NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusanku Tetap Sama

...****************...

Suasana ruang keluarga keluarga Atmajaya terasa begitu hening. Dirga duduk dengan kedua tangan yang bertaut di atas pangkuannya, sementara pengacara keluarga mulai membuka surat wasiat yang telah di simpan selama bertahun-tahun.

"Dengan ini saya akan membacakan surat wasiat terakhir dari mendiang Tuan Atmajaya."

Dirga sempat mengira surat wasiat yang di maksud hanya berkaitan dengan perusahaan atau aset keluarga yang selama ini berada di bawah pengelolaannya.

Meskipun sang kakek telah lama meninggal dunia, beliau memang dikenal sebagai sosok yang selalu memiliki rencana jauh ke depan.

Namun, yang membuatnya heran justru ekspresi kedua orang tuanya malam itu. Laras dan Lukman terlihat jauh lebih serius dari biasanya, seolah mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.

"Kenapa Ibu dan Ayah terlihat seperti sedang menghadiri sidang?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hal itu justru membuat rasa penasarannya semakin besar.

Pengacara itu berdeham pelan sebelum mulai membacakan isi surat tersebut.

"Kepada cucuku, Dirga Atmajaya. Jika surat ini sampai ditanganmu, itu berarti usiamu telah genap tiga puluh tahun."

Dirga mengernyitkan dahinya. Cara sang kakek menulis surat itu membuatnya seolah sedang berbicara langsung dengannya.

"Pertama-tama, Kakek ingin mengucapkan selamat atas pencapaianmu. Kakek yakin saat ini kau telah menjadi pria ynag hebat dan mampu memimpin perusahaan keluarga dengan baik."

"Kakek mengenalmu lebih baik daripada siapa pun, Dirga. Sejak kecil, kau selalu menjadi anak yang keras kepala. Jika kau sudah memutuskan sesuatu, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah pendirianmu."

"Kau tumbuh menjadi pria yang hebat dan bertanggung jawab. Kakek bangga pasti kau mampu membawa perusahaan keluarga menjadi sebesar impian kakek dulu."

"Namun, ada satu hal yang selalu menjadi kekhawatiran Kakek. Kau terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dalam hidupmu hingga lupa bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan dan pencapaian."

"Kau terlalu sulit membuka pintu untuk orang lain. Terlalu berhati-hati dalam mempercayai seseorang. Dan terlalu keras pada dirimu sendiri."

"Karena itulah, Kakek berharap di usia tiga puluh tahun ini, kau telah memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dihitung dengan angka ataupun dibeli dengan kekayaan."

Untuk sesaat, sudut bibir Dirga terangkat tipis. Hubungannya dengan sang kakek memang sangat dekat semasa hidup beliau.

"Karena itu, Kakek memiliki satu permintaan terakhir yang harus kau penuhi apabila ingin menerima seluruh warisan yang telah Kakek tinggalkan."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan.

"Kau harus menikahi cucu dari sahabat terbaik Kakek."

Untuk beberapa detik, Dirga hanya terdiam. Ia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya salah mendengar isi surat wasiat tersebut.

Pernikahan?

Ia menatap sang pengacara dengan kening berkerut sebelum tertawa tipis karena tidak percaya.

"Saya harap ini bukan lelucon yang sengaja di buat-buat."

Sayangnya, tidak ada satu pun orang diruangan itu yang tertawa.

Tatapan Dirga kemudian beralih kepada kedua orang tuanya yang sedari tadi memilih diam. Ekspresi serius yang terpancar dari wajah mereka membuatnya sadar bahwa semua yang baru saja di dengarnya adalah kenyataan.

"Pernikahan di jadikan syarat warisan?" tanyanya dengan nada dingin.

Seumur hidupnya, Dirga tidak pernah membayangkan bahwa sang kakek akan menentukan pasangan hidupnya melalui sebuah surat wasiat.

Pengacara itu mengangguk pelan sebelum kembali melanjutkan isi surat wasiat.

"Pernikahan tersebut bukanlah sebuah pilihan yang baru Kakek putuskan. Wasiat ini telah dibuat sejak bertahun-tahun lalu atas kesepakatan antara Kakek dan sahabat Kakek."

Wajah Dirga mulai mengeras.

"Ini tidak masuk akal," ujarnya dingin.

Laras dan Lukman yang sedari tadi memilih diam hanya saling bertukar pandang.

"Dirga, kakekmu tidak mungkin membuat keputusan ini tanpa alasan," ujar Lukman akhirnya.

"Aku tidak peduli alasannya apa, Yah. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa di jadikan syarat sebuah warisan."

"Bagaimana jika perempuan itu adalah orang yang baik?" tanya Laras dengan hati-hati.

"Itu bukan poinnya, Bu."

Dirga mengembuskan napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku sudah memiliki perempuan yang ingin kunikahi."

Kedua orang tuanya tampak sedikit terkejut mendengar pengakuan tersebut.

"Aku sudah serius dengan Viona. Jadi tidak ada satu pun surat wasiat yang dapat mengubah keputusanku."

Mereka sendiri telah mengetahui isi surat wasiat tersebut sejak beberapa tahun lalu, tetapi tidak diperbolehkan memberitahukannya kepada Dirga.

"Tuan Dirga, saya belum selesai membacakan isi surat wasiat ini," ujar sang pengacara dengan sopan.

Dirga pun kembali bersandar pada sofa dengan wajah tak terbaca.

"Apabila cucuku Dirga Atmajaya menolak pernikahan tersebut... maka seluruh aset, saham perusahaan, properti, dan harta peninggalan yang menjadi haknya tidak akan diwariskan kepada siapa pun dari keluarga Atmajaya."

Tatapan Dirga berubah tajam.

"Seluruh aset tersebut akan di uangkan dan di salurkan kepada berbagai yayasan sosial yang telah saya tunjuk serta pihak-pihak yang membutuhkan sesuai dengan amanat yang sudah saya tuliskan."

"Tidak hanya perusahaan, Tuan Dirga," ujar sang pengacara. "Seluruh saham yang menjadi hak Anda, hotel, resort, properti investasi, hingga berbagai aset peninggalan mendiang Tuan Atmajaya yang selama ini berada di bawah pengelolaan keluarga juga akan diuangkan."

Dirga terdiam mendengarnya.

Bukan karena ia takut kehilangan warisan tersebut, melainkan karena ia mengetahui dengan jelas betapa besar usaha sang kakek dalam membangun semuanya selama puluhan tahun.

Beliau lebih memilih menyerahkan seluruh hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan daripada memaksakan warisannya jatuh ke tangan cucunya yang menolak amanat terakhirnya.

Dirga tertawa pelan karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Jadi Kakek sedang mengancamku untuk menikahi perempuan yang bahkan tidak aku kenal?" tanyanya dengan nada dingin.

"Beliau juga menuliskan satu hal lagi, Tuan."

Pengacara itu membuka lembar berikutnya.

"Jika kau memilih untuk tidak menikahinya, Kakek tidak akan marah. Kakek hanya berharap kau dapat menerima konsekuensi dari pilihanmu."

Dirga mengepalkan tangannya.

"Aku tidak membutuhkan warisan itu."

"Dirga!" tegur Laras.

"Aku serius, Bu. Aku tidak akan menikahi seseorang hanya demi harta."

"Masalahnya bukan tentang hartanya," sahut Lukman untuk pertama kalinya malam itu. "Ini adalah amanat terakhir dari kakekmu."

Dirga menggeleng pelan. Baginya, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan syarat sebuah warisan.

Ia telah memiliki perempuan yang ingin dinikahinya. Bahkan cincin lamaran untuk Viona telah dipersiapkannya sejak beberapa minggu lalu.

Tidak mungkin dirinya menghancurkan hubungan yang telah dibangunnya selama lima tahun hanya karena sebuah surat wasiat.

"Lalu siapa perempuan itu?" tanya Dirga.

"Maaf, Tuan. Identitas calon mempelai baru boleh diberitahukan setelah pihak keluarga yang bersangkutan juga menerima perjodohan ini."

Dirga menghela napas kasar.

"Kalau begitu jawabanku tetap sama."

"Apa keputusanmu, Dirga?" tanya Laras pelan.

"Aku menolak."

Dirga bangkit dari duduknya dan merapikan jas yang dikenakannya. "Aku menghormati kakek, tetapi kali ini aku memilih menentukan pasangan hidupku sendiri."

Tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun, Dirga melangkahkan kaki meninggalkan ruang keluarga.

Baginya, tidak ada satu pun alasan yang cukup kuat untuk membuatnya menikahi perempuan asing yang tidak pernah di pilihnya sendiri.

Namun, yang tidak diketahui Dirga adalah, perempuan yang baru saja ditolaknya itu pun sedang menerima surat wasiat yang sama ditempat yang berbeda.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!