Kepulangannya dari luar negri disambut oleh berita kebangkrutan perusahaan keluarga. Hanya ada satu pengusaha yang sudi menolong keluarganya.
Alice menyetujui pernikahan dengan cucu dari pengusaha Wijaya, meski harus mendapatkan perlakuan dingin dan kejam.
Perlahan keduanya menjalin hubungan baik, hingga membuat Alice berharap rumah tangga bahagia yang diimpikannya terwujud, namun semua hancur saat Kenan mengatakan akan menikahi mantan kekasihnya yang sedang hamil.
Apakah Alice menerima pernikahan kedua Kenan atau pergi jauh meninggalkannya dengan membawa separuh jiwa Kenan yang tumbuh didalam rahimnya?
Bagaimana perjuangan Kenan setelah mengetahui jika Alice tengah mengandung? Apakah tetap bersama kekasihnya atau pergi mencari sang istri?
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa beri dukungan. Berikan kritik & saran yg baik.
IG : frd_95
FB : Momy Ida
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy Ida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Urungkan Niatanmu
Happy Reading 🌹🌹
Alice segera mengambilkan dua gelas air putih, karena Mourin tidak menyebutkan secara spesifik sehingga Alice tidak perlu ambil pusing memikirkannya.
Segera Alice berjalan keluar dari pantry dan mengetuk pintu ruangan Kenan, tidak ada jawaban membuat Alice membuka pintu secara paksa.
Cklek!
Jantung Alice terasa berhenti berdetak, tubuhnya kaku terpaku di tempatnya menyaksikan pemandangan yang ada di depannya.
Terlihat ruangan Kenan sangat berantakan, kertas yang ada di meja berhamburan bercampur dengan makanan yang di bawa oleh Mourin.
Mourin menangis sesenggukan terduduk di atas lantai dingin dengan dagubyang di cengkram kuat oleh Kenan.
Mendengar suara pintu terbuka membuat Ken menoleh dan menatap tajam ke arah Alice, tatapan yang pertama kali di dapatkan Alice dari Kenan.
"Keluar." Usir Ken dengan nada dingin.
Mourin menggeleng cepat seakan meminta pertolongan kepada sekertaris Kenan tersebut.
"Hiks! Ken maafkan aku." Ucap Mourin.
Alice masih beridiri di ambang pintu ruangan Kenan dengan membawa nampan, bimbang apakan menolong wanita sombong atau mengacuhkannya.
"Aku bilang, keluar!"
Kenan kali ini berteriak dengan lantang membuat Alice maupun Mourin terjingkat kaget.
"Ta----"
Ucapan Alice terpotong saat Ken melepaskan cekalan tangannya dari rahang Mourin, terlihat Kenan bediri dan berjalan mendekat ke arah Alice dengan tatapan tajamnya.
Alice menelan ludahnya susah payah, meskipu dirinya sangat membenci Mourin tetapi melihat wanita mendapatkan kekerasan tetap saja membuat Alice menjadi goyah.
"Ini semua karena kamu! Apa kamu tidak becus bekerja hah! Kenapa membiarkan orang asing sesuka hatinya keluar masuk di perusahaanku!"
Ken berteriak lantang di depan wajah Alice, membuat Alice memejamkan kedua matanya dengan erat.
"Ma---maafkan aku Ken." Ucap Alice terbata.
"Panggil Tuan, ingat drajatmu di perusahaan ini." Kata Ken dengan pelan namun mengintimidasi.
Alice mengangguk cepat, "Ba-baik Tuan." Jawabnya.
"Usir dia dan jangan pernah ijinkan dia menginjakkan kakinya di perusahaanku lagi."
Ken menumjuk ke arah Mourin yang masih menangis sesenggukan dan berlalu keluar dari ruangannya.
Alice menoleh, menatap kepergian Kenan. Segera Alice berjalan cepat mendekat ke arah Mourin aetelah meletakkan nampannya.
"Kenapa kau sering di marahi oleh Kenan." Ucap Alice kesal.
Mourin hanya menangis, enggan untuk menanggapi Alice.
Alice membawa mourin duduk di sofa yang berada di ruang kerja Kenan, memberikannya air putih yang sudah Alice bawa.
Dengan tangan gemetar Mourin menerimanya, meski susah payah untuk meneguknya tetap Mourin paksa.
10 menit yang lalu.
"Ken."
Mourin melingkarkan tangannya di balik punggung Kenan dengan erat dan menyandarkan kepalanya ke punggung yang terasa hangat, tidak lupa menempelkan tubuhnya sehingga Ken pasti merasakannya.
"Lepaskan." Ucap Ken dingin.
Mourin tidak mengindahkan ucapan Kenan, "Aku rindu, aku membawakanmu makan siang." Kata Mourin.
Ken melepaskan paksa tangan Mourin yang memeluk tubuhnya dan segera berbalik hingga mereka saling berhadapan.
"Tidak perlu, kamu bawa pulang dan jangan menggangguku lagi." Tolak Kenan.
Ken berjalan menuju meja kerjanya mengacuhkan Mourin yang akan menjawab ucapannya.
Mourin tersenyum masam mengikuti langkah Kenan dari belakang.
"Ken, kita hanya makan siang tidak lebih." Ucap Mourin yang memegang lengan Kenan.
"Mourin aku tidak tahu apa tujuanmu mendekatiku melalui Mamaku, yang jelas aku sudah menikah kamu pasti sudah tahu itu. Urungkan niatanmu untuk mengusikku maupun rumah tanggaku karena aku benar-benar akan membina rumah tangga yang baik dengan istriku."
Kenan berkata dengan serius kepada wanita beroakaian sexy di depannya itu, Mourin menatap kedua mata Ken dengan rasa tidak percaya.
"Tidak mungkin Ken, kamu pasti bercanda. Bagaimana bisa kamu mencintai istrimu. Bahkan kalian sebelumnya tidak pernah bertemu maupun kenal." Jawab Mourin dengan getir.
"Urusan cinta itu mudah Mourin, aku hanya belum terbiasa dengan kehadiran istriku." Jelas Kenan.
Mourin tersenyum miring, "Kamu sungguh lucu Kenan, apa bedanya aku dengan istrimu? Aku bahkan sudah mengenalmu sejak lama sedangkan istrimu hanya wanita asing yang di hadirkan oleh Kakek di kehidupanmu." Jawab Mourin yang juga ingin di lihat sebagai wanita dewasa di mata Kenan.
Ken terdiam mendengar ucapan Mourin, "Nyatanya aku tidak memiliki rasa padamu Mourin." Ken berkata sesuai fakta.
"Lalu? Apa kamu juga memiliki perasaan kepada istrimu Ken?" Tanya Mourin mendesak Kenan.
Melihat Kenan yang hanya terdiam membuat Mourin menjadi kesal, "Jangan naif Ken, lihatlah bahkan kamu masih memajang foto Selena di atas meja kerjamu. Bagaimana perasaan istrimu saat tahu jika suaminya masih mengharapkan kehadiran masa lalunya." Ucap Mourin lagi.
"Kembalikan." Ken mencoba merebut pigura berukuran sedang dari tangan Mourin.
Dengan sengaja Mourin menjatuhkan foto Selena di samping meja kerja Kenan.
"Ken, dia wanita yang tidak baik untukmu. Seharusnya kamu bersyukur di buang olehnya, lihat aku Ken. Aku bahkan berusaha untuk memantaskan diri bersanding denganmu!" Mourin mengungkapkan isi pikirannya kepada Kenan.
Ya, Mourin bersekolah di luar negri dan berusaha menjadi terbaik di universitasnya karena Mourin ingin membuat Ken melihat ke arahnya bukan kepada Selena maupun wanita lainnya.
Suara tamparan menggema di ruangan dengan nuansa kelam tersebut, terasa sangat panas, nyeri, dan kebas yang di rasakan oleh Mourin.
"Tutup mulutmu! Tidak ada yang pantas menggantikan Selena meskipun itu kamu Mourin." Ucap Ken dengan emosi yang menyala-nyala.
Mourin tertawa mendengar ucapan Kenan, "Lalu siapa yang pantas? Istrimu?" Ejek Selena.
Ken mendorong Mourin hingga terjatuh di lantai dan mengamuk membuang berkas-berkas yang ada di meja ke arah tubuh Mourin.
"Hiks! Lupakan Selena Ken, dia sudah bahagia dengan suaminya!" Teriak Mourin dengan berderai air mata.
"Argh!"
Ken membuang rantang mewah yang di bawa oleh Mourin di lantai hingga berhamburan.
Grep!
Dengan kasar Ken mencengkram rahang Mourin, "Tutup mulutmu." Ucap Ken dengan sorot mata tajam.
Terlihat Alice tengah membersihkan ruangan Kenan seorang diri setelah mengantarkan Mourin ke lantai satu.
Banyak OB di perusahaan Wijaya, namun Alice ingin tahu apa yang membuat Mourin dan Ken bertengkar hebat.
Hingga Alice melihat banyak pecahan kaca di samping meja kerja Kenan, "Apa ini." Ucap Alice pelan.
Alice berjongkok dan memungut lembaran yang terbalik tersebut dengan perlahan karena di atasnya masih terdapat pecahan kaca lembut.
Sret!
Alice mendongakkan kepalanya karena seaeorang merebut dengan paksa dan mendadak lembaran foto yang baru dia pungut di lantai.
Sekali lagi, Alice mendapatkan tatapan Kenan dengan sorot mata tajamnya.
"Aku bilang jangan menyentuh barang milikku." Ucap Ken dengan dingin.
"Ekhm, maaf aku hanya sedang membersihkan ruanganmu saja." Jawab Alice jujur.
"Panggil OB." Perintah Kenan.
"Tidak perlu sebentar lagi selesai." Tolak Alice cepat.
Segera Alice berdiri dan mengambil sapu untuk menyapu pecahan kaca, Ken masih beridiri dengan menatap Alice yang berstatus istrinya dalam diam.
Menyimpan foto Selena di dalam saku celana kerjanya, pikiran Ken berkecamuk apakah dirinya bisa mencintai Alice atau masih terbelenggu dalam masa lalunya.
...🐾🐾...
ambil sikap tegas,selingkuh itu penyakit.