NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Remuk Redam

“Aku membantumu bekerja keras sampai tiga pekerjaan kujalani sekaligus setiap hari! Aku ingin seluruh utang kita lunas agar bisa hidup dengan tenang tanpa dikejar tagihan yang besar setiap bulan! Aku menahan membeli apa pun yang kumau, tapi kau ... kau malah bermain-main dengan wanita.” Suara Anjani remuk bergetar.

Utang yang dimaksudnya adalah: Dua tahun lalu, karena mengantuk, Woojun menabrak sebuah toko saat bekerja sebagai supir mobil pengiriman barang salah satu pabrik di daerah sekitar. Seorang terluka karena kejadian itu. Menghindari hukuman penjara, sebagai ganti, Woojun harus membayar semua kerugian. Tentu saja tidak ada uang, ujungnya meminjam pada bank dengan jumlah dan bunga yang sangat besar.

Sialnya, sejak saat itu, seolah terkena hukuman alam, Woojun menjadi sangat sulit mendapat pekerjaan dan Anjani yang mengambil alih semua peran.

Sekarang wanita itu sedang terisak karena semua kerja kerasnya dibayar tunai dengan sebuah perselingkuhan.

Pandangan Woojun diam di wajah Anjani. Dengan nada yang datar, dia berucap, “Aku tahu. Maafkan aku. Soal Cha Yuri ... aku hanya bermain-main.”

Cha Yuri adalah wanita itu, wanita yang dicumbui di dalam mobil.

Terlalu ringan untuk permintaan maaf, Anjani melengak dengan tatapan kacau, raut suaminya itu seperti menyatakan bahwa apa yang sudah dia lakukan bukan apa-apa dan hanya sekedar iseng belaka.

“Apa katamu? Bermain-main?”

“Ya!”

“Kau pikir ini lucu?! Kau pikir hatiku batu?! Kau pikir semua kerja kerasku hanya seharga utang-utangmu? Kau pikir akuー”

“AKU KESEPIAN, ANJANI!”

Pungkasan kalimat dengan suara keras itu mengejutkan Anjani sampai melebar bola matanya. “A-apa kau bilang?”

“Ya! Selama ini kau sibuk bekerja dan aku selalu terabaikan. Saat kau pulang kau lelah dan tidur. Tidak ada yang bisa kulakukan denganmu untuk membuat rumah ini tetap hangat seperti dulu. Aku paham kau melakukannya demi apa, tapi tidak bisakah kau tetap urus dirimu? Tidak bisakah kau tetap hangat dan manis seperti dulu? Semakin lama, aku semakin merasa kesepian seolah tinggal dengan boneka kayu!”

Tidak menyangka, Anjani menggeleng-geleng mendengar sepanjang kalimat itu. Ulu hatinya tercabar. Jantungnya bertalu, memukul-mukul tanpa aturan.

Tidak bisa menahan kesakitannya, dia membekap mulut dengan telapak tangan, terisak sesak.

Woojun terperangah, menelan ludah menatap Anjani yang hancur karena ulahnya. Dia sadar sudah salah bicara. “Anjaー”

“Tidakkah kau berpikir karena siapa aku begini?” potong Anjani, rautnya kacau dan basah. "Kau jahat, Woojun. Sangat jahat sampai aku merasa 'tak mengenalmu lagi."

Woojun teredam diam. Hingga Anjani bangkit dan lari ke dalam kamar lalu menutup pintu, dia tetap membeku di posisi sama.

Jauh dalam hatinya, gejolak mulai menguasai.

Sebingkai foto Anjani yang tersenyum lebar di atas meja dilirik lalu ditatapnya perih. Sebuah perasaan menghantam dada, entah penyesalan karena berbuat serong dengan wanita lain, atau menyesal karena Anjani tak lagi secerah di foto itu.

"Kau tak mengenali diriku? ... Ya, aku pun sama, Anjani .... Maafkan aku."

**

Pagi hari, Anjani bangun dengan mata yang bengkak. Meresapi kesakitan hati, dia menangis semalaman hingga tertidur karena lelah.

Woojun tak menemuinya sama sekali.

Menyeret langkah berat untuk keluar kamar, lalu tertegun setelah pintu terbuka. Suaminya tak ada di sana dan di mana pun bagian rumah. Dia mendesah kasar lalu merunduk, bayangan kelakuan Woojun bersama wanita itu dan kata-katanya semalam, masih membekas jelas dalam ingatan.

Dan ketidakberadaan pria itu sekarang ... menambah tumpukan hancur dalam hatinya.

"Harus kuapakan keadaan ini, Tuhan?” ratapnya. Hidupnya mendadak hancur dalam semalam.

Setelah itu, diliriknya jam dinding di bilah kanan. "Sudah jam tujuh.”

Air mata yang menitik diusapnya sebelum kemudian melenggang ke kamar mandi.

Di sana Anjani berkaca, wajah lusuhnya dia dapati di dalam cermin. Pipi yang tirus diusapnya, lalu menyentuh bibir yang pucat pasi. Hatinya terentak lagi saat bayangan wajah perempuan itu singgah di pikiran tanpa permisi.

Dia mulai membandingkan dirinya dengan wanita yang namanya disebut Woojun dengan sangat lancar di hadapannya malam tadiーCha Yuri.

“Dia cantik, muda dan segar,” katanya, lalu tersenyum kecut. "Pantas Woojun mengkhianatiku. Dalam dua tahun aku sungguh berubah menjadi seorang bibi."

Lalu dia pun mandi, tanpa air hangat walau cuaca sedingin ini.

Setelah berganti pakaian seadanya seperti biasa, Anjani keluar rumah. Tas lusuh itu tidak dia lupakan, tersampir di kiri pundaknya dengan setia. Langkah tersusun gontai meski jam masuk kerjanya sudah hampir terlewat sekian menit.

Ternyata Anjani tidak akan bekerja. Dia sudah memutuskan untuk beristirahat hari ini, keluar hanya untuk mencari udara segar.

Selain pikiran kacau yang masih menggerogoti, wajah sembab dan mata bengkaknya terlalu membuat malu untuk ditunjukkan di depan orang-orang yang dia kenal, terutama Nam Jisu.

Setelah jauh menyusur jalanan pagi, langkahnya berakhir di sebuah taman tempat orang-orang jogging atau sekedar menikmati hangat mentari pagi sebelum pergi bekerja.

Ada sebuah bangku taman kosong, dia duduk di sana. Sebungkus roti yang dibawanya dia gigit dan kunyah tanpa rasa, sembari menatap lalu lalang orang. Mereka semua tertawa ceria, tidak seperti dirinya yang muram durja.

Mendadak hidupnya terasa hampa dan melayang-layang.

Sampai suara itu mengejutkannya.

"Boleh aku duduk di sini, Nona?!"

Anjani spontan menoleh dan langsung mendapati seraut wajah.

Orang itu lagi, 'Tuan Berkaki Panjang'.

“Ahー”

"Seharusnya aku tidak ditolak!" sergah pria itu, meski belum mendapat izin, langsung duduk di sebelah Anjani.

Terus hanya menatapnya karena bingung, Anjani belum bisa berkata-kata.

"Negara ini tidak sedang berperang dan Nona masih bisa menikmati sepotong roti di bawah langit seindah ini, tapi kenapa wajah itu seperti baru habis dipukuli?” Matanya yang coklat terang menatap Anjani, senyuman tipis memulas di antaranya. "Apa gerangan yang membuat Nona Cantik bersedih? Bolehkah aku yang datang mewakili Zeus ini memberi penghiburan sederhana?"

Dalam sesaat, Anjani paham. Sadar kata-kata itu ditujukan untuk matanya yang masih bengkak karena menangis, cepat dia membuang wajah. "A-apa yang Anda maksud?" tanyanya sampai terbata, dari posisi wajah membelakangi.

Pria itu merubah posisi duduk lebih lurus menghadap Anjani, dan Anjani sendiri justru semakin jauh berpaling hadap.

Pria itu tersenyum dengan sikap yang seakan takut, padahal malu.

 "Apa pun yang membuat Nona bersedih dan menangis sampai mata indah itu menjadi bengkak, anggap saja semua hanya peran dalam drama dan Nona akan kembali ke dunia nyata yang menyenangkan." Satu cup minuman panas yang sedari awal dibawa-bawa, ditaruhnya di belakang Anjani. "Kopinya masih utuh, minum dan tersenyumlah." Dia lalu berdiri, kemudian melenggang pergi begitu saja membawa senyuman yang penuh makna.

Setelah beberapa detik dan memastikan pria itu telah tak ada, Anjani kembali merubah posisi duduknya menjadi biasa.

Melihat ke depan dan ke sekeliling. “Dia pergi. Dasar orang yang aneh," sungutnya, namun kemudian tertegun saat cup kopi ditemukannya. Dengan ragu, kopi itu diambil, rasa hangat langsung memenuhi telapak tangan. Dia mengangkatnya sambil ditatap dengan perasaan aneh.

“Siapa sebenarnya dia? Kenapa sikapnya begitu? Padahal kami belum berkenalan sama sekali walau sudah berkali-kali bertemu. Dan ... apa keberadaannya di sini sebuah kebetulan lagi?”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!