorang dari samping Andrian memanggil Andrian membuat Nayra terselamatkan dari pertanyaan tadi.
"Maaf Tuan, lalu bagaimana kerja sama ini? Kita baru saja mendiskusikannya, apakah Anda akan membatalkannya karena bertemu Nona ini?" tanya klien Andrian yang memang dari tadi ada di samping Andrian.
"Maaf Tuan, kalau gitu mari kita bahas kerjasama ini di sana," sambil menunjukkan sebuah lestoran yang berada di Mall itu.
Tanpa berpamitan ataupun melirik Nayra, Andrian pergi dari sana. Nayra merasa bahwa Andrian terlihat kecewa mengetahui ia mempunyai anak. Padahal anaknya ini, juga anaknya.
"Mama kenal dengan Om tampan itu?"
"Iya Sayang! Itu Bos Mama di kantor."
"Om itu yang memberikan Alden es cream, Om itu baik sekali sama Alden."
"Masak sih? Kalau Alden ketemu sam Om itu jangan lupa berterima kasih karena telah memberikan Alden es creamnya, tapi ingat Alden jangan lagi menerima lagi apapun dari Om itu ataupun dari orang lain."
"Baik Mah! Om itu sepertinya orang kaya raya. Andaikan Alden mempunyai Papa seperti Om itu."
"Andai kau tau Nak, bahwa yang kau inginkan itu memang nyata. Dia Papa kandungmu, tapi Papa kandungmu tak mengenalmu bahkan mengetahui mu hidup atau nggak dia tidak tau," batin Nayra lirih melihat mata anaknya berbinar-binar menginginkan Papa seperti Andrian.
"Alden jadi kan mau beli es cream?"
"Jadi dong Mah."
"Kalau gitu ayok kita ke sana," sambil menunjuk penjual es creamnya.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^
typoo yaaaa