Menjadi istri mantan preman membuatku terpaksa digadaikan oleh suamiku sendiri. Tak tanggung-tanggung, aku digadaikan pada musuh suami. Tanpa aku tahu bahwa sebenarnya suamiku mendapat ancaman. Ditambah lagi aku mesti menghadapi ibu mertua yang julid di masa kehamilan ini.
Pria yang sudah bertaubat, dipaksa untuk kembali menjalani kehidupan di dunia gelap karena sebuah ancaman.
Di posisi sulit ini, aku bertanya-tanya, akankah aku mampu menyelamatkan diriku dari pegadaian yang terpaksa dilakukan oleh suamiku sendiri? ikuti kisah penuh intrik ini dengan baca sampai ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Matahari sudah mulai menunjukkan cahayanya ketika Aiza menggeret koper menuju ke teras kontrakan. Terlebih dahulu pandangannya mengedar ke sekeliling. Mengawasi keadaan sekitar, namun ia justru melihat sosok yang mengejutkannya.
Sosok itu tengah duduk di teras rumah sebelah dengan tatapan yang tak kalah kaget. Tak lain Zahra, kakaknya Aiza yang meninggalkan rumah karena diusir oleh Ismail, abinya Aiza. Pasalnya Zahra kabur bersama dengan pria yang dia cintai di hari lamaran ketika Ismail menjodohkannya. Dan malah aiza yang menggantikannya.
"Aiza!" Zahra berseri dengan mata membeliak.
"Kak Zahra!" seru Aiza tak kalah heboh. Ia lalu menghambur tak peduli melompati pagar teras beton setinggi paha.
Kedua wanita itu berpelukan. Sekian lama tak bertemu, membuat keduanya merasa sangat ingin berbagi kebahagiaan. Soal kesedihan urusan nanti. Yang jelas mereka bahagia sekali. Aiza tak menyangka jika ternyata kontrakan itu justru mempertemukannya dengan sang kakak.
"Kakak apa kabar?" Aiza melepas pelukan dan menatap kakaknya dengan haru.
"Baik. Kakak baik. Kamu... Eh kenapa kamu bisa di sini? Sendirian? Akhmar mana?" Zahra menoleh ke kiri kanan mencari keberadaan Akhmar, namun tidak menemukannya.
"Aku nggak bersama dengan Akhmar. Sedang ada masalah diantara kami," ungkap Aiza, tak mau mengatakan bahwa ia dan Akhmar sudah pisah.
Zahra membekundi tempat, ia tak bisa berkata- kata. Ia mengerti bahwa di dalam berumah tangga pasti ada pahit dan manis. Dan Zahra tak mau menanyai lebih lanjut masalah rumah tangga adiknya, takut aidknya malah akan tersinggung. Ia hanya akan mendengar bila Aiza sendiri yang menceritakan tanpa ia menanyakannya. Biarlah Aiza yang menyimpan privasinya sendiri. Aiza sudah mengerti mana yang harus dibagi dan mana yang harus disimpan. Saat dia ingin membagi masalahnya, maka ia sudah tahu takarannya.
"Kak, Aiza pergi dari rumah bukan tanpa seijin Akhmar. Ini udah kesepakatan kami. Kalau kondisi sudah membaik, kami akan kembali bertemu lagi," ujar Aiza berusaha menutupi kenyataan, takut Zahra akan mencurigai adanya aroma retaknya rumah tangganya.
"Kak, Aiza sebenarnya..." Aiza tak kuasa melanjutkan kata- kata. Hatinya kebas. Setelah ia meyakini bahwa ia akan hidup bersama sang suami yang tengah hijrah menuju hal baik, nyatanya keyakinannya itu salah.
"Udah, nggak usah kamu ungkapkan kalau memang berat untuk diungkapkan. Kakak ngerti kok apa yang kamu rasakan. Jadi, jangan riweh sendiri. Oh ya, kamu mau cari kontrakan ya? Mendingan kamu tinggal sama kakak aja. Kakak udah bayar tiga bulan ke depan kok."
Aiza mengangguk mantap.
"Ya udah, ayo masuk!" Baru saja Zahra bangkit berdiri sambil meraih lengan Aiza untuk mengajaknya masuk, terdengar derap langkah kaki mendekati.
Sejurus pandangan tertuju ke sumber suara. Tampak Akhmar mendekat, pria itu langsung meraih lengan Aiza.
"Ikut denganku!" titah Akhmar membuat Aiza malah terbengong. Pandangan Akhmar kemudian tertuju ke wajah Zahra. "Kak Zahra, maaf aku harus bawa Aiza. Permisi ya, Kak."
Zahra mengangguk kaku. Tak tahu harus berkata apa.
Akhmar menarik Aiza, tangan lainnya menarik koper milik Aiza dan membawanya menuju ke mobil.
Aiza tidak memberontak, ia menurut saja, ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Akhmar.
"Masuk! Aku mau bicara denganmu!" ucap Akhmar lalu ia memasukkan koper ke bagasi mobil.
Penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan, Aiza pun kemudian masuk ke mobil sesuai dengan perintah Akhmar.
Bersambung